
Anto melihat bannyak sekali monster besar yang melebihi ukuran robotnya, yang sedang menyerang ke sebuah tembok raksasa dan juga para robot yang banyak yang menyerang dari jarak jauh. Semua orang jadi ketakutan saat melihat monster itu menyerang tembok yang sudah sedikit retak. “Sudah serahkan padaku sisanya.” Minta Anto pada pemuda itu yang terlihat ingin pergi menolongnya. Anto kemudian menutup matanya lalu focus. “Sebaiknya ku coba bahasa alam yang ku dapat itu. Sejujurnya aku merasa ada yang tidak beres dengan bahasa alam yang ku dapat ini!” Anto yang menginat dirinya memahami perasaan siapa pun saat masih dalam kegelapan di inti jiwanya itu. Setelah itu Anto perlahan membuka matanya lalu melihat ke layar yang sudah sebagian dari temboknya runtuh.
Anto mengatakan sambaran halilintar dalam bahasa alam, lalu seketika mendung terjadi di langit. Mereka hanya terdiam melihat semuanya jadi gelap tanpa cahaya matahari. Setelah terdengar suara Guntur yang sangat keras sekali. Anto melihat ke layar di depannya yang juga mendung. Seketika sebuah kilatan merah menyabar di antara para monster dan membuat mereka semua mati tanpa tersisa satu pun dari tulang mereka. “Bahasa ini terlalu berbahaya…!” Anto yang tidak bisa berkata apa-apa dengan hasil perbuatannya lagi yang terlalu berlebihan, karena setelah sambaran halilintar itu ada lubang yang dalam sekali di dekat tembok. “Tutupan tanah!” Anto menggunakan Skilnya menutup lubang hasil dari sambaran halilintarnya, Saat menggunakan Skilnya, tanahnya langsung menyemburkan diri dari dalam tanah (Geyser tanah dan buka geyser air), seperti air lalu yang sangat banyak hingga semua lubang akibat Skil halilintanya jadi rata sekali. “Sepertinya ini terlalu berlebihan!” pikir Anto yang merasa seperti itu karena tidak ada sama sekali tonjokan yang muncul dari dalam tanah.
“Sudahlah… ini juga sepertinya cukup. Kalau itu aku akan pergi dulu ya.” Pamit Anto sambil melayang bersama Hana setelah menyelesaikan masalah itu. Hana tidak bicara sama sekali dan terdiam memeluk Anto dengan cukup erat. Anto kemudian menggunakan Skil tak terlihatnya supaya bisa bebas terbang ke mana yang di inginkannya. Setelah terbang menjauh dari keramaian, Anto berhenti di ketinggian yang cukup tinggi. “Hana bisa lepaskan sekarang?” Tanya Anto padanya karena terus di peluk. Hana secara perlahan melepas pelukannya lalu berdiri di depan Anto. “Sepertinya akan sangat buruk sekali.” Pikir Anto yang melhat Hana dengan tatapan tajam padanya.
Hana mengubah ekpresi jadi sedih lagi di depannya. “Ja, jangan pergi lagi… Ku mohon!” Minta Hana sambil melihat pada Anto. Anto hanya bisa diam melihat Hana yang seperti itu padanya. Anto kemudian memegang tangan Hana dengan lembut.
“Kapan aku pergi? Bukannya hanya tertidur saja.” timbal Anto sambil tersenyum. “Tapi kali ini aku janji tidak akan pergi atau pun tertidur lama seperti barusan.” Anto menjelaskan dengan serius sekali. Hana hanya diam saja dan tidak merespon sambil melihat ke Anto. “Dari pada itu, bisa kamu ceritkan kisahmu!” Minta Anto dengan tenang untuk menenangkan Hana. Hana mengngguk sebagai jawaban lalu kemudian mulai bercerita.
***
Setelah beberapa lama bercerita Hana yang sedih kini ekspresinya sedikit ceria dan masih terlihat ada beban dalam dirinya yang takut terulang lagi. “Hana, mau kencan?” Tanya Anto padanya dengan terang-terangan setelah sedikit baikan. Hana langsung mengangguk kemudian memegang tangan Anto. Anto kemudian langsung teleportasi supaya cepat turun. Anto teleportasi ke tempat tadi dirinya mendarar sebelumnya. Untungnya sudah sepi di sana dan tidak banyak orang yang melihat mereka. Anto kemudian langsung jalan pelan bersama Hana tanpa di lihat siapa pun. Keduanya berjalan sambil cerita dan bicara satu sama lain, meski Hana masih merasa sedih dan takut.
Di sisi lain Anto No 1 yang tidak memperhatikan hal lainnya, dan hanya memperhatikan mulai tahu asal-usul kekuatannya sendiri yang meluap-luap sejak kecil (Anto yang menonton author ubah jadi No 1 biar lebih mudah di pahami, termasuk No 2, No 3 dan seterusnya. Ceritanya masih panjang dan belum kelar). “Ternyata… aku tidak percaya kalau diriku yang pertama sekuat ini. Tapi kenapa aku bisa ketularan kuat juga?” Tanya Anto yang bingung sendiri dan masih tidak percaya sama sekali ternyata dirinya yang pertama berbeda cara kuatnya. “Selain itu tinggal 2 permintaan yang belum di gunakan dan itu masih tersimpan sampai sekarang.” Anto yang mengingat jelas sisa permintaan yang belum di guanakan. Yang di mulai dirinya dari ke 2 hingga yang ke 9999 tidak pernah menggunakan permintaan itu sama sekali dan kini adalah haknya untuk menggunakan permintaan itu.
“jika ku asumsikan, sekarang kekuataku sudah jadi 100 galaxy karena permintaan yang pernah di buat oleh diriku yang lain. Jika dugaanku benar, pasti ada alam semesta lainnya yang berbeda dari semesta yang ku tinggali ini. Mungkin kekuatanku sudah lebih dari 100 galaxyi!” Anto yang yakin dengan pikirannya itu karena sudah tahu dunia teruhubung satu sama lain. “jika aku meminta kekuatan dua kali lipat, maka aku dapat kekuatan setera 200 galaxy atau lebih, aku yakin setelah itu permintaanku akan di tolak jika salah minta.” Anto yang merasa yakin sekali. “Kalau gitu sebaiknya aku perhatikan lebih lama diriku ini hidup dan juga bagaimana Dunia ini berakhir untuk pertama kalinya.” Dengan tenang Anto membuat keputusan sebelum menggunakan 2 permintaan yang tersisa.
“Bukannya kamu seharusnya sering ke sini… tapi kenapa kamu nggak pernah ke sini?” Tanya sambil melihat mencari meja kosong. Hana tidak langsung merespon malah diam tidak mengatakan apa pun. Hana memimpin jalan ke tempat meja yang kosong yang tidak terlalu jauh. Anto mengikuti di samping dengan sejajar.
“Itu karena aku tidak bisa.” Jawab Hana sambil jalan ke meja.” Anto yang mendengar itu jadi tidak mengerti maksud Hana. Tapi itu hanya beberapa saat saja. Anto menyadari kenapa Hana masih remaja dan tidak banyak perubahan. Hana tidak pernah keluar dari robotnya sama sekali hingga masa pertumbuhannya sangat di perlambat sekali.
“Sepertinya aku harus menyesuaikan lagi robot ini dan menghilangkan fungsi ini.” Anto yang terlalu khawatir di masa depan nanti akan banyak sekali yang akan menggunakan teknologinya untuk kejahatan. Saat mereka sampai, Anto dan Hana langsung duduk di kursi yang tersedia lalu melihat satu sama lain. Saat mereka berdua jadi pusat perhatian di dalam sana, mereka berdua tidak peduli hal itu. Anto kemudian melihat ke meja yang ada tombol powernya lalu menekannya dengan santai., setelah itu sebuah layar menu makanan muncul di depannya. Hana pun ikut-ikutan menekan tombol yang sama persis dan melihat apa isi dari menu itu.
“Mata uangnya kredit… tapi apa hana punya uang?” Tanya Anto yag baru menyadari dirinya itu tidak punya kredit sama sekali karena baru bangun. “Hana, berapa banyak kredit yang kamu miliki?” Tanya Anto karena tidak punya uang sama sekali. Hana langsung menekan tombol di gelangnya beberapa kali.
Hana tidak langsung merespon dia menekan gelang di tangannya lalu melihat. Cukup lama dia melihat dengan teliti. “Hm… Aku tidak tahu… Coba Kakak lihat!” Hana memberikan layarnya pada Anto. Anto pun melihat banyak sekali nol yang sudah melebihi 11 digit.
"Apa Hana tidak perna memakai uangnya?" Tanya Anto yang melihat Hana masih tenang saja dan terlihat tidak mengerti sama sekali. “Kalau gitu kamu yang bayar Hana. Aku tidak punya sama sekali kredit.” Dengan senyum mengatakannya. Hana mengangguk saja. Setelah itu mereka berdua memesan makanan masing-masing yang langsung di bayar terlebih dahulu.
***