Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 130


Beberapa waktu berlalu, Akhirnya semua BIDADARi telah sadar dan mereka melihat ke Ria yang membawa bola pesan itu. “Maap membuat kalian berdua menunggu!” Kakaknya dengan suara sudah sangat baik meminta maap pada Ria dan Rina. Kedua adiknya itu tersenyum kecil dan meraa senang juga. Setelah beberapa saat kesenangan mereka semua berhenti saling senyum dan mulai lagi serius. “Rina, buatlah jalan teleportasi dengan baju itu.” Minta Kakaknya dengan senyum padanya. Dia tidak merespon dan langsung mengalirkan kekuatannya ke baju yang di kenakan Anto sebelumnya. Saat Rina membuat jalan di dalam ruang waktu teleportasi itu, sebuah cahaya seperti kunang-kunang muncul di dalam portal yang ada badainya itu. Cahaya itu terlihat seperti jalan panjang yang di kelilingi oleh badai dan menembusnya dengan cepat.


Setelah beberapa detik, Rina berhenti mengalirkan kekuatannya dan mecoba berdiri di jalan yang di butanya. “Udah kak.” Rina memberi tahu kakaknya saat dia sudah selesai dengan pembuatan jalan teleportasinya. Rina berjalan di atas jalan yang sangat panjang itu dan di ikuti oleh yang lain mulai naik ke jalan itu. Mereka semua jalan dengan pelan sambil melihat badai yang mengamuk di dalam potal dengan ganas meski tidak membahayakan mereka. “Karena aku tidak membuat arah teleportasinya di luar, jadi aku buat saja seperti apa yang ku pikirkan.” Rina tersenyum saat melihat jalan panjang yang tidak di ketahui ujungnya itu. Tidak ada yang merespon dan masih banyak diam saja sambil menikmati apa yang ada di depan mereka.


Semua orang melihat ke jalan yang seperti tidak ada ujungnya itu. Kakak Rina dan Ria melihat sekelilingnya menjadi was-was yang kemungkina mereka bisa jatuh atau terseret tanpa sengaja oleh badai waktu dan zaman meski jalan yang di buat Rina sangat aman. “Hm.. jalan ini memang sangat bagus, tapi masih kurang aman jika tidak di lindungi.” Bicara Kaka Ruba sambil mulai membuat sebuah barrier di setiap tepi jalan. Cukup beberapa detik saja, sebuah barier di tepi jalan yang cukuyp tingi dan aman.“Sekarang kita bisa pergi dengan lebih aman dari sini.” Dengan sangat puas melihat karya nya sendiri yang telihat bagus menurutnya. Semua orang meliha betapa menakjubkan barrier itu, sedikit kaguam. Tapi, setelah beberapa saat barier itu jadi retak. Semakin lama, barier itu semakin cepat menyebar retakannya dan tidak butuh waktu yang lama ‘KRANG!’ barrier itu pecah seperti kaca setelah beberapa detik terpasang. Semua orang yang di sana terdiam dengan cepatnya barrier itu hancur dan juga tidak mendegua yang di buat oleh Kakak Rina lebih lemah dari nya.


Di saat semua orang tengah diam dan juga tidak mengerti dengan kejadian itu, bariernya itu lagi terbentuk seperti semula. Mereka kini melihat ke Rina yang membuat barrier yang sama dengan Kakaknya. “Ku rasa ini sudah bagus.” Bicara Rina dengan jelas saat melihat barriernya terpasang dengan sempurna dan mirip seperti yang di buat Kakaknya. Semua orang melihat ke Rina yang terlihat baik-baik saja setelah memakian kekuatannya yang berlebihan tidak berkata apa-apa dan merasa senang dengan itu dan tidak ada yang iri sama sekali. Semua orang menatap ke Rina dengan mata penuh bangga dan denang kecuali Ria yang terlihat biasa saja dan juga sedikit bingung dengan Rina yang terlihat baik-baik saja. “Ada apa?” Tanya Rina yang di tatap terlalu lama oleh semua orang.


Semua orang tidak ada yang merespon malah terus menatapnya. Saat mereka semua menatap Rina, sebuah cahaya tiba-tiba muncul dari cincin hitam yang di pakai Rina dan Ria. Cincin yang di berikan Anto, lalu tiba-tiba membungkus mereka berdua dengan sekejap dengan kegelapan yang sangat gelap. Semua orang bukannya khawatir, tapi malah ingin tahu apa yang terjadi pada Rina dan Ria yang sedang di bungkus oleh kekuatan Anto yang sangat gelap sekali. Setelah beberapa saat, kegelapan yang menyelimuti mereka berdua mulai memudar dan setelahnya hilang dalam sekejap dan menampilkan pakaian Ria dan Rina yang baru. “Rina!” Panggil Ria saat melihat Rina di dekatnya itu berpakaian serba hitam yang sangat cocok sekali. Rina berpakaian seperti kesatria kegelapan yang menelan cahaya yang sangat mempersona sekali.


Di sisi lain juga, Ria memakai perlengkapan sihir dengan semua kegelapan yang sangat mendominasi sekali dan terlihat cocok mamakai pakaian serba hitam dan juga dengan wajahnya yang terlihat berbeda sekali dengan sebelumnya, yang kini sangat terlihat jahat sekali. “Ria, aku ingin kamu melihat dirimu di cermin nanti.” Dengan sangat kaget Rina melihat Ria yang sangat berbeda sekali dengan kepolosannya yang sebelumnya. Semua orang yang mendengar itu sepakat dengan Rina yang dengan menganggukkan kepalanya beberapa kali.


Ria yang tidak paham dengan apa yang di maksud Rina hanya diam dengan sedikit penasaran. Saat mereka sedang sibuk sendiri, cincin dari Ria dan Rina tiba-tiba membuat cahaya gelap lalu membuat jalan dan barrier yang di buat tadi jadi terlihat bergerak dengan cepat. “Hati-hati!” Ria langsung memperingatkan semua orang saat dia sendiri tidak tahu apa yang di rasakannya, sedangkan Rina memegang pedangnya dan bersiap. Para BIDADARI yang lain juga bersiap dengan peringatan Ria yang tiba-tiba meski mereka berdua baru jadi BIDADARI. ‘GRAHHHH…!’ Sebuah auman seperti singa terdengar mengejar dan membuat kaki semua BIDADARI gemetar katakutan. Semua orang masih waspada dan juga dengan berusaha tetap tenang di tempat mereka masing-masing. “Lihat!” Ria tiba-tiba menyuruh semua orang melihat ke depan yang tanpak masih kosong. Tapi, Rina tiba-tiba menebas ke tempat yang di maksud Ria. Saat menebas tempat yang di maksud Ria, sebuah lorong baru terbuka di depan mereka dan itu adalah atap sebuah rumah.


“Semuanya lompat!” Suruh Rina dengan cepat sambil duluan melompat. Tanpa ada yang berkata apa pun, semua orang langsung melompat ke ruang yang telah terbuka, termasuk Ria yang paling akhir melompat. Saat mereka melompat, ketinggian mereka masih sangat jauh sekali dan membuat mereka semua terjun dengan bebas. Tapi, semuanya tanpak tenang dan tidak ada yang terlihat taku sama sekali dengan ketinggian tempat mereka jatuh. “Apa itu?” Tanya Rina saat jatuh melihat sebuah lorong portal terbukan di setiap BIDADARI. Sebelum ada peringatan mereka tanpa sadar masuk ke dalamnya dan membuat mereka berteleportasi ke suatu tempat.


“Aqua!” Jawab Kakaknya dengan senyum yang terdengar sangat senang. “Sekarang kita ada di Planet Aqua.” Sekali lagi Kakaknya menjelaskan dengan singkat dan juga denagn sedikit ceria. Saat semua BIDADARI nya senang, pakaian serba hitam milik Rina dan Ria menghilang secara perlahan dan di saat yang bersamaan mereka berdua langsung jadi lemas sekali. BIDADARI yang melihat itu langsung menagkap Rina dan Ria yang mau pingsan di tempat. “RINA… RIA…!” Kakaknya berteriak memanggil mereka berdua. Namun, keduanya tidak ada yang merespon, malah jadi semakin pucat. Keduanya yang sekami puct, membuat Kakaknya katakutan dan tidak tahu harus apa karena tiba-tiba mendapat kejadian itu.


“Siapa di sana?” Tanya seseorang yang masuk ke kamar itu dengan cepat. Tidak ada yang merespon dan malah melihat ke Mama Maria yang terlihat segar bugar di depan mata mereka. Tapi mereka berbalik lagi melihat Rina dan Ria demgan masih khawatir. Mama Maria yang masuk ke kamar Anto kaget dengan semua Gadis yang di temuinya, apa lagi dengan pakaian yang berbeda dari dan juga ada yang sakit di antara  mereka semua. Tapi, nukannya curiga atau marah dia malah terlihat khawatir juga. “Kenapa kalian masih diam saja, cepat bawa dia ke tempat pengobatan.” Suruh Mama Maria dengan cepat pada semua orang yang masih melihat saja.


Saat mendengar itu, semua BIDADARI langsung keluar dari kamar itu. “Terima kasih Mama!” Semua BIADARI tanpa sengaja menyebut Mama Maria dengan jelas dan membuat Mama Maria kaget. Dia jadi diam di tempatnya akibat semua Gadis menyebutnya begitu. Setelah berterima kasih, semua BIDADARI nya langsung berjalan lurus seperti di dalam rumah mereka sendiri dan sudah tahu di mana menemukan tempat perawatan umtuk mereka berdua. Di sisi lain, Mama Maria yang melihat Gadis itu tanpak khawatir satu sama lain mengingatkan dirinya tentang anakknya  sendiri. Tapi, di saat yang bersamaan dia teringat dengan kejadian ganjil yang telah ditemukannnya dan menyadari semua Gadis yang datang ke rumahnya tanpa peringatan sama sekali mirip dengan situasi Anto meski kali ini dia menemukannya di kamar Anto sendiri. Mama Maria hanya bisa tersenyum lalu berjalan menuju ruang perawatan tempat semua Gadis itu sedang mengobati rekannya yang sakit.


Dalam jalan ke ruamg perawatan, Mama Maria terus tersenyum sendiri memikirkan sesuatu yang tidak di ktahui semua orang. "Putraku, entah kejutan seperti apa lagi yang akan kamu tunjukan pada Mama mu ini." Mama Maria bicara sendir sambil jalan ke ruang perawatn yang mungkin sudah di tahu paea Gadis itu. Mama Maria berjalan ke sana dengan senyum cerah sekali meski dia sendiri sedang sedikit sedih di tinggal Anto dan anaknya.


...


Next Chapter