
Setelah sampai di teminal bis berikutnya, Anto dan ketiga temannya turun. dan juga beberapa penumpang naik. Mereka berempat jalan ke sekolah mereka dari terminal yang tidak jauh dari sana. Sekolah Anto bisa di bilang jauh karena berjarak 1 km. Namun karena terminal bis dekat dengan area perumaha mereka, semuanya menggunakan bis itu untuk sampai ke tujuan masing-masing. “Nah Raja harem, bagaiamana kamu akan bertindak kali ini?” Tanya Mar di sana dengan santai dan menggoda Anto yang sudah turun dari bis.
“Bagaimana? Mudah saja kan. Aku tinggal mencari para Kekasihku yang ada di Dunia ini.” Jawab Anto dengan serius dan santai. ‘Hahahahaha…!’ Teman-temannya langsung ketawa lagi dengan jawaban Anto yang terdengar serius sekali dan juga sangat percaya diri dengan perkataannya. Anto jadi mengepalkan tangannya lagi. “AKU SERIUS BANGSAAATT…!” Teriak Anto dalam hatinya dengan rasa kesal yang di tahannya karena di tertawai dengan jelas oleh ketiga temannya. “Baiklah, jika ada kesempatan akan ku buktikan semua perkataanku tadi.” Anto mendendam perasaan itu dan akan membuktikannya dengan serius sekali.
Ketiga temannya perlahan berhenti tertawa meski 2 temnnya hanya tertawa sebentar kecuali Mar yang masih lepas kendali hingga di lihat pejalan kaki yang lewat. “Sudah jangan pikirkan itu lagi Raja Harem, nanti ku ajak jadi Raja Harem yang sesungguhnya.” Andre menggoda Anto dengan serius. Anto membalasnya dengan tersenyum pahit sekali menerima ejekan dari teman-temannya sendiri.
“Jika kamu jadi Raja Harem sungguhan aku pasti membawakan hadiah yang besar padamu.” Timbal Roni dengan santai dan juga ikut menggoda Anto dengan lembut. Anto merasa kesal dan juga senang dengan hal itu. ‘AWAASSS…!’ Suara teriakan yang sangat jelas sekali. Anto dan ketiga temannya melihat ke arah suara itu dan melihat mobil terbang sedang di luar kendali dan hampir menabrak pejalan kaki. Supir membanting mobil terbangnya saat di depannya ada pejalan kaki yang hampir tertabrak olehnya dan mobil terbang itu menabarak pembatas jalan di dekat mereka yang membuat semua orang kaget sekali dengan kejadian itu. Mereka berempat tidak beranjak dari tempat mereka dan melihat dari kejauhan.
Tapi di sisi lain, Mar lanjut jalan dan meninggalkan teman-temannya yang masih melihat. “Sebaiknya kita jalan saja. Ini bukan yang tepat untuk diam di tempat seperti ini.” Ajak Mar dengan wajah tidak senang dan ceria saat sudah sedikit jauh dari mereka. Anto dan kedua temannya jadi tidak mengerti dengan tingkah Mar yang berubah setelah melihat ke arahnya yang berjalan dengan gaya berbeda dan juga tingkahnya yang berbeda, karena biasanya mereka melihat Mar itu ceria dan banyak bicara yang membuat mereka selalu di perhatikan saat di jalan. Mar jalan duluan memimpin mereka bertiga dengan santai.
Anto dan lainnya menyusul dengan cepat ke samping Mar. Roni berdiri di samping Mar dan meliriknya. Anto dan Andre yang di belakang memperhatikan saja. Roni berhenti sebentar lalau melihat ke belakang. “Hei, apa kalian tahu kenapa dia seperti itu?” Tanya Roni pada Anto dan Andre dengan terang-terangan. Keduanya menggeleng dengan cepat dan tidak mengerti sama sekali. Ketiganya jadi penasaran dengan Mar yang seperti itu.
“Apa aku tidak seperti biasanya?” Tanya Mar dengan nada bicara yang sedikit aneh dengan tiba-tiba. Ketiga temannya melihat ke Mar yang beda sekali dari biasanya. “Haha! maaf ya. Hanya saja menyenangkan rasanya bersikap seperti anak remaja pada umumnya.” Mar mengatakannya tanpa berbalik dan juga terdengar serius. Anto yang mendengar itu jadi berhenti jalan dan menghentikan Mar dengan menarik tangannya.
Kedua temannya yang melihat itu juga berhenti dan ingin melihat apa yang akan di lakukan Anto. “Kita bolos saja yuk.” Ajak Anto dengan senyum di wajahnya. Mar yang mendengar itu tersenyum padanya dan mau ketawa tapi berhenti.
“Tidak mau. Hari ini aku akan belajar juga dan tidak mau kalah denganmu.” Respon Mar dengan sifat yang berbeda sekali dari sebelumnya. Anto yang mendengar itu langsung melepaskan tangannya dan menjauh dari Mar ke dekat Roni dan Andre. “Menurut kalian, ada apa dengan dirinya?” Tanya Anto pada Roni dan Andre. Mereka berdua melihat ke Anto yang membisikkan dengan sangat jelas sekali hingga bisa di dengar oleh Mar juga.
“Masa’ ya. Tapi dia kelihatan normal aja kan!” Timbal Anto yang membalas bicara seperti itu dengan jelas sekali. lalu mereka melihat ke Mar dengan terang-terangan. Mar yang di sana mendengar mereka bertiga merasa kesal sekali karena terngan-terangan membuat dirinya kesal. Mar jalan dengan santai ke dekat ketiga temannya dengan perasaan kesal.
“Hoi, apa kalian bisa bicara dengan lebih kecil kalau membicarakanku!” Minta Mar yang sudah di dekat mereka dengan tersenyum kesal pada Anto dan lainnya. Anto dan lainnya saling lihat dan terlihat saling memhami. Mereka betiga malah menjauh dan langsung lari ke sekolah mereka yang sudah dekat sekali meninggalkan Mar yang sedang kesal berat pada mereka. “TUNGGUUU…!” Teriak mar dengan jelas sekali pada mereka bertiga yang sengaja membuat dirinya emosi.
‘Hahahaha…!’ Anto dan ketiga temannya berlari dengan senang dan tertawa hingga mereka di lihat dengan jelas sekali oleh para pelajar lainnya dan juga para pejalan kaki yang lewat. Ada yang senang saat melihat mereka, ada juga yang acuh saja. Dan masih bannyak lagi cara di lihat mereka berempat dari pandangan orang lain.
“Ini sungguh menyenangkan sekali…” Anto tersenyum lebar dan tertawa senang sekali dengan hal yang di rasakannya itu sambil mengingat kenangannya yang suram di Dunia lain. Anto dan ketiga temannya yang sudah sampai di depan gerbang langsung masuk melewati penjaga dengan berlari dan di kejar oleh Mar. “Kita berpisah di sini.” Anto melambaikan tangannya pada mereka bertiga karena mereka berada di kelas yang berbeda meski sama-sama kelas 1.
Tidak ada yang merespon malah saling tersenyum dan mulai berjalan pelan saat sudah di dalam sekolah. Banyak pelajar yang bicara sama temannya. “Baiklah, sudah saat untuk memulai hari baru dan juga memulai apa pun itu di sekolah ini.” Anto tersenyum sambil masuk ke halaman sekolah. Sementara Anto dalam perjalan ke kelasnya, Anto mulai membaca ingatan mencanri peratuaran yang ada di sekolahnya.
{Dalam sekola ini, terdapat tiga sekolah berbeda yang di mana sekolahnya itu di khususkan semua pelajarnya. Pertama itu sekolah tingkat Bronze yang di mana ini masuki oleh mereka yang memiliki System Bronze. Yang kedua sekolah tingkat Silver dan yang ketiga sekolah tingkat Gold. Untuk dapat membedakan para pelajarnya, sekolah menerapakan warna Bronze, Silver dan Gold di kerah baju mereka. Sekolah ini sengaja di buat seperti itu, supaya tidak ada diskriminasi dari setiap orang dan bertujuan mencerak pelajar dari setiap masing-masing bidang. Meski tujuannya terdengar mulai, tetap saja ada diskriminasi yang tidak terlihat di mata Guru karena sekolahnya terlalu luas}
Anto yang sudah memahami sedikit kondisi sekolahnya mulai masuk ke gedung kelasnya. Saat sudah di gedungnya, Anto langsung jalan ke kelasnya dengan santai. Tapi saat jalan ke kelasnya, Anto sering di lirik oleh para siswi lainnya dengan senyum dan juga sepertinya ada sesuatu yang membuat mereka jadi seperti itu. “Ini hanya perasaanku saja atau memang hari ini aku aneh!” Anto yang tidak mengerti kenapa dirinya terus di tertawai dan juga sepetinya mereka semua menahan tawanya.
Setelah cukup jauh jalan di lorong menuju kelasnya, Anto sampai di kelas 1B dan langsung membuka pintu. Anto yang membuka pintu langsung di lihat oleh semua teman sekelasnya dengan tersenyum dan juga sepertinya habis membahas sesuatu di belakangnya. “Pa, pagi semuanya.” Sapa Anto dengan grogi saat masih berdiri di dekat pintu masuk. Semua temannya membalas dengan biasa saja dan juga terlihat normal saja. Tapi Anto yang sensitf akan perasaannya hanya bisa diam saja dan tidak berkomentar dengan hal yang tidak di ketahuinya sama sekali.