Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 144


Anto yang tidak dengar NAVI melanjutkan hanya diam saja menunggu, tapi itu akan terlalu lama jika dia tetap diam saja. “Kenapa kamu masih diam. Ayo lanjutkan.” Suruh Anto yang melihat NAVI masih melayang lalu ke duduk di kepalanya. NAVI diam sebentar.


-Hah… Manusia yang membuat kontak dengan Iblis adalah Sherly Anto. Dia dengan sengaja memanggil Iblis-Iblis dari berbagai tempat dan menggunakannya untuk menghancurkan seluruh Dunia ini. Dari sudut pandangnya mungkin, lebih menghabisi semua manusia yang menderita dan semua orang kaya dengan meminta bantuan Iblis itu- NAVI menjelaskan dengan tatapan kosong sekali. Anto yag mendengar itu diam dan meredakan sedikit amarahnya.


“Sherly...” Anto mengubah pandangannya kepada Sherly dengan lebih baik. Anto berjalan mendekat ke Sherly yang masih dalam setenah jadi berubah. Saat sampai di depannya, Anto diam memperhatikan wajah Sherly yang tanpak sangat menahan rasa sakit. “Sepertinya kamu sangat berusaha keras untuk mengahncurkan Dunia ini, bahkan pengawalmu saja tidak takut jika kamu berubah dan tetap melindungimu.” Anto yang marah kini merasa iba dan kasihan. Anto diam terus memperhatikan raut wajah Sherly yang sepertinya juga hanya bisa memikirkan cara itu. “Kenapa kamu sangat baik dan sangat jahat? Aku jadi tidak tega meninggalkanmu di sini.” Anto yang bertanya-tanya dan tidak tahu harus berkata apa pada pada tindakan Sherly.


Setelah itu, Anto menyentuh kening Sherly dengan pelan hingga Sherly tidak merasakan tangannya sama sekali di keningnya. ‘WUSH! WUSH! WUSH!’ Sherly langsung berubah jadi Iblis succubus tanpa resiko apa pun. “Eh!” Sherly jadi bingung dengan perubahanya yang cepat dan merasa lebih baik dari sebelumnya. Dia merasa lebih baik dari sebelumnya.


“Aku membantumu!” Bicara Anto dengan masih suaranya saja. Sher;y terdiam dan bingung tidak mengerti. “Penelitianmu itu masih banyak kekurangan dan kamu tidak tahu apa yang kamu ingin raih. Tapi, jika kamu ingin membuat senjata pemusnah masal. Lihat ke robot itu. Itu sudah setara dengan penghancuran satu Negara di Duniaku dan bahkan bisa membedakan siapa yang kamu ingin bunh dan hancurkan.” Anto menjelaskan dengan singkat.


Sherly menundukkan kepalanya dan tidak tahu harus berkata apa pada Anto. Anto yang melihat semua kejdian di sana hanya bisa melihat apa reaksi Sherly yang sepertinya. “Kenapa kamu malakukan ini?” Tanya Sherly dengan wajah tenang. Selama beberapa saat Anto diam saja melihat Sherly yang masih menundukkan wajahnya.


“Soalnya aku tahu yang terjadi selama 10 tahun terakhir, dan bahkan aku tahu apa yang kamu lakukan dengan membuat dirimu jadi seperti ini.” Anto diam setelah berkata itu sambill melihat ke wajah Sherly yang sydah mengakat wajhanya dan tanpak akan sedih. “Tapi, andaikan kamu meminta bantuanku lebi awal dengan semua ini, pasti akan ku bantu dengan baik-baik.” Bicara Anto dengan tulus.


Sherly yang tanpak sedih emngubah wajahnya jadi tenang. “Ku mohon bantu aku!” Minta Sherly dengan menundukkan kepalanya pada Anto yang tepat di depannya. Anto tidak bisa berkata apa-apa dengan semua itu, dia hanya diam saja tersenyun dan dengan tulus pad Sherly.


“aku mengerti, akan ku bantu. Tapi, sebagai gantinya, semua ini harus di hilangkan dan akan ku bantu dalam mengembangkan robot sihir buatan yang lebih efektif dari pada manusia yang akan jadi penggunanya.” Bicara Anto dengan tulus meski tidak menyelesaikan masalah yang sudah ada. “Oh ya, aku akan dengarkan semua masalahmu di kamar sebelumnya.” Bicara Anto dengan jelas. Setelah dia diam dan tidak bicara.


-Hah… Sepertinya kita akan sibuk- Dengan wajah senyum di wajahnya. -Jadi apa yang akan kamu lakukan?- Tanya NAVI pada Anto. Anto diam dan idak merespon, malah melihat ke Sherly yang masih tenang di tempatnya.


“Semuanya, kita hancurkan semua ini dengan cepat dan jangan biarkan satu pun tersisa.” Suruh Sherly dengan tegas. Semua prajurit yang langsung menyebar ke setiap bagian unyuk menghancurkan semua peneliatan itu.


“Kakak!” Panggil seorang Gadis yang baru datang dengan sangat lelah dan bisa di lihat dari napasnya yang tersengagal saat sampai. Sherly melihat ke Gadis yang pernah menyekamatkan Anto di dalam menara pemaggilan. Gadis itu melihat ke prajurit yang menghancurkan semua penelitian yang ada di sana dan tidak memperdulikannya sama sekali.


“Riana! Kenapa kamu di sini?” Tanya Sherly yang tersenyum dengan senang pada Adiknya.


“Kakak sudah menemukan penolong dari pada penelitian ini. Dia cuma yang bisa membantu kita menyelesaikan masalah ini.” Respon Sherly dengan senyum. “Selain itu dia tidak membenciku setelah melakukan semua ini.” Tambah Sherly dengan sangat senang sekali. Riana tidak beekata apa-apa dan hanya bisa diam saat melihat Kakaknya terlihat senang. “Setelah ini ikuti Kakak.” Ajak Sherly dengan wajah sangat ceria sambil meneteskan air mata. Setelah itu Sherly diam saja.


Anto yang memperhatikan di sana, masih diam saja memperhatikan Kakak Adik yang terlihat saling dukung satu sama lain. “Sherly, Aku ingin tahu apa yang di lihat dengan matamu itu.” Anto yang tersenyum saat melihat Sherly yang bahagia sekali.


-Mari kita pergi dahulu dan membuat Suci sadar dulu- Ajak NAVI yang masih ada di kepala Anto. Anto yang sudah lega dan merasa baik, mendekat ke Gelembung hitam yang mengurung Suci di dalamnya. Tanpa merespon, Anto langsung teleportasi ke kamar tempat dia sebelunya tidur dengan membawa Suci. Saat sampai, Anto langsung meletakkan gelembung itu di dekat kasur, lalu dia duduk di tepi kasur.


“NAVI kamu selesaikanlah masalh yang ada pada Suci.” Suruh Anto saat yang sudah duduk dan ingin memperhatikan. Tanpa merespon, NAVI terbang melayang mendekat ke gelemung yang mengurung Suci. Setelah itu dia menyentuhnya lalu muncul sebuah layar di depannya. Layar itu di ketik-ketik oleh NAVI dengan tenang, lalu sebuah cahaya keluar dari tubuh Suci yang membuat gelembung itu jadi pecah langsung. Anto melihat Suci yang masih dengan tatapan kosongnya kini berubah sedikit cerah, lalu melihat ke Anto yang di dekatnya dengan mata yang mulai mengeluarkan air mata. “Tenang lah, aku akan menemani mu ?” Anto tersenuym sambil melihat ke Suci yang yang sedang menetaskan air mata ke arahnya. “Diam dan jangan bergerak, aku akan menyembuhkanmu.” Suruh Anto dengan lembut pada Suci.


Setelah itu, Suci diam dan tidak bergerak sambil melihat ke Anto yang duduk saja melihat ke arahnya dengan senyum. Anto diam saja melihat ke NAVI yang sedang melakukan sesuatu yang tidak di ketahuinya sama sekali.


-Tinggal beberapa sentuhan- NAVI tersenyum dengan terus menekan tombol-tombol di depannya. ‘SHH!’ tubuh Suci jadi semakin terang lalu berubah jadi terang sekali. ‘BRAK!’ pintu masuk kamar itu di dobrak dengan kerasa sekali. Sherly dan Riana masuk ke kamar itu dengan sangat terburu-buru.


Saat mereka melihat, keduanya sedikit kaget dengan Anto yang tenang dan Suci diam saja di tempatnya. Tapi, setelah beberapa saat, Suci langsung kaget dan ketakutan saat melihat Sgerly dan Riana ada di depan pintu. NAVI yang telag selesai menghanxurkan pengendali Suci, lansung menurnkannya di dekat Anto dan di saat yang bersamaan Suci langsung naik ke kasur dan bersembunyi di belakang punggu Anto. “Jangan takut.” Anto langsung menenagkan Suci yang ada di punggungnya karena tidak berani mendekati Sherly dan Riana. “Kalian di sini. Seperti yang kalian lihat, tidak mungkin kalian cepat akrab dari sini.” Anto yang membiarkan Suci bersembunyi di belakangnya.


Sherly tersenyum dan tidak berkata apa-apa. “Tidak papa.” Jawab Sherly dengan tenang dan tidak terlihat lelah sama sekali. Semantara itu, Riana hanya diam melihat Anto yang tidak kelihatan marah sama sekali.


Setelah itu, mereka tidak ada yang mulai oercakapan. Tapi, Anto langsug menatap ke Sherly dengan cikup lama. “Sebelum itu, apa kalian sudah menikah?” Tanya Anto dengan sopan pada Sherly dan Riana dengan terus terang. Sherly agak kaget dengan pertanyaan itu dan diam sebentar.


Sherly yang melihat Anto tanpak serius masih tenang saja. “Belum sama sekali. Aku menikah dengan pekerjaanku.” Jawab Sherly dengan tenang. Anto sedikit kecewa saat mendenga itu lalu mleihat ke Riana.


“Kalau kamu?” Tanya Anto sambil melihat ke Riana. Riana diam saja tidak merespon Anto dan malah termenung tidak tahu harus apa yang di respon pada Anto. “Apa aku terlalu cepat Tanya?” Anto yang masih kebingungan dengan pertanyaannya yang keburu di Tanya pada Riana.


Next Chapter