
Setelah mendengar cerita Lala, Semua koki yang takut pada Lala menjadi terdiam dan tidak tau harus berkata apa pada cerita yang tidak masuk akal sama sekali bagi mereka.
“Kenapa kalian begitu bengong begitu?” Tanya Lala dengan polosnya.
“Tidak!” Jawab koki itu dengan masih agak takut pada Lala
dengan tersenyum.
“Bisa aku pergi dari sini?” Tanya Lala pada koki itu dengan sopan dan juga dengan polos.
Koki itu mengangguk sebagai jawaban pada Lala. Setelah itu Lala berdiri, setelah mendapat jawaban yang di inginkannya, Tanpa menunggu lebih lama Lala langsung menubah pakaiannya di depan koki itu dengan cepat.
“Ini pakaian yang sangat bagus sekali. Sayangnya tidak terlalu nyaman buatku.” Kata Lala pada koki itu sambil memgang pakaian kulit yang telah di ubahnya.
Lala yang merasa kurang nyaman dengan pakaian itu, dengan fokus mengeluarkan kekuatannya dan menelilmuti dirinya dengan cahaya putih menyilaukan yang sangat terang sekali hingga para koki itu menutup matanya. Beberapa detik setelah cahaya putih menyilaukan itu mulai memudar, para koki itu muali membuka matanya. Setelah membuka matanya, Mereka semua melihat Lala yang sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sangat mewah dan sangat berkelas, dan juga Lala mengubah gaya rambutnya serta yang lainnya.
“Ini!” Lala menyerahkan pakaian kulit yang di tangannya pada koki di depannya.
Tanpa menjawab, koki itu mengambil pakaian kulit itu daro tangan Lala dengan sopan dan juga masih sedikit takut.
“Oh ya! Dimana Nana dan Momo?” Tanya Lala yang mengingat tujuannya pada koki di depannya.
Koki itu tanpak kaget dengan pertanyaan Lala.
“Ka... Kalau Anda mencari kedua Putri, mereka ada di ruang pesta.” Jawab Koki itu dengan sopan pada Lala.
“Bisa salah satu dari kalian tunjukkan jalannya?” Tanya Lala yang tidak tau arah ke ruang pesta.
Semua orang, Nampak tidak ada yang berani mendekati Lala dan hanya saling melihat.
“Hah!” Lala yang mesah dikit, karena tidak peraya sama ketakutan yang berlenihan mereka padanya “Kamu! Ikut Aku.” Lala menunjuk koki yang paling depan.
Koki itu dengan enggan dan juga takut, terpaksa mengikuti perkataan Lala dan maju ke depannya.
“Antar Aku!” Lala memberi perintah dengan tegas padanya sambil tersenyum.
Koki itu mengangguk padanya dengan Kaku. Setelah mendapat jawaban, Koki itu membimbing Lala ke ruang pesta di adakan. Lala mengikuti Koki itu dengan jalan seperti jalan Koki itu yang pelan.
“Bisa jalan lebih cepat?” Tanya Lala pada Koki itu yang jalannya makin pelan saja.
Koki itu menjadi sangat takut sekali pada Lala dan juga sangat gemetar.
“Wah!” Lala jadi bingung dengan Koki oria yang sangat takut sekali padanya *“Aku salah pilih?*” Lala yang tidak tau harus bagaiamana pada koki pria yang sangat takut padanya “Hei! sudahlah. Kembali sana.” Lala menyuruh Koki itu kembali ke dapur dengan perasaan biasa saja dan merasa tidak terjadi apa-apa
Lala memperhatikan Koki itu pergi dengan sangat cepat sekalidan takut pada Lala.
“Seperti yang kamu bilang, orang-orang takut pada kekuatan yang besar. Aku harap kamu bisa mengingatku, tidak. Ku harap segara merasakan keberadaan kami.” Lala yang berjalan lurus saja di lorong tempat di tinggal oleh Koki “Lorong ini lurus saja kan?” Lala yang terus berjalan denagn pelan “Pintu!” Lala yang melihat pintu di ujug lorong.
Lala yang melihat pintu itu, langsung berjalan sedang ke sana. Bebera meter berjalan, Lala sampai di pintu. Tanpa ragu Lala memegang gagang pitu itu secara tiba-tiba setelah membuka pintu, Lala tiba-tiba berada di aula yang di penuhi banyak orang.
“Hm! Ini tempatnya.” Lala melihat sekitar yang banyak orang.
***
Setelah beberapa mencari, Lala berhenti di tempat yang agak sepi.
“Dimana mereka berdua?” Lala yang terus melihat kesana kemari di aula itu “Mereka berdua Putri dari Kerajaan ini, mereka pasti berada di ruangan tertentu.” Guman Lala yang berhenti mencari dan mendekati meja makan yang di penuhi banyak orang.
Saat Lala sampai di dekat meja makan, semua oramg yang menikmati makanan itu, memuji masakan dari yang begitu enak dan nikmat, yang di kira buatan dari koki Hamzan. Lala yang mengatahui itu tidak peduli dan tetap menghampiri meja makan dengan santai dan sambil menghindari orang yang berada di tengah jalan.
“Akhirnya sampai.” Lala yang merasa semua orang begitu banyak di lewatinya “Lah!” Lala kaget saat melihat makanan yang tinggal sedkit sekali dan semua piring semuanya hampir bersih.
Lala mencari piring yang tidak di gunakan. Lala melihat tinggal satu piring bersih yang tersisa dan kemudian mendekati meja tempat piring itu. Saat sampai dan hendak mengambil, ada tangan lain yang duluan mengambil piring itu.
“Maaf!” Orang itu langsung minta maaf pada Lala dengan sopan dan juga dengan rasa hormat padanya.
“Tidak papa.” Lala tersenyum pada pria itu denga sopan yang terlihata seumuran dengannya.
“Namaku Brian.” Brian mengulurkankan tangannya pada Lala dengan sopan dan sambil tersenyum.
Tanpa rasa penolakan Lala menerima jabat tangan dari Brian.
“Namaku Lala.” Lala dengan senyumnya merepon Brian.
Brian termenung saat Lala bicara dengan suara begitu merdu padanya.
“Ehm!” Lala menyadarkan Brian yang melamun yang terus menatapnya terus menerus dan juga belum melepas jabat tangannya pada Lala.
Dengan buru-buru Brian melepas tangan dari Lala dan juga sedikit canggung. dengan rasa malu pada Lala. Lala tersenyum kecil melihat tingkah Brian yang malu padanya. Lala yang mengatahui kalau Brian perpaku padanya dan semua laki-laki sedang melirik di setiap tempat hanya tersenyum saja dan tidak peduli pada mereka.
"Jadi Gadis cantik dan polos memang merepotkan." Lala yang dengan tenang tidak menunjukkan rasa malesnya pada semua orang di pesta, terutama Brian yang ada di depannya.
Lala melihat Brian membenahi diri dan siap berbiara padanya, Brian memberanikan diri bersikap sopan dan mempesona di depannya.
“Kamu datang dengan siapa?” Tanya Brian pada Lala dengan sopan setelah melepas jabat tangan Lala dan juga masih ada rasa canggu pada Lala.
“Tidak ada. Aku kesini sendiri mencari temanku.” Jawab Lala dengan sopan sekali dan juga sedikit tersenyum pada pria itu.
Brian menatap Lala lagi dan juga sepertinya Brian tidak mendengar ucapan Lala.
“Ehm!” Lala menyadarkan Brian lagi dengan sopan, meski Lala mengatahui kalau Brian terpana padanya.
“Maaf!” Brian minta maaf lagi pada Lala dengan canggung dan juga malu padanya.
“Tidak papa. Udah ya, Aku pergi dulu. Aku akan pergi dulu.” Ucap lala dengan sopan sambil pergi meninggalkan Brian yang masih bengong dan juga masih malu padanya.
“Tunggu!!” Brian memberhentikan Lala yang mau pergi.
Lala berbalik melihat ke arah Brian. Namun, di saat yang bersamaan, semua lampus di padamkan hingga semua tempat gelap gulita. semua orang tidak ada yang bertanya dan hanya seperti menunggu sesuatu. Beberapa detik kemudian, secerah cahaya kecil muncul di langit-langit yang lama semakin besar membnetuk sebuag lingkaran smpurna. Setelah begitu besar ada sebuah benda besar yang keluar dari cahaya itu. Saat semuanya semakin jelas, Lala mengetahui seorang yang datang dengan sebuah lif ruang waktu. Nana dan Momo berada di sana dengan anggun dan sangat cantik sekali.
Next Chapter