Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 159


Luna memperhatikan Anto yang bertanya seperti itu padanya lalu dian sejenak dan berpikir. Setelah beberapa saat, Luna melihat ke Anto. “Aku tidak melihat apa pun sama persis dengan Suci. Kalian bening seperti tak bisa di lihat oleh siap pun.” Jawab Luna dengan serius. “Tapi, kamu terasa berbeda sekali. Kamu bisa di dekati, sulit di sakiti, sangat kejam, sangat penyayang...” Setelah itu, Luna terdiam dan tidak bisa bicara lagi dan berpikir lagi. Anto yang melihat Luna tidak berkata apa pun dan hanya diam saja, mengubah ekpresinya di saat Luna terlihat jadi lemas dan pucat, setelah beberapa detik Lua langsung terjatuh. Anto yang melihat itu dengan cepat menangkap Luna yang jatuh.


Anto menatap Luna yang di tangkapnya dan berpikir harus melakukan apa. “Apa aku kasi napas buatan?” Tanya Anto saat melihat Luna yang ada di pelukannya. Anto yang tidak menemukan cara lain, dengan pelan memajukan bibirnya hendak mencium Luna yang sedang di gendongnya. ‘PLAK!’ Anto di tampar langsung hingga terpental dan terjatuh oleh Suci yang langsung mengambil Luna yang hendak di cium Anto.


“APA YANG KAMU LAKUKAN?” Tanya Suci dengan wajah yang agak merah. Sherly dan Luna kaget dengan hal itu dan juga Anto bangun dengan perlahan sambil menahan sakitnya.


“Adehhh… Aku cuma mau kasi napas buatan saja, apa tidak boleh?” Respon Anto sambil nanya balik dengan memegang pipipnya yang di tampar dengan sangat keras.


“TIDAK BOLEH?” Jawab Suci dengan teriak keras sekali. Anto berbalik melihat ke Suci yang menatap marah sekali padanya.


“Kamu terlalu sensitive.” Respon balik Anto yang bangun perlahan akibat tamparan kuat Suci.Tapi Suci bukannya merespon balik, malah menatap tajam Anto dengan ganas. “Maaf, maaf, aku tidak mengulanginya lagi.” Anto dengan cepat mengubah ekspresi jadi takut dengan tatapan Suci.


-Hahahaha… Ini sangat tidak ku duga sama sekali- Bicara NAVI yang senang sekali dengan kejadian dan sepertinya sangat menikmati apa yang di lihatnya itu.


“Kamu senag kan melihat dirimu sendiri yang kayak gini.” Timbal Anto yang di tertawakan oleh NAVI. NAVI malah tidak peduli dengan apa yang di katakan Anto padanya dan tetap menikmati yang di lihatnya itu. Anto berjalan ke Suci yang memgang Luna. “Mumpung sekarang dia seperti ini, sekarang lah waktu yang tepat.” Anto menyentuh kening Luna saat sudah di dekarnya. “NAVI!” Tanpa merespon NAVI mendekat ke Luna lalu memberikan mimpi panjang. “Sekarang kita tunggu semalaman.” Anto tersenyum setelah berkata seperti itu. “Suci, bawa dia ke kamar lantai atas.” Suruh Anto dengan suara lembut. Suci hanya mengangguk lalu membawa Luna yang tidak sadarkan diri entah karena apa dengan terus menatap Anto dengan tajam dan tidak berkata apa apa. Setelah Suci pergi, Anto melihat kepada Sherly dan Riana. “Nah, sekarang kalian berdua!” Anto tersenyum pada Sherly dan Riana. “Bukannya kalian ingin istirahat, kenapa sekrang kalian di luar sini?” Tanya Anto dengan nada mengancam mereka berdua.


Mereka hanya diam takut dengan Anto yang seperti itu pada mereka. “Mohon ajari kami sesuatu.” Minta Sherly dengan cepat meski Anto masih menatapnya dengan sangat tajam. Anto yang medengar itu mengubah tatapan dan melihat mereka yang sepertinya  merasa bersalah. Anto diam dulu melihat mereka yang masih saling pandang dan sesekali mengintip Anto yang melihat mereka berdua.


“Jadi, kalian mau di ajari apa?” Tanya Anto yang sudah tidak marah lagi dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sherly dan Riana terdiam saat Anto menanyakan balik dan terlihat biasa saja kepada mereka berdua. “Kenapa kalian masih diam saja?” Tanya Anto lagi yang di diamkan dan tidak di respon sama sekali.


-Gadis itu sudah bangun Anto- NAVI memberi tahu dengan singkat.


“Apa!” Anto tidak tahu harus berkata apa saat NAVI bilang begitu, mengingatkan tentang Luna yang baru saja tertidur beberapa menit saja.


“KAKAKKKK…!” Panggil Suci yang terdengar dari atas sana.


“Aku salah lagi. Kenapa bisa salah terus sih?” Anto yang tidak mengerti diri yang sudah beberapa kali salah prediksi. Sherly dan Riana hanya diam saja meski Anto bicara dengan sangat jelas sekali pada mereka berdua. “Ikut aku.” Ajak Anto dengan santainya pada mereka berdua. Kedua Saudari itu mengikuti dari belakang selaras jalan dengan Anto di depannya. "nanti ku ajarkan semua pengetahuan apa saja asalkan tidak berbahaya." Anto mengingtak kedua Saudari itu yang mungkin nanti menganggapnya tidak menepati janji. Saat mereka di tangga, mereka langsung naik dan tidak ada yang bicara sama sekali hingga mereka di depan pintu kamar yang terbuka.


“Selamat pagi Kakak.” Sapa Luna yang sudah sangat berbeda sekali. Anto malah menatap Luna yang sangat feminim itu dengan hasrat yang terlihat sangat jelas sekali di wajahnya. Luna hanya tersenyum saat melihat Anto yang seperti itu padanya.


“NAVI, ini sangat berbeda sekali dari bayanganku. Kenapa dia bisa sadar hanya dalam beberapa menit saja?” Tanya Anto yang sama sekali tidak paham dengan situasi yang sedang terjadi.


-Kamu Tanya aku, sejujurnya aku malah penasaran kenapa malah bisa begini!- Respon NAVI yang sama sekali juga tidak tahu apa yang terjadi pada Luna.


“Kak, aku sangat berterima kasih atas cinta Kakak yang sangat banyak itu. Tapi, aku juga tidak ingin berpisah dari Kakak. Oleh sebab itu, aku ingin menikahi Kakak dan selamanya ingin di samping Kakak.” Pengakuan Luna yang terus terang malah semakin menghancurkan suasana di sana dan terlihat membuat Sherly yang di dekat Anto jadi menatap tajam pada Luna.


“Tuan Muda, bisa tinggalkan kami sebentar saja.” Minta Sherly yang bersikap berbeda sekali dari biasanya. Anto melihat ke Sherly yang memganggilnya Tuan Muda hanya bisa menghindar saja dari Sherly yang  bersikap seperti itu padanya.


“L, lakukan apa yang kamu inginkan.” Anto dengan cepat turun dan tidak berkata apa-apa sambil meninggalkan mereka berempat di kamarnya. “Semoga saja Haremku tenang saja.” Anto yang kahawatir sambil turun dari tangga. “Dan NAVI, sebenarnya apa yang kamu lakukan dan kenapa mereka berdua bisa cepat sekali bangun?” Tanya Anto pada NAVI yang diam saja dari tadi.


-Aku sendiri tidak tahu apa yang sudah terjadi. Lihat ini!- NAVI memunculkan sebuah layar di depannya yang menampilkan sebuah vidio yang bedarusi panjang hingga 1 juta lebih jamnya dan terlihat seperti kamera yang melihat ke mana saja.


“NAVI, ini bukan sesuatu yang kamu buat kan?” Tanya Anto pada NAVI yang sepertinya itu bukan seperti sebuah program.


-Tentu saja bukan. Ini adalah salah satu ingatan dari BIDADARI yang telah meninggal. Dan masalahnya itu, semua ada di dalam data yang tersimpan- Jawab NAVI dengan serius.


“NAVI, sebaiknya kamu kasi tahu aku yang sejujurnya apa hasil dari Update yang telah kamu terima itu?” Tanya Anto yang sangat ingin tahu sekali. NAVI terdiam dan tidak langsung merespon, malah dia tidak bisa menjelaskannya sama sekali.


-Hah… Jika ku jelaskan, itu membutuhkan waktu sekitar 1 tahun lebih buat selesai. Aku juga menyerap semua data itu membutuhkan waktu 5 tahun lebih, dan sekarang banyak fitur baru yang ada bahkan kamu mungkin tidak menduganya sama sekali- Jawab NAVI dengan serius sekali. Anto terdiam mendengar itu dan merasa, kalau itu bukan sembarang data biasa. Sembari jalan ke ruang keluarga, Anto terus memirkan apa yang sebenarnya di Update oleh dirinya dari masa depan, hingga membuat NAVI jadi sulit menjelaskannya. Anto mencari cara supaya bisa di mengerti lebih simpel dan jelas, karena mereka berdua sudah tidak berbagi lagi perasaan yang sama dan itu membuat mereka jadi sulit untuk saling tahu kebenaranya. Tapi, Anto bisa sangat percaya NAVI dan NAVI pun percaya semau yang di lakukan Anto itu juga merupakan kelakuannya juga.


"NAVI, aku akan tanya singkat dan kamu hanya perlu jawab ya dan tidak saja. NAVI pun mengangguk cepat tanpa bicara sama sekali yang duduk di pundak Anto. “Jika ku simpulkan, semua data dan pengetahuan itu bukan dari satu orang saja bukan?” Tanya Anto dan NAVI mengangguk saja sebagai jawaban. “Ini juga bukan dari para kontraktor bukan?” NAVI mengangguk lagi. “Terakhir, apa pengtahuan itu dari satu asal yang sama bukan?” NAVI hanya mengangguk. “Baiklah, aku tahu jawabannya kalau itu.” Anto berjalan dengan wajah serius ke ruang keluarga. Sesampainya di sana, dia langsung duduk dan NAVI duduk juga di kepala Anto dan siap menjelaskan secara singkat.


Next Chapter