
Setelah berhenti sebentar melihat siapa yang di ruang makan, No 3 yang berjalan dengan senyum ke meja tanpa ragu sama sekali. Saat sampai dia langsung duduk di dekat kursi Fuka. “Ibu… hari ini kami ada pelatihan Skil di luar sekolah, jadi kami mungkin akan malam pulangnya.” dengan suara ramah Anto mengatakannya.
“Oh ya, hari kan ada kelas praktik!” timbal Fuka dengan santainya se[erti tidak pernah terjadi apa pun di kamar itu. “Tapi… apa Kakak akan baik-baik saja?” Tanya Fuka pada Anto tanpa melihatnya sama sekali. Anto hanya tersenyum mendengar itu.
“Ku rasa ka…” Anto perlahan merasa matanya berat lalu memrgang kepalanya, sedang di sisi lain No 2 merasa di tarik sesuatu lalu dapat merasakan tubuhnya lagi. No 2 langsung melihat ke sana sini dengan biasa saja sambil melihat bergiliran kepada orang tuanya lalu melihat ke Fuka. No 2 kemudian melihat ke orang tuanya yang sedang makan.
“Sudah lama Ayah Ibu…!” Sapa no 2 dengan suara ramah pada kedua orang tuanya. Ayah dan Ibunya yang makan berhenti lalu melihat ke No 2. Kemudian No 2 melihat Fuka di sampingnya yang melihat ke arahnya saat menyapa orang tuanya dengan nada lain. “Kamu juga sudah besar ya…!” sambil mengelus kepala Fuka yang melihat dengan aneh padanya. Tidak ada yang bicara kecuali hanya melihat ke No 2 yang baru itu. “Jangan lihat aku seperti itu, mari sarapan…!” ajak No 2 mulai mengambil nasi dan beberapa lauk.
Semua orang diam saja emlihat ke Anto termasuk Ayah dan Ibunya. “Kak… Kakak kenapa?” Tanya Fuka padanya. No 2 melihat ke Fuka yang bertanya seperti itu padanya.
No 2 tidak langsung merespon dia terus mengambil makanan di meja. Setelah mengambil beberapa lauk No 2 selesai lalu melihat ke Fuka. “Namamu siapa?” Tanya dengan biasa saja sambil tersenyum dan juga pura-pura tidak tahu namanya meski sudah tau. Fuka hanya terdiam saja mendengar itu.
“Fuka… namanya Fuka…!” jawab Ayahnya dengan biasa saja. “Jadi kamu benaran ada ya… ku kira kamu tidak akan pernah muncul lagi…” dengan senyum mengatakan itu pada No 2.
“Mana mungkin aku tidak hidup… aku belum banyak melakukan hal baik dan belum menyelamatkan manusia.” timbal No 2 dengan mulai makan sedikit.
“Ibu…” panggil Fuka karena tidak mengerti dengan arah pembicaraan itu sama sekali. Ibunya hanya tersenyum saja mendengar itu.
“Dia itu Kakakmu Anto, tapi dengan jiwa yang dari masa depan. Ibu pernah bukan mengatakannya kalau kamu itu juga di bawa oleh dirinya…” dengan tenang mengatakan itu pada Fuka. Fuka langsung melihat ke Anto yang berbeda di sampingnya itu. Dia hanya mlihat saja dan tidak berkata apa-apa sama sekali karena penasaran dengan Anto yang baru.
Anto terus makan dengan senyum dan tidak lanjut bicara lagi. “Anto… di masamu itu seperti apa masa depan?” Tanya Ayahnya yang memperhatikan.
“Di masaku! ku rasa tidak baik sekali. Lebih tepatnya aku tidak tahu sama sekali apa yang terjadi dengan dunia di masaku.” Jawan Anto dengan jujur sambil terus makan.
“Apa maksudmu?” Tanya Ibunya yang ingin tahu. Anto terus makan dan tidak langsung menjawab. Kali ini Anto berhenti makan lalu diam sebentar.
“Bagaiaman ya… seperti ini… sejak aku berusia 16 tahun, aku pernah mengalami kembali ke masa mudaku yang berusia 5 tahun. Tapi aku bisa mengendalikan tubuhku waktu itu. Saat itu aku memulai perencanaan membangun kota di sebuah pulau bersama temanku yang lebih tua dariku. Tapi saat itu, akan terjadi sesuatu pada diriku. Oleh sebab itu aku menyerahkan proses pembangunan kota idamanku pada temanku. Setelah itu aku tertidur lama sekitar 11 tahun, dan saat aku sadar ternyta kotanya sudah di bangun dengan sangat megah sekali dan aku ke,bali ke masa remajaku yang berusia 16 tahun. Setelah itu aku lanjut pergi ke tempat selanjutnya untuk membangun kota kedua setelah 11 tahun tertidur, tapi di saat itu lah aku menyelamatkan Fuka dan Ibunya.” Anto terdiam setelah mengatakan itu lalu sebuah layar di depan mereka muncul. Saat di putar ternyata itu adalan gambaran ketika dirinya menyelamatkan Fuka dan Ibunya. Ayah dan ibunya dapat melihat Anto yang remaja di masa itu dengan pakaian seba hitamnya yang terlihat sangat bagus sekali. “Di sinilah di mulainya… setelah menyelamatkan Fuka, aku tiba-tiba di masa lalu dengan menganggap kalau semua itu hanya mimpi belaka karena diriku masih belum stabil emosinya saat itu gara-gara kelakuan gadis yang kalian itu.” dengan tenang menjelaskan.
“Saat ini pun aku masih terlihat tenang, tapi aku masih dalam kondisi bingung, penuh dengan pertanyaan dan juga ingin tahu sekali dengan apa yang terjadi. Tapi itu tidak bisa, karena tubuh ini hanya bisa ku pakai sementara.” dengan tenang dan mulai lanjut makan sambil menjelaskan. “Tenang saja, meski aku tiba-tiba sadar nanti, aku masih bisa mengedalikan emosiku seperti ini, tapi sebaiknya ada ada satu orang yang selalu ikut denganku ke mana pun supaya aku bisa di jelaskan situasinya.” dengan makan No 2 mengatakan itu. “Rasanya diriku yang lain memikirkan dirinya yang lemah dan tidak bisa menggunakan kekuatannya. itu yang ku rasakan meski aku tidak punya ingatan dan pengalamannya sekarang ini.” No 2 terdiam sebentar lalu membuka dimensi di atasnya sambil merasakan emosi dari No 3. Anto melihat ke pakaiannya yang berbeda dari sebelumnya lalu berhenti makan kemudian melihat ke orang tuanya. “Jadi karena aku pakai seragam pasti ini ke sekolah kan, kalau gitu kenapa kita tidak jalan saja. Aku ingin tahu seperti apa sekolah itu.” dengan tenang mengatakan itu.
Tidak ada yang merespon sama sekali dengan cerita dan permintaan Anto itu. Mereka hanya menyimak dengan serius. “Ayah ingin Tanya… apa kamu tahu tentang sebuah kota melayang?” Tanya Ayahnya pada Anto yang makan.
No 2 terdiam saat Ayahnya bertanya itu padanya, tapi langsung tersenyum. “Tentu aku tahu, karena kota itu hasil rancanganku sendiri dan juga semua robot yang ku berikan pada kalian adalah rancanganku sendiri. Tapi… Ayah bilang kota melayang! apa maksud Ayah ada kota melayang di sini?” Tanya No 2 meski tahu itu.
“Tentu saja Ayah tahu. Ini terjadi saat kamu tiba-tiba melenyapkan monster di masa lalu saat Ayah dan Ibu mau meninggalkanmu di gedung itu.” Jawab Ayahnya dengan serius. “Saat kamu sedang tidur, sebuah dimensi terbuka di langit yang menutupi kota yang sekarang ini oleh kegelapan. Setelah itu, dari dimensi itu keluar sebuah benda yang sangat luas sekali, lalu terbebang menjauh. Saat itu Ayah masih tidak tahu benda itu sebuah kota sampai di jelaskan oleh robotmu. Setelah beberapa membiasakan diri dengan pemberianmu, Ayah mencari tahu ke mana perginya kota yang melayang itu dan Ayah tiba di sebuah pulau yang terbuat dari benda aneh yang kuat. Benda itu sampai sekarang masih dan dan sedang di teliti supaya bisa masuk.” dengan terus terang menjelaskan pada Anto.
“Kota itu benaran ke sini… mungkin aku bisa tahu apa yang terjadi jika ke sana?” No 2 yang masih tidak percaya jika kotanya itu memang di sini. “Nanti ku lihat Ayah… mungkin kota itu dari masa depan jika memang buatanku.” timbal No 2 yang pura-pura saja dengan terus makan. Selagi makan, ternyata tidak ada yang makan kecuali No 2, yang kini mereka hanya melihat kepadanya yang akan segera habis sarapannya. “Biasanya jam berapa mulainya pelajaran kelas?” Tanya No 2 yang sudah selesai sarapan. Fuka langsung berdiri, hingga membuat No 2 dan kedua orang tuanya melihat padanya.