ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Perubahan Rencana


"Arya! Sepertinya kau tidak begitu menyimak apa yang baru saja kami jelaskan. Apa perlu aku mengulanginya lagi? " Protes Ciel.


Keempatnya tidak mengerti jalan fikiran Arya. Bagaimana mungkin seseorang bisa membantu masalah yang begitu rumitnya.


Lamo, juga terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan Arya, dia tidak menyangka ada pemuda yang memiliki kepercayaan diri seperti Arya. Atau, lebih tepatnya, Lamo tidak menyangka bahwa pemuda itu tidak hanya lemah tapi juga bodoh.


"Anak Muda. Aku menghargai niatmu." Lamo menghela nafas, dan menoleh pada empat orang yang kini sedang menatap Arya. "Tapi, kau sudah mendengar dari orang-orang ini bagaimana situasinya, bukan?"


Arya mengangguk. "Ya. Aku mengerti situasinya. Itu kenapa, aku ingin membantumu menghancurkan Oldenbar" Ucap Arya yakin.


Semua orang di sana, serentak memijit kening mereka. Menurut mereka Arya sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakannya.


Arya memperhatikan mereka semua. Matanya kini menoleh pada kedua kakak beradik yang memutuskan untuk ikut bersamanya.


"Aku tidak bisa membiarkan apa yang pernah terjadi di negara kalian, juga menimpa orang-orang ini"


Arya mencoba menjelaskan apa yang membuat dia ingin membantu Lamo. Tapi sepertinya hal itu sama sekali tidak membantu membuat dua gadis itu mengerti.


"Arya, itulah kenapa aku dan Ciel meminta pada ketua Lamo, untuk mengurungkan niat mereka untuk berperang. Sekte yang akan mereka lawan adalah Sekte yang dibantu oleh Serikat Oldenbar." Luna mencoba menjelaskan pada Arya sekali lagi.


Bai Hua yang sejak tadi belum bersuara, kini mencoba memberikan pendapatnya. "Senior, Aku tidak meragukan niatmu. Tapi, seperti kata Nona Luna dan Nona Ciel, perang ini akan berakhir sama. Ketika mereka semua lemah saat itu serikat Oldenbar akan mengambil semuanya."


Menurut mereka Arya tidak mengerti dampak setelah perang. Meskipun, Sekte lembah Hantu dan Sekte lainnya memenangkan peperangan ini, tetap saja setelah perang, mereka akan lemah.


Apapun keadaannya, Oldenbar akan diuntungkan. Karena mereka tidak perduli siapa yang memenangkan perang. Yang mereka perdulikan hanya waktunyang tepat untuk mencapai tujuan mereka.


"Bai Hua benar" Bai Fan menyetujui pendapat cucunya. "Bagaimanapun, Oldenbar sudah mengetahui hasil akhirnya. Dan keuntungan yang bisa diambil sekarang bagi ketua Lamo adalah, menghindari perang ini." Jelas Bai Fan.


Pendapat ini mendapat anggukan oleh semua orang. Tentu saja itu adalah hal yang paling masuk akal saat ini.


"Ya. aku setuju perang ini akan merugikan kedua belah pihak. Kalian telah menjelaskannya. Lagipula, Tuan Lamo sendiri yang mengatakan Sekte yang akan mereka lawan sebenarnya adalah Sekte sahabatnya sendiri"


Saat Arya mengatakan itu, Semua menjadi sedikit lega, setidaknya Arya sudah mengerti situasinya.


"Jika senior sudah mengerti, lalu, kenapa Senior masih ingin membantu Ketua Lamo berperang?"


Pertanyaan yang sama hampir saja disampaikan oleh Ciel. Dia tidak menyangka kali ini dia di dahului oleh Bai Hua yang biasanya tidak banyak bicara.


"Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku akan membantu Tuan Lamo berperang, malah aku berniat menghentikan kemungkinan peperangan." Jawab Arya.


Tidak mau didahului Bai Hua lagi, Ciel langsung menyela. "Tapi, tadi kau— "


Arya sudah tau apa yang akan ditanyakan oleh Ciel, dan langsung memotongnya. "Ya! Aku mengatakan akan membantu menghancurkan Oldenbar. Bukan berarti harus memulai perang, bukan?"


Arya menatap mereka semua. Kini dia menyadari bahwa mereka tidak mengerti apa yang dia maksud. Akhirnya Arya menjelaskan apa yang dia fikirkan.


"Kita sudah tau siapa yang memulainya. Aku rasa, jika Oldenbar hancur, tidak ada lagi alasan untuk Sekte-sekte ini untuk berperang."


Setelah mendengar penjelasan Arya, pikiran mereka semua kini mendadak kosong. Tidak ada lagi yang harus dipertanyakan karena semua sudah jelas. Jelas bahwa Arya berfikir lebih jauh dari mereka semua.


Seharusnya, memang Serikat Oldenbar-lah musuh sebenarnya. Arya baru saja mengatakan Solusi paling baik yang bisa dilakukan oada situasi seperti ini.


"Ketua Lamo." Bai Fan yang dahulu dapat memahami apa yang dikatakan Arya, langsung mengingatkan Lamo. "Sepertinya, apa yang dikatakan, pendekar muda ini sangat benar. Tidakkah menurutmu juga begitu?"


Lamo mangangguk mantap "Ya. Aku pikir juga begitu." Lamo menoleh kembali pada Arya." Anak muda. Maaf karena aku lambat menyadari maksudmu" Ucapnya.


"Tidak apa-apa, Tuan Lamo. Mungkin, memang aku yang salah cara mengatakannya"


"Terimakasih"


"Jika sudah begini, kau harus mengubah rencanamu, secepatnya. Bukankah sekte-sekte lain juga akan ikut bergabung?"


"Ya, Tuan Bai!" Jawab lamo. "aku akan mengutus orang untuk memberitahu mereka tentang informasi ini"


Bai Fan secara mengejutkan ternyata memiliki banyak teori dalam berperang. Bagaimanapun, Bai Fan adalah Patriark dari Klan Bai. Salah satu Klan yang disegani di Kekaisaran Yang. Salah satu negara terbesar di Benua Timur, bahkan di Dunia.


Dengan sejarah panjang yang telah mereka lalui, sebagai keluarga yang mendapat kepercayaan khusus dari kaisar untuk mempelajari sejarah. Keluarga Bai secara turun temurun mencatat semua hal yang terjadi di negaranya. Termasuk prihal perang.


Bai Fan memberikan banyak pilihan dalam menghadapi situasi yang sedang dialami oleh Sekte Lembah Hantu.


Dengan bantuan informasi dari Luna dan Ciel, mereka memiliki banyak gambaran tentang cara kerja Serikat Oldenbar.


Akhirnya, sampailah Lamo pada keputusan awal rencanannya. Yaitu, mengumpulkan semua petinggi Sekte yang ada untuk melanjutkan pembahasan strategi yang akan mereka jalankan.


Lamo sangat bersukur malam itu bisa dipertemukan dengan kelimanya. Setidaknya, saat ini dia sudah tau musuh seperti apa yang akan mereka hadapi didepan. "Aku benar-benar berterimakasih pada kalian semua."


"Ah, Ketua Lamo tidak perlu sungkan. Mungkin, ini hanya kebetulan dan kami hanya mengatakan hal yang kami ketahui untuk bisa sedikit membantumu" Jawab Bai Fan.


Lamo menoleh pada Arya. Dia benar-benar merasa sedikit malu atas sikapnya yang sempat menganggap Arya sebagai pemuda bodoh. "Anak Muda, sekali lagi aku minta maaf karena sempat meragukan bantuanmu"


Arya mengangguk. "Seperti kata Kakek Bai, Tuan Lamo tidak perlu sungkan." Jawab Arya.


Malam itu juga, Lamo mengutus beberapa orang untuk memberitahukan pada tiga sekte lainnya tentang perubahan rencana mereka.


Setelah selesai membahas semuanya, Lamo memerintahkan pada anggotanya untuk mendirikan tenda untuk kelima orang itu. Akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat.


Saat hari sudah terang, Arya mendatangi Bai Fan, Bai Hua, Luna dan Ciel yang tengah bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan mereka. Di sana juga sedang ada Lamo dan beberapa orang petinggi Sekte Lembah Hantu, terlihat hendak melepas mereka pergi.


"Aku akan menyusul kalian setelah kami berhasil menghancurkan Serikat itu!" Kata Arya pada semuanya.


Perkataan Arya itu sontak membuat semua orang di sana sedikit terkejut. Sebelumnya, meraka berfikir Arya juga akan melanjutkan perjalanan ke Kota Basaka.


"Apa maksudmu?" Tanya ciel.


Arya menjadi sedikit heran dengan tatapan semua padanya. "Bukankah aku sudah mengatakan pada kalian semua, bahwa aku akan membantu Tuan Lamo menghancurkan Serikat Oldenbar?"


"Tapi—"


Ciel ingin protes, karena mereka semua menyangka Arya sudah membantu Sekte Lembah Hantu dengan idenya. Siapa yang menduga bahwa Arya benar-benar ingin terlibat dalam rencana itu. Namun, Lamo langsung memotongnya.


"Ah! Anak Muda. Aku sangat menghargai niatmu. Tapi, kau tidak perlu melakukan sejauh itu." Lamo mencoba memberikan Arya pengertian.


Lagipula menurut Lamo, apa yang bisa dilakukan pemuda ini saat pertarungan dengan Serikat Oldenbar terjadi. Itu bisa membahayakan dirinya.


Arya tersenyum "Aku akan membantu agar tidak ada korban di pihak Tuan Lamo." Balas Arya.


Lamo, menjadi bingung dengan perkataan Arya. Tidak mungkin rasanya, tidak akan ada korban saat sebuah pertarungan besar terjadi. Itu hal yang hampir mustahi.


Lamo ingin menjelaskan itu pada pemuda yang menurutnya sangat baik tapi juga sangat naif ini. Namun, saat dia ingin mengatakan itu, Bai Fan menyelanya.


"Baiklah! jika itu yang Pendekar Muda rencanakan. Tidak ada pilihan lain bagi kami selain untuk ikut membantu juga, bukankah begitu?" Bai Fan menatap Luna dan Ciel.


"Kalian?!" Perkataan Bai Fan mengejutkan Lamo.


Pertanyaan itu disambut anggukan oleh Luna. "Ya. Kami berdua sudah memutuskan untuk mengikutinya. Jadi, jika dia ingin bertarung, tentu saja kami juga akan ikut!" putusnya.


Ciel menghela nafas pasrah. "Ya! tentu saja. mengurangi kemungkinan jatuh korban akan sangat baik."


Dengan bertambahnya empat orang ini, Lamo merasa bahwa kubu mereka akan menjadi lebih mudah. Karena, Lamo bisa melihat bahwa keempat orang itu sangat kuat.


Lamo memandang Arya. Dia menyimpulkan bahwa, ini adalah cara Arya untuk menahan keempatnya, agar mau membantunya.


Penilaian Lamo pada Arya sudah berubah. Menurutnya, Arya punya cara sendiri untuk membantu diri juga sektenya.


"Anak Muda, maaf karena sekali lagi aku meragukan, bantuanmu."