
Dengan bergabungnya Arya dalam kelompok yang di pimpin oleh Ki Jabara itu, maka kekuatan kelompok itu meningkat drastis.
Malam itu juga Arya menyarankan agar mereka membeki senjata dari toko Smith milik Luna dan Ciel.
Akan tetapi, banyak pendekar dari kelompok itu keberatan dengan ide Arya. Mereka beralasan bahwa Luna dan Ciel belum tentu bisa dipercaya karena kedua kakak adik itu tidak berasal dari kerajaan Swarna.
Lagipula, senjata yang dibuat dan dijual oleh Luna dan Ciel tidak seperti senjata-senjata yang di gunakan oleh pendekar-pendekar dari Daratan Timur. Sehingga mereka meragukan fungsi dan kekuatan senjata-senjata tersebut.
Arya tidak mempersoalkan semua itu, Arya mempercayakan semuanya pada Ki Jabara dan Sekar.
Pada keesokan harinya, beberapa dari mereka diutus untuk meminta bantuan pada Sekte-sekte di Daratan Timur dan beberapa pendekar kuat yang tidak terikat dengan Sekte manapun.
Sementara itu, Arya mengabaikan keraguan kelompok itu pada Luna dan Ciel. Menurut Arya, kedua kakak adik itu sangat baik karena lebih perduli dengan penduduk di sana.
Arya mendatangi toko Smith untuk memberitahu Luna dan Ciel memberi tau mereka tentang apa yang akan terjadi.
" Arya! Akubrasa memangbada yang salah denganmu! " Ciel benar-benar terkejut denga semua yang barusaja dikatakan Arya pada mereka " Kau benar-benar ingin melawan Nurmageda? " tanya Ciel sekali lagi untuk memastikan.
Saat ini mereka sedang berbicara di dalam toko Smith. Saat Arya memulai pembicaraan itu, Luna segera menutup pintu toko dan mengajak Arya ke belakang.
Arya mengangguk yakin. " Ya! Beberapa pendekar telah lama mempersiapkan ini. " Arya menoleh pada Luna yang sejak tadi hanya bersandar di pintu, diam. " Bukankah kau bilang akan membahas rencana itu juga denganku hari ini? "
Luna menggeleng sebentar lalu menarik Nafas. Ternyata dugaannya salah. Pemuda di depannya ini memang sudah gila " Arya. ... Jujur saja. Aku pikir saat itu kau hanya marah karena tidak siap menerima kenyataan. Dan akan melupakannya setelah dirimu sedikit lebih tenang. Tapi, sepertinya dugaanku salah " Luna mendekat pada mereka berdua.
" Jadi, kau sebenarnya tidak punya rencana? "
Luna menatap Ciel sebentar lalu kembali menatap Arya. " Kami tau apa yang akan terjadi setelah ini. Terlepas kau dan kelompok itu berhasil menguasai kota ini, semua akan menjadi lebih buruk "
Arya mengangguk. " Ya. Kami juga sudah membahas tentang itu. " Arya menyetujui kata-kata Luna " Tapi, kita tidak bisa membiarkan Nurmageda menindas orang-orang itu lebih lama lagi. " lanjutnya.
Ciel melipat tangan di dadanya. " Jika kalian benar-benar sudah memikirkannya, seharusnya kalian menghentikan rencana kalian ini! " kata Ciel sinis.
" Seperti kata Ciel, ini memang sangat berbahaya! " Luna menambahkan.
" Tidak. " Arya langsung menggeleng " Aku tetap akan menghancurkan Nurmageda dan orang-orang itu. Aku ingin mengembalikan penduduk pada kehidupan mereka sebelumnya "
" Hahahahaha! " Ciel mentertawakan ucapan Arya seolah itu hal yang sangat lucu. Tawa itu hanya sebentar lalu gadis itu menatap Arya Tajam " Kalian sangat bodoh! "
" Ciel! ... jaga sikapmu! "
" Kenapa?! " protes Ciel " Orang ini memang bodoh! Kau juga tau itu. "
Melihat Arya memasang wajah tak senang pada Ciel, Luna coba menjelaskan. " Arya, kau mungkin tersinggung dengan apa yang dikatakan Ciel. Tapi, kami benar-benar tau betapa bodohnya gerakan seperti ini. Karena, kami adalah korban dari gerakan seperti ini "
Arya langsung menatap Luna heran " Maksudmu? "
" Ya, seperti kataku. Kami adalah korban dari gerakan seperti yang akan kau dan kelompok itu lakukan " Luna menatap Ciel yang masih memandang Arya dengan tampang jengkel " Ada alasan kenapa kami saat itu langsung waspada saat kau mengetahui simbol keluarga kami. "
Arya juga penasaran kenapa kedua gadis ini langsung berubah saat dia bisa membaca simbol di depan toko mereka. " Jelaskan padaku. Aku juga ingin tau kenapa kalian berniat membunuhku saat itu "
" Kakak! " Ciel sepertinya melarang Luna melanjutkan penjelasannya.
" Aku rasa tidak apa-apa. " Luna menatap Arya " Jika kami menceritakan padamu. Kau juga harus memberi tahu kami dengan jujur, bagaimana kau bisa membaca simbol keluarga kami! Kau setuju? "
" Baiklah. Aku rasa itu adil " jawab Arya.
Mulailah Luna menceritakan pada Arya bahwa, belasan tahun sebelum kelahiran mereka, Kota tempat mereka, masyarakat di sana hidup dengan makmur dan sangat damai.
Namun, semua berubah saat kota itu mulai didatangi orang-orang asing. Lalu hal seperti yang terjadi di kota ini sekarang, mulai membuat penduduk di sana merasakan hal yang sama.
Mula-mula mereka hanya berdagang dan meminta banyak barang dari kota itu, lalu lama-lama mereka menguasai perdanganan di sana.
Pemerintah yang bekerja sama dengan Negara mereka mulai ketergantungan dengan sumber daya dan teknologi senjata mereka. Akhirnya pajak di kota itu semakin tinggi. Hal yang sama persis terjadi disana.
Penduduk yang menderita melakukan pemberontakan, terjadi perang saudara antara pemerintah dan rakyatnya sendiri. Ironisnya pemerintah dibantu oleh orang asing untuk menghancurkan penduduk yang di anggap pemberontak itu.
Semua di adili termasuk keluarga mereka. Akan tetapi, Ayah mereka memiliki kemampuan yang unik. Sehinga bisa membuat mereka lolos dan melarikan diri. Dan sejak saat itu, mereka bertiga menjadi orang yang paling di cari oleh Negara.
Ayah mereka akhirnya membawa mereka keluar dari negara itu. Mereka hidup berpindah-pindah dari kota satu ke kota lainnya dan Negara satu ke Negara lainnya.
Ayah mereka mengalami luka yang cukup parah saat melalukan perlawanan beberapa tahun sebelumnya itu. Hingga tiga tahun yang lalu, saat mereka tiba di ibu kota kerajaan Swarna, ayah mereka meninggal dunia.
Selama mereka dalam pelarian, Ayah kedua gadis itu sangat berharap bisa sampai di Daratan Timur ini. Dan untuk memenuhi keinginan ayahnya tersebut, kedua gadis itu tetap melanjutkan perjalanan mereka hingga berakhir di ujung Daratan Timur kerajaan Swarna ini, itu dua tahun yang lalu.
Arya tertegun mendengar cerita Luna. Ternyata semuanya memang sangat sulit dan berbahaya. Apalagi keduanya memang pernah merasakan dampak dari apa yang akan di lakukan Arya dan kelompok itu.
" Jadi, bagimana? Kau tetap akan melakukannya? " Desak Ciel saat melihat Arya terdiam setelah mendengar cerita kakaknya.
Arya menggelengkan kepalanya. " Aku belum tau ... Mungkin ini harus dipikirkan ulang dan mencari cara lain untuk menyelamatkan orang-orang itu. " Jawab Arya dengan sedikit ragu.
Kedua gadis itu tersenyum puas. Arya ternyata cukup mudah mengerti semuanya.
" Dan sekarang gilaranmu! "
" Giliranku? " tanya Arya heran.
" Hei! Kau tidak lupa bahwa kau telah berjanji akan menjelaskan pada kami, bagaimana kau bisa membaca simbol keluarga kami, bukan? " Tanya Ciel kesal.
" Oh, soal itu. " Arya tersenyum canggung " Aku melihat huruf yang sama dengan sebuah kitab yang barusaja aku temukan baru-baru ini " kata Arya.
" Kitab?! "
" Kitab?! "
Keduanya serentak histeris menanyakan hal yang sama.
" Ya. Kitab "
" Kitab apa? Bagaimana isi nya? " Tanya Ciel tak sabar.
" hmm ... Soal itu. Walaupun tebal, kitab itu hanya berisi satu kata saja " jawab Arya dengan nada sedikit menyesal.
" Satu kata?! ... Perisai? Atau ... Smith?! "
" Bukan! Bukan itu "
" Lalu apa?! Katakan saja langsung! "
" Bahuraksa! "