ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Misi Terakhir Bai Hua


Waktu bergulir sangat cepat. Kemunculan Arya secara tidak langsung membuat satu lagi kekuatan baru yang tidak bisa di ukur di kota Basaka. Mungkin saja di Daratan Timur.


Namun demikian, baik serikat Oldenbar maupun pihak Kerajaan, tetap berusaha berhubungan baik dengannya.


Hanya perlu seminggu bagi Kerajaan mempersiapkan tempat yang Arya inginkan. Namun, saat Arya mengungkapkan rencana kegunaan tempat itu pada Edward dan Darmuraji di tempat dan waktu yang berbeda, keduanya memberikan reaksi yang sama.


Tidak ada yang berfikir bahwa Arya akan mendirikan sebuah Restoran di sana. Meski terlihat hanya sebagai topeng saja, Namun restoran itu sepertinya akan di kelola dengan sangat baik.


Terlihat dari dana yang di gelontorkan Arya untuk mengubah tempat itu dari komplek pusat pemerintahan kota menjadi restoran paling besar di Basaka.


Di tempat lain masih di area yang sama, Arya juga mendirikan pusat penelitian senjata. Namun, bukan senjata sihir melainkan senjata pedang, tombak, panah, pisau,  dan senjata-senjata konvensional lainnya.


Hal tersebut sempat membuat Oldenbar sedikit merasa tersaingi. Namun begitu Oldenbar tau jenis senjata apa yang akan di teliti Arya, Edward merasa itu tidak terlalu masalah.


Bahkan, Edward berniat jika pusat penelitian itu berhasil membuat senjata yang bagus, Serikat Oldenbar akan membelinya lalu mengedarkan ke penjuru dunia yang lain.


Barulah di gedung Utama tempat itu, Arya mendirikan sebuah pusat penelitian untuk dirinya. Tempat yang sangat membuat baik Darmuraji ataupun Edward tidak sabar untuk masuk dan melihat apa yang akan dilakukan Arya saat tempat itu mulai beroperasi nanti.


Namun, saat ini mereka memiliki sesuatu yang harus mereka siapkan.


Edward kembali memastikan senjata dan semua pesanan Arya selesai tepat waktu. Untuk itu, Edward terpaksa harus kembali ke Pegungungan Singa Emas. Sedangkan sekarang, Di markas besar Oldenbar di Basaka, Edward sengaja meninggalkan Kenneth dan beberapa petinggi Oldenbar untuk memantau perkembangan apapun di kota itu.


Sementara itu, Darmuraji mulai menyiapkan anggaran yang diperlukan untuk membeli Pil-pil kualitas tinggi yang akan di produksi Arya.


Meski sudah di berikan harga yang sangat murah, Karna tingginya kualitas pil tersebut, Darmuraji sedikit kesulitan karena anggaran Basaka tidak seperti Istana di kota Malka apalagi Barus, ibukota kerajaan Swarna.


Arya dan yang lainnya benar-benar membuat Darmuraji dan Edward kehilangan fokus mereka. Tanpa di sadari oleh keduanya, beberapa orang setiap harinya, mulai memasuki kota Basaka dan melamar pekerjaan di tempat Arya.


"Kakek Bai, sudah kau temukan seseorang yang mencurigakan?"


Arya dan Bai Fan kini sedang berada di kediamannya. Sementara Ciel, Luna dan Bai Hua, masing-masing sibuk mengurus tempat yang akan mereka kendalikan.


"Arya. Aku tidak bisa mencurigai orang lain selain beberapa orang yang ada di dalam kerajaan. Tentu saja Aku tidak percaya bahwa Nurmageda adalah bagian dari Sekte Singa Emas seperti yang dikatakan oleh Darmuraji."


"Tidak. Kakek Darsapati tidak mungkin mempekerjakan Nurmageda. Aku bisa menjaminnya."


Bai Fan bisa mengerti hal tersebut. Bahkan Darsapati siap mati agar Bahuraksa tetap menjadi milik Arya. Dia sudah menyaksikan hal tersebut dengan mata kepalanya sendiri.


"Seseorang di istana, pasti memiliki penghubung yang bisa membawa Wu Guo dan orang-orang sektenya ke Daratan ini."


"Ya. Pasti begitu. Cuma, bagaimanapun, sebaiknya Kakek Bai, berhati-hati. Dalam Istana itu terlalu banyak mata yang saling mengawasi."


Bai Fan mengernyit heran. "Saling mengawasi? Maksudmu?"


"Seperti itu. Bukankah Oldenbar juga ada di sini. Tidak mungkin Oldenbar gagal hanya untuk meletakkan satu kaki mereka di dalam istana itu, bukan?"


Bai Fan menyetujui pendapat Arya. Lagipula hal tersebutlah yang membuatnya kesulitan untuk berbicara dengan Darmuraji saat ini.


Mungkin saja seseorang dengan kemampuan yang sama dengan Rantoba, juga sudah menyusup di istana.


Atau Rantoba lah yang sebenarnya menjadi penyusup dan mengirim Wu Guo menyusulnya ke kota Arya. Karna kedekatannya dengan Damuraji dan tingkat kependekarannya yang sangat tinggi. Mungkin saja orang itu memilih untuk bergerak tanpa sepengetahuan dan diam-diam mengkhianati Darmuraji.


Bai Fan belum mendapat petunjuk yang benar-benar bisa di pegang. Bahkan, petunjuk apapun sekarang ini hanya mengantarkannya dari kebuntuan satu pada kebuntuan lainnya.


Setelah itu, Bai Fan menuju tempat Bai Hua. Di sana dia mendapati cucunya itu sedang sangat bersemangat dengan restoran yang akan dijalankannya.


"Hua'er, aku melihat mu begitu bersemangat dengan apapun saat ini. Apakah kau berniat mengikuti mereka sampai akhir?"


Bai Hua sedikit tersentak saat tiba-tiba kakeknya menanyakan hal ini. Tidak tau harus menjawab apa, Bai Hua hanya terdiam. Di negerinya, seorang wanita tidak bisa melakukan apapun tanpa persetujuan kepala keluarganya. Dalam hal ini Bai Fan, kakeknya inilah orang itu.


"Kakek, Soal itu ... Aku ... "


"Baiklah. Tidak perlu memberitahuku. Karena sejak awal, ini sudah menjadi kesalahanku."


Hal ini sudah lama mengganjal hati Bai Fan. Tragedi yang menimpa Bai Hua, sebenarnya adalah untuk menyelamatkannya. Saat itu, Bai Fan menganggap akan sangat berbahaya jika Bahuraksa di miliki oleh orang lain. Apalagi sampai jatuh ketangan Wu Guo dan orang-orang di belakangnya.


Bai Fan tidak menyangka saat tertangkap, Wu Guo memperlakukan Bai Hua dengan cara yang sangat hina. Bahkan kultivator dari sekte aliran hitam di negerinya sekalipun enggan melakukan hal keji itu. Tapi, sepertinya dunia memang telah jauh berubah. Manusia memang telah terlalu jauh melewati batas norma yang ada.


"Kakek. Aku tidak pernah menyalahkanmu tentang hal itu. Lagipula, Senior Arya telah membantuku membalaskan dendamku. Sekarang aku baik-baik saja."


Memang, tidak ada cara yang lebih baik dari apa yang dilakukan Arya pada semua orang yang telah orang yang mencelakai Bai Hua. Namun, tetap saja kejadian itu membuat Bai Fan memiliki beban tersendiri di hatinya. Dan beban itu tidak akan terobati begitu saja.


"Hua'er, Seandainya aku mengizinkanmu mengikuti Arya. Aku tidak tau apa yang akan aku katakan pada Ayah dan ibumu. Mereka tentu akan sangat merindukannmu."


"Bruuk...!"


Bai Hua tiba-tiba jatuh berlutut di hadapan Bai Fan.


"Hua'er, apa yang kau lakukan?"


"Kakek. Aku berniat mengikuti Senior Arya kemanapun dia pergi. Bahkan aku akan mengorbankan nyawaku untuknya. Jadi, tolong katakan pada Ayah dan Ibuku, bahwa aku baik-baik saja."


Namun, saat melihat bagaimana Arya, mereka tentu tau bahwa Arya tidak memerlukan apapun dan mereka tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan sebagai ganti atas jasa yang telah Arya berikan pada keduanya.


"Hua'er, aku mengerti. Bagaimanapun, dirimu adalah seorang wanita. Dan kau memiliki keluarga yang menunggu dan merindukan kepulanganmu di negara kita."


Bai Hua menggelengkan kepalanya. "Kakek. Aku adalah seorang kultivator keluarga Bai. Anggap saja aku sedang menjalankan sebuah misi. Jika misi ini telah selesai, maka aku akan kembali kerumah."


Baru saja terlintas di kepala Bai Fan bahwa cucunya sudah tertular oleh Arya. Misi yang Arya sebutkan sebelumnya adalah misi yang berada dalam lingkaran yang di sebut, mustahil.


Saat Bai Fan ingin kembali berkata, Bai Hua memotongnya.


"Kakek, mungkin sekarang aku masih yang terlemah di keluarga Bai. Tapi, saat aku kembali ke rumah nanti, Aku berjanji. Bahwa aku akan menjadi yang terkuat di sepanjang sejarah keluarga kita. Bersama senior Arya, aku melihat masa depanku. Jadi, aku mohon padamu, kek. Biarkan aku mengikutinya kemanapun dia pergi."


Bai Hua mengatakan hal itu dengan bersungguh-sungguh. Bahkan saat mengatakannya. Tidak ada satupun tetes air mata yang mengalir di pipinya.


Arya mungkin bisa membuat Bai Hua kuat. Tapi Bai Fan sudah lama mengetahui bahwa cucunya ini, tidak begitu memiliki bakat ilmu beladiri. Sangat jauh dari saudara-saudaranya di keluarga Bai. Akan tetapi, saat ini mungkin itu akan jauh lebih sulit. Karena sepertinya Arya melihat bakat Bai Hua yang Sebenarnya.


"Hua'er, apakah kau bercanda. Bagaimana kau bisa menjadi kuat. Jika Arya hanya memintamu menjadi juru masak restorannya?"


Hampir saja Bai Hua tersedak nafasnya sendiri mendengar pertanyaan kakeknya itu. Namun, sebuah senyum bahagia merekah di wajahnya.


"Kakek tidak perlu mencemaskan soal itu. Senior sangat mengetahui bagaimana cara membuatku menjadi kuat. Dia adalah seseorang dengan keajaiban di kedua telapak tangannya."


"Maksudmu?!"


"Mungkin saja memerlukan waktu untukku kembali kerumah. Tapi terimalah ini."


Bai Fan melihat sebuah kotak dan buku yang baru saja di keluarkan Bai Hua entah dari mana dan memberikan itu padanya.


"Apa ini?"Tanya Bai Fan bingung.


"Itu untuk kakek, nenek, Ayah dan juga ibu. Aku dan senior membuat empat jenis pil yang akan membantu kalian berkultivasi. Aku juga sudah membuat catatan untuk setiap kegunaan pil itu di sana. Senior juga sudah membuat catatan di dalam buku itu, cara menyerap energi dari pil tersebut. Dia juga menambahkan beberapa catatan untuk keluarga Bai. Jadi, hiduplah selama mungkin dan tunggu aku kembali."


Bai Fan melihat beberapa halaman di buku itu, meski tidak langsung mengerti. Tapi, dia tau bahwa itu adalah sebuah teknik aneh yang pernah diceritakan Arya saat di ngarai sebelum dia berangkat ke Basaka beberapa waktu yang lalu.


Namun, saat dia membuka sedikit saja kotak yang diberikan Bai Hua, matanya langsung melebar. Meski masih terbungkus rapi, Pil-pil yang ada di dalam itu, langsung menyemburkan energi yang sangat kuat. Bai Fan langsung menutupnya.


"Hua'er, kau bilang bahwa kau membuatnya bersama Arya?"


Bai Hua mengangguk. "Ya. Bisa dikatakan. Senior tidak akan bisa membuatnya jika tanpa bantuanku."


Bai Fan berfikir keras. Seperti sedang menimbang sesuatu. Saat itu, Senyum Bai Hua langsung menghilang.


Namun, beberapa saat kemudian, Bai Fan lansung berdiri lurus sedangkan cucunya masih tetap berlutut.


Sikap ini adalah sikap yang selalu di lakukan Bai Fan begitu ada masalah penting yang akan di katakannya pada seluruh anggota keluarga Bai.


Hal itu langsung membuat jantung Bai Hua seolah berhenti berdetak. Dan tiba-tiba saja patriark keluarganya itu berkata dengan sangat tegas.


"Bai Hua. Aku akan bertanya dan kau harus menjawabnya secara jujur. Kau mengerti?!"


"Ya. Patriark!"


"Kau sudah tau orang seberbahaya apa yang akan kau ikuti bukan?"


"Ya. Patriark!"


"Kau tentu juga sudah tau misi yang akan dilakukannya adalah mustahil bukan?!"


"Ya. Patriark!"


"Kalau begitu. Aku sebagai kepala keluarga dan penanggung jawab atas dirimu selama di sini, Bai Fan. Akan memberikanmu sebuah misi terakhir padamu. Apakah kau siap menerimanya?!"


Jantung Bai Hua kini beralih berdetak keras. "Siap. Patriark!"


"Mulai saat ini, Melangkahlah kemanapun kau mau. Lakukanlah apapun yang kau inginkan. Aku tidak peduli jika jalan itu membawamu ke surga tertinggi atau ke neraka yang paling dalam sekalipun. Sandanglah selalu nama keluarga Bai di bahumu. Dan misi terakhirmu dariku adalah... "


Bai Fan menarik nafasnya sebentar untuk meyakinkan apa yang akan dikatakannya. Sebelum akhirnya.


"Carilah tempat dimana itu bisa memberikanmu kebahagiaan...!"


Sebenarnya Bai Fan merasa sangat berat mengatakan hal ini pada Bai Hua. Namun, sebagai kakeknya Bai Fan sudah melihat bahwa masa depan cucunya itu, memang tidak ada di rumah keluarga Bai, bahkan di Kekaisaran Yang sekalipun.


Bai Fan menyadari, Bai Hua telah menemukan tujuan hidupnya sendiri. Tidak ada alasan lagi untuk menahan cucunya itu. Inilah hal yang terbaik yang bisa Bai Fan lakukan untuknya.


Mendengar misi terakhirnya dari Bai Fan, Bai Hua langsung berdiri dan memeluk erat kakeknya itu.


"Terimakasih, Kek. Aku benar-benar menyayangimu!"