
Pegunungan Singa Emas. Tempat yang beberapa tahun lalu masih dikuasai oleh Sekte Singa Emas, kini telah berubah.
Di sini, sekarang ini terlalu banyak orang asing berkeliaran. Meski tempat-tempat usaha di kota sekte masih di dominasi oleh penduduk lokal, tapi segala sesuatunya tentang pajak dan biaya keamanan sudah di atur oleh Serikat Oldenbar.
"Hei pelayan! Cepat bawakan makanan pada kami!"
Teriak salah satu pendekar yang berada di lantai paling bawah restoran yang ada di pusat kota.
Restoran yang merupakan bagian dari penginapan besar milik serikat Oldenbar yang terbilang mewah itu, memiliki tiga lantai.
Dimana lantai pertama diperuntukkan untuk pendekar-pendekar lokal sedangkan lantai kedua, khusus untuk anggota Oldenbar serta pendekar-pendekar dan petualang asing.
Sementara lantai ketiga diperuntukkan bagi tamu-tamu istimewa seperti para petinggi Oldenbar, para bangsawan, dan pedagang-pedagang besar yang memiliki urusan dengan Serikat Tersebut.
Beberapa orang pelayan mendekat pada salah satu meja dimana pendekar tadi berteriak meminta makanan.
"Ini Tuan, makanannya!"
Tak lama, sudah banyak makanan yang terhidang di atas meja tersebut.
"Huh! Apa ini?" salah satu pendekar berdengus tak terima. "Kalian fikir, sekarang kami akan memakan makanan seperti ini?"
Pelayan-pelayan itu terkejut.
"Ada apa tuan?" Tanya salah satu pelayan, heran. "Ini adalah makanan yang biasa di hidangkan di sini."
"Ini!"
Salah satu pendekar meletakkan sebuah kantung kulit di atas meja.
"Bawakan kami makan yang sama dengan makanan yang dihidangkan di lantai dua!"
Pelayan tersebut mengambil kantung kulit tersebut dan memeriksa isinya. Mengetahui ada banyak siling perak di dalamnya, pelayan tersebut mengangguk mengerti.
"Baik Tuan, kami akan mengganti makanannya. Mohon tunggu sebentar!"
Semua makanan tadi kembali di bawa pergi.
"Hahahahaha! Bagus. Cepat dan bawakan makanan tersebut kesini!" Perintahnya.
"Jika bukan karena aturan, seharusnya kami diperbolehkan duduk dan menikmati makanan di lantai dua!"
Memang tidak ada larangan bagi siapa saja untuk memesan makanan yang ada di lantai manapun di restoran itu. Akan tetapi, hidangan yang tersaji di setiap lantainya memiliki perbedaan harga yang sangat jauh.
Itu dikarenakan, lantai dasar hanya menghidangkan daging-daging dari hewan biasa dan siluman yang berumur tidak lebih dari seratus tahun.
Sedangkan di lantai dua, selain menyediakan makanan yang terbuat dari bahan-berkualitas bagus, juga di masak oleh juru masak yang sangat ahli. Hingga tidak banyak pendekar lokal yang memiliki cukup uang untuk membayarnya.
Sikap para pendekar tersebut menarik perhatian beberapa pendekar lainnya yang ada di sana.
Dari gelagat dan banyaknya keping perak yang mereka bawa, jelas kelompok tersebut baru saja menyelesaikan sebuah misi. Karena sekarang mereka berada di sini, tentu saja misi yang mereka selesaikan adalah misi yang di dapat dari serikat petualang khusus yang dikelola langsung oleh Serikat Oldenbar.
"Cih! Sombong sekali antek-antek asing itu!"
Cibir salah seorang dari beberapa pendekar yang berada di meja tidak jauh dari sana terlihat tidak senang dengan sikap mereka.
"Sudah, biarkan saja. Bukankah kita di sini juga ingin mendapatkan misi yang sama?"
"Aihh... Aku tak percaya kita memutuskan untuk tunduk pada serikat asing ini."
"Ya! Aku juga belum bisa mempercayai pegunungan ini sudah dikuasai mereka."
"Mau bagaimana lagi, bahkan Sekte Singa Emas yang digadang-gadang sebagai sekte terkuat di Daratan ini saja, bisa mereka kalahkan dengan mudah."
Saat semua itu berlangsung, pintu restoran itu terbuka. Mata orang di sana seketika teralihkan dengan masuknya tiga wanita cantik.
Dari ciri-ciri dan pakaiannya, terlihat bahwa dua dari mereka berasal dari Benua Barat dan Satu berasal dari Benua Timur.
Namun, yang paling menarik perhatian adalah, di antara mereka ada seorang pemuda tampan yang bisa dipastikan bukan orang asing.
"Apakah itu, pelayan mereka?"
Melihat kedatangan mereka berempat, seorang yang terlihat seperti penanggung jawab restoran itu, langsung datang menghampiri dengan tersenyum cerah.
Salah seorang gadis mengangguk. "Ya! Jika bisa, Kami juga butuh beberapa kamar!"
"Oh, Jika begitu, silahkan naik kelantai dua. Kami akan melayani kalian di sana. Soal kamar, kami juga menyediakannya!"
Saat mereka hendak melangkahkan kaki menuju tangga, sekelompok orang asing baru saja turun dari sana.
Saat menjejakkan kaki di lantai bawah, salah satu dari mereka menatap tajam ke sebuah meja. Tanpa pikir panjang, orang itu langsung menghampiri meja tersebut. Dan...
"Prankkk...!!"
Seluruh makanan yang baru saja di sajikan di sana berserakan di lantai setelah orang asing tersebut membalikkan meja itu dengan wajah murka.
Kejadian tersebut langsung menarik perhatian seluruh orang yang berada dilantai bawah termasuk tiga gadis dan seorang pemuda yang baru saja masuk itu.
"Lancang sekali! Anjing-anjing seperti kalian sudah merasa pantas menikmati makanan yang sama dengan apa yang kami makan."
Baru saja salah seorang pendekar yang duduk di meja itu hendak protes. Sebuah terjangan menghantam wajahnya.
"Bukkk...!"
Pendekar itu terlempar beberapa meter mengarah pada keempat orang yang baru saja masuk itu.
"Bruuukk..."
Tubuh pendekar tersebut mendarat dan tergeletak tepat di depan mereka dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Sampah seperti kalian hanya cocok makan makanan sisa dari kami. Kali ini, kalian aku maafkan. Tapi, lain kali jika aku melihatnya lagi, maka aku akan mencincang tubuh kalian dan memberikannya sebagai makanan pada siluman-siluman yang ada di serikat!."
Semua orang yang ada di sana hanya tertunduk diam saat mendengar peringatan keras penuh hinaan dari pendekar asing tersebut.
Tau bahwa kejadian tersebut membuat tamunya tidak nyaman, orang yang menyambut tadi langsung mencoba mengalihkan perhatian mereka.
"Ah! Nona-nona, jangan di ambil hati. Mari, aku akan mengantarkan kalian ke atas."
Memilih untuk tidak memperdulikan kejadian itu, mereka mengikuti penanggung jawab restoran menuju lantai atas. Namun, lagi-lagi langkah mereka terhenti.
"Tunggu!"
Pendekar asing yang membuat suasana tiba-tiba tidak mengenakkan itu, berteriak pada mereka.
"Kalian boleh naik, tapi pelayan kalian itu, harus tetap menunggu di bawah. Di atas, restoran ini sudah menyediakan pelayan khusus. Jadi, dia tidak diperlukan." Ucapnya, dingin.
Mendengar kata-kata itu, Salah seorang gadis langsung secepat kilat bergerak pada pendekar asing tersebut.
Pendekar asing itu langsung membeku di tempatnya berdiri. Karena langsung menyadari bahwa kini sebuah pedang sudah melingkar di lehernya.
"Kau?! Jaga ucapanmu!" Desis gadis itu."Siapa yang kau katakan pelayan, Hah?!"
"Sebaiknya sebelum kau mengucapkan sesuatu tentang Tuan kami, kau periksa dulu matamu. Jika tidak, jangan salahkan kami kalau kau dan rekan-rekanmu ini, kehilangan nyawa kalian hanya karena kebodohanmu itu!"
Empat orang pendekar asing yang tadi bersamanya dari atas, terlihat bersiap hendak menyerang.
Namun, dua gadis lainnya sudah berada di depan mereka dengan pedang yang juga sudah mengarah pada keempatnya.
"Tu-tuan...?!" Gumam pendekar asing itu heran.
"Ya. Sekarang berlututlah!"
Setelah mengatakan itu, gadis tersebut mundur dan dengan cepat mengayunkan pedangnya.
"Sreet! Sreet!"
"Buk!"
Pedang itu tepat melukai kedua lutut pendekar asing tersebut sehingga membuatnya terjatuh, berlutut.
Kembali menaruh pedangnya pada leher pendekar asing itu. Sang gadis kembali berujar.
"Memohon ampunlah untuk nyawamu, padanya!"