
Luna dan Ciel sibuk memasukkan barang-barang milik mereka kedalam lingkar ruang penyimlanan mereka masing-masing.
Saat ini Mereka berempat sedang berada di Dalam kamar tempat di mana Putri Jasmine berada. Bai Hua dengan hati-hati membersihkan tubuh gadis yang terlihat masih berumur sekitar lima belas tahun itu.
Berbeda dengan keduanya, saat ini Bai Hua belum berhasil membuat dimensi sendiri. Itu bukan karena tubuhnya belum bisa memproses Prana. Tapi, Arya masih menyegel tiga pusat prana yang dimiliki Bai Hua.
Menurut Arya, meski sudah mempelajari cara mengendalikan Prana, tapi Tubuh Bai Hua yang sekarang belum mampu menahan tekanan Prana yang mungkin akan memecahkan seluruh titik-titik Cakranya yang baru sembuh itu.
Di lain sisi, ada sedikit keraguan untuk Arya tentang apa yang terjadi dengan tubuh Bai Hua setelah dia secara tidak sengaja mengubah susunan cakra gadis itu.
Arya mengerti bahwa Bai Hua memang tidak akan bisa sekuat dirinya karena sejatinya Bai Hua tidak memiliki energi seperti yang ada ditubuh Arya. Tapi, ada hal lain yang secara tidak sengaja di temukan Arya pada Bai Hua.
"Bai Hua. Apakah sebelumnya kau memang tidak memiliki kekuatan untuk mengendalikan elemen apapun?"
Bai Hua segera menggeleng. "Tidak. Aku tidak memilikinya." Jawab Bai Hua cepat, dan melanjutkan. "Seluruh keluargaku memang memiliki kemampuan pengendalian salah satu dari tiga elemen Api, Angin dan Air. Bahkan ayah dan ibuku bisa mengendalikan dua diantara tiga elemen itu."
Arya mengangguk, tapi wajahnya menunjukkan sesuatu yang tidak bisa dimengerti.
"Arya, apakah kau merasakan Bai Hua memiliki kemampuan pengendalian elemen?" Tanya Luna.
Tidak menjawab Luna, tapi Arya menatap adiknya. "Ciel, bisakah kau melihat Aura selain elemen dasar pada tubuh Bai Hua?!"
"Hah?!... Maksudmu?"
Tentu saja Ciel terkejut. Dia tidak pernah mendengar elemen lain selain elemen dasar. Dan Ciel tentu saja sudah pernah mencoba mencari tau elemen apa yang mungkin dikendalikan Bai Hua. Itu sudah menjadi kebiasaan yang sangat sulit di ubahnya.
Akan tetapi, dia tidak melihat tubuh Bai Hua memancarkan energi Api, Air, Tanah, Angin, Kayu, ataupun Logam.
"Dengan kekuatanmu sekarang, aku rasa kau bisa melihat sesuatu yang lain dari tubuh seseorang!"
"Maksudmu, ada eleman lain selain elemen-elemen itu?"
Arya mengangguk. "Coba kau lihat sekali lagi. Aku bisa merasakan energi yang aneh dan terasa kuat dari tubuh Bai Hua. Tapi energi itu, kini masih sangat kecil."
Arya sengaja menunggu Ciel meningkatkan kemampuan matanya untuk meminta gadis itu melihat sekali lagi, energi dari sebuah elemen yang Arya rasakan pada tubuh Bai Hua setelah dia berhasil memperbaiki seluruh titik cakranya beberapa waktu yang lalu.
Meski agak ragu, Ciel mengangguk. Lagi pula, tidak ada ruginya. "Baiklah. Aku akan mencobanya."
"Bai Hua, Cobalah berdiri dan pejamkan matamu. Berusahalah merasakan energi lain selain tenaga dalam yang ada di tubuhmu." Pinta Arya.
Bai Hua pun berdiri, dan melakukan hal yang diminta Arya. Butuh beberapa waktu bagi gadis itilu untuk mendapat ketenangan dan mulai berkonsentrasi untuk mencari energi lain di tubuhnya.
Setelah itu Ciel mencoba memusatkan Prananya dan mulai memindai tubuh Bai Hua. Tak lama, mata gadis itu melebar.
"Tidak mungkin...!" Seru Ciel sedikit histeris.
"Kenapa? Ada yang salah dengan tubuhku?!"
Mendengar Ciel berseru histeris, langsung membuat konsentrasi Bai Hua buyar dan bertanya padanya, tak kalah histerisnya.
Mereka bertiga menatap Ciel yang masih tampak terkejut.
"Katakan, Apa yang tidak mungkin?!" Desak Bai Hua tidak sabar.
"Mungkinkah seseorang bisa mengendalikan itu?"
"Ciel, jangan membuat kami penasaran. Katakan, apa yang kau lihat?!" kali ini Luna yang berseru tidak sabar.
"Bai Hua, aku melihat tubuhmu di selimuti energi. Tapi itu bukan Api, Air Ataupun Angin.... Kau di penuhi gelombang yang membentuk kilatan yang terus menyambar secara acak!"
"Maksudmu?" Tanya Bai Hua cemas.
"Petir... " Jawab Ciel "Tubuhmu di penuhi gelombang seperti petir yang sangat halus dan sangat kecil" Tambahnya.
Ciel menganggukkan kepalanya sangat kuat. "Ya. Petir!" Tegasnya.
Tepat seperti dugaan Arya. Gadis ini entah bagaimana bisa memiliki tiga unsur elemen ditubuhnya, tentu saja dia tidak merasakan hal tersebut sebelumnya, karena arus cakranya tidak bisa merasakan aura dari tiga unsur elemen yang sangat kecil itu.
Itulah alasan kenapa kebanyakan manusia hanya bisa menguasai satu elemen. Karena satu unsur elemen, energinya sangat terasa. Sedangkan saat seseorang memiliki dua unsur elemen, energi itu sudah sedikit sulit untuk dirasakan dan akan sulit pula untuk dilatih.
Sedangkan tiga unsur membuat energinya semakin terbagi dan pasti sangat sulit untuk merasakannya. Bahkan mungkin tidak akan bisa di rasakan jika bukan Arya yang pertama kali menemukan itu, saat menyusun pusat energi yang bisa menyimpan Prana milik Bai Hua, yang ternyata mengandung tiga unsur elemen yang berbeda pula.
Di catatan Obskura, hanya dewa yang mampu mengendalikan dua elemen secara bersamaan.
Di sini, Bai Hua memiliki perbedaan mendasar. Bai hua memang tidak akan bisa menggunakan salah satu dari tiga elemen yang ada di tubuhnya. Akan tetapi, karena Arya menyusun tiga pusat prana Bai Hua secara vertikal, hal tersebut membuat tiga elemen itu saling terhubung.
Sesuatu yang tidak di ketahui sebelumnya itu, secara kebetulan ketiga unsur elemen tersebut memiliki kecocokan. hal tersebut memicu munculnya sebuah elemen baru, seperti yang telah di lihat oleh Ciel itu.
Di dunia mereka, belum pernah terdengar seseorang memiliki pengendalian terhadap elemen petir. Bahkan, sepertinya belum ada yang mengetahui bahwa petir juga merupakan sebuah elemen.
"Kakekmu akan muntah darah karena terkejut saat mengetahui bahwa dirimu ternyata memiliki pengendalian elemen yang baru itu. Hahahahhaha!"
Luna membayangkan bagaimana reaksi Bai Fan saat mengetahui bahwa cucunya memiliki pengendalian elemen yang belum pernah di ketahui sebelumnya.
Sementara Bai Hua sendiri tidak tau harus merasa senang atau tidak. Karena bagaimanapun, Arya seperti menganggapnya biasa saja. Atau, masalah. Gadis itu tidak bisa tenang jika belum mendapat penjelasan dari Arya.
"Senior! Katakan, apakah kau sudah mengetahui ini sebelumnya? Dan apakah ini, Normal?" tanya-nya cemas.
Baru saja Arya ingin menjawab, Ciel langsung menimpalinnya.
"Tentu saja itu tidak Normal. Kau memiliki elemen yang tidak ada satupun manusia yang memilikinya. Bagaimana kau bisa berharap itu hal yang Normal. Hahahahaha!"
Kakak beradik itu membuat perasaan Bai Hua tidak menentu. "Kalian, hentikan! Biarkan senior menjawabku!"
"Hahahaha!"
"Hahahaha!"
Mereka tetap tertawa. Keduanya tidak bermaksud merendahkan. Luna dan Ciel hanya senang saat mengetahui bahwa mereka berempat sekarang, secara tidak langsung sama-sama tidak Normal.
"Tenanglah Bai Hua. Seperti kata Ciel, tentu saja itu tidak Normal, Tapi—"
"Hahahhahaha!"
"Hahahhahaa!"
Bai Hua semakin kesal saat penjelasan Arya padanya, kembali terpotong oleh tawa kedua gadis di depannya itu.
"Aku rasa itu tidak membahayakanmu. Tapi, itu jelas akan membahayakan orang-orang di sekitarmu!"
Saat Arya selesai mengatakan itu, Luna dan Ciel langsung terdiam. Keduanya langsung membayangkan dari tubuh Bai Hua keluar petir liar yang tiba-tiba muncul dan menyambar semua orang yang ada di sana.
"Bai Hua. Itu kenapa aku masih menyegel cakramu dan menghentikan kultivasimu. Jika aku Membukanya, aku rasa tubuhmu akan mengeluarkan petir secara terus menerus hingga tenagamu habis."
"Bai Hua! Menjauhlah dari kami. Aku rasa, kau benar-benar sudah tidak Normal!"
"Arya, sebaiknya tetap segel saja kekuatan mengerikan gadis ini. Aku benar-benar tidak mau mati konyol karena terbunuh secara tidak sengaja olehnya!"
Kata-kata mereka membuat Bai Hua semakin cemas dan sekarang seperti ingin menangis.
"Jadi Bagaimana ini? Senior ... Apa yang harus aku lakukan?" Rengeknya.
"Hmmm... Tentu saja tidak ada cara lain, selain melatihnya!" Jawab Arya ringan.