
Untuk pertama kali setelah sekian lama, Jemba merasa cemas. Bukan tentang hancurnya kota yang dia takutkan. Kehadiran orang asing ini di acara lelang sangat-sangat berbahaya.
Jika ada yang salah memprovokasi mereka, maka pertarungan tak akan bisa lagi di hindari. Terlalu banyak orang penting saat ini dan ketiganya jelas bertarung dengan niat membunuh.
Meski dugaan Jemba tak sepenuhnya benar, tapi ada satu hal yang pasti. Kematian satu anak sultan saja, akan memicu perang. Sekarang, Anak-anak Sultan dari tujuh negeri, ada di dalam Balai lelang itu.
"Arya, apakah kau tau bahwa orang itu akan turun membantu?"
Ciel yang pertama kali melihat pergerakan Rentangjala, berfikir saat itu orang itu akan menyerang Arya.
Namun, seperti yang diketahui Rentangjala malah membelanya dan langsung membuay dua kubu itu, mengehentikan perseteruan mereka.
Saat masuk, Luna sempat bertanya dengan Citra Ayu siapa-siapa saja yang terlibat di dalam perseteruan itu. Dan hasilnya, membuat semua orang tercengang.
Pendekar kembar adalah putra Harupanrama, Suktan negeri Ambang. Sedangkan yang tadi membantu Arya, adalah patih negeri itu sekaligus guru dari dua pendekar kembar tersebut.
Citra Ayu menceritakan perseteruan keduannya. Namun, dia tak menceritakan bahwa mungkin ada keterlibatan dirinya dalam hal itu. Bukan karena Citra Ayu ingin berbohong, tapi baginya hal itu sangat tidak penting.
Untuk mengecilkan resiko menarik perhatian, di dalam balai lelang Citra Ayu hanya diam. Di sebelahnya ada Bai Hua dan Rewanda. Sedang Ciel dan Luna berada di dekat Arya.
Balai lelang sendiri berbentuk Arena melingkar. Di mana para peserta duduk mengelilingi sebuah panggung yang ada ditengah.
Karena acara ini begitu ditunggu, tidak perlu waktu lama para pendekar sudah mulai memenuhi Balai tersebut.
Setelah beberapa lama, beberapa orang keluar dan naik ke atas arena berbentuk persegi tersebut.
Seorang lelaki asing yang memiliki ciri-ciri orang Benua Barat, tampak mulai bicara.
"Selamat datang Tuan-tuan dan Nona-nona sekalian. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami dari Rumah dagang mengelilingi banyak daratan dan mengumpulkan banyak barang yang mungkin salah satunya kalian perlukan."
Dengan segala basa-basinya, orang asing itu berbicara panjang lebar agar para peserta mengerti bahwa barang-barang yang akan mereka lelang, sangat langka dan sangat sulit untuk di dapatkan.
"Kakak, kau melihatnya?"
"Ya. Tapi aku tidak ingat dimana kita pernah melihat simbol itu sebelumnya, bagaimana denganmu?"
Ciel hanya balas menggeleng. Tapi, matanya terus mengawasi sambil terus mencari informasi.
Luna dan Ciel sendiri sedikit heran. Karena sepertinya mereka pernah melihat simbol dari rumah dagang ini. Tapi mereka tidak mengingatnya.
"Baiklah, langsung saja. Barang pertama yang akan kami lelang malam ini adalah ... "
Saat sang pembawa acara itu mengucapkan kata-katanya, ada dua orang gadis, yang bercadar membawa sebuah kotak berbentuk persegi panjang.
Hampir semua orang di sana bisa menebak benda itu. Dari ukurannya saja sudah ketahuan itu adalah sebuah pedang.
Kotak yang terbuat dari batu yang tidak mungkin berasal dari Daratan Barat itu, terlihat sangat mewah.
Saat itu Bai Hua langsung terlihat sangat tertarik. Karena dia yakin, hanya pengrajin di benuanya sajalah yang membuat kotak, dari batu giok.
"Pedang Elang Perak." Umum pembawa acara.
Tampak beberapa pendekar sangat tertarik untuk melihatnya. Sebuah pedang memang sangat berharga bagi mereka.
Begitu ada pedang yang di lelang tentu saja itu bukan pedang biasa. Mereka bersiap-siap untuk menawar, jika pedang itu benar-benar membuat mereka tertarik.
Sang pembawa acara membuka kotak tersebut. Saat mengeluarkan pedang itu, jelas membuat hampir semua pendekar, melebarkan matanya.
"Pedang ini, berasal dari Benua Timur. Dibuat dari campuran bahan terbaik, saat ini, Pedang Elang Perak telah dipakai oleh beberapa pendekar hebat di salah satu negeri di benua itu. Akan tetapi, malang sekali pedang ini berakhir di tangan seorang pendekar yang gila judi. Dia menggadaikan pedangnya, dan tak pernah bisa menebusnya kembali, hingga kematian menjemputnya."
Penjelasan Pembawa acara itu tidak terlalu mereka pedulikan. Sebaliknya, mereka hanya ingin melihat kekuatan pedang itu saat pembawa acara membukanya.
Cerita bisa dikarang tapi senjata akan menunjukkan kualitas dengan sendirinya. Namun begitu, masih ada yang bertepuk tangan saking semangatnya.
"Baiklah, pedang ini akan kami buka dengan penawaran harga awal sepuluh juta Arta. Kalian bisa menawarnya dengan kelipatan satu juta."
Saat dia selesai mengatakan hal itu, tidak ada satupun pendekar yang bereaksi. Itu membuat sang pembawa acara heran. Seolah ada sesuatu yang salah.
Mendengar kata-kata salah satu pendekar yang ada di sana, sang pembawa acara merasa canggung. Saking semangatnya untuk segera mendapatkan keuntungan, dia melupakan hal yang paling penting.
"Maaf, Aku melupakannya. Sebentar!" Sang pembawa acara menyengir, malu.
Namun, begitu pedang di angkatnya. Suasana di ruangan itu langsung berubah. Para pendekar langsung siaga.
Dan benar saja, begitu bilah pedang di tarik setengah. Aura kematian langsung menyeruak dari pedang itu. Namun, itu hanya sebentar dan pembaca acara langsung memasukkannya kembali.
"Benda bernama Pusaka Bumi, kami menawar sedikit berani. Jika ada yang berani tinggi, kami akan menandingi. ... Dua puluh juta Arta."
Sontak para pendekar-pendekar di ruangan itu melirik lada siapa yang menawar.
Semua mata menatap Sendang yang berdiri penuh percaya diri.
"Ini bukan perkara berani. Itu benda pusaka bumi. Jika hendak menantang kami, cobalah tawar lebih tinggi ... Tiga puluh juta Arta."
Sudah jelas siapa yang akan pertama kali menawar selanjutnya. Tentu saja itu Teratak dari kubu Durma.
"Cih, mereka berdua terlihat bersaing dalam hal apa saja." Gerutu Bai Hua.
Gadis itu tadinya sangat tertarik, karena pedang itu berasal dari negerinya. tapi saat melihat itu hanya Pusaka Bumi, dia tidak lagi berminat.
"Itu senjata memang bertuah. Pusaka dalam kotak yang mewah. Tapi jika tak salah, itu pedang punya wanita."
Saat itu seseorang berkata seperti itu, semua kepala langsung menoleh padanya dan kembali pada pedang Pusaka Bumi itu.
"Lima Puluh juta Arta." Katangadis itu dengan tersenyum.
Namun senyum gadis itu jelas sedang mentertawakan dua orang. Sendang dan Teratak tidak terlalu memperhatikan pedang tersebut.
Ternyata, dari ukurannya saja sudah bisa di tebak bahwa pedang itu di buat untuk wanita.
"Hahahahahahah!"
"Hahahahahahhaha!"
Seluruh pendekar di ruangan itu tertawa. Jelas keduanya tidak perduli dengan pedang tersebut. Bagi mereka yang pentin adalah bersaing dengan lawannya.
Mereka tidak berani berkilah, karena itu bukan cara pendekar. Apalagi, saat itu yang berkata dan menawar adalah Sri Ratna Sari, Putri Sultan Bara, dari negeri Tanjung Emas.
Surma dan Durma sampai menunduk dan menutup wajah mereka karena malu, karena ulah dari anggota mereka tersebut.
Karena para peserta hanya tertawa dan tidak terlihat tertarik untuk menawar lagi, pembawa acara hanya bisa pasrah sampai tawa mereka reda.
Lagipula, harga yang di tawar sang putri sudah sangat jauh di atas apa yang mereka targetkan.
"Baiklah, Sepertinya tidak ada lagi yang akan menawar, maka aku putuskan Sang putri lah pemenang Lelang."
Sang pembawa acara sedikit melirik pada Sri Ratna dan di jawab anggukan oleh putri itu.
Setelah itu, perwakilan dari putri tersebut, pergi kebelakang panggung untuk menyelesaikan urusan. Sementara, Pembawa acara kembali ingin menunjukkan benda lainnya.
Namun, belum sempat dia berkata, seseorang berteriak.
"Seratus Juta Arta ... !"
Teriakan itu, membuat semua orang bingung. Lelang pedang sudah selesai, sedangkan benda yang lainnya bekum ditunjukkan. Lalu, siapa yang menawar.
Saat ini, mata semua orang tertuju pada Arya. Karena dialah yang batu saja berteriak.
Pembawa acara juga terlihat bingung. "Tuan Muda. Kau tak bisa lagi menawar benda yang sudah di menangkan orang lain. Jika kau tertarik, Kenapa kau tidak menawarnya sejak tadi?"
Arya menggeleng. "Tidak. Aku tidak peduli pada pedang itu. Aku hanya ingin membeli Kitab yang ada di tanganmu."