
" Kau sudah Gila?! "
" Ya! Aku rasa ada yang tidak beres, di sini! "
Niat Arya hanya ingin berbuat baik, karena keduanya terlihat tertarik dengan batu energi itu. Arya tidak menyangka akan mendapatkan reaksi seperti itu dari keduanya." Baiklah, jika kalian tidak menginginkannya tidak apa-apa "
Ciel dan Luna bertatapan, merasakan seperti ada yang salah dengan pemuda ini. Ciel sendiri sudah menyadari bahwa Arya tidak memiliki tenaga dalam.
Luna yang melihat raut wajah Arya sedikit berubah, membuat hatinya sedikitbtidak nyaman " Maaf kan aku dan adikku. Tapi, ini terlalu berharga untuk kau berikan begitu saja pada orang lain "
Arya tidak mau membahas terlalu banyak " Sudah tidak apa-apa. "
Ciel menggunakan penglihatannya yang tajam untuk memindai seluruh daerah itu. Mencari keberadaan orang lain di sana. " Di mana para pemburu itu? "
" Pemburu? ... Pemburu apa? "
" Ciel, aku pikir pemuda ini tidak berasal dari daerah ini " bisik Luna.
" Aku rasa juga begitu "
Luna mandang Arya dan tersenyum " Maaf, aku Luna dan ini adikku, Ciel " Luna berinisiatif untuk mengulang kembali perkenalan mereka. " Dan, kau? ... "
" Aku Arya, Arya ... Hmm ... Arya saja! " Arya memutuskan untuk tidak lagi memperkenalkan diri dengan nama lengkapnya.
" Oh! Baiklah Arya, sepertinya kau bukan penduduk dari daerah sini. Jadi, mungkin kau tidak mengerti maksud pertanyaan adikku "
" Ya, aku tidak berasal dari sini dan aku memang tidak mengerti maksud pertanyaan adikmu "
" Baiklah, kami minta maaf! "
Kedua kakak adik itu, tidak yakin Arya sendiri. Untuk menangkap Babulundan Benggala, di perlukan beberapa pendekar tingkat tinggi. Atau satu pendekar yang benar-benar hebat. Tapi, keduanya belum pernah mendengar adanya pendekar yang cukup kuat untuk berburu Babulu apalagi benggala seorang diri di daerah itu.
" Yah, aku rasa aku juga sudah tidak sopan. Maafkan aku "
Arya hanya mengangguk canggung mengiyakan. Saat ini dia tidak tau bagaimana cara menghadapi dua orang ini. Jadi, dia lebih memilih diam.
Ciel dan Luna juga berpikir, Arya tidak di perbolehkan memberintahu siapapun tentang dengan siapa dia berburu di hutan ini. Melihat hasil buruan ini, kakak adik itu memutuskan untuk tidak mennggali lebih jauh. Mereka sudah merasa cukup aman berada di dekat Arya dan itu saja lebih dari cukup.
Meski tidak terlalu banyak bercerita. Ciel dan Luna mengatakan kenapa mereka berdua berada di hutan ini. Arya mendengarkan Ciel yang bercerita dengan bersemangat dan Luna hanya mengangguk menyetujui cerita adiknya itu.
Akhirnya kedua kakak adik itu tertidur karena kelelahan ditambah makanan yang mereka konsumsi ternyata memikiki efek yang membuat mereka mengalami rasa kantuk yang sangat hebat.
Hingga saat keduanya terbangun saat hari sudah terang, Arya sudah tidak ada di sana. Namun, hal yang mengejutkan adalah. Arya meninggalkan kedua batu energi itu serta kulit juga tulang Babulu dan Benggala begitu saja.
Semua benda itu sangat berharga. Apalagi bagi mereka yang memiliki usaha pembuatan senjata.
Berjalan sejak pagi dan saat siang hari, Arya akhirnya sampai di gerbang Kota Arsa. Tidak menyangka akan ada sebuah kota yang akan di namai sesuai dengan nama kakaknya tersebut.
Kota Arysa sendiri di bangun dengan di kelilingi pagar kayu yang kokoh dan cukup tinggi. Itu guna mencegah serangan dari siluman pada penduduk. karna bagaimanapun, saat kota ini di bagun daerah ini masih hutan rimba. Hanya ada dua gerbang yang di gunakan untuk keluar dan masuk
" Hei! Mau kemana kau? "
Langkah Arya terhenti saat ingin memasuki kota itu, dia melirik pada seseorang yang memanggilnya " Aku ingin masuk " jawab Arya.
Penjaga gerbang memoerhatikan Arya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Menurutnya pakaian Arya cukup rapi, tidak seperti pengemis atau penduduk dari desa luar yang ingin mencari kerja.
Namun, yang membuat penjaga itu memanggilnya karena kera dan anjing yang dibawanya. Baginya, Cukup aneh melihat orang berjalan ditemani anjing dan kera.
" Kera dan Anjing itu bersamamu? " tanya penjaga itu sambil menunjuk Krama dan Rewanda.
Arya heran dengan pertanyaan itu. Namun tetap menjawab agar tidak menimbulkan masalah. " Ya? "
" Oh, baiklah. Ini tidak biasa " Penjaga itu tamlak berpikir lalu berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya. Seperti telah memutuskan sesuatu dia kembali menatap Arya " Aku rasa kau tetap harus membayar biaya masuk untuk keduanya " lanjut penjaga itu.
" Biaya masuk? "
" Ya! Walikota menetapkan biaya masuk untuk para pendatang di kota ini " jelas penjaga itu.
Arya tampak berpikir sejenak. Lalu mengeluarkan sebuah kantong dari balik bajunya. Arya mengeluarkan sesuatu dan menaruhnya di atas meja di depan kedua penjaga itu. " bisakah aku membayar dengan ini? "
Mata kedua penjaga itu terbelalak. Pemuda yang tampak seperti orang biasa ini, baru saja meletakkan satu siling emas di atas meja mereka. Meskipun bentuknya sangat asing tapi tetap saja itu adalah siling emas.
Temannya langsung mengambil siling itu dan menggigitnya untuk menguji keaslian emas itu lalu menatap kembali pada penjaga pertama. Keduanya menelan ledah lalu berdiri di depan Arya.
Keduanya langsung bersikap hormat pada Arya. Tidak mungkin penduduk biasa bisa memiliki siling emas. Mereka menganggap Arya bukan dari keluarga biasa.
Arya berpikir sebentar lalu berkata " Jika kalian membiarkanku masuk, kalian boleh menyimpan sisanya "
Terkejut, keduanya tidak menyangka pemuda ini begitu bermurah hati pada mereka. Keduanya langsung membungkuk " Terimakasih, Tuan Muda! "
Kalinini Arya menggaruk belakang kepalanya merasa sedikit canggung " Jadi, aku sudah bisa masuk? "
" Ya! Silahkan " Jawab keduanya serentak.
" Baiklah! Terimakasih " Arya melanjutkan langkah nya memasuki Kota Arsa.
" Tuan Muda! Jika kau memerlukan sesuatu, kau bjsa mencari kami berdua " Tawar penjaga itu saat Arya baru berjalan beberapa langkah.
" Baiklah! " jawab Arya lalu kembali melangkah. ' Ternyata kakek benar, benda itu memudahkan langkahku '
Sehari sebelum keberangkatannya, Tarim Saka memaksa Arya untuk membawa emas untuk memudahkan urusannya selama perjalanan. Apalagi Arya berniat berjalan sangat jauh.
Arya berjalan menelusuri Kota Arsa. Melihat orang yang sangat ramai berlalu lalang di tengah kota itu. Dia baru kali ini melihat kereta yang di tarik oleh kuda dan memiliki atap di atasnya.
Sepanjang jalan, Arya melihat bangunan yang tidak biasa. Bukan rumah, Arya tidak pernah melihat deretan toko atau kedai sebelumnya. Dan bangunan seperti itu sekarang berdiri berjejer sepanjang jalan di kota itu.
" Krama! Kau masih ingat di mana tempat terakhir keluargaku berada? "
" Ya! "
" Bawa, aku kesana! "
Setelah berjalan sekitar sepuluh menit. Akhirnya Krama berhenti. " Di dalam sana! "
Arya mendongak melihat bangungan yang cukup besar yang kini berdiri di depannya. " Di dalam bangunan ini? " tanya Arya heran.
" Hei, sedang apa kau?! "
" Aku ingin masuk " jawab Arya saat melihat seseorang bertanya padanya. Pakaian orang itu sama persis dengan dua orang yang dia temui di gerbang kita tadi.
" Tidak ada yang boleh masuk ke sini, tanpa Izin dari Walikota "
Arya tidak menyangka bahwa ininakan menjadi sulit. " Tidak bisakah aku membayar agar aku di perbolehkan masuk? "
" Hahahaha! Kau pikir kau siapa? Tidak! Hanya dengan izin Walikota saja kau bisa masuk " penjaga itu mendorong Arya " sekarang pergilah! " mengusir Arya.
" Guk! Guk! "
Arya berpikir sejenak lalu berbalik pergi. " Krama! "
Arya berpikir untuk pergi saja karena tidak ingin membuat membuat keributan di sana. Mungkin dengan menemui orang yang bernama walikot itu akan lebih mudah. Jadi Arya berniat untuk kembali pada dua penjaga yang tadi menawarkan bantuan padanya.
Saat Arya kembali berjalan untuk menemui ke dua penjaga itu, pandangan Arya teralihkan saat mendengar suara orang sedang berteriak.
" Lepaskan Aku! "
Seorang gadis sedang ditarik dengan tangan terikat di giring di sepanjang jalan. Tampak beberapa orang pendekar mengelilinginya saat berjalan.
" Kau akan kami lepaskan, kljika kau mengatakan di mana keberadaan kakekmu! "
" Cuih! " gadisnitu meludahi wajah pendekar yang bertanya " Kalian semua pengkhianat! "
Plaak!
Sebuah tamparan keras langsung mendarat di wajah gadis itu " Sialan Kau! "
" Hahahaha! Bai Hua, ini negeri asing. Kami orang baik di sini. Dan kau adalah penjahatnya! "
Gadis itu menatap tajam pada orang yang menertawakannya. " Bajingan kalian semua " teriak gadis itu.
Entah bagaimana hati Arya terasa tergerak ingin membantunya. Namun, saat dia hendak melangkah, sebuah suara kembali membuatnya terhenti.
Beberapa penjaga datang bersama dengan seseorang di depan mereka. Orang itu tampak berpakaian sangat rapi dan bersih.
" Ya! Kalian di negeriku. Di sini aku yang menentukan siapa yang berkhianat dan siapa yang tidak. Tentu saja di sini kaundan kakekmu adalah pengkhianat itu! Hahahaha! "
Semua pendekar sedikit menunduk saat orang itu berdiri di tengahmereka.
" Walikota! " Sapa salah satu pendekar yang menggiring gadis itu.