
Mendengar itu, Bai Hua hanya bisa menghela nafas, padahal dia ingin sekali melihat Ciel menghabisi pendekar-pendekar ini seorang diri.
"Hei, gadis petir ... Bagaimana kalau kita berlomba?"
Mendengar itu, Bai Hua yang sedang berjalan tertunduk, langsung menegakkan kepalanya.
"Maksud mu?"
Ciel tersenyum dan kembali berkata. "Saat semua ini berakhir, Siapa diantara kita yang lebih banyak menghabisi musuh, adalah pemenangnya. Bagaimana mana?"
Saat itu juga mata Bai Hua melebar. Sebelum akhirnya dia sedikit memicingkan nya. "Nona Ciel ... Seperti aku salah dengar? Apa Kau baru saja menantangku dalam hal kecepatan?"
Pembicaraan keduanya, di dengar semua pendekar yang ada di sana. Namun, apa yang mereka dengar dari keduanya, sungguh tidak nyaman begitu sampai di telinga mereka.
"Sial, mungkin ada yang salah dengan gadis Benua Barat itu ... Tapi, wanita kecil ini, jelas seorang Kultivator seperti kita. Dan ... Ah, sial ... Dia bahkan hanya seorang gadis dengan kultivasi tahap ahli, tingkat menengah!"
Mendengar kata-kata temannya, itu beberapa orang di sampingnya menganggukkan kepala mereka.
"Di remehkan wanita benua lain, memang sangat menyakitkan. Tapi, aku tidak bisa menanggung malu jika itu berasal dari gadis kecil itu ... "
"Ya, aku akan memastikan tubuhnya terbelah oleh pedangku mulai dari belahan di antara kakinya itu."
Mereka semua menganggukkan kepala, tanda menyetujui pendapat satu orang yang lainnya itu. Sekarang, hampir semuanya berniat menghabisi Bai Hua terlebih dahulu.
Malangnya, Bai Hua mendengar apa yang mereka bicarakan itu. Sekarang, meski tidak ada perlombaan, dia tetap ingin menghabisi mereka semua dengan sangat cepat.
Ciel tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Ah, Sial ... Kalian baru saja membuatnya marah. Itu sama saja kalian membuat kesempatanku menang, mengecil ... "
Mendengar Ciel yang berkata dengan nada kesal itu, membuat mereka mengernyitkan keningnya. Namun, rasa penasaran yang muncul di kepala mereka tersebut, akan segera terjawab.
Sebuah percikan cahaya, baru saja menyambar tanah di mana gadis itu berdiri.
Ciel yang lebih dahulu menyadarinya, langsung berjalan menjauh. "Apa gadis gila itu juga ingin membunuhku?"
Pendekar dari Benua Timur itu, melebarkan matanya, Saat melihat konsentrasi energi yang tiba-tiba muncul dari tubuh gadis yang memiliki ras yang sama dengan mereka itu.
"Ini tidak mungkin ... Bukan?"
Kilatan-kilatan petir kecil mulai muncul dan menyambar ke segala arah dari tubuh Bai Hua. Matanya yang sebelumnya terlihat biasa, memudar. Namun, detik kemudian mata itu menyala biru terang.
"Aku tidak pernah mendengar ini sebelumnya ... Bukankah itu elemen petir?"
"Aku Bahkan tidak tau, bahwa petir adalah sebuah Elemen ... "
Melihat itu, kepercayaan diri mereka langsung memudar. Tingkat kultivasi, sepertinya memang tidak berguna saat menghadapi wanita-wanita ini.
Mereka mengalihkan pandangan mencari gadis yang pertama kali mereka hadapi. Namun, gadis itu sudah tidak ada di tempat di mana dia terakhir terlihat tadi.
"Langkah Seribu Bintang ... !"
Mereka semua terkejut dan menoleh pada suara gadis yang berasal dari benua yang sama dengan mereka.
Namun, saat itu juga mereka tidak lagi melihat gadis itu, di sana. "Kemana di—"
Satu pendekar yang bertanya, tidak bisa menyelesaikan kata-katanya, karena saat itu juga, dia berasalan sesuatu yang tidak bisa di lihat nya, baru saja melintas melewatinya.
Dia menoleh kebelakang, dan mendapati beberapa berapa rekannya, melihat dengan tatapan aneh.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?"
Tidak ada temanya yang sempat menjawab, karena saat itu juga di merasa dunia berputar-putar.
Pendekar itu tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja dia bisa terjatuh ke tanah. Namun, Matanya melebar saat melihat sebuah tubuh dengan postur yang sangat dia kenali berdiri namun tanpa kepala.
"Apa itu, tu-tubuh ... Ku ... ?"
Dia tidak sempat mendengar jawaban apapun, karena setelah itu, pandangannya sudah gelap dan kesadarannya sudah tidak ada lagi.
"Argh!
"Argh!
"Argh!
"Argh!
"Argh!
Terpana dengan tanggalnya kepala salah satu rekan mereka, para pendekar itu tidak menyadari bahwa salah satu anggota bagian tubuh mereka juga sudah memisahkan diri.
"Kakiku ... !!"
Berpikir hanya mendapat rasa sakit tiba-tiba, mereka baru menyadari sesuatu yang melintas itu, telah membuat anggota tubuh mereka terputus.
"Hei ... Apa kalian melupakan ku?"
Semua terperanjat, bahkan ada yang terjatuh saat tiba-tiba saja Ciel muncul di tengah-tengah mereka.
Ciel mengangkat bahunya, lalu berkata. "Baiklah ... Lupakan, aku hanya mengalihkan perhatian kalian saja. Sebaiknya, kalian jangan melihat ke atas. Atau ... "
Semakin Ciel melarang, semakin mereka penasaran dan langsung mendongakkan wajah ke atas untuk melihat.
Namun, detik berikutnya setiap satu dari mereka, melihat satu anak panah, yang meluncur sangat cepat ke arah mereka.
"Zrup!" "Zrup!" "Zrup!" "Zrup!" "Zrup!"
Tepat di kening semuanya, satu anak panah sudah Tertanam. Ciel menarik nafas dan memusatkan tenaga dalamnya pada matanya, untuk mencari keberadaan Bai Hua.
Dia tersenyum, saat melihat gadis itu melibas apa saja yang dilintasinya. "Sepertinya, gadis gila itu tidak mengerti aturannya ... "
Setelah mengatakan itu, Ciel kembali melompat tinggi ke udara. Saat sampai di tas dia kembali mengeluarkan busur panah nya.
Di menatap kebawah, namun busur panah nya, mengarah ke atas. Gadis itu, menembakkan empat anak panah, dan mengulanginya sebanyak empat kali lagi, sebelum akhirnya di sudah kembali berada di bawah.
Tau, lagi-lagi kehadirannya yang tiba-tiba di antara Kultivator-kultivator daratan timur tersebut, mengejutkan mereka, sekali lagi Ciel mengingatkan.
"Jangan lihat ke atas ... Jika tidak, kalian akan menyesalinya!"
Mereka semua sudah sempat melihat lima orang rekan mereka mati dengan anak panah di wajah.
Jadi, mereka tidak ingin mengulangi hal yang sama. Namun, gadis yang itu tetap tersenyum dengan cara yang sama.
"Apa kalian berpikir dengan tidak melihat ke atas, anak-anak panah itu tidak akan datang?"
Saat itu juga mata mereka melebar. Namun semua sudah terlambat.
Zrup!" "Zrup!" "Zrup!" "Zrup!" "Zrup!"
Zrup!" "Zrup!" "Zrup!" "Zrup!" "Zrup!"
Zrup!" "Zrup!" "Zrup!" "Zrup!" "Zrup!"
Zrup!" "Zrup!" "Zrup!" "Zrup!" "Zrup!"
Anak-anak panah itu tetap datang dengan cara yang sama. Hanya saja tertanam di puncak kepala mereka.
Para Kultivator itu mati dengan ingatan Terakhir sebagai manusia paling bodoh di dunia.
Ciel tidak kembali melompat. Dia tau cara tersebut tidak akan lagi berguna, karena ratusan pendekar lainnya sudah melihatnya.
Gadis itu berjalan mendekati para ratusan Kultivator yang menatapnya waspada. "Bukankah kalian tau bahwa bukan hanya aku yang sedang kalian hadapi, bukan?"
Mereka semua mengingat satu lagi gadis yang tadi menghilang. Namun, tiba-tiba sebuah suara di belakang sana, membuat mereka semua merinding.
"Ciel ... aku sudah menghabisi lebih banyak darimu!"
Ciel sudah menyangka bahwa Bai Hua akan mengatakan itu padanya. Gadis itu hanya tersenyum dan menjawabnya.
"Hei, dari yang ku hitung, kau hanya menghabisi satu orang saja ... Jika kau hanya memotong-motong tubuh mereka, itu tidak di hitung ... "
Ratusan pendekar yang seharusnya sangat ditakuti itu, kini terjebak di antara dua gadis aneh, yang membicarakan soal taruhan, siapa di antara keduanya yang bisa menghabisi mereka lebih banyak.
"A-aku yakin ini, cuma mimpi ... Ya, pasti. Tidak mungkin ini adalah nyata, kan? ... "
Setelah mendengar salah satu dari mereka mengatakan itu, kini satu suara lagi muncul.
"Bukankah Arya sudah mengatakan bahwa tidak ada waktu bermain-main ... Kenapa kalian malah membuat ini menjadi perlombaan, huh?"
Ciel dan Bai Hua terdiam. Mereka menoleh pada Luna yang mengingatkan hal tersebut.
Namun, saat keduanya melihat wajahnya, mereka melihat Luna sedang tersenyum dan kembali berkata.
"Bukankah seharusnya, kalian juga mengajakku?"
Sempat berpikir bahwa gadis berambut merah yang sedang memegang Godam besar itu, mungkin saja yang terlemah, namun pikiran itu langsung sirna.
Rambut merah itu, kini menyala terang dan mulai mengeluarkan asap hitam. Detik kemudian rambut itu sudah berubah menjadi kobaran api.
Demi apapun yang ada di dunia, semua Kultivator itu sangat-sangat yakin. Mengingat dua gadis sebelumnya, tidak diragukan lagi, yang ketiga inilah yang paling kuat di antara yang lainnya.
"Tolong, jika ini mimpi ... Aku ingin terbangun saat ini juga! Seseorang ... Tolong, buat aku keluar dari mimpi buruk ini ... "