
"Banjanang, aku masih tidak habis fikir,, kenapa kita harus membawa begitu banyak pasukan ke negeri sembilan."
Dalam hal kekuatan, bisa dipastikan kekuatan pasukan Malka adalah yang terkuat di Daratan ini. Membawa seratus ribu pasukan, seolah Adiaksa begitu takutnya dengan Sekte lubuk Bebuai.
Dengan kekuatannya sekarang dan statusnya sebagai Raja Malka, Hal.ini membuat Adiaksa merasa tidak senang.
"Seperti yang kukatakan, Sekte Lubuk Bebuai tidak sesederhana itu. Mereka memiliki sejarah panjang di Daratan ini."
Meski merasa tidak senang, tapi Adiaksa belum sekalipun membantah gurunya itu. Karena, menurutnya Banjanang adalah pendukung terkuat sekaligus orang terdekatnya.
"Pendekar-pendekar dari kekaisaran Yang ini, kuat--kuat. Aku berani bertaruh, bahkan jika kita hanya membawa mereka, jangankan sekte Lubuk Bebuai, Negeri Sungai Sembilan pun akan runtuh."
Saat Adiaksa mengatakan itu, Banjanang melirik pada kelompok pendekar yang dia datangkan jauh-jauh dari kekaisaran Yang Benua timur yang kini juga berkuda tidak jauh dari mereka.
Banjanang mengangguk. "Ya, jika hanya negeri Sungai Sembilan, sudah pasti bersama mereka kita mampu meratakannya. Tapi Adiaksa ... "
Banjanang sedikit kesulitan menjelaskan hal-hal yang terlalu rumit pada Raja Malka ini. Sejak kecil, muridnya ini hanya tertarik dengan kekuatan saja. Sehingga, hal-hal menyangkut politik kerajaan dan sejarah-sejarah sangat sulit di mengerti Olehnya.
"Bila seseorang sama sekali tidak takut dengan orang lain, bagaimana menurutmu?"
Tanpa fikir panjang, Adiaksa langsung menjawab. "Tentu saja karena dia merasa lebih kuat daripada lawannya, atau dia sangat bodoh karena tidak mengetahui bahwa lawannya lebih kuat darinya."
Banjanang langsung mengangguk. "Ya, kau benar ... Lantas, bagaimana menurutmu dengan Lindu Ara dan Sektenya? Apakah menurutmu dia takut pada kau dan pasukan-pasukan ini?"
Adiaksa tampak berfikir sebentar, namun itu tak lama sebelum akhirnya Wajahnya berubah.
"Aku akan tujukkan pada wanita tua renta itu, bagaimana menakutkannya kekuatanku dan pasukan Malka, agar dia tau sebodoh apa dirinya."
Banjangan hanya mengangguk dan tersenyum saat melihat akhirnya Adiaksa mengerti maksudnya.
Sebenarnya Itu tidak sepenuhnya benar. Banjanang memiliki firasat mereka akan kalah jika terlalu meremehkan Lindu Ara dan Daratan ini. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk mendatangkan sebanyak mungkin pendekar-pendekar kuat dari negara lain, agar semua rencana yang sudah dipersiapkannya selama puluhan tahun ini, berjalan dengan benar.
Beberapa saat kemudian, seseorang datang mendekat dengan menunggangi seekor kuda.
"Tuan Banjanang, Komandan Yuto dari pasukan Nippokure, sudah berada dalam jarak dua hari di belakang kita."
Mendengar itu, wajah Banjanang semakin cerah. "Akhirnya, dia memutuskan hal yang tepat."
Berfikir bahwa tilik Sandinya hanya akan menyampaikan berita itu, Banjanang merasa heran saat mendapati orang itu tidak memelankan kudanya.
"Ada berita lainnya?"
Orang itu langsung mengangguk. Dia melirik ke arah Adiaksa sebelum kembali menatap Banjanang.
Saat itu juga Banjanang mengerti maksudnya. Dia mendekatkan kudanya pada tilik sandi itu, dan segera bertanya.
"Katakan, ada apa?"
"Seluruh Pasukan Serikat Oldenbar di Daratan ini, menghilang."
Mendengar berita itu, mata Banjanang melebar. Dia kembali menatap tajam pada tilik sandi itu, dan bertanya geram "Kenapa ini tidak sejak awal kau laporkan?"
"Aku juga tidak tau, mereka terlihat menjalankan bisnis mereka seperti biasa. Hingga suatu malam, kami merasa hanya ada beberapa pekerja saja di markas mereka."
Saat itu juga, Banjanang menghentikan kuda. Sebelum akhirnya berteriak lantang.
"BERHENTI ... !!"
Jumlah pasukan Serikat Oldenbar sangat banyak. Hilangnya mereka bukan pertanda baik atau juga pertanda buruk. Namun, tidak tau kenapa serikat itu bisa menghilang, membuat Banjanang berfikir ulang. Mungkin, ada sesuatu yang sudah terjadi yang dia tidak ketahui di Daratan ini.
"Banjanang? ... Kenapa kau menghentikan pasukan? Ini belum sampai satu hari kita berjalan."
Banjanang menelan Ludah sebelum menjawab pertanyaan dari Adiaksa itu.
"Yuto dan Pasukannya, berjarak dua hari di belakang kita. Sebaiknya, kita menunggu mereka."
Adiaksa tersenyum miring. "Baiklah, itu berita bagus. aku rasa kita sebaiknya memang menunggunya."
Saat itu juga, Pasukan Malka mendirikan tenda yang berjarak satu hari dari perbatasan negeri Sungai Sembilan.
Saat ini, orang itu melesat sangat cepat menuju negeri Sungai Sembilan.
Sementara itu, Sedayu sendiri dengan pasukannya sudah siap menunggu siapa saja yang datang terlebih dahulu di perbatasan negeri Sungai Sembilan.
Seperti apa kata Lindu Ara sebelumnya, ini adalah masalah waktu. Jika mereka terlambat atau membuang-buang waktu karena terlalu banyak berfikir, itu akan merugikan mereka saat perang benar-benar terjadi.
"Guru, menurutmu ... Apakah Tuan Rangkupala akan langsung datang kesini atau ke Malka?"
Di dalam Tenda, Lindu Ara juga sudah di sana. Namun, wajahnya tampak gelisah.
"Aku tidak tau, tapi sepertinya aku telah melupakan sesuatu yang sangat penting di sini ... !"
Tentu saja Sedayu merasa heran, sangat jarang sekali terlihat gurunya itu gelisah karena sesuatu.
"Guru ... Perang belum terjadi, jika kau melupakan sesuatu, kita bisa menjemputnya."
Lindu Ara langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak ... Ini bukan benda. Ya, ... Tapi bukan itu yang aku lupakan."
"Lalu apa?"
Lindu Ara menatap Suktanah Negeri Sungai Sembilan itu, lalu berkata.
"Kita terlalu banyak memikirkan masalah lainnya, sehingga kita lupa masalah sesungguhnya. Ini semua tidak terjadi, jika bukan karena Batu Pusaka Inti Tanah ... "
Sedayu menganggukkan kepala. Namun, itu tidak menjawab pertannyaannya.
"Guru, aku tidak melupakan benda itu, barang seharipun, jadi kenapa kau begitu cemas?"
"Ini bukan tentang benda itu. Tapi ... Sedayu, bukankah kau tau bahwa aku memberi sebuah tugas pada Citra Ayu?"
Saat itu juga Sedayu langsung mengerti. Bahkan, beberpaa hari yang lalu, dia sempat ingin menanyakan prihal ini. Namun, karena banyak hal lainnya yang terjadi, dia juga melupakannya.
Namun, saat itu juga Sedayu langsung bisa mengaitkan segala sesuatunya
"Guru, bukankah segel Citra Ayu rusak dan Kakakku mengatakan bahwa putrinya baik-baik saja?"
Lindu Ara menganggukkan kepalanya. Namun, dia belum menangkap maksud dari pertanyaan Sedayu tersebut.
"Ya, tentu saja aku percaya pada Nilam Sari, walaupun aku tidak terlalu mengerti bagaimana itu bisa terjadi."
Sedayu menggelengkan kepalanya lalu tersenyum.
"Itu bukan kebetulan ... Aku rasa, seperti surat yang dikirimnya, Putri kakakku itu, memang telah berhasil menemukannya."
"Maksudmu?"
"Sang Alchemist ... Dan aku yakin, dia yang sekarang merawat Citra Ayu, sehingga Karpatandanu tidak perlu membawa Citra Ayu padamu atau ibunya, bukan?"
Saat itu juga wajah cemas Lindu Ara sepenuhnya berubah. Hanya ini kesimpulan yang bisa mengaitkan segala peristiwa. Jika tidak, sudah bisa di pastikan Citra Ayu saat ini telah mati
"Sedayu, tidak ada di antara kita yang benar-benar pernah mengenal seseorang dengan Ilmu Alchemist ini sebelumnya. Namun, aku rasa apa yang kau katakan benar. Jika dia bisa mengurai inti tanah, bukan hal yang sulit baginya memperbaiki segel Citra Ayu."
Saat itu, mereka merasa satu hal yang sangat penting sepertinya sudah terpecahkan. Namun tidak lama, Nilam Sari tiba-tiba saja sudah berada di dalam tenda.
"Kakak ... Seperti nya—"
Nilam Sari mengangkat tangan memotong kata-kata Sedayu, dan langsung mengangguk yang menandakan bahwa dia sudah mendengar apa yang mereka bicarakan.
Akan tetapi, saat itu juga dia berbicara dengan bahasa isyaratnya yang membuat mata kedua orang yang kini berada di depannya itu, melebar.
"Seribu?! ... Kau yakin?"
Nilam Sari mengangguk menjawab pertanyaan Lindu Ara dengan sangat yakin.
"Kakak, jadi maksudmu Adiaksa datang dengan lebih seratus ribu pasukan dan diantara pasukan mereka, ada seribu pendekar asing yang sudah berada di level ranah bumi?"