ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Tanjung Kapal


Arya, Ciel, Salendra dan beberapa pendekar, bergerak bersama menuju sebuah desa di pinggir pantai. Tujuan mereka saat ini adalah sebuah daerah bernama Selat Ru.


Daerah itu adalah kampung halaman salah satu pendekar yang kini ikut bersama mereka untuk menunjukkan jalan.


Di sana, pendekar itu mengatakan bahwa ada tetua kampung yang pernah menceritakan Siluman Kerang Darah Batu, seperti yang dikatakan Arya.


Hal itu sudah meyakinkan Arya, karena kisah yang diceritakan pendekar itu, benar-benar menunjukkan ciri-ciri keberadaan siluman tersebut.


Perlu setengah hari bagi mereka semua untuk sampai ke daerah tersebut. Para pendekar yang ikut bersama mereka, harus menelan dua kali Pil yang bisa mengembalikan tenaga dalamnya agar tidak harus berhenti beristirahat untuk memilihkan tenaga dalam mereka.


Saat petang, akhirnya mereka sampai pada sebuah Desa yang bernama Tanjung Kapal. Di sanalah cerita tentang Kerang Darah Batu berasal.


Arya tidak bisa menunggu. Semakin lama waktu terbuang, maka itu akan semakin merugikan mereka.


Sebagian berkah Air yang Arya tinggalkan pada tubuh Citra Ayu, tidak akan mampu bertahan lama, sebelum akhirnya berubah jadi air biasa.


Belum lagi mereka harus mengantisipasi pergerakan musuh. Arya hanya memiliki waktu paling lama tiga hari saja dan harus bisa kembali sebelum itu. Jika tidak, nyawa Citra Ayu benar-benar dalam bahaya.


"Tuan Muda, silahkan ikut saya. Di sana, adalah rumah tetua kampung yang mengetahui kisah Kerang Darah Batu itu."


"Baiklah, terimakasih."


Saat itu juga, Arya mengikuti pendekar tersebut.


Beruntung sana tetua saat itu sedang di rumah. Namun, begitu banyaknya pendekar yang datang, hal tersebut sempat membuat orang-orang kampung bahkan Tetua itu sedikit terkejut.


Mujur salah satu dari pendekar-pendekar itu, bisa langsung dia kenali.


"Nan Tuo, aku datang membawa beban. Mohon, hendaknya engkau ringankan."


Tetua kampung langsung mengangguk. Bagaimanapun, pendekar didepannya sekarang ini adalah pendekar kebanggan mereka.


Jika pendekar meminta bantuan, itu pasti bukan hal yang ringan atau sembarangan.


"Sejalu, bicara dan katakan. Jika bisa, tentu aku ringankan."


"Nan Tuo. Tuan Muda ini ingin mencari tau. Di mana letak Kerang Darah Batu."


Mata sang tetua itu langsung melebar. Sudah lama dia tidak mengingat-ingat nama Kerang Batu Darah itu. Sekarang, seseorang datang ingin mencari tau keberadaannya.


"Masuklah, dulu sebagai tamu. Aku tunjukkan yang aku tau."


Meski sedikit ragu, Tetua itu tetap mempersilahkan semua orang masuk kerumahnya.


"Nan Tuo, kami benar-benar tidak punya waktu. Nyawa teman kami dalam bahaya."


Ciel benar-benar melupakan tata krama nya. Dia begitu cemas saat mengetahui apa yang terjadi lada Citra Ayu, jika Arya gagal menyelamatkannya.


"Ciel, tenanglah. Biarkan tetua itu bicara terlebih dahulu."


"Oh, maaf. Aku terlalu mencemaskan Citra Ayu."


Tetua itu hanya menghela nafas panjang dan melepasnya. Saat itu dia menggelengkan kepala, dan terus masuk kedalam sebuah ruangan.


Saat itu, Sejalu lah yang menawarkan mereka untuk duduk. Namun, hal itu tidak lama. Karena sang tetua sudah keluar kembali.


Tetua itu langsung menaruh sebuah benda di atas meja. Saat itu, mata Ciel langsung bereaksi. Ini bukan karena kebiasaannya. Namun, karena apapun benda yang ada di dalam kotak yang kini ada di depannya itu, memancarkan energi yang cukup besar.


"Tetua, apa ini?"


"Bukalah, dan aku akan menjelaskannya."


Saat itu juga, Ciel langsung mengambil benda tersebut, dan langsung membukanya.


Sebuah pecahan batu yang sangat halus ada di sana. Bisa dikatakan, saat itu mereka hanya melihat serpihan batu energi. Namun, konsentrasi energi yang dikandungnya, cukup besar. Benar-benar tidak wajar.


"Itu adalah batu energi Kerang Darah Batu."


Mata Arya langsung melebar. Saat itu juga dia coba memeriksa. Namun, keningnya berkerut. Karena ini sama sekali tidak seperti apa yang dia bayangkan.


Saat itu, Ciel langsung menoleh padanya, "Arya, mungkinkah ada jenis Siluman Kerang Batu lainnya?"


Arya hanya menggeleng kepala Namun, saat dia kembali hendak bertanya, sang tetua kampung berbicara.


"Sudah banyak yang mencari, sudah banyak yang bertanya. Ribuan tahun lamanya, tidak satupun yang berjumpa."


Saat itu, semua orang mengerti. Bahkan tetua itu sendiri, tidak pernah melihat siluman tersebut.


"Nan Tuo, sejak kecil engkau cerita. Kami selalu mendengar kata. Jika engkau tak pernah berjumpa, mungkin tak jodoh sang Tuan Muda."


Menurut Sejalu, jika memang tetua kampungnya tidak pernah melihat, bagaimana dia akan menunjukkan di mana Kerang Darah Batu berada.


"Dengarlah dulu aku berkata, itu bukanlah cerita belaka. Kala dulu seorang satria, datang kesini tuk menangkapnya."


Saat itu semua orang mengangguk, dan menunggu Tetua itu melanjutkannya.


"Dahulu kala, saat kerajaan ini SwarnaDwipa. Datang satria, membawa pedang ... "


Mulailah Nan Tuo bercerita. Cerita yang sudah turun temurun dikisahkan di daerah itu. Seseorang bernama Arangga juga datang untuk mencari Kerang Batu Darah.


Saat Arya dan Ciel mendengarnya, saat itu juga mereka langsung percaya apa yang di ceritakan Tetua itu.


Menurut ceritanya, Arangga berhasil menemukan Siluman Kerang tersebut. Setelah bertarung di dalam laut berhari-hari lamanya, akhirnya Arangga bisa mengalahkan Kerang Tersebut dan mengambil Batu energi milik Siluman Kerang itu.


Tapi saat itu, Arangga datang bukan karena ingin menyelamatkan seseorang namun karena pengaduan para penduduk wilayah itu pada kerajaan.


Siluman Kerang Darah Batu sempat menjadi momok bagi semua orang. Siluman itu makan dengan cara menghisap air laut dalam jumlah yang sangat besar.


Saat itu, perahu para nelayan dan apapun yang berada dalam jarak hisapnya, akan terbawa. Kerang Batu Darah benar-benar akan menelan apa saja yang ada di sekitarnya.


Untuk itulah Arangga datang ke wilayah ini dan menyelesaikan masalah penduduk Tanjung Kapal, yang memang memiliki pekerjaan sebagai nelayan.


Saat itu, mata Sejalu langsung melebar.


"Jadi selama ini, mungkin itulah penyebabnya kenapa penduduk kita, tidak bisa lagi berlayar?"


Sejak Sejalu kecil, dia selalu bertanya. Kenapa nama daerah mereka Tanjung kapal, sementara tidak ada satupun orang disini yang memiliki kapal.


Tetua itu mengangguk, dan kembali menjelaskannya. Nan Tuo sebagai tetua kampung juga sudah menduganya. dia yakin, saat ini di sana sedang terjadi masalah yang sama.


Oleh karena itu. hampir sepanjang dia menjabat sebagai tetua kampung, dia sudah beberapa kali meminta para pendekar mencari penyebab pusaran air, di tengah selat di depan kampung mereka itu.


Akan tetapi, sebanyak apapun pendekar pergi tak ada satupun yang pernah kembali. Akhirnya, dia menghentikan usahanya itu. Dan terus membiarkan penduduk kampung bekerja beternak ataupun bertani.


"Arya, jika apa yang dikatakan Tetua ini benar, maka itu sudah bisa dipastikan Kerang Darah Batu, Bukan?"


Arya mengangguk. Namun, saat itu dia langsung berkata pada Nan Tuo.


"Jika Arangga benar-benar bertarung dengannya kerang Batu Darah itu, maka ini akan menjawab, kenapa daerah ini di sebut Tanjung bukannya, Teluk."


Saat itu juga orang menyadari bahwa, mungkin saja di daerah itu benar-benar pernah terjadi pertarungan besar.


Karena, jika daerah Tanjung Kapal adalah sebuah tanjung, maka seharusnya daratannya menjorok ke laut. Akan tetapi saat ini, kampung ini lebih sesuai di sebut sebagi Teluk alih-alih Tanjung. Sebab sekarang, di sini, Lautlah yang menjorok kedalam daratannya.


Saat itu juga, Arya langsung berdiri. "Baiklah, Terimakasih Nan Tuo."


Setelah mengatakan itu, Arya langsung beranjak pergi. Namun, Nan Tuo langsung mengingatkannya.


"Hei, anak Muda. Jika kau sudah tau, maka kau juga sudah bisa membayangkan ukuran Siluman itu, bukan?"


Saat itu, Arya sudah sampai di pintu, di sana dia sempat berhenti dan berkata.


"Jika aku tak bisa menaklukkan Siluman itu, maka aku tidak pantas menyandang namaku, sendiri."


Sempat terpana, Ciel tidak sadar saat itu Arya telah meninggalkannya. saat itu juga dia langsung berderap pergi mengejar Pemuda itu.


"Sejalu, siapa pemuda itu?"