ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Kitab


" Huh, benda apa ini? "


Arya melangkah menuruni jenjang batu yang ada di depannya. Sementara para sesepuh masih berdiri mematung di tempat mereka.


Tidak ada yang menyangka bahwa Sekte mereka menyimpan harta karun sebanyak ini di bawahnya. Tak terkecuali Tarim Saka.


Mungkin saja dia yang paling terkejut di sana. Pria tua itu telah tidur di atas gunung emas seumur hidup tanpa pernah mengetahuinya.


" Klentang ... ! "


Arya melempar sebuah benda berbentuk mangkok yang terbuat dari emas, sembarangan. Sehingga saat benda itu menghantam benda lainnya menyebabkan suara yang nyaring menggema di ruangan itu.


Suara itu pulalah yang menyadarkan para sesepuh Awan Senja dari keterkejutan mereka.


Berbeda dengan Tarim Saka dan sesepuh Awan Senja lainnya, Arya sama sekali tidak tertarik dengan gunung emas itu. Setelah melihat-lihat dan menyadari bahwa tidak ada yang bisa menarik minatnya, Arya lebih memilih keluar dari tempat itu dengan sebuah Kitab yang masih ada di tangannya.


Tidak jauh dari puing-puing reruntuhan tersebut. Arya membaca isi Kitab dibawanya. Satu hal yang Arya ketahui adalah, kitab tersebut adalah kitab teknik pengendalian elemen angin tingkat tinggi.


Saat Arya selesai membaca keseluruhan isi Kitab tersebut, Arya mengetahui bahwa Kitab ini sebenarnya memang ditinggalkan untuk dipelajari oleh keluarga Tarim Sadif.


Namun, Tarim Sadif memutuskan untuk menyimpan Kitab tersebut. Karena takut akan menimbulkan perselisihan baru di keluarganya dan memutuskan menyimpan kitab itu bersama gelang yang kini berada di lengan Arya di dalam kotak. kemudian kotak itu diletakkan di ruang rahasianya di bawah tanah.


Arya berjalan sedikit ke atas dari reruntuhan menuju tempat di mana pelayan-pelayan sedang menunggu dengan cemas. Satu orang diantara mereka terlihat sangat cemas melebihi yang lainnya.


" Bi, apa mereka belum kembali? "


Belum sempat wanita itu menjawab terlihat Krama barusaja keluar dari hutan di puncak bukit mendekat dengan wujud Iblisnya.


Rewanda dan Krama sudah tidak begitu menakutkan lagi bagi seluruh penghuni vila utama Sekte Awan Senja.


" Tuan Krama, dimana dia? " tanya Wulandari yang terlihat sangat cemas itu.


Krama melihat ke Arah puncak bukit yang tadi dilaluinya. Puncak tertinggi bukit di penuhi pohon tinggi yang tak jauh dari mereka berdiri.


" Woooooo Hoooooo! "  Suara Rewanda menggema dari dalam pepohonan dipuncak bukit itu, kemudian tubuhnya muncul menembus dedaunan melesat tinggi lalu berputar di udara.


" Woooooo Hoooooo! " 


Semua mata disana melebar saat melihat cara kedatangan Rewanda tersebut. jika itu hanya Rewanda mereka tidaknakan seterkejut ini.


Itu karena, suara yang kedua bukanlah suara Rewanda. Tapi, itu adalah suara seorang anak gadis yang memeluknya di belakang ikut berteriak saat Rewanda melakukan putaran di udara tadi.


Adegan itu seharusnya sangat menakjubkan bagi siapa saja yang melihatnya. Sampai rewanda akhirnya mendarat tepat di depan mereka semua.


" Buk! "


" Woooooo Hoooooo! " Gadis itu berteriak sekali lagi " Hahahaha, ini sangat menyenangkan! ... Ayo sekali lagi! " teriak gadis itu sangat bersemangat.


" Darya! " Wulandari histeris. Hampir saja Wulandari mati karena jantungnya berhenti saat melihat Darya berada di punggung Rewanda.


Darya turun dari punggung Rewanda dengan wajah tak bersalah. " Kenapa Bi? "


Sebelumnya, Wulandari sudah sangat cemas saat tadi Darya dan kedua Iblis langit memasuki hutan. Bagaimana tidak, Darya berada di atas punggung Krama yang berlari sambil berdiri.


Dan barusaja, Rewanda melakukan loncatan tinggi di udara dan berputar setidaknya tiga kali saat di awang-awang sebelum akhirnya mendarat tepat di depan mereka. saat semua itu terjadi, Darya berada di belakang punggung Rewanda, sambil memeluknya.


" Aku ... Aku ... Hiks! "


Melihat Wulandari mulai menangis, Darya menyadari kesalahannya. Darya langsung memeluk Wulan dari " Maafkan aku, Bi "


Darya tau Wulandari sangat menyayanginya dan tentu saja apa yang di lakukannya tadi membuat Wulandari sangat cemas. Walaupun itu sangat menyenangkan baginya.


Akan tetapi, lihatlah gadis itu sekarang. Penuh semangat. Terlihat sangat kuat dan ... sangat nekad. Tidak ada yang menyangka kehidupannya bisa berubah secepat ini. Apalagi karena dia hampir saja mati satu minggu yang lalu.


Di malam saat tubuhnya meledakkan Prana dipelukan Arya, ada sebuah proses yang sangat cepat yang terjadi dilakukan oleh Arya dalam upayanya menyelamatkan Darya.


Sebelumnya, Amia sempat mengatakan pada Arya bahwa dia bisa menyembuhkan Tubuh Darya dengan kekuatannya jika setelah meledakkan Prana tersebut tubuh Darya masih tetap utuh.


Dengan begitu, disaat terakhir Arya mengaktifkan sebuah segel yang telah di ajarkan Obskura padanya. Segel yang di ciptakan Obskura untuk mengunci titik-titik Cakra di tubuh manusia.


Namun, Arya tidak menggunakan segel tersebut untuk mengunci cakra seperti yang diajarkan Obskura. Melainkan, Arya menyelimuti seluruh tubuh Darya dengan segel tersebut.


Dengan bantuan energi dari Kulkan, Arya berhasil sedikit membendung ledakan Prana itu dan bisa membuat tubuh Darya tetap utuh setelah ledakan terjadi.


Sesaat setelah ledakan, Amia berpindah dari tubuh Arya ke tubuh Darya dengan cepat. Dari dalam, dengan kekuatan yang sangat besar, Roh Air tersebut langsung fokus berusaha memperbaiki jantung Darya secepat mungkin.


Sedangkan Arya, dengan teknik yang diajarkan Obskura untuk penyembuhan, Arya menggunakan energi dari Kulkan untuk merekontruksi jaringan tubuh Darya yang lainnya.


Ironis nya adalah, Energi dari Kulkan tersebut ia dapatkan setelah Kulkan menyerap roh Kundari yang berada di tubuh Arya beberapa waktu sebelumnya.


Di tambah semangat dan keinginan hidup Darya yang sangat tinggi, kerja sama mereka berhasil menciptakan keajaiban. Darya selamat dari ambang kematian.


Lebih dari itu semua, setelah melewati proses penyembuhan, tubuh Darya tidak lagi kurus. Wajah pucat nya menghilang berganti dengan wajah yang cerah. Memperlihatkan kecantikan Darya yang sesungguhnya.


Hal mengejutkan lainya adalah, Darya menjadi sangat kuat. Itu karena sama seperti Arya. Seluruh titik cakra di tubuhnya sudah terbuka. Sehingga, sebagai pemilik tubuh spasial, Darya bisa menyerap Prana dan tenaga dalam yang besar dalam waktu yang sangat cepat.


Melihat ulah Darya yang membuat semua orang di sekitarnya menjadi cemas itu, Arya hanya bisa menggelengkan kepalanya tersenyum. Di dalam dirinya, Arya benar-benar bisa melihat Adiknya yang cantik, Alya dan semangat serta keberanian kakaknya, Arsa.


" Aku tidak akan memaafkanmu! "


Mata Darya melebar saat melihat orang yang berteriak itu. Suara itu berasal dari Ketua Sekte Awan Senja, kakeknya.


Ternyata Tarim Saka juga sempat melihat adegan sebelumnya saat dia berjalan hendak menghampiri Arya. Tidak jauh dengan apa yang dirasakan Wulandari, saat melihat aksi Rewanda dan Darya itu, jantung Tarim Saka hampir saja meloncat keluar dari mulutnya.


" Wulandari! Pegang dia! " perintah Tarim Saka.


Mendengar itu, Darya langsung melepas pelukannya dari Wulandari dan berlari ke atas punggung Krama, Kabur " Maaf, Kek! Jika kau ingin menghukumku, kau harus menangkapku terlebih dahulu " teriak Darya mengejek kakeknya saat sudah menjauh.


" Anak itu ... " Tarim Saka tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Dia tidak tau harus senang atau marah melihat kelakuan cucunya itu. Hanya butuh satu hari bagi Darya untuk sadar dan dihari kedua, tubuh Darya sudah benar-benar sembuh.


Sejak itu, Darya berubah dari gadis yang lemah menjadibgadis kuat yang berani. Tentu saja itu sangat melegakan Tarim Saka.


Akan tetapi, Sudah lima hari ini Tarim Saka tidak berhasil sekalipun menangkapnya untuk menghentikan ulahnya yang mencemaskan semua orang itu.


Darya selalu berhasil kabur dengan kedua iblis langit yang selalu bersamanya itu. Mengejar Krama adalah hal yang mustahil bagi seluruh orang yang ada di sana.


Setelah melihat cucunya itu kembali menghilang, dia hanya bisa menarik nafas panjang dan melepasnya. Senyumnya terkembang.


Tarim Saka lebih memilih untuk merasa senang daripada marah. Karena kebahagian Darya seperti sekarang ini, beberapa tahun yang lalu seperti sebuah mimpi yang mustahil akan menjadi nyata baginya.


" Dia akan baik-baik saja "


Suara Arya yang tiba-tiba berdiri disebelahnya, sedikit mengejutkan Tarim Saka. Dia langsung mengingat alasan kenapa dia datang kesini.


" Arya, aku menemukan ini ... " Tarim Saka menunjukkan sebuah Kitab yang sedang di bawanya. " Isi nya sama dengan Kitab sebelumnya. Aku rasa, inilah yang di lindungi leluhurku! "


Arya segera mengambil Kitab itu. Saat dia melihat sampul Kitab tersebut, Jantungnya langsung menendang rongga dadanya. Di sampul Kitab itu tertulis.


" Arangga? "