ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Akhir dan Awal


"Buk!"


Belum sempat Kelang menarik nafas, Arya sudah memberikan telak di dadanya. Sebuah pukulan yang langsung menyadarkan Kelang perbedaan besar kekuatan mereka.


Tidak terpental. Tapi rasa saki yang Kelang rasakan sangat luar biasa. Kelang yakin satu dari dua paru-parunya baru saja terkoyak karena pukulan yang di berikan Arya itu.


"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ... !"


Kelang terbatu saat darah mendesak tenggorokan yang kini keluar dari mulutnya.


Kelang langsung melepas gagang pedang dan melompat mundur. Namun saat itu juga Arya sudah berdiri di drpannya.


"Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!"


"Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!"


"Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!"


"Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!" "Buk!"


Pukulan beruntun yang sama kerasnya kembali di terima Kelang. Setiap satu pukulan yang mendarat di tubuhnya itu, terasa amat menyakitkan.


Sebanyak apapun Kelang memusatkan tenaga dalamnya untuk mengurangi rasa sakit, namun hal tersebut terasa sia-sia.


Mengetahui menghindar bukanlah solusi, Kelang menggerakkan tangannya. Seketika sesuatu menyeruak dari tanah dan langsung mengurung Arya.


"Penjara Hitam!"


Kali ini Kelang berhasil mundur untuk melepaskan diri, dengan mengurung Arya menggunakan teknik pengendalian elemen tanahnya.


Sadar bahwa itu tidak cukup untuk mengehentikan Arya. Kelang mengulangi tindakannya sama.


"Penjara Hitam!"


"Penjara Hitam!"


"Penjara Hitam!"


"Penjara Hitam!"


"Penjara Hitam!"


Berlapis-lapis tanah yang sekeras batu, kini saling bertindihan mengurung Arya. Kelang tidak berpuas diri. Dia tau bahwa pemuda itu tidak akan kalah dengan itu saja.


Ketua Sekte Tanah Hitam itu, mengambil kuda-kuda. Sekali lagi dia memusatkan tenaga dalamnya pada pedangnya.


Berniat saat Jurus yang mengurung Arya itu pecah, dia akan langsung menghantamkan pedangnya secepat mungkin serta sekuat tenaga.


Kelang gemetar saat melihat gundukan tanah itu mulai bergetar. Berharap serangan terakhir ini bisa mengahiri hidup Arya.


Gundukan itu bergetar semakin hebat. Kelang adalah pengendali elemen tanah yang kuat. Mungkin saat ini bisa dikatakan yang terkuat di Daratan Timur.


Dengan getar yang kuat itu, Pendekar sepuh itu bisa mengukur dengan tepat kapan saat seseorang bisa menghancurkan gundukan yamg dia buat.


"Duaaaaa...rrrrr! "


Apa yang dia tunggu tiba. Perhitungan waktunya tepat. Dia bisa melihat celah saat gundukan itu hancur berkeping-keping.


Meski serpihan itu turut melukainya, Kelang tak peduli. Dalam pertarungan hidup dan mati seperti ini, dia sadar menyerang tanpa terluka, itu adalah omong kosong.


"Hiyyyyyyaaaaaa... Matilah kauuuuu... "


Kelang mengerahan seluruh tenaga dalamnya untuk membelah tubuh Arya. Sekuat apapun, jika tidak membunuhnya serangan terakhir kelang setidaknya bisa melumpuhkannya.


Setidaknya itulah yang dia pikirkan saat itu. Namun, semua yang dibayangkan itu hanya sebatas harapan. Karena, dia mendapati bahwa kakinya tidak dapat melangkah. Sesuatu menahannya di sana.


"Matra ... !"


"Omi ... Obi!"


Arya mungkin masih muda. Tapi bukanlah seseorang yang bodoh. Apalagi Natungga, ayahnya mati dengan trik yang sama. Ini menunjukkan bahwa Sekte Tanah Hitam benar-benar memikirkan cara membunuh Ayahnya.


"Kau?! ... "


Kelang tidak lagi bisa berkata-kata. Kekuatan yang sangat kuat, kecepatan, dan sekarang pengendalian elemen air dengan langsung menggunakan air yang ada di dalam tanah. Sesuatu yang tidak Diketahui Kelang sebelumnya.


"Ya. Kudra membunuh Ayahku dengan cara yang sama. Berarti kalian—"


"Air ... "


Tidak memperdulikan kata-kata Arya, Kelang tidak mengerti kenapa anak Natungga seorang pengendali Air dan bukannya Api.


Arya tersenyum miring. Lagi-lagi dia melihat pendekar yang sudah menjadi momok bagi penduduk Daratan Timur, tidak memiliki banyak pengetahuan.


Manusia yang hanya mendahulukan ambisi tanpa mencari tau sesuatu dengan pasti dan melupakan hal-hal penting.


Parahnya, meski tidak tau semua hal tersebut, mereka terus muncul dan membuat orang lain menderita. Keluarga Arya adalah korban dari kebodohan tersebut. Itu kenapa Arya membenci pendekar seperti Kelang ini.


"Kalian tidak mengetahui apa yang kalian kejar dan menyusahkan hidup banyak orang. Bukankah saat mengincar Natungga ayahku, Sekte mu sedang mengincar sesuatu?"


Sekelebat ingatan masa lalu datang secara acak di kepala Kelang. Namun, saat melihat tatapan Arya, dia langsung menarik kesimpulan.


Beberapa tahun yang lalu, memang Sekte Tanah Hitam sedikit di gemparkan dengan kedatangan salah satu murid dati Sekte Singa Emas, Wiratama. Saat itu Wiratama mengatakan bahwa akan membayar berapa saja jika Sekte Tanah Hitam bisa membantunya untuk menculik anak Natungga hidup-hidup.


Sialnya, Wiratama tidak menceritakan dengan jelas apa yang membuat Wiratama mau berbuat demikian.


Sebelumnya, Sekte Tanah Hitam mengira itu hanyalah karena Wiratama merasa iri karena Natungga di daulat menjadi panglima penjaga Basaka.


Sambil menyelam minum air. Dengan sejarah permusuhan yang sudah sangat lama dengan Sekte Singa Emas, Kelang menganggap permintaan Wiratama sebagai hal yang juga di inginkannya. Tentu saja Sekte Tanah Hitam dengan senang hati menerima permintaan tersebut.


Malah saat itu, Kelang mengutus Kudra adiknya sendiri untuk membantu Wiratama. Kelang dan Kudra adalah musuh besar Natungga. Berdua mereka beberapa kali berhadapan dengannya.


Karena hanya bersama Darsapati, saat itu Kudra yakin bisa mendapatkan anak dan membunuh Natungga dalam waktu bersamaan. Namun, sesuatu di luar dugaan terjadi. Sebuah ledakan yang sangat besar, membunuh semua orang di sana.


Barulah beberapa tahun kemudian, sejak Daratan timur memiliki kemajuan yang pesat dan dikunjungi banyak orang serta informasi yang datang juga sangat banyak, akhirnya Kelang mengetahui alasan sebenarnya Wiratama sangat menginginkan anak Natungga.


Seorang anak yang memiliki tubuh dengan kemampuan unik. Tubuh yang bisa menyerap tenaga dalam dengan sangat cepat. Tubuh terkuat, yang biasa di sebut sebagai, tubuh Spasial.


Jika benar begitu, seharusnya seluruh keluarganya sudah mati termasuk dirinya. Tapi, saat ini di depannya benar-benar berdiri anak yang mengaku sebagai anak Natungga, dan memiliki kekuatan yang tak bisa di cernanya.


"Aku tak akan menceritakan apa-apa padamu. Karena pada akhirnya kalian hanya orang bodoh yang tak menyadari bahwa dengan kebodohan kalian itu, kalian telah menyengsarakan hidup banyak orang."


"Ta-tapi—"


Arya memotong. "Lihat, sudah berapa. Manusia yang kau korbankan untuk mencapai kekuatanmu itu? Dan saat ini, apakah kekuatan itu bisa menyelamatkan hidupmu?"


Kelang tidak mampu menjawab. Kata-kata Arya tentu saja benar. Sejak pertama kali dia melihat kekuatan yang bisa di dapat dari pil Zulu, dia langsung mengabaikan resiko kedepannya.


Dalam waktu yang sangat singkat, Kelang menjadi sangat kuat. Bahkan saat ini, dia adalah satu-satunya penduduk asli Daratan timur yang mencapai level pendekar suci tingkat empat. Sekarang, tentu saja lebih.


Dan seperti kata Arya banyak manusia yang harus dia tumbal kan demi mendapatkan kekuatannya itu. Kelang tak perduli asal keinginannya tercapai.


Akan tetapi, saat ini dia menyadari bahwa semua itu tak berguna saat berhadapan dengan pemuda yang ada di depannya ini.


Bersamaan dengan itu, air terus masuk kedalam tubuh Kelang melewati pori-pori nya. Kelang tak menyadari itu sebelumnya. Saat ini, Kelang melihat kakinya telah membesar.


"Kenapa ini ... Kakiku?!"


"Dimulai darimu, lalu Seluruh Sektemu, kemudian aku akan mengincar seluruh pendekar aliran hitam di daratan ini. Kalian semua, akan punah."


Mata Kelang terbelalak. Kemudian dia cepat memberontak berusaha melepaskan diri dari jeratan air tersebut. Sebanyak tenaga dalam yamg di kerahkan, semakin cepat air itu masuk.


Kelang menjadi sangat putus asa, lalu tertunduk diam. Namun, tak berapa lama sebuah senyum terukir di wajahnya. Lalu sebuah seringai sebelum tawa nya pecah.


"Hahahhahahaha!"


"Hahahhahaha..."


Kelang terus tertawa. Dia tau bahwa dia akan mati. Tapi, semua tidak seperti yang Arya pikirkan. Kelang tertawa bukan menyambut kematian tapi ada hal lain yang membuatnya tertawa.


"Biar aku mati hari ini. Mungkin aku tidak bisa menguasai Daratan ini. ... Tapi, serikat Oldenbar adalah kelompok berbahaya. Hahahahhaa.!"


Arya membiarkan Kelang tertawa sepuasnya. Bersamaan dengan itu, air terus memenuhi tubuhnya.


"Kau tidak tau berapa jumlah pendekar aliran hitam saat ini, dan seberapa kuatnya kami.... " Kelang menatap Arya tajam. "Musuh Daratan Timur ini tidak hanya kami dan tidak hanya Oldenbar saja."


Arya tersenyum miring. "Kau pikir, aku tidak mengetahuinya. Dan kau beberapa waktu yang lalu, telah menyebutkan tempat dimana kalian berkumpul."


Kata-kata Arya sama sekali tidak mempengaruhi Kelang. "Kau mungkin kuat, tapi ada kekuatan lain yang tak mungkin bisa kalian hadapi. Dan mereka. Sedang menuju ke Basaka, saat kau membunuhku. Hahahahahaha!"


Arya menarik nafasnya dalam. Keputusannya untuk membuat Kelang mati dengan mudah adalah salah.


"Aku tidak perduli. Bahkan jika dewa yang datang ke tanah ini sekalipun, aku akan menghajarnya. Lagi pula, kau tidak akan melihat hasilnya. Sekarang, nikmati detik-detik terakhir hidupmu."


Sesaat setelah mengatakan itu, Arya langsung berbalik dan berjalan meninggalkan Kelang.


"Daratan Ini akan hancur ... Hahahahhaha"


Kelang terus berteriak saat melihat punggung Arya semakin jauh. Bersamaan dengan itu air sudah benar-benar membuat seluruh tubuhnya mengembung.


"Omi ... Obi!"


"Bussssttt..."


Tembakan air besar yang sangat kuat dari tanah melambungkan tubuh Kelang jauh tinggi ke udara.


"TIRTA AMERTA ... "


"BOOOOOMMM ... "


Tubuh Kelang meledak di udara. Saking besarnya ledakan itu, membuat tubuhnya benar-benar berubah menjadi kabut. Dalam hitungan detik, panas cahaya matahari membuatnya menguap.


"Aku tak akan membiarkan tubuh dari manusia terkutuk sepertimu tetap ada di Daratan ini."


Arya tau, matinya Kelang bukanlah akhir. Tapi itu adalah sebuah awal. Dendamnya atas kematian keluarganya sudah terbayar.


Ke depan, apapun yang akan dia lakukan pada di dunia ini, itu murni karena keputusannya sendiri. Dan saat ini, Arya mengetahui dengan pasti bahwa, Daratan ini sedang membutuhkannya.


"Kalian yang menjadikan kami seperti ini, dan kalian yang akan segera merasakan akibatnya ... "