
"Nilam Sari ... "
Karpatandanu begitu terkejutnya melihat siapa yang menghadang rombongan dia dan Harupanrama.
Pendekar wanita dari Sekte Lubuk Bebuai itu, tidak terlalu terkenal bahkan mungkin tidak ada yang mengenalinya. Akan tetapi, Karpatandanu tau benar siapa pendekar wanita tersebut.
Nilam Sari menoleh pada Harupanrama dan sedikit menunduk seolah meminta izin. Sultan negeri Ambang itupun balas menunduk.
Karpatandanu langsung melompat dari kudanya saat melihat Nilam Sari beranjak menjauh. Sudah berapa lama sebelum akhirnya Nilam Sari mau menunjukkan diri lagi di depannya.
Tidak berapa jauh dari rombongan itu, Nilam Sari berhenti. Saat itu, Karpatandanu langsung menyadari bahwa Nilam Sari sengaja menjauh dan ingin berbicara dengannya.
"Nilam Sari, dimana dirimu selama ini?"
Seperti yang diketahui, Nilam sari tidak memiliki suara dan tak dapat bicara. Jadi, dia menjawab Karpatandanu dengan bahasa isyarat yang bisa dimengerti oleh Sultan negeri Pasir putih itu.
Akan tetapi, pendekar wanita itu tidak menjawab pertanyaan Karpatandanu. Malah, balik bertanya tentang keberadaan Citra Ayu.
Mengerti apa yang dimaksud oleh Nilam Sari, Karpatandanu langsung menjawab.
"Citra Ayu bersama Tuan Rangkupala dan beberapa pendekar yang sangat kuat, saat ini mereka berada di benteng Pasukan Nippokure di dekat Kota Pinang merah."
Lagi-lagi Citra Ayu menggunakan bahasa isyarat. Saat itu, dia menunjuk ke arah dadanya seolah menanyakan sesuatu.
"Segel? ... Segel Apa?"
Jelas Karpatandanu tidak mengetahui apa yang di maksud pendekar wanita itu. Akan tetapi, karena ini menyangkut putrinya, hal itu membuat Karpatandanu sedikit cemas.
Sultan Pasir Outih itu menyimak apa yang sedang coba dikatakan Nilam sari dengan seksama. Karena apa yang sedang di jelaskan pendekar wanita itu, tampak begitu penting.
Dan benar saja, di akhir penjelasan, mata Karpatandanu melebar.
"Benarkah? ... Kenapa kau tidak memberi tahuku sebelumnya?"
Nilam Sari memberi tau bahwa Citra Ayu memiliki segel di tubuhnya pada Karpatandanu. Tentu saja itu membuat Karpatandanu terkejut. Yang lebih mengejutkan lagi, bahwa segel itu akan sangat berbahaya jika terbuka.
Masalahnya adalah, berat dugaan Nilam Sari segel itu kini telah rusak atau menghilang. Karena itu dia meminta Karpatandanu untuk langsung ke tempat di mana Citra Ayu berada, untuk memastikannya.
"Nilam Sari, kenapa bukan dirimu saja yang ke sana? Atau, kita bisa pergi berdua untuk memastikannya."
Saat itu, wajah Nilam Sari seketika berubah. Karpatandanu tau, di balik kain hitam yang menutupi wajah pendekar wanita itu, dia sedang menyesal.
Kepala tertunduk serta menggeleng kecil dan Matanya langsung menjadi sendu.
"Jadi, kau tetap tidak mau memberi tahunya?"
Nilam Sari hanya terdiam saat Karpatandanu menanyakan hal itu. Dia benar-benar tidak bisa menjawabnya.
Melihat Nilam Sari yang terdiam seperti itu, Sultan negeri Pasir Putih itu menarik nafas panjang dan melepasnya.
"Nilam Sari, kau adalah ibunya. Tidakkah kau lihat dia tumbuh menjadi kuat dan sangat cantik seperti dirimu?"
Saat Karpatandanu mengatakan itu, Nilam Sari langsung memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Pendekar wanita itu, jatuh berlutut dan menangis.
Saat itu juga Karpatandanu mencoba mendekat. Namun, Nilam Sari lansung mengangkat tangan agar Sultan Pasir Putih itu, tidak mendekat.
Setelah itu, Nilam sari kembali memberi tanda agar Karpatandanu segera memeriksa keadaan Putri mereka itu.
Karpatandanu hanya menggeleng lemah. Dia tau benar kenapa Nilam Sari tidak ingin Citra Ayu mengetahui siapa dirinya.
Meski berada di sekte yang sama, Karpatandanu ragu bahwa Nilam Sari berani menemui Putri mereka tersebut. Itulah alasannya keberadaan Nilam Sari sangat samar.
Meski memiliki ilmu beladiri yang sangat hebat, Pendekar wanita itu, bergerak dalam bayang. Itu kenapa namanya hampir tidak pernah terdengar di dunia kependekaran Daratan Barat kerajaan Swarna ini.
Hanya ada beberapa orang saja yang mengetahui siapa sebenarnya Nilam Sari. Saat ini, selain dirinya, hanya Lindu Ara dan Sedayu saja yang mengenal pendekar wanita ini.
"Baiklah, aku mengerti. Aku akan pergi memeriksa keadaannya."
Saat itu, Karpatandanu memilih untuk mengalah. Bagaimanapun, dia tau benar bagaimana cintanya Nilam Sari pada putri mereka itu.
Karpatandanu segera berbalik dan hendak pergi meninggalnya. Namu sebelum itu, dia kembali mengingatkan.
"Nilam Sari, tentu kau tau bahwa Putri kita itu memiliki hati yang baik seperti dirimu ... Aku hanya berharap dia mengetahui siapa ibunya. Dia tumbuh dengan pertanyaan itu seumur hidupnya."
Nilam Sari menutup wajahnya dan menangis saat Karpatandanu pergi meninggalkannya.
Tentu saja dia mengetahui bagaimana putrinya. Di Sekte Lubuk Bebuai, Meski secara diam-diam, setiap waktu dia melihat bagaimana putrinya itu tumbuh.
Jutaan kali rasanya dia ingin melanggar prinsipnya dan berlari memeluk satu-satunya belahan jiwanya itu. Namun, demi kebaikan putrinya tersebut, walaupun harus merasa tersiksa, dia terpaksa harus menahannya.
"Karpatandanu, siapa pendekar wanita itu? ... "
Tidak bisa dia pungkiri, dari tatapan pendekar wanita itu saja, ada aura yang sangat mengintimidasi yang menandakan bahwa dia bukan pendekar sembarangan.
"Dia adalah ... Pendekar terkuat dari Sekte Lubuk Bebuai saat ini. Pelindung Negeri Sungai Sembilan. Nilam Sari ... Istriku!"
Mata Harupanrama langsung melebar. Semua orang tau istri Karpatandanu memang berasal dari sekte itu. Akan tetapi, semua orang juga tau bahwa istrinya sudah mati sekitar dua puluh tahun yang lalu.
"Jadi ... Dia ... Ibu ... Citra ... "
Karpantandanu mengangguk menegaskan. "Ya, dia ibu kandung Citra Ayu."
Tidak sempat Harupanrama menunjukkan keterkejutannya, Karpatandanu kembali berbicara.
"Harupanrama, Maafkan aku ... Sepertinya kau saja yang ke bukit batu untuk menemui Tungkeh Aram. Aku harus ke Jampa. Istriku mengatakan bahwa baru saja terjadi sesuatu pada putri kami dan aku ingin memastikannya ... "
Tanpa menunggu persetujuan Harupanrama, Karpatandanu langsung memacu kudanya meninggalkan rombongan mereka.
****
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
Sambil terus melesat kencang, di langit-langit cangkang kerang itu, Arya terus menebas tentakel-tentakel yang bisa menembakkan energi itu.
"Boomm ... "
"Boomm ... "
"Boomm ... "
"Boomm ... "
Dia saat bersamaan, dia juga terus mengelak serangan dari tentakel besar dari bawah. Saat ini, hanya itu yang bisa dipikirkan.
Mereka tidak akan bisa mencapai pusat energi kerang darah batu, jika dia tidak membereskan terlebih dahulu yang ada di atas ini.
"Aaarrrrrtggggghhh ... Manusia ... Aku akan membunuhmu ... "
"Boomm ... "
"Boomm ... "
"Boomm ... "
"Boomm ... "
Kerang Darah batu semaki murka dan mempercepat serangannya. Itu membuat Arya menjadi sedikit kesulitan
Akan tetapi, tiba-tiba saja dia merasa pelukan Ciel pada lehernya merenggang. Namun, cengkeraman kaki gadis itu di pinggangnya, terasa semakin erat.
"Ciel ... Apa yang kau lakukan?"
Saat itu, Arya merasa gadis itu sudah melepas lehernya.
Mendengar Pertanyaan Arya itu, Ciel hanya tersenyum.
"Tidak mungkin saat ini, aku akan diam saja. Habisi tentakel-tentakel ini, biar aku urus yang di bawah."
Saat itu, Ciel sudah memegang busur panah dan menarik tali dan menatap tajam kebawah.
"Zeup ... ! "Zeup ... ! "Zeup ... ! "Zeup ... !
Empat anak panah yang di lepas Ciel, kini melesat sangat cepat langsung menuju inti energi Kerang Darah Batu tersebut.
Mengetahui apa yang kini dilakukan Ciel, Arya pun tersenyum.
"Sesuai yang aku harapkan, kau memang sangat bisa di andalkan ... " Pujinya.