ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Godam


" Bruk! "


" Bruk! ... Bruk! "


" Bruk! Bruk! Bruk! "


" Bruk! Bruk! Bruk! Bruk! Bruk! Bruk! ... "


Prajurit-prajurit yang berdiri paling belakang mulai bertumbangan. Bukan karena serangan Rewanda dan Krama. Tapi, semua tumbang karena tidak ada yang siap dengan kehadiran keduanya.


" Kalian berdua tenanglah. Mereka tidak akan menyakiti kalian " Arya mencoba menenangkan Luna dan Ciel yang kini terlihat sangat ketakutan.


" Laariiiii...! " Seorang prajurit yang memiliki sedikit nyali lebih besar, mulai berteriak.


Dan teriakan itu disusul oleh teriakan-teriakan lainya.


" Lariii...! "


" Cepat! "


" Hei! Jangan menghalangiku! "


" Lari! Cepat! Bodoh! "


" Hei! Gerakkan kakimu. Ayo! Lari!  Cepat! "


Kepanikan langsung melanda semua pasukan itu. sebagian dari mereka langsung berlari ke arah Arya, Ciel, dan Luna.


Beruntung. Teriakan itu juga berhasil membuat Luna dan Ciel mendapatkan kesadaran mereka. Keduanya langsung waspada menghadang saat musuh yang terlihat seolah sedang menyerang mereka.


Luna dan Ciel langsung menerjang beberapa orang yang mendekat. Banyak dari pasukan itu hanya berlari melewati mereka dengan wajah yang sudah memutih.


Pasukan itu terus memacu langkah mencoba menjauh secepat mungkin dari dua makhluk yang ada di belakang mereka itu. tanpa memperdulikan lagi Hattala atau bahkan musuh di depan mereka.


" Luna! Ciel! Jangan serang mereka yang tidak bergerak dari tempatnya! " Arya mengatakan itu pada keduanya sambil berlari ke Arah Barnes.


Sebelum dua prajurit yang datang ke toko Smith tadi pergi, Arya sudah mengingatkan pada mereka. Jika mereka ingin tetap hidup katakan juga pada yang lainnya agar tak bergerak dari tempat mereka berdiri, apapun yang terjadi.


Arya sendiri langsung berlari ke arah barnes, karena nalurinya merasakan bahwa Barnes dan pendekar-pendekar bersamanya yang akan melakukan sedikit perlawanan yang menyulitkan.


Arya memang berniat tidak akan melepaskan satu orangpun yang berencana untuk menyerang Sektenya. Delapan Mata Angin yang sekarang, memang belum siap menghadapi ancaman dari luar.


Tepat seperti dugaan Arya. Barnes cepat bereaksi. Kini, dia dan puluhan pendekar yang bersamanya, sudah menghunuskan pedang mereka berniat menyerang Arya dan kedua gadis yang ada di belakangnya.


Arya langsung menghabisi satu-satu pendekar dari serikat yang mencoba menyerang. Namun saat dia kembali melihat Barnes, ternyata orang itu dan sekitar dua puluh pendekar sudah berada di atap pertokoan.


Dengan menggunakan teknik meringankan tubuh, Mereka berlari melompati atap satu ke atap toko lainnya di kota itu ke arah yang berlawanan.


Barnes dan orang-orang yang bersamanya, sudah melalui banyak pertarungan. Mereka tau betul bahwa saat ini, pertarungan apapun tidak akan menguntungkan bagi mereka.


" Krama! Kejar orang-orang itu! "


Semua tidak berjalan sesuai keinginan Arya. Semula jika Luna dan Ciel tidak keluar, maka Arya dan kedua iblis langit akan lebih leluasa dan akan dengan mudah menghabisi semuanya tanpa memikirkan apapun.


Namun, sekarang melihat Barnes sudah lari ke arah berlawanan, Dia dan Krama harus mengejar Barnes. Di sisi lain, Arya masih harus memikirkan keselamatan Luna dan Ciel, adiknya.


Arya menerjang dan melumpuhkan belasan prajurit yang mencoba menyerangnya, sebelum akhirnya berada di dekat Rewanda yang masih diam, menunggu perintah.


" Rewanda! Pastikan keduanya selamat! Setelah itu, susul kami. Kita tidak boleh membiarkan satupun dari orang-orang serikat itu lepas! "


" Baik, Raja! "


Setelah itu, Arya langsung berlari mengejar Barnes dan anak buahnya.


" Kakak!  Apa yang harus kita lakukan?! " Ciel sedikit histeris saat bertanya.


" Kita harus percaya pada Arya! Makhluk itu sepertinya tidak mengincar kita sama sekali! " jawab Luna. " dan lihatlah! Seperti kata Arya, dia juga tidak menyerang prajurit yang diam di tempat mereka! " tambahnya.


Ciel tersenyum dan mengangguk lega. Dia juga menyadari beberapa prajurit di dekat Rewanda hanya berdiri saja. " Baiklah! " Ciel langsung mengangkat pedang besarnya " Sukurlah Arya bukan musuh kita! " kata Ciel yang kini menjadi lebih percaya diri.


" Ciel! Aku ingin Hattala bodoh itu! "


" Ya! Aku juga tidak menyukainya. Tapi, aku lebih tidak menyukai ular itu! " tunjuk Ciel pada Bajra yang kini menatapnya.


" Jika begitu, Ayo kita lakukan! "


Mereka sudah mengetahui lawan mereka masing-masing. Kedua kakak beradik itu mulai menyerang pajurit-prajurit yang melindungi Hattala dan Bajra.


" Barnes itu! Akh ... Pengecut itu langsung lari hanya karna melihat dua ekor siluman! "


Hattala menggerutu kesal saat mengetahui Barnes sama sekali tidak membantu dan mamilih melarikan diri bersama pendekar-pendekarnya.


Hattala lah yang memerintahkan pasukannya untuk menyerang Rewanda bersamaan. Berpikir itu cukup untuk mengalahkan iblis langit yang dia kira siluman tersebut.


" Kita masih bisa melumpuhkan yang satu itu, karena jumlah kita masih banyak. Yang lari itu hanya pengecut tidak berguna Namun ... " Bajra yang sudah melihat Ciel semakin mendekat kini tersenyum " Gadis ini sepertinya terlalu meremehkanku "


" Ciel! Hati-hatilah. Sepertinya, selama ini dia menyembunyikan tenaga dalamnya! " Luna menyadari Bajra bukan pria tua licik biasa.


" Hahahaha! Ada alasan kenapa aku bisa mengetahui semua rahasia di kota ini dan masih tetap hidup " Bajra menatap Luna " Kau cukup jeli "


" Aku bisa mengatasinya!  Kau habisi saja orang bodoh yang di sana itu " Ciel menunjuk Hattala yang sepertinya tidak mengerti sama sekali situasi yang sedang mereka hadapi. Dan kembali fokus menatap Bajra "  Aku sudah tau bahwa kau seekor ular licik "


Bajra mencabut pedang nya " Majulah gadis kecil. Aku akan menghabisimu dangan cepat " Bajra langsung melepas tenaga dalamnya yang selama ini dia tekan.


Ciel mengangkat pedangnya dan langsung menebaskannya kepada Bajra. Sebaliknya, Bajra juga melakukan hal yang sama.


" Tank! ... "


Benturan pedang antara keduanya pun terjadi. Tenaga dalam Bajra ternyata cukup besar. Setidaknya Bajra sudah berada di level pendekar Ahli tingkat dua.


Akan tetapi, Ciel memiliki kelebihan yang Bajra tidak ketahui. Ciel tidak akan bertindak gegabah jika dia sama sekali tidak tau kekuatan Bajra, lawannya.


Walaupun Bajra mengatakan bahwa dia mengetahui semua rahasia di kota itu, dia tidak tau bahwa Ciel memiliki kekuatan mata yang bisa melihat sesuatu yang orang biasa tidak bisa melihatnya. Dan saat ini, Ciel yakin bisa mengimbangi bahkan mengalahkan Bajra.


" Ciel! " Luna mencoba mengingatkan adiknya.


Bentrokan pertama itu memiliki daya kejut yang mampu mengangkat pasir dan debu di sekitar mereka ke udara. Hingga akhirnya mereka bertukar serangan, keduanya seperti di tutupi oleh badai kecil.


" Kau terlalu meremehkan kami " Hattala tiba-tiba bersuara " Aku akan membalas apa yang kau lakukan padaku hari itu "


Luna menoleh pada Hattala dan sekitar dua puluh prajurit yang memiliki kekuatan pendekar level mahir tingkat akhir dan beberapa di antaranya sepertinya sudah berada di tingkat satu pendekar level ahli.


" Kau hanya pengecut bodoh yang hanya bisa bersembunyi di belakang orang lain. Tanpa Nurmageda, kau hanya seperti sampah! ... Oh tidak ! Maafkan aku! " Luna menutup mulut seolah sudah melakukan kesalahan. " Aku lupa. Kau memang sampah! " lanjutnya.


Hattala tersulut emosi " Aku akan menarik lidah dari mulutmu itu, hingga putus! " Teriak Hattala " Kalian, serang dia! "


Belasan pendekar mahir langsung maju untuk menyerang Luna seperti yang diperintahkan olah Hattala pada mereka.


" Bum! "


Orang yang pertama mendekat, tiba-tiba langsung terpental beberapa meter dan berakhir di dinding sebuah bangunan.


Sisanya langsung menghentikan langkah karena terkejut. Mereka  melihat Godam yang barusaja menghantam tubuh teman mereka itu, kini sudah kembali di berada di bahu Luna. Seolah Godam itu tidak pernah beranjak dari sana.


" Kalian ingin mencobanya? " Luna menatap mereka yang kini tampak ragu.


Kejadian itu membuat Hattala semakin kesal " Kalian Semua! Bantu mereka dan habisi gadis itu! " Hattala memerintahkan kedua pendekar Ahli yang masih berdiri di dekatnya.