
Kedua ketua sekte itu langsung berdiri dan menoleh pada Arya.
"Tuan pendekar!" Jawab mereka serentak.
Namun, keduanya menjadi salah tingkah.saat melihat Arya menatap mereka dengan wajah keheranan. Menyadari kejanggalan itu, keduanya saling bertatapan lalu kembali menoleh pada Arya dengan canggung.
"A-apa yang ... bi-bisa k-kami, bantu?!"
Meski gugup, Lamo memberanikan diri lebih dahulu berbicara, mengingat dirinya pernah berbicara secara baik-baik dengan Arya sebelumnya.
Takut jika Salu yang berkata lebih dahulu, bisa saja itu adalah hal yang terakhir dia dengar. Karena Lamo tau betul bahwa mulut Salu yang berada di sebelahnya saat ini, sedikit tidak terkendali.
"Tuan Lamo, Begini." Arya menatap Lamo dengan sedikit ragu. Namun, Akhirnya dia mulai menjelaskan maksudnya.
"Kalian adalah Sekte yang paling bertanggung jawab atas kejadian ini! Apakah Tuan Lamo sudah menyadari itu?"
Lamo terdiam seketika. kini, tiba-tiba keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Dia tidak mengerti kenapa Arya menuduh bahwa Sektenya-lah yang paling bertanggung jawab. Tentu saja di sini, dia juga merasa menjadi korban.
Jika yang mengatakan itu padanya adalah orang lain, maka Lamo pasti akan langsung berang. Tapi, jika seseorang seperti Arya yang mengatakannya, tentu saja itu lain cerita.
Sebagai pendekar, mati dipertarungan sama sekali tidak menakutkan bagi Lamo. Setidaknya begitulah yang dia percayai selama ini.
Akan tetapi, melihat bagaimana Subu dan yang lainnya mati, Lamo benar-benar meragukan prinsip kependekaraannya saat ini. Setidaknya, jika sekarang dia memang harus mati, maka dia ingin mati dengan tubuh utuh agar bisa dikuburkan.
Pemuda didepannya ini membunuh banyak orang dengan sangat mudah dan hanya menyisakan bagian kepala mereka saja. Kematian yang benar-benar meruntuhkan prinsip kependekaran pria tua itu.
"Tu-tu-tuan Pe-pendekar! Ma-maaf. T-t-ttapi—" kata-kata Lamo, kini semakin terbata-bata.
Beruntung Bai Fan mendengar dan menyadari semua itu. Melihat Lamo dan Salu yang berdiri gemetar di depan Arya, Bai Fan menjadi tidak tega pada keduanya.
"Ketua Lamo. Maksud pendekar muda ini adalah, Sektemu telah disusupi pengkhianat, di sinilah masalahnya dimulai. Itu kenapa Arya masih mengikat mereka di sana!"
Mata keduanya menoleh pada beberapa orang yang menggunakan topeng merah dan putih, ternyata masih berdiri di tempat mereka tanpa bisa bergerak.
"Pendekar muda ingin kau sadar bahwa... "
Mulailah Bai Fan menceritakan bagaimana awalnya Arya mencurigai anggota Sekte Lembah Hantu. Setelah penjelasan Bai Fan berakhir, Lamo dan Salu juga akhirnya faham bahwa, menggunakan topeng sebagai simbol keanggotaan sebuah sekte, ternyata memiliki kelemahan yang sangat fatal.
Orang lain atau bahkan musuh akan dengan mudah masuk dan menyusup untuk memata-matai sekte itu. Buktinya, saat mereka membuka topeng-topeng itu, tidak ada satupun yang mereka kenali di antara orang-orang itu.
Lamo dan Salu kembali teringat bahwa, luka mereka juga di dapat oleh beberapa pendekar dari Sekte Lembah Tengkorak yang menggunakan topeng berwarna merah.
Bai Fan juga menjelaskan kenapa orang itu masih belum bergerak. Itu karena, mereka bekerja bukan untuk Sekte manapun. Pengkhianat yang masih ditahan Arya itu, di bayar langsung oleh Serikat Oldenbar untuk berkhianat pada semua sekte.
Dengan kata lain, di kelima sekte yang terlibat perang saat ini, sudah disusupi oleh pengkhianat.
Malangnya, saat Arya memberi tahu mereka bahwa Markas serikat Oldenbar yang berada beberapa bukit dari sana sudah hancur, mereka tampak gelisah.
Arya yang sudah mengetahui bahwa sebelumnya masih ada mata-mata tersisa diantara orang-orang sekte Lembah Hantu, langsung menyadarinya.
Lamo terperangah menyadari semuanya. Tampak bahwa selama ini dirinya merasa telah terlalu ceroboh hingga tidak memperhitungkan sampai disana.
"Ketua Salu! Sebaiknya apapun yang ada di kepalamu saat ini, kau tunda dahulu!"
Ketua Sekte Telaga Keramat yang sudah berjalan beberapa langkah itu, berbalik. "Tuan Bai! Jika apa yang kau katakan itu benar, berarti sekte ku kini dalam bahaya!" protesnya.
Lamo mengangguk setuju. "Tuan Bai. Apa yang dikatakan oleh Salu benar. " Lamo mencoba membela temannya itu. "Aku rasa sebaiknya, sekarang dia kembali ke sektenya untuk membersihkan para penyusup itu!" Tambahnya.
Bai Fan menggeleng tidak setuju.
"Jadi bagaimana caramu untuk membedakan mana yang penyusup dan mana yang tidak, mengingat sektemu pasti juga memiliki ribuan pendekar di dalamnya, apakah kau bisa?"
Mata dan mulut Salu melebar, dia hendak menjawab tapi tidak ada kata yang tepat yang bisa dia fikirkan untuk menjawab pertanyaan Bai Fan itu.
"Aissh... !" Bai Fan kembali menggelengkan kepalanya, prustasi. Dia benar-benar sulit untuk percaya bahwa ketua sebuah sekte bisa seceroboh ini.
"Itu kenapa aku meminta kau mengurungkan niatmu, setelah semua kekacauan ini selesai, kami akan membantumu. Namun saat ini, dengarkan apa yang akan pendekar muda sampaikan pada kalian!"
Salu menunduk. Dia benar-benar merasa malu saat ini. Beruntung Lamo menepuk bahunya untuk menegarkannya.
Bai Fan menatap Arya yang sudah sejak tadi menatapnya.
"Terimakasih, Kakek Bai!" Ucapnya.
Arya benar-benar merasa terbantu dengan Bai Fan. Bagaimanapun, hingga saat ini, Arya masih kesulitan untuk berkomunikasi dengan baik pada banyak orang. Apalagi, jika itu menyangkut hal-hal yang sedikit rumit. Arya masih kesulitan untuk memilih kata-kata yang tepat.
"Tuan lamo dan Tuan Salu, kita akan membawa semua orang-orang ini ke bukit di mana sebelumnya Markas Serikat Oldenbar berada. Di sana, untuk sementara mereka akan dipenjara!"
Arya kembali tampak berfikir, dari wajahnya tampak keraguan. "Aku rasa kalian harus melepas topeng kalian!" pungkasnya.
Tak seperti yang Arya fikirkan sebelumnya. Di mana, Arya sempat ragu karena menyuruh mereka melepaskan topeng, akan membuat mereka salah faham.
Akan tetapi, hanya sedetik saat setelah Arya mengatakan itu, Lamo langsung memerintahkan semua anggota Sekte Lembah Hantu, untuk melepas topeng-topeng mereka.
Tidak lama setelah itu, pemisahan sudah selesai. Mereka mulai menggiring semua tawanan perang itu menuju tempat yang ditunjuk Arya.
Di belakang mereka, di tempat yang mereka gunakan untuk bertempur tadi, sudah menyala api yang sangat besar. Di sana, dibakar seluruh jasad yang menjadi korban perang tersebut. termasuk tiga kepala ketua sekte pengkhianat. Subu, Gayatri, dan Tungka.
Butuh waktu sekitar tiga jam bagi mereka untuk sampai pada bukit yang menjadi Markas Oldenbar. sampai di sana hari telah senja.
Ciel dan Bai Hua, membawa beberapa orang untuk menjemput kembali tawanan yang tadi mereka tinggalkan di sebuah lembah sebelum menyusul Arya. Malam ini, setidaknya mereka harus memiliki tempat yang layak untuk istirahat.
Sekarang, mereka ditempatkan di bangunan yang cukup luas yang sebelumnya merupakan Markas dari orang-orang yang mejadikan mereka sebagai tawanan.
Lamo langsung mengerti kenapa Arya meminta untuk melepaskan topeng mereka. Tadinya, Lamo berfikir bahwa Arya sangat membenci topeng itu, maka dia bergegas menyuruh semua orang melepasnya.
Namun, saat tiba di sana, Lamo menyadari bahwa topeng-topeng Sekte Lembah Hantu yang mereka gunakan, juga di pakai oleh semua pengkhianat saat memenjarakan semua orang yang tak bersalah itu.
"Hancurkan semua topeng-topeng kita bersama dengan semua mayat-mayat itu!" perintah Lamo pada seluruh anggotanya.
Topeng itu akan menjadi momok bagi orang-orang yang menjadi korban kekejaman Serikat Oldenbar dan para pengkhianat.
"Mulai hari ini, tidak ada lagi Topeng Lembah Hantu." putus Lamo.