ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Memasuki Reruntuhan


Waktu berlalu. Hari ini, mereka sepakat untuk meneruskan apa yang telah direncanakan. Kelimanya akan memasuki reruntuhan untuk melihat hal yang bisa mereka temukan disana.


Saat ini, ribuan orang sudah berdiri di depan sebuah goa yang besar di kaki bukit yang ditutupi dengan pepohonan yang berumur ribuan tahun.


Itu bukan bukit biasa, gundukan yang tidak terlalu tinggi itu ternyata adalah bekas bangunan yang sangat besar yang telah ditinggalkan dengan waktu yang sudah sangat lama. Hingga, tidak bisa di ketahui lagi bentuk asli dari bangunan tersebut karena seluruhnya telah di selimuti oleh hutan.


Akan tetapi, sepertinya goa besar itu bukanlah satu-satunya jalan masuk ke dalam sana. Ada dua puluh goa-goa kecil di sana. Lima goa berada di kiri kanan goa terbesar sedangkan sepuluh lainnya ada di atas. Jelas, goa-goa itu sebelumnya adalah pintu-pintu yang menuju tempat tertentu saat ketika bangunan ini masih utuh.


Seperti informasi yang telah disampaikan Bai Hua dan Ciel sebelumnya, ada tiga kelompok besar yang terlihat mendominasi semua peserta.


Meskipun tidak terlihat akan saling menyerang, tapi aura di sana terasa sedikit mencekam. Itu semua karena masing-masing pendekar membawa perlengkapan yang seolah siap untuk bertempur kapan saja.


Tidak hanya kelompok Arya saja. Ada beberapa kelompok kecil yang sepertinya enggan bergabung dengan tiga kelompok tersebut dan memutuskan masuk dengan anggota mereka saja. Tapi, jumlah mereka tidak bisa dikatakan sedikit.


Kelompok terkecil setidaknya memiliki seratus anggota dengan pendekar-pendekar raja sebagai pemimpin. Namun ada satu kelompok yang menarik perhatian Ciel dan yang lainnya.


Kelompok tersebut hanya memiliki sekitar seratus orang saja. Tapi, jika di perhatikan, setidaknya ada lebih dari lima puluh pendekar raja dengan dua pendekar suci yang tergabung di dalamnya. Kelompok tersebut, tampak tidak terintimidasi oleh yang lainnya.


Bai Fan memperhatikan Arya yang sejak tadi melirik pada kelompok yang dipimpin oleh dua pendekar suci itu, datang menghampiri. "Arya. Aku rasa kelompok itu, juga tidak bisa diremehkan!"


"Sepertinya begitu. Aku merasakan bahwa mereka cukup berbahaya."


Jarang sekali Arya menyematkan kata bahaya pada seseorang atau kelompok tertentu. Meski mereka bisa mengukur tingkat kekuatan seseorang melalui tenaga dalam, tapi penilaian Arya itu membuat empat yang lainnya menjadi lebih waspada.


Saat matahari menjulang sedikit lebih tinggi. Seseorang yang berdiri paling depan diantara beberapa orang lainnya, di depan mulut goa mulai bicara.


"Seperti yang kita ketahui sebelumnya, bahwa hari ini reruntuhan dibelakangku ini akan segera dibuka. Kita belum mengetahui apapun yang ada di dalam sana, tapi apapun yang nanti di temukan, pihak kerajaan akan memberikan hak sebanyak dua puluh persen bagi kelompok manapun yang pertama kali menemukannya!"


Orang yang diduga dari pihak kerajaan itu menjeda kata-katanya. Lalu menatap kelompok-kelompok yangbada di depannya.


Tapi, ada sesuatu yang menarik perhatian Arya. Saay orang itu berbicara, dia menggunakan semacam tongkat dengan batu energi di atasnya. sehingga suaranya terdengar jelas dan keras.


"Itu adalah pembesar suara. Salah satu benda sihir yang di buat oleh orang-orang di Benua Barat!" Ciel yang menyadari apa yang membuat Arya sedikit melebarkan matanya langsung menjelaskan padanya.


Arya mengangguk mengerti. Memang dia merasakan benda itulah yang membuat suara yang berbicara menggunakannya, menjadi jelas dan kuat.


'Ternyata batu energi memiliki banyak fungsi' batin Arya sambil tersenyum.


"Peraturannya hanya itu saja. Kalian bebas melakukan usaha apapun untuk menemukan sesuatu yang berharga di dalamnya. Hanya saja, Demi kebaikan bersama, kami dari pihak kerajaan meminta pada kalian semua untuk tidak saling menyerang sesama petualang!"


Kata-kata itu mendapat cibiran hampir dari setiap kelompok. Mereka semua tidak percaya dengan omong kosong yang dikatakan pembicara tersebut. Karena, mereka lah yang awalnya membuat kelompok besar dan memulai persaiangan terbuka yang menyebabkan perselisihan antara petualang.


"Baiklah! Jika semua sudah mengerti, maka reruntuhan ini, sekarang, terbuka untuk semuanya!"


Tanpa menunggu lebih lama, semua orang sudah mulai bergerak untuk memasuki reruntuhan. Kelompok-kelompok besar tampak membagi beberapa anggota untuk memasuki goa yang lebih kecil. Sementara sisanya masuk melewati goa yang terbesar.


"Sebaiknya kita masuk melewati goa yang berada tepat di atas goa utama!"


Mereka sengaja membiarkan semua kelompok-kelompok itu masuk terlebih dahulu, hingga akhirnya mereka semua mulai melangkah.


"Bukankah semua pintu menuju lantai pertama?"


"Ya! Kenapa kita harus berpencar?"


"Turuti saja kata pimpinan. Kita disini tidak hanya mencari, tapi juga mengawasi!"


Terdengar suara beberapa petualang yang sedang berbicara sesama mereka di depan kelimanya.


Benar bahwa semua pintu itu mengarah pada lantai pertama. Namun, ada sesuatu yang membuat pintu yang dipilih oleh Ciel tersebut sedikit berbeda dari yang lainnya.


Pintu-pintu tersebut mengantarkan mereka kedalam lorong yang panjangnya sekitar seratus meter. Dinding lorong tersebut terbuat dari susunan batu alam hitam yang sangat keras.


Ciel dengan matanya, bisa membedakan jenis batunyang digunakan untuk membuat lorong itu berbeda dari yang lainnya.


Kini, mereka sudah sampai di ujung lorong. Di sana, mereka sekarang berada di aula yang sangat besar. Cahaya dari luar masih bisa menembus hingga ke lantai pertama ini.


Di bawah, lantai Aula besar itu sudah dipenuhi para petualang. Di kanan kiri lantai tersebut, terdapa dua pintu besar lainnya yang memiliki tangga menuju kebawah.


Dari atas, mereka berlima bisa melihat keseluruh ruangan yangbsangat besar tersebut. Jika tidak teliti, masuk melalui pintu atas akan terasa sia-sia dikarenakan tidak ada pintu lain yang bisa di temukan di sana.


Beberapa kelompok yang lebih dahulu sampai, langsung melompat kelantai bawah untuk menyusul yang lainnya.


Akan tetapi, Ciel menghentikan langkah mereka.


"Aku bisa merasakan bahwa dua pintu besar itu memang mengantarkan kita kelantai berikutnya. Tapi, tidak mungkin lorong yang di buat dengan batu yang berbeda ini tidak memiliki maksud tertentu."


Mereka memikirkan hal yang sama. Namun, karena tidak ada petunjuk sedikitpun tentang bentuk bangunan itu, mereka tudak langsung bisa mengerti kenapa ada pintu di bagian atas jika pintu-pintu tersebut tidak menuju kemanapun.


"Aku yakin ini semacam cara untuk membuat siapapun yang masuk kesini berfikir hanya dua pintu itu saja yang bisa mengantarkan mereka ke lantai berikutnya!" Ucap Bai Fan.


Mereka terus memperhatikan kelompok yang telah terbagi menjadi dua, dan turung melewati dua tangga yang mengarah kebawah itu.


"Aku rasa, aku bisa mencari tau!" Ucap Luna.


Sebelum Luna sempat melakukan apapun, satu kelompok lain yang juga melewati pintu bagian atas lainnya, menghampiri mereka.


"Hentikan langkah kalian, sampai disitu!"


Aura pembunuh yang sangat kental, seketika memenuhi Area tersebut. Saat mereka menoleh, seketika mata semuanya melebar. Mereka yakin, kelompok itu adalah bagian dari kelompok yang dianggap berbahaya oleh Arya sebelumnya.


Sekarang, Di sana, dua pendekar Suci pemimpin kelompok itu, sedang menatap tajam pada mereka.