ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Rahasia


"Arya, apakah kau sengaja memancing orang terkuat di kota ini menunjukkan dirinya?"


"Ya. Aku bertujuan seperti itu. Dari pengawasan Krama, ada banyak pendekar yang sedang mendekat ke kota ini."


Saat selesai acara lelang, Arya dan yang lainnya kembali ke penginapan bersama Jemba. Namun, selama di perjalanan tidak ada pembicaraan apapun di antara mereka.


Saat ini, mereka sedang berada di kamar Arya. Luna langsung membahas apa yang membuat Arya berbuat begitu jauh dan menarik perhatian banyak orang.


Karena mereka sudah tau sikap Arya yang biasanya. Menonjolkan diri bukan salah satunya. Siang ini, jelas Arya berniat mencari masalah dengan semua pendekar di kota ini.


Ketiga gadis lainnya ingin tau apa yang Arya rencanakan. Dan saat ini, sepertinya mereka harus bersiap. Seperti yang Arya katakan. Mungkin saja dalam waktu dekat akan ada pertarungan besar.


"Baiklah, jika begitu. Kami akan bersiap."


Seperti yang Arya katakan sebelumnya, mereka tidak akan menghindar dari masalah. Tapi, ini baru beberapa hari setelah mereka menginjakkan kaki di Daratan ini. Tidak ada satupun dari ketiga gadis itu yang menyangka masalah besar akan begitu cepat datang menghampiri mereka.


"Citra Ayu. Sebaiknya katakan pada kami, siapa orang-orang yang mengejarmu?"


Ciel memang punya intuisi kuat. Dia tidak yakin Citra Ayu sudah menceritakan semuanya. Baginya, apa yang di ceritakan oleh Citra Ayu terlalu sederhana. Sedangkan benda yang mereka curi bukan benda biasa.


"Barus. Prajurit dan pendekar-pendekar dari kota Barus."


Melihat bagaimana pergerakan Arya dan yang lainnya, Citra Ayu tidak berani lagi menutup-nutupinya. Setidaknya, saat ini jika tetap bersama keempatnya, Citra Ayu yakin, bahkan Rentangjala tidak akan mengganggu mereka.


Kemunculan pendekar legenda Daratan ini, benar-benar mengubah suasana kota. Arya dan yang lainnya langsung berubah dari target menjadi kelompok yang paling di hindari oleh semua pendekar di kota ini.


Melihat bagaimana Kebojalang memperlakukannya, jelas Kebojalang mengetahui apa yang tidak diketahui oleh seluruh pendekar di kota itu.


Memaksa seorang legenda yang sudah puluhan tahun menarik diri dari dunia kependekaran, membuat semua orang dan Rentangjala sekalipun memiliki tanda tanya besar di kepala.


Citra Ayu juga sudah melihat sesekali Rentangjala melirik padanya. Jika Arya tidak mendapatkan perlakuan hormat dari Jemba, sudah dipastikan patih negeri Ambang itu segera menangkapnya.


Sekarang, Citra Ayu benar-benar harus memasrahkan semuanya pada Arya. Karena kata Bai Hua, mereka hanya akan bertindak, jika Arya menyetujuinya.


"Baiklah, aku rasa ceritamu sekarang lebih masuk akal." Ucap Ciel.


Citra Ayu di buat sedikit terperangah. Berfikir bahwa dia akan dicerca banyak pertanyaan, sekarang ke empatnya sibuk memikirkan rencana.


Sedangkan dia seperti patung yang tidak mengetahui apapun. Padahal, jika di fikirkan kembali, dialah yang membawa orang-orang di depannya, ke kota palas yang di sebut sebagai kota pendekar ini.


"Senior, kita bisa menganggap bahwa yang ada di luar sana prajurit dan pendekar utusan Barus. Itu menandakan bahwa sebagian atau beberapa dari mereka ada di dalam kota. Bukankah begitu?"


Tidak langsung menjawab pertanyaan Bai Hua,  Arya menatap Ciel. "Bukankah kau sudah menyadarinya?"


Ciel langsung mengangguk. "Ya, ada beberapa orang yang sepertinya juga menyembunyikan kekuatan mereka. Saat Jemba mengeluarkan Aura, hanya ada dua kelompok yang tidak terlihat tertekan. Yang pertama, Rentangjala dan yang satunya kelompok itu."


"Baiklah, aku rasa kita sudah tau garis besarnya." Saat itu Arya berdiri dan mendekat pada Citra Ayu." Nona, sebaiknya kau mengubah cara berpakaiannmu."


Citra Ayu langsung mengangguk. Entah kenapa beberapa saat terakhir ini, dia merasa bahwa kata-kata Arya adalah perintah. Saat Arya berbalik, dia bergumam. "Ilmu penunduk."


Tengah malam, saat semua orang telah kembali ke kamar masing-masing, Rentangjala keluar dari kamarnya. Saat itu, dirinya sudah ditunggu oleh Jemba di salah satu ruangan di penginapan tersebut.


"Pendekar bergelar di Kebojalang. Tak punya janji tak punya hutang. Siang menjelang petang, pendekar hebat kembali pulang."


Begitulah kata-kata saat dia masuk keruangan Jemba, yang mewakili pertanyaan Rentangjala yang merasa heran, kenapa pendekar itu menunjukkan kekuatannya setelah sekian lama.


Sementara itu, Jemba menanggapinya dengan gelengan kepala.


"Kau dan sultan-sultan dari negeri ini, yang mengetahui siapa aku sebenarnya. Jadi, simpan basa-basimu, dan berbicaralah layaknya dengan siapa sebenarnya kau berbicara."


Rentangjala langsung berlutut. "Jemba bukan nama, Kebojalang juga bukan. Pendekar bernama Rangkupala, putra ketiga Maharaja."


Rentangjala langsung berlutut. Jemba yang memiliki nama asli Rangkupala, adalah putra ketiga dari Maharaja Kerajaan Swarna sebelumnya. Adik dari Darmuraji dan juga Maharaja kerajaan Swarna saat ini.


Rangkupala memiliki jalan hidupnya sendiri, tidak pernah mau terlibat dengan urusan istana dan meninggalkan gelarnya di saat masih muda.


Dia memilih untuk memperdalam ilmunya dan berjalan di dunia kependekaran dengan nama baru.


Hanya pendekar-pendekar yang segenerasi dengannya saja yang mengetahui siapa dirinya sebenarnya.


Sedangkan yang lainnya hanya mengenal  Pangeran ketiga Kerajaan Swarna itu, dengan nama Jemba yang bergelar si Kebojalang. Karena sepak terjangnya yang melegenda.


"Rentangjala, berdirilah dan jelaskan padaku situasi Daratan Barat dan Kerajaan Swarna saat ini."


Rangkupala memang benar-benar menarik diri dari dunia kependekaran, sejak kakaknya menjadi Maharaja. Dia menutup diri dan cenderung tidak perduli pada kerajaan Swarna.


Hari ini, Rangkupala seolah benar-benar kembali. Tidak hanya ke dunia kependekaran tapi juga kerajaan Swarna.


"Malka, sudah tidak aman. Ada banyak organisasi dan serikat asing yang ikut campur urusan kerajaan. Maharaja tidak berbuat apapun dan kami di pesisir Timur bisa bertahan karena keberadaan Tuanku Rangkupala."


Hanya dua negeri ini yang lepas dari ikut campurnya Raja Istana Malka. itu jelas karena keberadaan Rangkupala. Namun, lima negeri lainnya memiliki nasib berbeda.


"Ya. Aku mengerti. Tapi, itu sudah terjadi cukup lama. Aku ingin tau tentang perubahan yang baru-baru ini terjadi."


Rentajala mengangguk. "Pusaka Inti Tanah hilang. Banyak yang berfikir bahwa Sekte Lubuk bebuai yang mencurinya, aku rasa itu benar. Apalagi, saat ini Putri Sultan Karpatandanu yang menuntut ilmu di sana juga menghilang."


Rangkupala mengangguk. "Jadi, kau mencurigai dia ada di sini?"


"Tidak. Dia memang ada di sini."


Rangkupala mengernyit. "Lalu, kenapa kau belum bertindak?"


Sekarang wajah Rentangjala yang terlihat heran. "Tuanku, bukankah Tuan sedang melindunginya?"


Saat di acara lelang, Rentangjala sudah bisa memastikan salah satu gadis yang bersama Arya adalah Citra Ayu. Melihat bagaimana sikap Rangkupala, dia menyimpulkan pendekar itu sedang berusaha melindunginya.


Akan tetapi, Rangkupala yang sebelumnya bahkan tidak peduli dengan kerajaan Swarna, menunjukkan diri hanya karena keberadaan putri salah satu Sultan, itu sedikit berlebihan.


Rentangjala, lebih percaya jika itu semua karena pemuda itu. Menurutnya, Rangkupla pasti mengenal latar belakang pemuda tersebut, hingga membuatnya berbuat sejauh itu.


"Siapa yang aku lindungi? Sebentar!  ... Apakah, dia di antara keempat gadis itu?"


Rangkupala seolah langsung menyadarinya.


"Ya. Dia diantara mereka."


"Baiklah. Aku mengerti. Lalu, siapa pemuda itu?"


Rentangjala kembali melebarkan matanya, dia tidak menduga bahwa sebenarnya Rangkupala juga tidak mengenalnya.


"Jadi, Tuanku juga tidak mengenalnya?"


Rangkupala menggeleng. "Tidak, aku sama sekali tidak mengenalnya. tapi yang aku tau, mereka semua sangat berbahaya."


Saat Rentangjala ingin menanggapinya, tiba-tiba seseorang menyela mereka.


"Kenapa kalian menganggap kami, berbahaya?"