
"Pria tua ini salah mengerti maksud dari kata-kata kita!" Gumam Ciel.
Ketiganya mengangguk setuju saat melihat dan mendengar apa yang baru saja dilakukan Darsapati.
Tidak hanya Darsapati saja, kaungsaji dan semua anggota Sekte Singa emas benar-benar menantang semua yang ada di sana.
Tidak ada rasa ketakutan sama sekali dimata mereka saat menatap seluruh pendekar yang ada di aula tersebut.
"Jika sudah begini, mau bagaimana lagi, Sebaiknya kita ikut bergabung!"
Saat Luna ingin melangkah, Bai Fan menghentikannya. "Luna, Tunggu. Lihat mereka!"
Tantangan Darsapati pada semua orang ternyata memberi efek yang sangat besar. Keterkejutan mereka atas sikap yang ditunjukkan Darsapati itu, membuat mereka bertanya-tanya, Sekuat apa sebenarnya pemimpin Sekte Singa Emas tersebut.
"Darsapati! Apa sebenarnya yang kau rencanakan?!"
"Gurat! Bukankah kau ingin sekali menghancurkan sekteku. Sekarang, aku memberimu kesempatan. Majulah!"
Darsapati benar-benar telah bertekat untuk bertempur habis-habisan. Saat tatapannya yang tajam itu menoleh pada Gurat, seketika jantung Gurat berdegup lebih kuat.
"Kau, benar-benar, Gila!"
Gurat tau, itu bukan sekedar tantangan biasa. Mata Darsapati telah menjelaskan semuanya. Pendekar suci tingkat dua itu benar-benar akan mengeluarkan seluruh kemampuannya jika dia memilih bertempur saat ini.
"Monka. Waspadalah! Darsapati bukan pendekar sembarangan. Bagaimanapun, hingga saat ini, dia belum pernah kalah barang sekalipun!"
Gurat mengingatkan rekannya sesama dari serikat petualang.
Monka bukanlah pendekar yang berasal dari Daratan timur. Sebelumnya, dia tidak mengetahui bahwa di Daratan ini ada pendekar suci tingkat dua.
Lagipula, Kehadirannya di sini hanya karena menjalankan sebuah misi dari serikat petualang dan kerajaan yang membayarnya.
"Aku mengerti, Sesepuh itu layak di katakan seorang pendekar. Dengan keadaan seperti ini, jelas kata-katanya itu bukan gertakan belaka. Sebaiknya, kita tidak menunggu dan jangan sampai terpancing!"
Tidak mungkin Darsapati seceroboh itu untuk menantang lebih dari tiga ribu pendekar dimana ada belasan pendekar suci dan hampir seratus pendekar raja tanpa perhitungan sama sekali.
Ditambah lagi, Pendekar suci tingkat dua bukanlah level yang mudah untuk di capai. Meski, sudah menapaki level pendekar suci tingkat satu, melawan Darsapati bukan perkara jumlah. Butuh pengalaman dan tentu saja, nyali. Monka sangat mengerti hal tersebut.
"Huh! Ternyata kalian, cukup pintar!"
Melihat Gurat tidak menjawabnya, Darsapati mencibir. Pemimpin Sekte Singa Emas itu berbalik dan menoleh pada tiga pendekar suci yang berasal dari kelompok lainnya.
"Tidak seperti Gurat dan rekannya itu, aku lihat kalian ingin menyerangku. Kenapa masih menunggu? Kalian bertiga bisa langsung maju atau, majulah bersama pendekar-pendekar tak berguna yang mengekori kalian itu!"
"Aish! Ada apa dengan kakek itu? Kenapa dia menatang semua pendekar suci yang ada di Aula ini?!"
Bai Fan berbalik dan menatap Ciel yang sedang mengerutu. "Nona, bukankah kau bisa melihat lebih baik dari kami semua? Kanapa tidak kau perhatikan mereka semua sekali lagi?"
Benar saja, saat Ciel mengedarkan pandangannya sekali lagi, wajah-wajah pendekar itu sudah berubah. Mereka tidak lagi menunjukkan gelagat akan menyerang, malah, mereka sekarang terlihat wasapada.
"Huh! Darsapati! Kau terlalu memandang tinggi dirimu!"
Salah satu pendekar suci dari kelomook kedua, tersulut emosi. Meski Darsapati adalah pendekar suci tingkat dua, menantang tiga pendekar suci terdengar seperti omong kosong baginya.
Apalagi, saat ini dia sudah berada dipuncak pendekar suci tingkat satu. Hanya selangkah lagi baginya untuk menyamai kekuatan Darsapati. Atau, bisa saja sekarang sudah. Karena pertarungan tidak hanya di tentukan oleh kekuatan, sebuah jurus yang hebat, juga akan memberi perbedaan besar.
"Oh, kau mengenalku rupanya. Kau boleh mencobanya!" Darsapati semakin meremehkan pendekar suci tersebut.
"Cih! Sombong! Aku, Dantagu. Pemimpin Sekte Danau Lima Lubuk. Pantang bagiku untuk mundur setelah di tantang seperti ini!"
"Kau terlalu banyak bicara, maju dan buktikanlah!"
Dantagu tidak menunggu lagi. Kemarahannya benar-benar sudah berada dipuncak. Dia langsung mengambil kuda-kuda dan bersiap menyerang. " Darsapati! Bersiaplah menjemput ajalmu!"
"Jurus Patukan Bangau!"
"Boom!"
Mulut semua orang di sana langsung terngaga. Belum sempat Dantagu menginjakkan kakinya di tanah, Darsapati sudah lebih dulu menyerangnya dengan sangat cepat.
"Berani-beraninya seekor bangau menunjukkan muka dan berteriak didepan singa seperti, ku!"
Darsapati menatap sinis Dantagu yang sudah terpental mundur kembali ketempat tadi dimana dia berdiri sebelumnya. Bedanya, sekarang darah mengalir dari tepi mulutnya dan di dadanya terlihat bekas pukulan Darsapati.
Bagi pendekar yang ada di sana, serangan Darsapati terlihat begitu cepat dan kuat. Hanya beberapa orang saja yang benar-benar melihat bagaimana pendekar suci tingkat dua tersebut sudah tiba-tiba berada di depan Dantagu sesaat sebelum dia memukulnya.
"Itukah jurus yang terkenal dari sekte Singa Emas?"
"Bahkan, dia belum menggunakan apinya!"
"Perbedaan kekuatan pada tingkat pendekar suci sangat mengerikan!"
Beberapa pendekar lansung bergumam. Kini, mereka tau kenapa Darsapati berani menantang semua orang. Berita tentang betapa mengerikannya Pemimpin Sekte Singa Emas itu, ternyata bukan hanya kabar angin belaka.
Masih tidak terima dengan pukulan telak yang diterimanya dari Darsapati, Dantagu kembali berniat menyerang. Namun kali ini, sepertinya dia tidak lagi ingin gegabah.
Dua pendekar suci di sebelahnya juga sudah mengambil kuda-kuda. Ya! Mereka sudah mengerti Darsapati tidak akan bisa dikalahkan oleh Dantagu saja.
"Ya, Seperti itu. Akhirnya kalian tau, bagaimana cara menghadapiku!" Darsapati kembali menyulut emosi mereka.
"Serang!"
Setelah Dantagu mengatakan itu, dua pendekar di sebelahnya langsung bergerak cepat. Seketika mereka sudah mengepung Darsapati.
Tidak banyak bicara, mereka langsung menyerang pemimpin Sekte Singa Emas itu. Hanya dalam beberapa detik saja, mereka langsung bertukar serangan. Kali ini, barulah pertarungan antar pendekar suci itu, terlihat seimbang.
Sesaat sebelumnya, Saat semua pendekar disana menyadari bahwa dua pendekar suci akan ikut menyerang Darsapati. Beberapa pendekar di sana, mengalihkan perhatian mereka pada Kaungsaji. Mengira bahwa orang nomor dua Sekte Singa Emas itu akan turun membantu.
Namun, saat Dantagu dan kedua pendekar suci itu benar-benar menyerang Darsapati, Kaungsaji tampak tidak memperhatikan pertarungan satu melawan tiga tersebut.
Bahkan, Kaungsaji terlihat tidak perduli. Matanya, malah tertuju pada kelompok pertama yang di pimpin oleh Monka dan Gurat.
Dia mencurigai bahwa kelompok tersebut memiliki kekuatan yang melebihi kelompok lainnya itu, tidak mungkin hanya akan diam saja.
Kaungsaji berjaga-jaga jika kedua pendekar tersebut berniat untuk turun tangan, maka dia akan segera menghadang.
"Kakek Bai, sebaiknya kita tidak meremehkan kelompok ketiga!"
Ciel merasakan bahwa kelompok ketiga yang hanya di isi oleh pendekar- pendekar Ahli dan pendekar Raja itu, memiliki niat tersembunyi. Dari cara mereka saling menatap, orang-orang tersebut seperti sedang menunggu kesempatan.
Bai Fan mengangguk setuju. "Ya! Aku rasa mereka memiliki trik di sebalik lengan bajunya!"
"Ciel, bisakah kau melihat apa yang ada didalam tas yang di bawa oleh orang-orang di belakang mereka?"
Bai Hua sejak tadi merasa heran dengan barang-barang yang dibawa sebagian besar kelompok itu. Namun, dia mengabaikannya. Melihat situasi sudah seperti ini, tidak salah untuk mencurigai segala sesuatunya.
"Sial!"
Ciel langsung mengumpat saat menyadari benda apa yang dibawa oleh kelompok ketiga.
Ketiganya langsung menoleh pada Ciel.
"Ada apa?!" tanya mereka serempak.
"Mereka, membawa senjata sihir!