ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Daratan Tujuh Negeri


Daratan Barat. Salah satu dari tiga pecahan besar benua SwarnaDwipa. Memiliki ukuran paling kecil, namun sangat panjang.


Berbeda dengan Daratan Timur, Daratn ini sudah cukup maju. Kemajuan serta pemerataan pembangunan di daratan ini di sebabkan persaingan antara negeri satu dengan negeri lainnya.


Memiliki kebijakan yang berbeda, Daratan Barat di bagi menjadi tujuh bagian yang di pimpin oleh tujuh Sultan. Karena itu, Daratan Barat ini, juga di kenal dengan sebutan Daratan Tujuh Negeri.


Kota Malka sendiri, yang merupakan pusat pemerintahan yang di pimpin oleh seorang Raja, tidak terhitung sebuah negeri. Namun begitu, tujuh Negeri tunduk dan patuh pada hukum yang berlaku di sana.


Mulai dari paling timur, di sana ada dua negeri yang bertetangga. Negeri Bengkal dan negeri Pasir Putih.


Di negeri Bengkal, Sultan yang memimpin Negeri itu bernama Sultan Harupanrama. Salah seorang pendekar yang sakti mandraguna.


Kediamanannya berada di kota sekaligus sekte yang di pimpinnya. Kota Teras Punak. Sebuah kota sekte yang terkenal sangat keras dan kejam.


Namun begitu, tidak ada masalah yang tidak bisa di selesaikan di sini. Karena Negeri ini memiliki sebuah hukum yang terdengar sedikit pelik. Yaitu, Bayar denda atau mati.


Hatupanrama memiliki dua orang putra dan keduanya merupakan pendekar yang hanya kalah sedikit saktinya dari sang ayah. Mereka Adalah Surma dan Durma.


Kembar siam yang tidak pernah akur semenjak menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di dunia kependekaran di negeri itu.


Hal tersebut, membuat kepala Hatupanrama serasa ingin pecah setiap harinya karena perseteruan yang terus menerus terjadi pada dua anaknya itu.


Bagaimana tidak. Keduanya secara tidak langsung telah membuat Negeri Bengkal terpecah menjadi dua kubu. Yang satu memihak Surman dan yang lainnya memihak Durma.


Pertarungan antara pengikut mereka sudah tidak bisa di hitung lagi banyaknya.


Tidak hanya karena hal besar saja namun hal kecil sudah cukup untuk menjadi alasan antara dua kubu itu untuk memulai sebuah pertarungan yang kemudian membesar hingga ke pertempuran kecil.


Tapi sebulan terakhir, negeri bengkal mendapat sedikit tekanan dari negeri Pasir Putih, tetangganya.


Itu bermula dari hilangnya putri bungsu Sultan Karpatandanu yang memerintah di sana. Sultan itu mencurigai salah satu putra Hatupanrama lah yang menculiknya.


Itu bukan tidak mungkin, karena salah satu sebab tidak akan mungkinnya kedua putra Sultan negeri Bengkal itu untuk berdamai, adalah karena putri itu.


Keduanya memiliki ketertarikan yang sama pada gadis yang di gadang-gadang merupakan wanita tercantik di seluruh Daratan Tersebut.


Jadi, Karpatandanu meminta pertanggung jawaban Hatupanrama atas hal tersebut. Karpatandanu mengancam akan menyerang Negeri Bengkal, jika dia tidak bisa membuktikan bahwa hilangnya putri bungsunya itu bukan ulah Durma ataupun Surma, putra-putranya.


Menanggapi ancaman itu, Hatupanrama sama sekali tidak takut. Tapi, sebagai seorang sultan, tentu saja akan sangat memalukan baginya bahwa jika salah satu putranya memang melakukan hal tersebut.


Sultan Bengkal itu, mengutus banyak orang untuk menyelidikinya. Namun, satu bulan berlalu, tidak ada hasil apapun yang dia dapat. Semuanya menuju pada kebuntuan yang sia-sia.


Dengan lebih banyak orang, Hatupanrama juga memerintahkan mereka untuk mencari langsung keberadaan Citra Ayu di negeri mereka. Hasilnya, sama saja. Citra Ayu benar-benar tidak bisa ditemukan.


"Patih ... Kau adalah guru kedua putra. Menurutmu, siapa yang menculik Putri Citra Ayu?"


"Tabik, Sultan. Hamba tidak bisa menilai tanpa melihat. Kedua Putra sama rupa sama wataknya." Jawab sang Patih.


Hatupanrama mengangguk. "Aku tau keduanya sangat keras. Tapi, aku tak percaya kedua putraku yang menculiknya."


"Tabik, Sultan. Hamba pun berfikir sama. Jika, satu dari dua mereka yang menculik. Satu yang lainnya akan menyerang. Perang saudara tak akan bisa terelak lagi. Tapi, itu tak pernah terjadi."


Hatupanrama mengangguk lagi. Semakin dia memikirkan, semakin dia tidak bisa mempercayai tuduhan Karpatandanu itu.


"Patih, beri aku petunjuk. Apa yang harus aku lakukan. Karpatandanu memegang genderang. Sekali tabuh perang terjadi. Kita tidak takut pedang mereka, tapi kita juga tidak bodoh. Apa guna berperang jika tidak ada yang diuntungkan"


"Tabik, Sultan. Izin Hamba berpendapat."


"Hmm ... "


"Baiklah. Patih RentangJala. Aku titahkan engkau menangung beban. Pergi dan periksa Pasir Putih. Jalanlah lurus bunuhlah yang menghadang. Aku, dibelakang."


"Tabik Sultan. Titah hamba emban."


Dari istana, Rentangjala menjalankan titah sultannya. Patih itu, membawa beberapa orang pendekar dan langsung menuju negeri Pasir Putih.


****


Pesisir pantai, Daratan Barat, bagian timur. Negeri Pasir Putih. Kota Tanjung Sekepang.


Kota pelabuhan yang sangat ramai itu memiliki kemirioan dengan kota Parinan di Daratan Timur. Tapi, tentu saja tidak ada dua ratus senjata pelontar di sini.


Perbedaan lainnya adalah, begitu banyak pendekar di kota ini yang berlalu lalang. Kota ini cukup damai. Itu karena, disana seorang pedagang ikan saja, bisa memiliki level pendekar raja tingkat tiga.


Seorang gadis dengan seluruh wajah tampak berlari di tengah kota. Sekali melihat ke depan dan beberapa kali melirik kebelakang. Seolah saat itu, ada beberapa orang yang sedang mengejarnya.


Lama dia berlari, dan tak begitu lama tubuhnya menabrak seseorang.


"Maaf. Aku tak sengaja. Akunsedang terburu hendak pergi. Maaf."


Tak sempat memberikan orang yang ditabraknya menjawab. Gadis itu kembali berdiri dan mulai berlari lagi.


Beberapa belas meter di depan dia berbelok ke dalam sebuah gang, dan menghilang dari pandangan orang yang baru saja di tabraknya itu.


Gadis itu berhenti di sebuah tempat. Setelah melihat kiri dan kanan, dia menghela nafas dalam dan melepasnya, lega. Sebuah senyum yang tak terlihat, tersungging di balik tutup wajahnya itu.


Namun, senyum itu tak bertahan lama, saat seseorang menyapanya.


"Huh, kau fikir bisa lari setelah mengambil sesuatu dari kami?"


Mata gadis itu melebar, dari arah tempat iya berlari, ada dua gadis asing. Dan Salah satunya tentu saja yang baru saja berbicara padanya.


"Apa yang kau katakan, Aku tak tau maksud mu."


Lagi-lagi tanpa berniat menunggu jawaban, gadis itu kembali hendak berlari, namun kali ini langkahnya terhenti.


Di sisi gang lainnya, satu orang pemuda dan satu gadis asing lainnya juga sudah berdiri di sana.


"Nona, berani sekali kau mengambil sesuatu milik senior. Cepat kembalikan, atau jangan salahkan aku, kalau aku bertindak kasar."


Gadis itu menggeleng. "Aku tidak mengambil apapun. Jangan asal menuduh."


"Arya, aku rasa gadis ini tidak bisa di ajak berbicara baik-baik. Bagaimana menurutmu?"


"Aku tidak tau. Sebaiknya, kita bunuh saja dan mengambil kantung emas ku yang kini dia pegang itu."


Sang gadis begitu terkejutnya karena tidak menyangka apa yang tadi di lakukannya akan ketahuan. Hingga dia tak sadar bahwa kantung yang diambilnya dari pemuda itu kini terlihat jelas sedang menggantung di genggamannya.


Setiap dia melakukannya, belum ada yang menyadari secepat empat orang ini sebelumnya. Sialnya, saat ini dia belum mengetahui bahwa gadis yang pertama berbicara, memiliki kekuatan mata yang unik. Hal seperti ini, bukan masalah besar bagi Ciel, pemilik mata itu.


"Tuan, kau akan membunuhku hanya karena kantung ini?"


Arya menggeleng. "Kau yang bunuh diri karena telah mengambil kantung itu. dan itu, berbeda."


Sebuah suara lainnya memecah pembicaraan itu, gadis itu dan keempatnya menoleh lada beberapa pendekar yang masuk kedalam gang.


"Itu pasti dia. Citra Ayu. Aku melihatnya!" Salah satu pendekar berteriak.