ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Bermain


" Sudah berapa lama dia ada di dalam? "


Tarim Saka baru saja tiba di depan Gerbang vila tempat para pelayan Darya menunggunya. Rasa cemas membuat nya sedikit gelisah menunggu di kediamannya. Takut terjadi sesuatu dengan cucu nya itu atau sebaliknya cucu satu-satunya itu membuat Arya tidak nyaman.


Yang manapun, itu bukan hal yang baik. Tarim Saka sedikit menyesali keputusannya tersebut. Darya, tidak terbiasa bergaul dengan orang lain. Karena sejak lahir Darya memiliki tubuh yang lemah ditambah sekarang kondisi kesehatannya yang semakin hari semakin terlihat memburuk, Tarim Saka melarang Darya keluar dari kediamannya.


Bukan bermaksud untuk mengekang kehidupan Darya, tapi Darya sering kali terjatuh karena kehilangan kesadaran secara tiba-tiba. Itulah yang membuat Tarim Saka mengharuskan Darya selalu berada di dalam rumah dan mendapatkan penjagaan khusus dari 20 pelayan yang bekerja secara bergantian sepanjang waktu.


Sejak melihat kedatangan Tarim Saka, Wulandari sudah menyadari apa yang di cemaskan pria sepeuh itu. " Ketua, sepertinya kita tidak perlu cemas. Anda bisa mendengar sendiri suara Nona dari sini "


" Suara? "


" Ya! Suara tawa Nona Darya bisa kita dengar dari sini! "


Beberapa saat setelah memusatkan pendengaranya, Senyum Tarim Saka terkembang. Saat itu dia mendengar tawa cucunya yang terdengar sangat bahagia. Suara tawa yang telah lama menghilang dari cucunya yang dulu sangat penuh semangat dan riang tersebut.


" Benar katamu, aku sangat senang Mendengar tawanya lagi "


Wulandari mengangguk setuju. " Ketua, maaf jika aku salah bertanya. Tapi, siapa sebenarnya Tuan Muda itu? Aku melihat, sepertinya ketua sangat mengaguminya! "


Wulandari tentu saja penasaran dengan pemuda yang kini bersama Darya di dalam. Dia saja yang sudah dianggap seperti ibu oleh Darya, tidak mampu membuat Darya begitu senangnya. Tapi pemuda ini. Belum sehari sejak kedatangannya sudah membuat Darya bisa sebahagia itu.


" Dia pendekar yang sangat langka. Kehadirannya bisa membuat semua orang mengaguminya "


Wulandari tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Tarim Saka. Itu sama sekali bukan jawaban yang di harapakanya. Namun, nalurinya sedikit tergelitik untuk bertanya.  " Ketua, apakah ketua mengundang pemuda tersebut untuk menjodohkannya dengan Nona? "


Tarim saka tidak pernah memperbolehkan siapapun menemui Darya sebelumnya. Tidak untuk orang-orang Sekte Awan Senja sekalipun. Hanya beberapa pelayan dan sesepuh yang benar-benar bertemu dengannya.


Tentu saja pertanyaan tersebut terbesit di kepalanya, apalagi saat mengetahui betapa bahagianya Darya saat berada di dekat pemuda tersebut. Bahkan jika Kakeknya tidak berfikir untuk menjodohkan mereka, Wulandari akan menyarankan ide tersebut pada Ketua Sekte Awan Senja ini.


Pertanyaan Wulandari yang tidak terduga tersebut sontak membuat mata Tarim Saka melebar. Tentu saja itu ide yang sangat bagus, kenapa tidak terfikirkan sebelumnya olehnya.


Arya adalah pendekar yang sangat hebat. Memiliki segala sesuatu yang di butuhkan untuk disebut sebagai laki-laki sejati. Wajah tampan dan yang lebih penting lagi, Tarim Saka sangat yakin bahwa Arya adalah pemuda yang baik.


Sangat pantas bersanding dengan Darya cucunya. sebagai pendamping Darya, pasti Arya akan membuat Sekte Awan Senja mengguncang dunia persilatan Daratan Timur ini. Tidak, Arya akan mengguncang dunia persilatan kerajaan Swarna.


Darya juga tidak ada kurangnya. Darya memiliki wajah cantik dan sangat bersemangat. Tentu semua akan sangat mengagumkan jika itu benar-benar bisa terjadi.


Mata Tarim Saka yang tadi sempat berbinar, kini menjadi sayu. Ya, semua itu akan sangat mengagumkan. jika saja, Darya tidak begitu lemah dan memiliki kesehatan yang semakin memburuk setiap harinya.


" Aku ... Aku ... " Tarim Saka tergagap menjawab pertanyaan Wulandari tersebut. Hatinya sangat sedih. Sebagai seorang Kakek, Tarim Saka sangat menyayangi cucu satu-satunya tersebut "  Aku sangat ingin itu terjadi. Tapi, lebih daripada itu. Aku sangat ingin Darya sembuh " Mata Tarim Saka memerah. Menahan genangan air yang ingin keluar dari sana.


Wulandari menyadari itu. Tentu saja dia merasakan hal yang sama. Kesehatan Darya lebih penting dari segalanya. " Maafkan Aku ketua, tapi aku sangat yakin suatu saat Nona akan sembuh lalu memiliki masa depan yang cerah dan hidup bahagia "


Tarim Saka menatap Wulandari yang mencoba menghibur nya " Aku tidak menyangka bahwa kau akan menjadi wanita yang penuh kasih sayang seperti ini. Dan sudah berapa kali aku katakan, jangan panggil aku dengan sebutan Ketua! "


Wulandari mengalihkan pandangannya. " Aku memanggilmu Guru saat aku masih di dunia persilatan. Sekarang aku hanyalah pelayan Vila utama Sekte Awan Senja. "


Perbincangan mereka teralihkan karena tidak jauh dari tempat mereka sekarang, beberapa orang sedang menuju ke tempat mereka.


Orang-orang tersebut adalah Handar dan sesepuh Sekte Awan Senja lainnya. Di antara mereka juga ada Sugal yang terlihat sangat muram.


" Apa yang membuat kalian kesini bersama-sama seperti ini? " tanya Tarim Saka begitu semua nya tiba.


" Ketua, dengarkan aku. Apakah kau tau bahwa tangan Sugal terluka karena mencoba memukul wajah Pendekar Muda yang berada di dalam? "


Tarim Saka langsung menatap Sugal tajam. Tatapan itu mampu membuat wajah pria paruh baya malang itu memucat seketika.


Sementara itu di halaman vila, Arya melihat Darya yang sedang asik bermain dengan Krama dan Rewanda.


Arya mengingat pertama kali saat dia melihat Krama lalu Rewanda. Dia sampai terkencing di celana dan hampir mati ketakutan.


Tapi, Saat melihat Darya kini duduk di punggung Krama dan melemparkan buah pada Rewanda dari sana, Arya merasa Darya adalah gadis yang sangat pemberani. Tidak ada rasa takut sedikitpun saat melihat Rewanda dan Krama menunjukkan wujud asli mereka. ' Benar kata Amia, ada yang salah dengan gadis ini ' batinnya.


" Kau memang bodoh. Maksudku bukan seperti itu. " Amia lagi-lagi bersuara secara tiba-tiba di kepalanya.


" Kau selalu mengatakan aku bodoh saat mulai bicara. Jadi apa maksudmu? "


" Saat kau menyentuhnya tadi, aku merasakan bahwa sesuatu berusaha menghilangkan keberadaan jiwa gadis ini dari dalam tubuhnya "


" Menghilangkan? "


" Ya, sesuatu yang bukan berasal dari gadis itu. Lebih seperti—"


Tiba-tiba Arya teralihkan dengan kedatangan beberapa orang secara tiba-tiba.


Tarim Saka memutuskan untuk masuk ke vila. Cucunya sedang berada di dalam sana. Mendengar kesaksian Sugal, bisa saja Arya memang memiliki dendam dengan Awan Senja.


Menyebut perampok dan ketua Kelabang Hitam membuat Gandala mati karena tamparannya. Tubuh penjahat lainnyanyang bernama Baya remuk karena mengotori bajunya. Namun,itu belum seberapa. Sugal melakukan hal yang jauh lebih bodoh daripada kedua orang tersebut.


Memukul seorang pendekar tepat di wajahnya merupakan bentuk penghinaan yang besar bagi seorang pendekar. Nyawa Sugal mungkin tidak berharga bagi Arya. Tapi, bisa saja demi melampiaskan kekesalannya. Arya memilih untuk menghabisi nyawa yang jauh lebih berharga di sekte Awan Senja. Darya misalnya.


Tarim Saka tentu saja tidak mau menerima resiko tersebut. Dia harus memastikan sendiri keselamatan cucu satu-satunya itu. Melupakan janji pada Darya, Tarim Saka membawa semua orang yang ada di luar untuk ikut meminta maaf pada Arya.


Namun, saat mereka memasuki halaman vila tersebut. Nyawa mereka seolah kabur meninggalkan raga. Pelayan-pelayan wanita selain Wulandari langsung tumbang tak sadarkan diri.


Di atas bahu seekor siluman kera besar berwarna emas, Darya sedang duduk mengangkat daging dengan tinggi yang di sambar oleh seekor siluman srigala perak bertanduk runcing berukuran bahkan lebih besar dari kuda.


Semuanya membeku di tempat mereka berdiri. Sampai Darya menyadari kedatangan mereka saat melihat Arya sedang berdiri menghadap pintu gerbang di mana Tarim Saka dan jajarannya berada.


" Kakek! Ini Rewanda dan Ini Krama. Mereka sangat baik dan lucu! " teriak Darya girang.