
"Apa katamu?!"
"Ya, begitulah ceritanya. Tuan Angus memerintahkan agar aku menceritakannya dengan sangat detil agar Tuan Kenneth bisa memahami situasinya."
Tiga orang wanita dan satu pemuda menghajar anggota serikat Oldebar di Markas pusatnya sendiri bukanlah masalah kecil. Ini tentu saja mencoreng nama Serikat itu sendiri.
Hanya orang bodoh yang berani melakukan hal tersebut, meski mereka memiliki level kependekaran tingkat tinggi. Akan tetapi, ada kemungkinan lain yang lebih masuk akal.
Mereka adalah orang yang memiliki kedudukan tidak biasa. Apalagi mendengar cerita dari pendekar yang membawa kabar bahwa, pemuda tersebut memberikan sekantung.emas pada Angus hanya untuk melayani dua peliharaannya.
"Sebentar! Apakah mereka mengatakan akan menetap?"
Orang itu mengangguk. "Ya. Tuan Angus mempertimbangkan untuk memberikan tempat khusus bagi mereka, untuk beristirahat selama mereka di sini!"
"Bagus. Untuk sementara, aku rasa itu pilihan yang tepat. Sekarang, aku akan menemui pemimpin. katakan pada Angus untuk melayani mereka sebaik mungkin."
"Baik Tuan! Kalau begitu, saya permisi."
Setelah orang suruhan Angus itu pergi, Kenneth tampak berfikir sejenak. Menurutnya, tidak ada wilayah-wilayah yang memiliki kota besar di Daratan ini yang belum di masuki oleh Serikat Oldenbar.
Jadi, dari mana asal usul pemuda tersebut. Apalagi menurut laporan yang dia terima dari Angus, pemuda tersebut memakai pakaian bangsawan yang mirip dengan pakaian bangsawan dari Benua Barat, sedangkan dia jelas adalah penduduk lokal.
Jika keluarganya memang bisa mempekerjakan pendekar Asing sebagai pengawal, tentu saja pemuda itu bukan pemuda yang berasal dari keluarga sembarangan.
"Ah! ... Sepertinya ini bukan perkara yang bisa aku selesaikan sendiri. Sebaiknya aku membicarakan ini pada pimpinan!"
Kenneth beranjak dari kursi dan berjalan keluar dari ruangannya menuju Vila di puncak Gunung Singa Emas. Dimana pimpinan pusat Serikat Oldenbar Daratan Timur, kini tinggal.
Sementara itu di restoran, Arya yang lainnya sudah selesai makan. Namun mereka belum melihat adanya tanda-tanda pergerakan dari Oldenbar.
"Apakah menurut kalian, kita belum cukup membuat keributan?" tanya Bai Hua setengah Berbisik.
"Tidak! Hanya saja untuk menarik perhatian Serikat yang besar, tentu saja tidak akan semudah itu. Aku rasa kini mereka sudah merencanakan sesuatu. Tapi, kedepan kita harus melakukan sesuatu yang membuat mereka memfokuskan diri pada kehadiran kita!"
"Ya. Menurutku, apa yang dikatakan kakakku, benar. Arya, bagaimana menurutmu?"
Arya tampak berfikir. "Hmm... Sejujurnya aku tidak tau. Aku bahkan baru kali ini memiliki rencana seperti ini, dan aku lihat kalian sepertinya sudah sangat ahli.!
"Senior, sebelumnya aku memang sudah banyak menjalani misi penyamaran. Dan sudah banya melakukan berbagai jenis penyamaran. Hanya saja kali ini, aku merasa rencana Luna dan Ciel lebih bagus dari pada yang aku fikirkan!"
"Kalau begitu, sebaiknya kita mengikuti rencana kalian saja. Katakan, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Saat Luna akan berbicara, tiba-tiba mereka mendengar suara derap langkah beberapa orang naik ke lantai tempat mereka berada.
"Oh maaf. Jika kedatangan kami mengganggu. Apakah kalian sudah selesai? Jika belum, maka kami akan datang nanti saja."
"Tidak apa-apa, Tuan Angus. Seperti yang kau lihat. Kami sudah selesai."
"Ya. Apakah kamar kami sudah siap?"
Angus tersenyum lebar saat mendapatkan pertanyaan tersebut.
"Maaf, sepertinya kamar-kamar yang kami miliki di sini, tidak cocok untuk kalian."
"Tuan Angus, apakah kau meremehkan kami?" Ciel menatap Angus menyelidik.
"Oh bukan! Maksudku bukan begitu."
"Jadi, katakan maksudmu!"
Angus tidak menyangka reaksi wanita-wanita di depannya ini akan sangat mengerikan. Dia berfikir harus lebih berhati-hati dalam memilih kata-kata untuk di ucapkan kedepannya.
"Begini, kamar di sini tidak cukup bagus untuk menjamu Tuan Muda dan Nona-nona sekalian. Jadi, kami menawarkan sebuah Vila di atas bukit sana, yang memiliki fasilitas dan pelayanan lebih baik. Bagaimana?"
Mendengar penjelasan Angus, keempatnya mengangguk setuju.
"Seharusnya, kau mengatakannya saja langsung. Jadi, kami tidak sampai berfikir yang bukan-bukan." Ucap Bai Hua ketus.
Angus tersenyum canggung. "Maaf, kedepan aku akan lebih berhati-hati. Jadi, apakah kalian menerimanya?"
"Aku rasa penawaranmu, cukup menarik. Lagipula, sepertinya kami akan berada dinsini untuk beberapa hari."
"Oh baguslah jika begitu. Senang mendengarnya. Jika begitu, kalian akan diantarkan oleh orang-orangku kesana."
"Baiklah. Jika fasilitasnya memang sebaik yang kau katakan, kami akan kesana."
"Tuan... Apa ini?"
Angus merasa heran dengan satu kantung lagi yang kini diberikan Arya padanya.
"Ini untuk, makanannya. Dan berikan pada pelayan-pelayan di sini masing-masing satu siling sebagai ucapan terimakasihku atas pelayanan, kalian."
Arya mengatakan hal tersebut seperti itu bukan apa-apa.
Mendengar kata-kata Arya tersebut, mata semua pelayan di sana melebar. Sebelumnya, mereka sudah tau bahwa kantung yang pemuda berikan tersebut dipenuhi oleh siling emas.
Seharusnya itu cukup untuk membayar semua bahkan biaya mereka menginap di vila yang baru saja Angus tawarkan berserta layanannya untuk satu bulan kedepan.
Sempat tertegun sejenak, Angus langsung memberikan kantung yang berisi siling-siling emas tersebut pada kepala juru masak yang ada di sebelahnya.
Kepala Juru masak itu terkejut karena tiba-tiba sudah memegang kantung tersebut.
"Kenapa anda memberikan ini padaku, tuan Angus?"
"Bantu aku untuk membagikan siling itu pada seluruh anggota. Katakan pada mereka, Tuan Muda ini yang memberikannya."
"Baiklah! Jika begitu, Terimakasih atas kemurahan hati anda, Tuan Muda!"
Kepala juru masak dan beberapa pelayan di sana membungkuk dalam, untuk mengucapkan rasa terimaksih mereka karena baru kali ini ada seseorang yang menghargai pekerjaan mereka setinggi langit.
"Kalian menjatuhkan harga diri kalian sendiri. Tidak usah berlebihan seperti.itu. Sudah sana pergi!"
Meski, mendapat kata-kata ketus dari Ciel tersebut. Mereka sama sekali tidak merasa berkecil hati saat membungkuk. Malah, mereka sangat senang.
Karena pada intinya, gadis itu bermaksud untuk mengatakan bahwa dia tidak ingin melihat orang lain merendahkan diri mereka sendiri hanya karena uang.
Kata-kata Ciel tersebut juga membuka lebar mata Angus. Kini, baginya tamu-tamu yang ada di depannya sekarang sudah pantas mendapatkan pelayanan yang sangat tinggi.
"Ini bahaya, untuk orang-orang seperti mereka ini, Aku tidak mungkin membiarkan pekerja biasa yang melayani mereka." Angus membatin.
Saat mereka ingin keluar meninggalkan restoran tersebut. Tampak seluruh pekerja sedang berdiri berbaris di depan pintu. Membuat semacam gang kecil untuk mereka lalui.
Saat mereka melewati para pekerja. Semuanya membungkuk dalam. Dan meneriakkan lantang.
"Terimakasih, Tuan Muda!"
Kejadian itu benar-benar menarik perhatian semua mata yang ada di sana. Belum pernah seseorang diperlakukan seperti ini sebelumnya. Bahkan untuk petinggi Oldenbar maupun keluarga bangsawan sekalipun.
Kali ini, mereka benar-benar di buat penasaran oleh kejadian yang sangat tidak wajar itu. Di kepala mereka semua, kini hanya ada satu Pertanyaan.
"Siapa sebenarnya pemuda itu?!"
Saat sudah berada di luar, Ciel menghampiri Arya.
"Aku tidak tau berapa emas yang kau miliki. Tapi, membuat kehebohan seperti ini. Jelas akan menarik perhatian banyak orang. Aku rasa kita tidak akan menunggu terlalu lama untuk menemui petinggi Oldenbar setelah ini."
Sebenarnya, bagi ketiga gadis yang bersama Arya, Baru kali ini pula diperlakukan penuh hormat. Entah kenapa bagi mereka, saat berada di dekat Arya mereka selalu merasakan sesuatu yang sangat hebat di setiap kejadian.
"Aku. Memiliki banyak emas!"
Ketiganya langsung menatap Arya heran. Mereka sudah lama ingin menanyakan ini. Dimana Arya menyimpan semua emas, bahkan barang-barangnya.
Berbeda dengan mereka yang selalu membawa tas dan beberapa gulungan kain pembungkus barang dan pakaian lainnya, sementara Arya tidak membawa apapun, selain baju yang di kenakannya.
Seperti saat ini mereka. Sangat ingin menanyakan hal tersebut. Namun, situasi sangat tidak memungkinkan.
Dan benar saja apa yang di katakan Ciel saat baru saja keluar dari restoran sebelumnya.
Malam hari, Angus kembali mendatangi mereka di Vila tempat mereka akan menginap.
"Maaf telah mengganggu kalian, malam-malam begini."
Ucap Angus terlihat sedikit tidak enak hati pada keempatnya. Namun, saat dia mengedarkan padangannya, dia tidak menemukan Arya dimanapun.
"Tidak perlu sungkan." Jawab Luna. "Tuan Muda sedang tidak ingin diganggu. Jika ada hal yang penting yang ingin anda sampaikan, katakan saja padaku." Tambahnya.
Angus mengangguk. "Ya. Ini sangat penting. Dan belum pernah terjadi sebelumnya."
"Bagitukah?" Luna menajamnkan tatapannya pada Angus. "Apa itu hal yang baik atau sesuatu yang buruk?!"
"Tentu saja hal baik. Tidak mungkin sesuatu yang buruk akan menimpa orang baik seperti kalian. Apalagi di tempat dan wilayah ini." Angus menenangkan.
"Baiklah, Tuan Angus. Katakan, apa itu?"
"Tuan Edward, mengundang Tuan Muda dan Nona sekalian untuk makan siang di Vila puncak, esok hari, apakah kalian bersedia?"
Luna mengernyit heran. "Tuan Edward?! Siapa, Orang itu?"
"Dia Pemimpin tertinggi Pusat Serikat Oldenbar Daratan Timur ini. pemilik kekuasaan tertinggi di seluruh pegunungan ini."
Luna mengangguk seolah tidak begitu peduli.
"Baiklah, aku.rasa tidak mungkin Tuan Muda kami, menolak niat baik Pemimpin kalian, Bukan? Katakan padanya, kami. Akan datang!"
"Baiklah, aku akan menyampaikannya. Terimakasih."
Setelah Luna menutup pintu Vila tersebut, Angus menggelengkan kepalanya. "Bahkan, saat mendengar nama. Pemimpin tertinggi Oldenbar saja, gadis itu sama sekali tidak berkedip." Gumamnya, seolah tak percaya.
Sementara itu di dalam, setelah menutup pintu, Luna tersenyum lebar.
"Benar-benar sesuai rencana!." Ucapnya puas.