ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Di Dalam Lautan


Diluar dugaan Arya, ternyata Ciel memang tidak bisa berenang. Gadis itu merangkul leher dan menautkan kedua kakinya di pinggang Arya dengan sangat kencang.


Arya memiliki sedikit kelebihan bertarung di dalam air, dia sudah melakukannya ratusan kali sejak dirinya masih berada di pegunungan Obskura. Namun, tidak pernah dia lakukan dengan Seseorang yang sedang memeluknya.


Malam hari, tentu saja sangat gelap. Begitu mereka masuk ke dalam laut, Arya tidak bisa melihat apapun. Saat ini, dia hanya bisa mengandalkan nalurinya saja, untuk merasakan keberadaan makhluk itu.


Sama seperti Ciel, Arya juga tidak pernah melihat makhluk seperti itu sebelumnya. Tapi, dia yakin makhluk itu, bukanlah kerang Darah Batu yang saat ini mereka cari.


Akan tetapi saat ini, Arya sengaja tidak langsung kembali kepermukaan. Karena itu akan sukit baginya untuk mengelak, jika makhluk itu menyerang dari bawah.


Arya memilih untuk tetap berada di bawah permukaan setidaknya untuk beberapa saat lagi.


Arya tiba-tiba merasakan perubahan arus bawah laut. Saat itu juga, dia meningkatkan konsentrasinya untuk merasakan keberadaan makhluk itu.


Benar saja, saat itu Arya merasakan arus laut seolah menariknya kebelakang. Tanpa perlu melihat, Arya langsung berenang cepat untuk keluar dari sana. Karena dia tau tepat di belakang mereka, mulut mahkluk itu pasti sedang menganga sangat lebar.


Memanfaatkan situasi, Arya langsung kembali kepermukaan untuk bernafas. Akan tetapi, sepertinya Ciel tidak menyadarinya. Gadis itu terus memejamkan mata dan semakin memeluknya kencang.


"Ciel, cobalah berna—!"


Tidak sempat Arya menyelesaikan kata-katanya, mahluk itu terasa kembali mendekat. Dengan cepat Arya kembali masuk ke air dan berenang sedikit dalam.


Dia tau Ciel memiliki tubuh yang kuat. Normalnya, gadis itu pasti bisa menahan nafas sedikit lebih lama. Akan tetapi ketakutan dan kepanikan benar-benar mengambil alih dirinya.


Beruntung saat itu, Arya sempat berenang cepat kesamping, saat makhkuk itu sekali lagi mencoba menerkam mereka.


"Gluk...Gluk...Gluk...Gluk..."


Ciel membuka mulut di dalam air dan langsung menelan beberapa tegukan. Gadis itu tiba-tiba kehabisan nafas dan tanpa sadar mencoba menariknya di dalam air.


Saat itu, Arya merasakan pergerakan tubuh yang sangat luar biasa besarnya melintas di samping mereka.


Dengan cepat Arya berenang ke atas dan menendang tubuh mahkluk itu dan langsung meluncur tinggi menembus permukaan air dan melayang sebentar di udara.


"Ciel ... Bernafas Sekarang ... !"


Teriakkan Arya berhasil membuat Ciel sadar dan reflek langsung kembali menarik nafas.


Beberapa detik kemudian, mereka kembali masuk kelautan. Namun, tiba-tiba saja, di dalam sana, Arus bawah laut menjadi sangat tenang.


Meski begitu, Naluri Arya mengatakan bahwa mereka masih dalam bahaya.


"Sial ... !"


Arya baru menyadari, mahkluk itu tepat berada di bawahnya dan langsung mencoba menarik mereka ke dalam mulutnya.


Arya berusaha berenang kesamping sekuat tenaga, sebelum mahkluk itu kembali melewatinya.


Tepat saat makhluk itu akan melompat keluar, dengan memanfaatkan itu, Arya langsung meninjunya kuat, hingga membuat makhluk itu terpental cukup jauh dari mereka.


Segera setelahnya, Arya kembali kepermukaan dengan Ciel masih kencang memeluknya.


"Ciel ... Ciel ... Dengar aku, Tenanglah."


Saat itu, Ciel berusaha bernafas dan membuka matanya.


"Arya ... Aku ... Tidak ... Berenang ... !"


"Ya, aku tau. Maka bernafaslah dan tetap buka matamu. Aku akan mengatasi mahluk itu."


Saat itu juga, Ciel menarik nafas dalam-dalam sepuasnya. Entah kenapa, dia merasa ini kesempatannya untuk bernafas lebih kama, sebelum Arya memutuskan akan menyerang makhluk tersebut.


Sedetik sebelum Arya kembali menyelam, keduanya sama-menarik nafas dalam.


"Booooommm ... "


Arya langsung meninju makhluk itu dengan sangat keras begitu makhluk itu mendekat. Saat itu, Ciel juga merasakan bahwa mereka mundur dengan sangat cepat.


Berfikir Arya akan menjauh, namun pikiran Ciel seluruhnya salah. Pemuda yang kini di peluknya itu, sedang mengejar mahkluk tersebut.


"Booom ... !"


"Booom ... !"


Dua pukulan lagi Arya sarangkan, entah di bagian mana di tubuh makhkuk itu saking besarnya.


Arya kembali mengejar lalu memukulnya bertubi-tubi. Jika pukulan itu dia hantamkan pada manusia, jelas Pendekar Ranah Bumi tingkat satu sekalipun, akan menjadi bubur saat itu juga.


Malangnya, Makhluk besar ini sangat kuat. Arya tau, untuk melumpuhkannya, diperlukan ketepatan. Namun, di dalam lautan Arya tidak bisa melihatnya dengan jelas.


Beruntung Arya kembali kepermukaan dan Ciel kembali bisa menarik nafas. Namun, itu benar-benar hanya sebentar. Karena, saat itu Arya kembali merasakan makhluk itu mendekat.


Arya berenang cepat kesamping dan kembali masuk kedalam lauatan. Sementara makhkuk itu melintas dan melompat ke udara.


Di sinilah masalah sebenarnya terjadi. Saat Arya menyelam sedikit lebih dalam, posisinya membelakangi mahkluk itu. Namun, tidak bagi Ciel.


"BOOOOOMMM ... !"


Mata Ciel terbelalak dan mulutnya terbuka lebar, Saat melihat makhluk tersebut kembali ke dalam.


Ciel kini bisa melihat jelas di depannya itu, adalah Siluman Paus Raksasa yang ukurannya hampir sama dengan ukuran benteng Nippokure yang mereka takhlukan.


Lebih Bahayanya lagi, saat itu Siluman Paus tersebut langsung mengarah pada mereka dan Ciel baru saja membuang semua udara di dadanya, sementara saat ini Arya menyelam jauh lebih dalam dari sebelumnya.


Saat ini, Siluman tersebut, terlihat sangat marah. Dia tidak memberi kesempatan pada Arya untuk berenang kembali kepermukaan dan terus mengejar mereka.


Semakin dalam, karena gelap Arya tidak bisa lagi membedakan arah. Bahkan, sebenarnya saat ini Arya tidak tau bahwa dia sudah sangat jauh dari permukaan laut.


Namun begitu, Arya tidak memikiki masalah. Dia bjsa menahan nafas jauh lebih lama hasil latihannya bersama Amia. Malangnya, saat ini seorang gadis bersamanya dan gadis itu mulai lemas.


Arya bisa merasakan itu, karena pelukan Ciel terasa melemah.


Dada Ciel terasa akan pecah saat dia menyadari tidak ada lagi udara di sana. Saat itu, gadis itu kembali panik. Hal tersebut, membuatnya semakin lemas.


Dia bisa melihat permukaan laut sudah sangat jauh. Jika Arya kembali ke sana saat inipun, paru-parunya pasti sudah dipenuhi air saat sampai di sana.


Saat itu, Ciel tiba-tiba merasa putus asa. Entah kenapa dia merasa ini adalah saat-saat terakhirnya.


Namun begitu, dia sama sekali tidak menyesalinya. Setidaknya, jika dia mati saat ini, dia akan mati dalam pelukan Arya. Entah kenapa hal itu membuatnya bahagia.


Ciel berusaha mengencangkan pelukannya pada Arya untuk terakhir kalinya. Dia sudah tau bahwa dia tidak akan memiliki tenaga lagi untuk ini, setelahnya.


Ciel berusaha menyimpan kenangan ini di kepalanya. Hanya ini yang dia butuhkan. Itulah yang dipikirkan saat itu.


Saat itu, Ciel merasakan waktu berputar pelan. Dia tak peduli lagi dengan Siluman yang mengejar mereka karena dia sangat yakin Arya akan berhasil mengatasi itu setelah ini.


Sebuah senyum terkembang di bibirnya, sebelum akhirnya gadis itu bergumam pelan.


"Arya ... aku mencintaimu ... "


Setelah itu, Ciel kembali menutup mata dan melepaskan pelukannya.