ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Kubu Lain


" Ciel! Kita hanya bisa membawa beberapa barang saja. Jangan bawa yang tidak perlu "


Setelah di obati Arya, Luna dan Ciel berkemas untuk meninggalkan kota. Banyak sekali pertanyaan yang ada di kepala kedua gadis itu pada Arya. Tapi mereka tau sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya.


" Ya, aku tau " Ciel tidak menatap pada Luna. Bukan, dia masih terlalu takut untuk melihat Arya yang berada di sebelah Luna " Apakah kau sudah membawa barang itu? "


" Ya. Sudah ada bersamaku "


Arya hanya memperhatikan keduanya dalam diam. Bagi Arya, keduanya cukup aneh. Sebelumnya, Mereka yang mengatakan pemberontakan adalah hal yang bodoh. Tapi barusaja, keduanya yang memulai pemberontakan ini.


" Kenapa kalian melakukan ini? " Arya akhirnya memutuskan untuk bertanya. " Bukankah kalian bilang itu tindakan bodoh? "


" Oh! Soal itu? " Luna yang sekarang sedang mengemasi beberapa berhenti dan melihat Arya " Ini berbeda " jawabnya.


Arya mengernyit keheranan. " Bagaimana ini bisa berbeda? Kalian bahkan langsung menyerang di depan banyak orang "


" Arya! Kami tidak bisa membiarkan tujuh orang itu mati begitu saja karena ketidakadilan yang terjadi di kota ini "


" Begitu juga dengan Ki Jabara dan Nona Sekar. Apa yang membuatnya berbeda? "


Luna berpikir sejenak lalu mendesah " Arya, dengar! ... Kami bukan penduduk asli daerah ini. Jadi, jika kami yang melakukannya, ini bukan bentuk pemberontakan. Mereka hanya akan mengerjar kami sebagai penjahat. Jadi jelas itu berbeda "  jelas Luna.


Arya mengangguk. " Kemana kalian akan pergi? "


" Kami belum tau. Tapi, aku dan Ciel sudah memutuskan untuk membawa Jaka dan Ratih bersama kami. Kami tidak akan membiarkan mereka hidup menderita lagi " Jawab Luna sambil menatap Jaka dan Ratih yang duduk tidak jauh dari mereka.


" Kalian bisa pergi ke ujung timur Daratan ini, di sana kalian temuilah Tarim Saka ketua Sekte yang sekarang bernama Delapan Mata Angin. Katakan padanya bahwa aku yang meminta kalian untuk ke sana " tawar Arya.


Luna dan Ciel saling berpandangan. Mereka tampak mencoba mempertimbangkan tawaran Arya itu.


" Jika kami di sana, Sekte itu akan mengalami kesulitan. Kami pasti akan tetap di buru. Tapi ... " Luna tampak memiliki sedikit pertimbangan lain. Dan menatap kedua anak kecil yang kebingungan itu " Jika kau bisa menjamin mereka akan menerima kedua anak ini di sana, aku dan Ciel akan mengantarkan mereka ke sana "


Tentu saja Luna sadar. Membawa kedua anak kecil itu bersama mereka pasti akan sangat berbahaya. Apalagi mereka akan di buru oleh pendekar-pendekar dari serikat dan prajurit kerajaan.


Arya mengangguk " Aku akan menjaminnya, aku akan menulis sebuah surat untuk itu " putus Arya.


Luna dan Ciel merasa sedikit lega. Namun kelegaan mereka langsung dibuyarkan dengan sebuah suara.


" Tok! Tok! Tok! Tok! "


Mereka mendengar seseorang mengetuk pintu depan. Semuanya saling berpandangan.


" Aku akan melihatnya. Kalian tetaplah di sini " kata Arya dan langsung berjalan kedepan.


" Ciel! Jika terjadi sesuatu, lindungi kedua anak ini. Aku akan membantu Arya. "


" Luna ... "


Luna menoleh pada Ciel yang tak langsung mengiyakan peringatan dan malah memanggil namanya.


" Kenapa? " tanya Luna heran.


" Orang itu sangat berbahaya. " Ciel bermaksud mengatakan Arya.


" Maksudmu? " Baru kali ini Luna melihat Ciel ragu dalam mengungkapkan sesuatu. Tentu saja itu menjadi pertanyaan tersendiri baginya.


" Dia yang membantai semua Pendekar dari serikat seorang diri. " Ciel menatap Luna " Aku melihatnya dengan jelas. Bagaimana takutnya dua pendekar Ahli berhadapan langsung dengannya. Mereka hanya diam membeku sesaat sebelum Arya memisahkan kepala mereka dari tubuhnya! Dan kau melihat sendiri, dia bisa mencabut jantung Votus dengan sangat mudah "


Luna langsung mengingat bagaimana saat Votus mati. Cedera di kakinya itu karena berusaha menerjang tubuh Votus yang tiba-tiba menjadi sangat keras. Namun Arya bisa menembusnya dengan sangat mudah.


" Aku tidak yakin bahkan orang itu adalah ma— "


Pembicaraan keduanya terpotong saat tiba-tiba Arya masuk membawa seseorang bersamanya. Keduanya langsung waspada.


Tentu saja keduanya terkejut saat Arya tiba-tiba membawa dua prajurit kota masuk kesana. Mereka langsung curiga.


" Tenanglah ... Biarkan mereka menjelaskan " kata Arya.


Salah satu prajurit itu adalah penjaga gerbang yang pertama kali di jumpai Arya dan yang satunya terlihat memiliki pangkat lebih tinggi darinya.


Prajurit yang terlihat memiliki pangkat lebih tinggi itu langsung maju lalu menunduk hormat dan mulai bicara.


" Maaf, aku kesini untuk memberi tahu kalian bahwa, tidak mungkin bagi kalian bisa keluar darikota ini lagi ... "


Meski keduanya sempat ingin protes, tapi prajurit itu menjelaskan semuanya.


Prajurit itu mengatakan bahwa, Hattala dan Serikat sudah mengumpulkan seluruh kekuatan Kota dan sekarang sedang bersiap menuju kesana.


Seandainya mereka lari sekalipun, tentu tidak akan butuh waktu lama untuk di temukan oleh Hattala.


Prajurit itu juga mengatakan bahwa tidak semua prajurit kota ini menyukai kepemimpinan Nurmageda apalagi Hattala. Prajurit itu menambahkan bahwa Kota Arsa sebenarnya tidak tercatat sebagai sebuah kota melainkan hanya tempat penelitian.


Akan tetapi, sepertinya seseorang yang memiliki pengaruh besar di Kota Basaka memberikan Nurmageda kendali layaknya seorang walikota dan memperkuatnya dengan ratusan prajurit dibawah kendalinya.


Prjurit ini mengaku tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya direncanakan Nurmageda dan orang di belakangnya itu.


Sebagian prajurit tidak berniat mengikuti perintah Hattala. Lagipula saat ini Nurmageda sedang tidak ada di kota ini.


Namun jumlah prajurit yang berpihak pada Nurmageda lebih besar daripada yang tidak, sehingga mereka tidak bisa menolak perintah dari Nurmageda hingga saat ini.


Selagi ketiganya sedang berbicara dengan dua prajurit itu, di sebuah kaki bukit yang sekarang menjadi markas kelompok pemberontak yang dipimpin oleh Ki Jabara juga membahas hal yamg tidak jauh berbeda.


" Ah! Ada apa dengan kedua gadis itu? Kenapa mereka memulai kekacauan ini? Ini bisa merusak rencana kita! "


Ki Jabara marah saat barusaja Sekar memberitahunya apa yang belum lama ini terjadi di Kota.


" Ki Jabara. Jika kedua gadis itu tidak memulai, mereka semua mungkin sudah mati! " protes Sekar sambil menunjuk tujuh orang yang berhasil mereka selamatkan sebelumnya.


Ki Jabara terdiam sejenak. Tentu saja apa yang dikatakan Sekar benar. " Tapi, kalian tau sekarang akan sulit bagi kita untuk melakukan pergerakan. Pasti di kota penjagaan sudah di perkuat. Keberadaan kita juga sepertinya sudah di ketahui. Sekarang, dimana kedua wanita itu? "


" Mereka sepertinya aman, karena mereka sangat kuat. Apalagi Tuan Arya sekarang bersama mereka. Kita bahkan bisa dibilang tidak melakukan apapun. Karena semua pendekar serikat itu, mereka kalahkan dengan mudah " Jelas Sekar.


Ki Jabara sedikit terkejut dengan penjelasan Sekar " Apakah kedua gadis itu memang sangat kuat? "


" Tentu saja Ki " seorang pendekar tiba-tiba bersuara " Aku melihat sendiri bagaimana dengan mudahnya gadis benama Luna itu menghabisi tujuh orang prajurit dengan sangat cepat. Selain itu, saat kami bertarung dengan prajurit kota,  aku yakin gadis yang bernama Ciel yang menembakkan anak panah untuk membantu kami. Sehingga kami dengan mudah menghabisi prajurit kota sampai akhirnya semuanya selesai "


Perkataan pendekar itu langsung mendapat anggukan dari beberapa pendekar lainnya yang juga terlibat langsung dalam kekacauan itu.


mendengar kesaksian para pendekar itu, Ki Jabara seolah sudah mengerti situasinya. Dia mengangguk " Aku rasa kita tidak perlu mencemaskan keadaan Tuan Arya saat ini. "


" Mencemaskan?! " Sekar heran, " kenapa kita harus mencemaskan Tuan Arya saat ini? "


" Kenapa kau mempertanyakan itu? Tuan Arya lah yang membiayai ini semua. Tentu saja keselamatannya harus kita cemaskan! " jawab Ki Jabara sedikit emosi. Seolah Sekar melupakan jasa Arya pada mereka.


Saat Sekar mencoba menjelaskan lebih jauh, Ki Jabara sudah mulai berbicara lagi.


" Baiklah! Kita tidak bisa membiarkan Tuan Arya dalam bahaya lebih lama lagi. Aku pikir jika kedua gadis itu bisa mengalahkan pendekar-pendekar dari serikat, berarti kekuatan mereka tidak seperti yang kita perkirakan sebelumnya. Dengan kekuatan kita sekarang, aku rasa ini saat yang tepat untuk mengambil alih Kota " Ki Jabara memutuskan.


Sekar mengurungkan niatnya untuk menjelaskan lebih jauh. Toh tidak ada bedanya antara mencemaskan Arya atau tidak. Dia yakin Arya malah tidak merasa perlu di cemaskan sedikitpun saat ini.


" Jadi, apa yang akan kita lakukan, Ki? "


Ki Jabara langsung menajamkan matanya menatap Sekar " Kita berangkat! " pungkasnya.