
"Kau terlalu lama berhubungan drngan kertas, Kenneth"
Nyaris saja Serabang berhasil mengalahkan Kenneth jika saja saat itu tidak ada seseorang yang datang membantunya.
Pedang Serabang tiba-tiba berhenti sejengkal sebelum berhasil menembus dada Kenneth, saat sebuah pedang lainnya berhasil menahannya.
Dengan Sigap Serabang mundur saat pemilik pedang itu melayangkan sebuah tendangan keras di arahnya.
Kenneth sempat tertegun. Beberapa detik yang lalu, dia merasa bahwa itu adalah akhir hidupnya. Namun, hingga detik ini ternyata dia masih hidup dan tetap bernafas.
"Ludwig, terimakasih!"
"Tidak perlu. Ayo selesaikan ini, dan kembali."
Kenneth menyambut tangan Ludwig yang hendak membantunya berdiri. Saat ini, Serabang yang ada di depan mereka terlihat sangat kesal.
"Cih. Pengecut! ... Apa orang asing seperti kalian tidak punya malu."
"Tuan ... Ini pertempuran dan dia temanku. Aku rasa tidak ada salahnya menolong teman, bukan?"
Ludwig menjawab Serabang santai. Meski begitu, dia tau bahwa Serabang memang cukup kuat. Kenneth tidak lemah hingga bisa di buat kesulitan seperti saat ini.
"Ludwig, dia cukup berbahaya. Sebaiknya kita menghabisinya berdua."
Kenneth tidak mengatakan itu dengan cara berbisik hingga membuat Serabang mendengarnya.
"Ya kalian bisa maju berdua. Ini perang bukan? Aku sudah tidak peduli. Majulah!"
Ki Serabang tentu tidak berharap Ludwig akan menolak untuk menghadapinya berdua. Seperti apa yang dikatakan lawannya itu, ini perang. Segalanya sah asal itu bisa membawa kemenangan.
"Wow, kau cukup percaya diri orangbtua. Tapi ... Ya! Ini perang dan kami tudak datang dengan rasa belas kasihan. Apalagi kulihat kau cukup tangguh. Akan sangat menyulitkan jika kami terus membiarkan kau tetap hidup saat ini."
Edward sengaja memerintahkan pasukannya untuk langsung masuk kepertempuran, apalagi saat dia datang, dia melihat Kenneth dan pasukan yang dipimpinnya sedang dalam keadaan terpojok.
Ludwig melihat hal yang sama, Langsung melesat tanpa perintah sekalipun.
Berfikir bahwa perang tidak akan sebesar yang dia lihat saat ini, ternyata Edward salah perhitungan.
Dia tidak habis fikir, Entah apa yang membuat kubu sekte aliran putih ini bergabung dan terpacu untuk memulai perang.
Hal lainnya adalah, dia melihat Darius dari serikat petualang juga ikut bertempur. Sempat merasa bahwa serikat itu berada di pihak yang sama dengannya, ternyata penilaiannya salah.
Darius jelas sedang bertarung serius dengan Rantoba saat ini. Sesuai dengan berita yang dia terima sebelumnya, keadaan membuat Kenneth, tangan kanannya harus mengambil sikap.
Meski informasi itu cukup mengejutkan, tapi serikat Oldenbar memang sudah mengantisipasi Daga sebelumnya. Yang luput dari pengawasan mereka ada Moro.
Sebagai pemimpin, Edward perlu membaca situasi lebih jauh, dia tidak bisa begitu saja ikut bertempur tanpa berfikir panjang ke depan. Saat dia melihat Daga, dia langsung menghampirianya.
Sementara itu, pertarungan antara ketua sekte masih terlihat seimbang beberapa waktu yang lalu. Akan tetapi, stamina Sapujagad, tidak bisa mengimbangi miliki Marendra.
Beberapa pukulan dari Marendra sempat menghantam tubuhnya, dalam beberapa jurus terakhir, pedang pemuda itu juga sudah sempat memberikannya beberapa luka.
Memang, luka-luka yang dia dapat tidak serius, tapi itu hanya menunggu waktu hingga stamina dan tenaga dalamnya terkuras habis, sebelum Merendra mendaratkan serangan pamungkasnya.
Itu adalah keadaan terburuk jika memang terjadi. Namun, serikat Oldenbar datang di waktu yang tepat. Dua petinggi mereka langsung datang membantu Sapujagad dan mendesak Marendra mundur.
"Hahahaha! ... Sapujagad pemimpin sekte Sapujagad, bersembunyi di sebalik ketiak orang asing. Betapa memalukannya dirimu."
Marendra sedikit kesal saat dua orang ini muncul. Dia benar-benar sudah berniat menghabisi musuhnya ini beberapa waktu yang lalu. Tapi, harus mengurungkan niatnya karena dua pendekar dari Oldenbar ini, setara pendekar suci tingkat pertama.
"Kau sudah mencobanya dan kau pasti menyadarinya bahwa kau tidak mampu." Ejek Marendra."Dua orang ini datang untuk membantumu. Aku heran, apa yang sudah kau lakukan untuk mereka? Apakah kau sudah meletakkan kening mundi tanah untuk itu? Oh tidak, akurasa kau mungkin sudah menjilat kotoran dari kaki mereka. Aku yakin itu!"
Sama dengan Marendra tkyang menyunggingkan senyum, kedua petinggi Oldenbar yang tadi membantunya, seperti sedang menahan tawa. Itu membuat Sapujagad semakin murka.
Sempat hendak berterima kasih sebelumnya, Sapujagad mengurungkan niatnya. Karena pada dasarnya, orang asing memeng selalu merendahkan penduduk Daratan ini. Sipapapun itu.
Sepertinya niat Marendra untuk membuat Sapujagad tidak bekerja sama dengan kedua petinggi Oldenbar itu berhasil, pendekar tua itu cukup murka saat ini. Tanpa memperdulikan keduanya, Sapujagad kembali menyerang Marendra sendiri.
"Untuk membunuhmu, aku tidak membutuhkan bantuan siapapun. Kau akan mati di ujung pedangku, setelah itu aku akan menghancurkan seluruh sektemu dan mencincang ayahmu yang sudah tua renta itu lalu memberikan dagingnya pada anjing!"
"Jangan hanya bicara, buktikan kata-katamu!"
Marendra hanya perlu menambahkan sedikit lagi kata hingga Sapujagad benar-benar terbakar amarah. Satu kelemahan yang sangat fatal untuk ditunjukkan pada musuh yang beberapa waktu yang lalu sempat hampir membunuhnya.
Sapujagad langsung berlari menghambur hendak menerjang Marendra. Namun, beberapa saat sebelum dia berhasil mendarat, mata nya melebar. Sebuah seringai dari pemuda itu, langsung menyadarkannya bahwa dia sudah di jebak.
"Sial!" Gumamnya.
"Jurus Tinju Guntur ... !"
"Booom ... !!"
Secepat Sapujagad menerjang, secepat itu pula tubuhnya terpental. Namun, kuatnya pukulan dari Marendra yang mendarat di dadanya itu, membuat tubuhnya berguling-guling setelah membentur tanah.
Saat berhenti, seteguk darah keluarbdari mulutnya. Rasa yang sangat perih seolah terbakar di dalam rusuk-rusuk pendekar suci tingkat empat itu. Jangankan untuk berkata, bernafas saja sangat sulit baginya saat ini.
Sapujagad merasa satu serangan lagi dari Marendra akan cukup membuatnya mati dan sepertinya itu Sudah tidak diragukan lagi.
Sapujagad sempat terkejut saat mendengar saat seseorang baru saja mendekat padanya. Jika saja itu Marendra, maka berakhirlah sudah.
"Ini, telanlah. Dan kalahkan dia!"
Mata Sapujagad melebar saat melihat dua pil berada di telapak tangan petinggi Oldenbar yang kini terjulur padanya.
Tanpa pikir panjang, Sapujagad meraih Pil tersebut dan langsung menelannya.
Petinggi Oldenbat itu tersenyum masam melihat Sapujagad. Dia berdiri dan berbalik.
"Pendekar muda. Sepertinya sementara ini, kau harus bermain-main dengan kami."
Marendra sedikit mundur selangkah. Dia baru saja menggunakan sebagian besar tenaga dalamnya, untuk memukul Sapujagad. Kini, dia harus menghadapi dua petinggi Oldenbar. Sepertinya itu akan sangat sulit.
"Hahaha! Aku juga tidak berharap perang ini akan menjadi mudah. Baiklah, majulah. Aku akan meladeni kalian."
Dua petinggi Oldenbar itu menyeringai. Melihat Marendra sudah sedikit melemah, mereka merasa lebih dari cukup untuk mengalahkannya.
Saat mereka akan saling menyerang, sebuah teriakan melengking memekak telinga menghentikannya. Hampir semua orang yang berada di dekat sana, melihat ke arah dari mana suara itu berasal.
Semua mata melebar. Teriakan itu berasal dari salah satu ketua sekte. Dan sepertinya lawannya baru saja mengalahkannya.
"Kau ... Kepa— "
Nyai Anjaran tidak bisa melanjutkan kata-katanya, saat Rapatni terus menusuk lebih dalam dari bawah perut hingga menembus kerongkongannya.
Dengan mata masih melotot, di sisa-sisa kesadaran terakhirnya. Muridnya itu, berbisik di telinganya.
"Maafkan aku guru ... Terimakasih atas semua ilmu yang kau berikan, dan ... selamat jalan!"