ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Ketahuan


Di bawah pengawasan Arya, Sugal dan anggotanya mengikat kaki dan tangan seluruh anggota Kelabang Merah. Karena saat semua selesai hari sudah gelap, Mereka semua dibiarkan berada di halaman desa.


Seluruh penduduk desa yang pulang bertani atau berladang malam itu bergantian ikut menemani pendekar Awan Senja berjaga di sana.


Hingga keesokan harinya, Pendekar-pendekar dari sekte Awan Senja datang dalam jumlah besar untuk membantu mengurus semuanya.


Mendengar Gandala, adik seperguruannya yang memilih berkhianat telah berhasil dibunuh, ketua sekte Awan Senja juga muncul di sana guna memastikan berita yang disampaikan Sugal dengan mata kepalanya sendiri.


Bagaimanapun Sugal berusaha menjelaskannya, baginya sangat sulit menerima bahwa Gandala mati secara konyol tanpa mampu melukai pemuda yang menjadi lawannya barang sedikitpun.


Apalagi saat dia melihat sendiri pemuda tersebut. Jika bukan karena kesaksian Sugal dan murid-muridnya sendiri, sampai kucing berjenggot pun dia tidak akan percaya bahwa pemuda yang tidak memiliki tenaga dalam itulah yang mengalahkan Gandala.


Sebaik apapun orang menyembunyikan tenaga dalamnya, seharusnya bukan membuat tenaga dalam itu seperti tidak ada. Bagaimana pemuda ini bisa melakukan itu. Halntersebut membuatnya penasaran.


" Tuan Arya— "


" Panggil saya Arya saja ki " Potong Arya.


" Hmm ... Baiklah!  Nak Arya "


" Ya, Ki? "


Ketua Sekte Awan Senja mengundang Arya untuk datang ke sektenya. Orang yang mengaku bernama Tarim Saka itu merasa bahwa Arya sangat berjasa bagi seluruh desa yang ada dibawah perlindungan Sektenya bahkan bagi Sekte Awan Senja itu sendiri.


Sebekumnya mereka telah mendatangi Goa di sebuah kaki bukit yang menjadi markas Kelabang Hitam. Mereka mengambil semua harta hasil kejahatan dan menghancurkan seluruh bangunan yang ada di dalam goa tersebut.


Harta tersebut akan dibagikan pada seluruh desa yang pernah menjadi korban kejahatan Kelabang Hitam dan sisanya di bawa oleh Sekte Awan Senja. Arya sendiri menolak untuk menerima bagian dari harta rampasan tersebut.


Akhirnya Arya mengikuti keinginan Tarim Saka untuk datang ke sekte Awan Hitam.


Sepanjang perjalanan, Arya banyak mendapatkan informasi dari Ki Tarim Saka. Mulai dari perkembangan Daratan Timur tempat mereka sekarang ini berada, sampai kejadian dan pristiwa besar yang terjadi beberapa tahun sebelumnya. Sebagian sudah didengar Arya dari Obskura dan sebagian lagi sukses membuat Arya sedikit terkejut.


Keputusan Arya untuk mengikuti Tarim Saka ke sektenya ternyata tidak salah. Informasi yang didapatnya sangat berguna baginya kelak. Karena yang dikatakan Obskura sebelumnya tentang dunia kepadanya, ternyata hanya secara garis besarnya saja.


Setelah menaiki kuda sekitar empat jam lamanya. Di ufuk barat sebuah perbukitan yang cukup besar, Arya melihat pemukiman penduduk yang cukup luas dan padat. Arya belum pernah melihat hal tersebut sebelumnya. Desa Teluk Barula tempat tinggal keluarganya. Tidak lebih besar dari desa yang didiami Barda dan keluarganya.


Pemukiman tersebutlah yang akhirnya di katakan oleh Tarim Saka yang menjadi pusat Sekte Awan Senja.


Sesuai namanya, letak pusat Sekte itu yang berada di ujung bukit yang berada di barat itu, kini seperti menyatu dengan Awan Senja dari tempat sekarang mereka berada.


Saat Arya memasuki gerbang Sekte Awan Senja, langit sudah gelap. Namun, satu hal yang menarik perhatian Arya. Di sana masih banyak orang berlalu lalang. Obor masih menyala di mana-mana. Pemandangan yang juga tidak pernah Arya lihat di desanya di mana saat langit sudah mulai gelap, seluruh penduduk sudah berdiam diri di rumah mereka masing-masing. Desa di mana Arya terakhir kali merasakan kehangatan sesuatu yang di sebut keluarga, delapan tahun yang lalu.


Arya terus berkuda di sebelah Tarim Saka. Sementara seluruh pendekar Awan Senja lainnya sudah turun dan menggiring kudanya. Hal yang tak disadari oleh Arya adalah, di sekte Awan Senja hanya ketua Sekte yang di perbolehkan menunggangi kuda di sepanjang jalan pusat Sekte Awan Senja.


Seluruh penduduk yang berada di sana menunjukkan hormat mereka pada Tarim Saka sebagai pemimpin Sekte. Namun, mereka sedikit terusik oleh sebuah pemandangan janggal yang saat ini sedang mereka saksikan.


Tidak hanya masih menaiki kudanya. Seorang pemuda berjalan beriringan sambil bercerita dengan pemimpin tertinggi Sekte tersebut seolah itu sudah biasa. Namun yang juga tidak Arya sadari, itu belum pernah terjadi sebelumnya. Tentu saja kejadian tersebut meninggalkan tanda tanya besar di kepala mereka. Siapa pemuda itu.


Arya juga di ajak ke tempat paling tinggi di perbukitan tersebut. Sebuah Vila yang menjadi kediaman pemimpin Sekte Awan Senja itu. Namun dalam perjalanan ke sana, beberapa orang menghadang jalan mereka.


Mereka tampak menunjukkan hormat pada Tarim Saka lalu memandang Arya dengan tatapan bertanya.


" Ketua Saka. Bagaimana keadaannya? "


" Benarkah? ... Hmm ... Lalu, siapa pemuda ini? " Tanya lelaki sepuh yang terlihat berumur tidak terlalu jauh dari Tarim Saka.


" Oh, ini? Pendekar ini bernama Arya. " jawab Tarim saka seolah mengenalkan temannya " Oh, iya! Baguslah kau di sini. Kumpulkan semua sesepuh Awan Senja. Aku maminta kalian untuk ikut menjamu tamu kehormatan sekte kita ini. Malam ini kita akan sedikit berpesta "


Handar dan beberapa orang yang bersamanya terlihat kebingungan dengan jawaban dan perintah dari Tarim Saka. apalagi saat dia melihat anjing yang berjalan di samping kuda pemuda tersebut atau tingkah kera yang meloncat-loncat dari kuda Arya ke kuda Tarim Saka saat ini.


" Aku tau banyak yang ingin kau tanyakan. Tapi, semua akan terjawab di perjamuan malam ini. " kata Tarim saka sambil menendang sedikit perut kudanya dan mulai berlalu.


Handal segera menyingkir dari jalan dan mendekati orang yang sedang menggiring kuda setelahnya. " Siapa pemuda itu? " tanyanya pada Sugal yang berhasil dia hentikan saat ingin melaluinya.


" Seseorang yang sangat kuat! Bahkan jauh lebih kuat daripada ketua kita! " Jawab Sugal dengan senyum bangga.


Handar menatap Sugal mencoba memastikan perkataannya " Apa maksudmu? Aku bahkan tidak merasakan tenaga dalam sedikitpun dari pemuda tersebut "


" Hahahaha! Ki Handar, ternyata dunia ini sangat luas. Kau akan terkejut saat melihat sendiri kekuatan pemuda tersebut. "


" Kau sendiri, sudah melihat nya? "


Sugal mengangguk. Lalu meninggalkan Handar yang masih terdiam membisu dengan wajah tidak percaya di belakangnya. ' Orang yang lebih kuat dari si jenius Saka? ' batinnya


Sugal sendiri sangat bersyukur masih hidup sampai saat ini. Pemuda di samping ketuanya itu menghancurkan tubuh pendekar mahir tingkat dua hanya karena mengotori bajunya.


Sugal sendiri dengan bodohnya malah meninju tepat di wajahnya. Rasa sakit di tangannya sekarang bukanlah hal yang pantas dia keluhkan lagi. Harga yang terbilang sangat murah atas kebodohannya yang sangat fatal.


Lama hidup di hutan, membuat Arya sedikit tidak nyaman dengan keramaian. Hal yang harus segera dia biasakan jika ingin terus melanjutkan perjalannnya.


Ini baru satu hari lebih dan Arya sudah mengalami kejadian yang tidak dia duga sepanjang waktu setelah dia meninggalkan pegunungan Obskura bersama Rewanda dan Krama.


Arya di antarkan ke salah satu Vila yang ada di kompleks Vila milik Tarim Saka untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Beberapa pelayan tampak berusaha memberikan pelayanan terbaik mereka.


Mengingat bagaimana cara ketua mereka memperlakukan Arya, mereka takut jika berbuat sedikit kesalahan saja akan menimbulkan murka Tarim Saka.


Setelah melewati halaman yang cukup luas, Arya telah berada di depan Vila itu. " Aku rasa, aku bisa kalian tinggalkan sendiri dari sekarang! " kata Arya pada enam pelayan wanita yang diperintahkan oleh Tarim Saka untuk membantunya.


Salah satu pelayan wanita menjawab " Baik, Tuan. Anda bisa memanggil kami jika anda membutuhkan sesuatu. Jamuan makan malam akan di mulai sekitar satu jam lagi. " kemudian dia menunduk diikuti lima orang lainnya sebelum berbalik pergi.


Setelah semua pelayan itu menghilang dari sana, Arya menarik nafas lega. Kini dia hanya ditemani oleh Krama dan Rewanda.


Arya berjalan si ikuti Rewanda dan Krama kesamping bangunan Vila tersebut. Arya melirik ke seluruh wilayah memastikan sesuatu " Sekarang aku rasa sudah tidak apa-apa " katanya pada Krama dan Rewanda.


Keduanya langsung berubah ke wujud aslinya.


Arya membuat sebuah lingkaran di udara dan mengelurkan beberapa benda dari sana. Banyak buah dan daging yang dia simpan disana yang rencananya akan di jadikan bekal perjalanan mereka.


Rewanda dan Krama langsung menyantap buah dan daging tersebut. Arya juga ingin ikut makan beberapa buah. Namun, gerakannya terhenti saat sebuah suara mengejutkan mereka.


" Bruukk! "


Ketiganya menoleh kebelakang. Beberapa meter di ujung vila tersebut, tubuh seseorang barusaja terjatuh tergeletak di lantai tak sadarkan diri.


" Ah, kita ketahuan! " keluh Arya lemah.