ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Master


"Aku sudah menghilangkan seluruh racun di tubuhmu, dan aku juga sudah membuka segel yang ada di jantung. Tentu saja, kau sudah sembuh!"


Edward menatap pada Arya yang ternyata sudah kembali duduk di seberangnya. Matanya melebar dan mulut nya ternganga tak kalah lebarnya.


Di kepalanya, sedang memikirkan kata-kata yang pantas untuk diucapkannya pada Arya. Saat dia berfikir sangat keras, Arya kembali bersuara.


"Bagaimana? Apakah sekarang, kau merasa jauh lebih baik?"


Kini, Tidak ada keraguan sedikitpun baginya atas kata-kata Arya. Merasakan racun yang berada ditubuhnya  yang sudah menghilang, Itu membuat hatinya sangat senang.


"Tuan Muda. Aku berjanji akan memberikan hadiah yang sangat besar atas ini semua. Terimakasih!" Kata Edward sambil sedikit membungkukkan kepalanya.


"Sekarang, cuma itu yang bisa aku lakukan. Untuk memperbaiki seluruh titik cakramu, itu memerlukan sedikit waktu.!"


Saat Arya mengatakan sekali lagi bahwa dia bisa memperbaiki titik-titik cakranya yang telah rusak, itu membuat Edward bahagia tidak terkira.


"Berapa lama waktu yang dibutuhkan?!" tanya Edward tak sabar.


"Hmm... Tidak lama. Mungkin beberapa hari" Jawab Arya "Cuma aku ada satu syarat!"


Wajah Edward yang tadi terlihat sangat bahagia, kini menjadi sedikit datar. "Syarat?"


Arya mengangguk. "Ya. Jika kau mau memenuhi syarat itu, maka aku akan memperbaiki seluruh titik cakramu agar kau bisa kembali menggunakan kekuatanmu!"


Sempat berfikir sebentar, lalu Edward tersenyum. Apapun syaratnya, akan dia penuhi. Bahkan jika pemuda itu meminta seluruh harta yang ada di penyimpanan Oldenbar saat ini.


Karena baginya, jika dia bisa mendapatkan kekuatannya kembali, maka di masa depan dia akan bisa mengumpulkan harta tersebut bahkan bisa jauh lebih banyak lagi.


"Katakan, padaku. Apa syaratnya?" Tanya Edward, yakin.


"Syaratnya cukup mudah. Kau harus berjanji untuk merahasiakan kemampuanku. Itu saja!"


Mata Edwward terbelalak. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa syarat yang diajukan Arya, begitu mudahnya.


Tidak hanya dirinya saja. Bahkan seluruh petinggi Oldenbar yang mendengar itu, juga terkejut tak kalah hebat nya.


"Cuma itu...?" tanya Edward, ragu. Dia masih tidak percaya bahwa cuma itu syarat yang di ajukan Arya.


"Ya, cuma itu. Dan kau tidak perlu memberiku apa-apa untuk mengeluarkan racun dari tubuhmu. Anggap saja itu ucapan terimakasihku, karna telah mengundang kami untuk makan, siang ini. Bagaimana?!"


Sekarang penilaian Edward pada mereka sungguh sudah sangat berubah. Baginya tidak mungkin orang dengan kemampuan tingkat tinggi seperti itu, berasal dari latar belakang yang sederhana.


Terlihat jelas bahwa pemuda ini lebih mementingkan kerahasiaan atas ilmunya di bandingkan dengan harta yang banyak yang belum sempat ditawarka Edward.


Jika difikirkan kembali, siapapun yang memiliki ilmu pengobatan setinggi itu, tentu saja bisa mengumpulkan harta yang sangat banyak.


Buktinya saja, Edward sendiri rela menghabiskan seluruh harta Oldenbar di pegunungan ini, jika memang itu syarat yang di ajukan pemuda tersebut. Tapi, ternyata Arya sepertinya sama sekali tidak berminat.


"Tuan Edward. Apakah begitu sulit bagi kami untuk mempercayaimu?!"


Tidak menyia-nyiakan situasi, Luna memberikan tekanan lainnya pada Edward. Baginya, ini saatnya untuk menghilangkan keraguan Edward pada mereka.


Sadar dari lamunannya. Edward langsung bereaksi. "Tidak! Bukan itu... Hanya saja... Aku tidak menyangka bahwa syaratnya begitu mudah!"


"Tuan Edward, Percayalah! Jika kau berniat membayar Tuan Muda kami dengan hartamu, bahkan jika kau berniat memberikan seluruh gunung beserta isinya yang kini kalian miliki ini, itu tidak berarti apa-apa baginya."


"Atau, mungkin saja kau punya hal lain yang lebih berharga selain kepercayaan kami pada dirimu?!" Tambah Ciel.


Tanpa fikir panjang Edward langsung menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak! Tentu saja tidak ada yang aku miliki selain kepercayaan. Aku akan menjaga rahasia ini bahkan jika aku mati sekalipun, Aku bersumpah, demi ibuku!!"


Keempatnya mengangguk. Namun, sepertinya tidak menunjukkan kepuasan sedikitpun. Itu membuat Edward ragu. Padahal kali ini, dia benar-benar berniat menyimpan rahasia besar ini sepenuh hati.


"Ada apa? Apakah sekarang kalian meragukanku?"


"Tidak! Kami bisa melihat kesungguhanmu. Tapi, bagaimana dengan mereka?" dengan memajukan sedikit dagunya, Ciel menunjuk bawahan Edward dengan angkuh.


"Ya. Siapa yang menjamin bahwa mereka akan merahasiakan ini?!"


Saking hanyut dengan kebahagiaannya, Edward melupakan tujuh orang bawahannya yang masih berada di sana.


Dia menatap Kenneth dan yang lainnya dengan tatapan yang sangat dingin. "Apakah ada dari kalian yang berniat membocorkan rahasia ini?!"


Seketika mereka langsung menggeleng. Baik Kenneth ataupun yang lainnya sangat menyadari bagaimana kuatnya Edward.


"Tentu saja kami tidak akan membocorkannya. Kami tau konsekuensi apa yang harus kami terima jika kami melanggarnya." Jawab Kenneth cepat.


Edward kembali menatap Keempat orang itu. Namun, wajahnya berubah penuh harap. "Apakah itu, cukup?!"


Arya mengangguk. "Karena kami mempercayaimu, aku rasa soal mereka kami juga mempercayakannya padamu!"


Senyum lebar merekah di wajah Edward yang kini jauh lebih cerah dari sebelumnya. Terlebih sekarang tidak ada racun yang membuat dirinya menahan sakit setiap detiknya.


Dengan mengesampingkan seluruh harga dirinya. Edward langsung berjalan dan mendekat pada Arya.


Saat sudah bersada sekitar tiga langkah darinya, pemimpin Oldenbar itu langsung menungkupkan tangan di dadanya dan segera membungkuk, dalam.


"Master...!"


Kejadian itu membuat semua petinggi Oldenbar membelalakan matanya sekali lagi. Itu adalah penghormatan tertinggi bagi seseorang dari Benua Barat untuk orang yang sangat dimuliakan.


Bahkan, Edward tidak pernah membungkuk seperti itu pada raja atau pemimpin negara manapun yang pernah dikunjunginya.


Sekarang, semuanya menyadari betapa tinggi nya nilai pemuda tersebut di mata pemimpin mereka saat ini.


Dengan tanpa sadar, mereka juga ikut membungkuk untuk memberikan penghormatan yang sama.


Jika mereka fikir ulang kembali, tidak ada ruginya untuk memberikan penghormatan. Mungkin saja, dimasa depan kehadiran Arya bisa memberi manfaat lebih daripada hanya sekedar mengobati pemimpin mereka.


"Tuan Edward. Tidak perlu berlebihan begitu. Kau membuat Tuan Muda kami, Sedikit tidak nyaman!" Ucap Ciel mengingatkan.


Edward menggeleng.


"Master!Terimakasih telah mau membuang waktu Master yang sangat berharga untuk menyembuhkanku. Aku benar-benar berhutang sangat besar, padamu! Suatu hari jika kau membutuhkan sesuatu, katakan saja padaku. Aku bersumpah akan menggunakan seluruh kekuatanku untuk memenuhinya!"


"Hmm... Baiklah! Mungkin dimasa depan aku akan membutuhkan itu. Sekarang bangunlah. Bukankah kau ingin tau bagaimana cara aku memperbaiki seluruh titik cakramu?."


Karena merasa penghormatan yang dia berikan telah diterima, Edward langsung berdiri.


"Apa yang dibutuhkan untuk memperbaiki seluruh cakraku?"


Arya menggeleng. "Aku tidak butuh apapun. Kau hanya perlu datang dan menginap beberapa hari di Vila tempat di mana kami sekarang menginap. Itu saja."


Lagi-lagi diluar apa yang di duga oleh Edward. Namun, sekarang dia tidak begitu terkejut. Karna dia sudah merasakan sendiri teknik pengobatan Arya yang memang sangat asing itu.


Akan tetapi, sekarang dia memiliki gagasan lain soal tempat tinggal keempatnya.


"Master. Soal itu, aku akan membuatnya jauh lebih mudah!"


Setelah mengatakan itu, Edward langsung berbalik. "Kenneth, panggil Angus dan semua orang masuk kesini,  sekarang.!" perintahnya.


Hanya butuh beberapa menit untuk mengumpulkan seluruh anggota Oldenbar yang tadi keluar, untuk kembali kedalam.


Namun sekarang, mereka. Menyadari situasi sudah sangat berubah. Saat mereka berjalan masuk tadi, mereka melihat pemimpin mereka sedang berbicara dengan pemuda itu.


Pemandangan itu sungguh tidak wajar. karena pemimpin yang mereka ketahui sangat kejam itu, tampak sangat menghormati pemuda tersebut.


Namun, rasa penasaran mereka itu tidak akan bertahan lama. Karena, sesaat lagi mereka. Akan mendengar hal yang lebih mengejutkan.


Saat semua anggota Oldenbar sudah berbaris rapi di Aula yang sangat besar itu, Edward yang berdiri di ujung dengan Arya yang didampingi oleh ketiga gadis itu di sampingnya, bersuara.


"Dengarkan baik-baik!" Ucap Edward memulai sebuah pengumuman.


"Mulai hari ini, Master Arya dan pengawalnya, akan tinggal di sini. Hormati dia sebagaimana kalian menghormatiku." Ucap Edward Tegas.


"Ingat! Jika kalian membuat sedikit saja masalah dengannya atau para pengikutnya. Bahkan peliharaannya. Maka, aku sendiri yang akan memenggal kepala kalian."


Setelah itu Edward menatap Drey yang tampak sangat tidak senang dengan pengumuman yang sangat mengejutkan itu.


"Terutama kau, Drey! Jika kau membuat sedikit saja mengusik atau membuat salah satu dari mereka tidak nyaman, Maka, tidak cukup hanya dirimu saja. Aku akan memburu seluruh keluargamu yang ada di negara kita.!"


Edward sengaja memberi ancaman yang lebih berat pada Drey karena terlihat jelas dari sorot matanya, lelaki itu menyimpan dendam pada Arya dan pengikutnya.


"Kalian Mengerti...!!"


"SIAP... PEMIMPIN...!!" Teriakan para petinggi Oldenbar, menggema di aula tersebut.