
"BOOOOOMMM ... !"
Sama dengan apa yang dia lakukan pada Arya beberapa waktu yang lalu, Kelang juga mendapatkan pukulan di punggungnya dengan sangat telak.
Bedanya, Arya tidak membuat tubuh Kelang melambung ke udara. Namun kembali terpental ke arah yang berlawanan. Akibatnya ternyata lebih parah. Saat itu Kelang merasakan beberapa tulangnya retak dan organ dalam tubuh nya berpindah tempat.
Kelang kembali harus membentur beberapa pohon sebelum akhirnya berhenti dan terjengkang di tanah.
Pukulan itu cukup memberinya luka dalam tapi tidak parah. Tentu saja itu tidak bisa membunuhnya. Segera Kelang berdiri dan mengantisipasi serangan dari Arya berikutnya.
Saat dia berbalik dan melihat Arya, tiba-tiba keningnya berkerut. Kelang pernah menahan dan merasakan bagaimana kuatnya pukulan Natungga beberapa tahun lalu. Membayangkan jurus yang sama di pakai oleh pemuda gila yang kini ada didepannya itu, tentu saja akan menjadi sangat berbahaya.
Meski rasa sakitnya tidak jauh berbeda dari apa yang dia perkirakan sebelumnya. Akan tetapi ada yang berbeda. Kelang kembali mengingat untuk memastikan, tak lama dia yakin bahwa ini memang jauh berbeda.
"Kau ... Menipuku!?" Kelang berseru.
Sangat jelas Arya meneriakkan tinju api. Tapi pemuda itu tidak memukul dengan cara yang sama dengan cara Natungga.
Kuda-kuda, kepalan dan fokus ledakan pukulannya jauh berbeda. Apalagi saat ini Arya masih dalam posisi kuda-kuda yang bisa membuat Kelang bertambah yakin.
"Itu bukan jurus tinju api!" tambahnya tak terima.
Kata-kata Kelang membuat Arya tersentak. Wajahnya menjadi sedikit canggung.
"Oh, soal itu ... Aku ... Sebenarnya, aku tidak tau cara melakukannya. Aku hanya pernah mendengarkan sekali saja saat Ayahku meneriakkan jurus itu." jelas Arya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Arya memang tidak melihat Natungga menggunakan jurus itu sebelumnya. Hanya saja saat Kudra dan Wiratama menyerang mereka, Arya mendengar Ayahnya meneriakkan nama jurus tersebut.
Entah kenapa beberapa saat sebelum memukul Kelang, Arya teringat akan hal itu. Secara tidak sadar dia langsung meneriakkannya.
Jawaban Arya yang tidak diduganya itu membuat Kelang bertambah kesal. Entah kenapa luka yang dia terima menjadi semakin sakit setelahnya.
"K-kau ... " kelang tampak memikirkan kata-kata yang ingin di ucapkannya. "Natungga adalah seorang pendekar terhormat ... Dia tidak akan curang saat bertarung. Dan kau ... Kau Baru saja membohongiku." Ucap Kelang, geram.
Entah apa yang ada di kepala pendekar sesat yang sudah sepuh itu, saat mengatakan hal tersebut. Namun, saat menyadari bahwa dia baru saja telah tertipu oleh seseorang yang mengaku putra Natungga, hatinya tidak bisa menerimanya.
Kelang tidak percaya akan ada pertarungan antara hidup dan mati, dimana seseorang menipunya dengan meneriakkan sebuah jurus yang sama sekali tidak dikuasainya.
Arya sendiri juga cukup terkejut dengan pengakuan yang dilontarkan Kelang. Tiba-tiba ada kebanggan di hatinya.
"Jika kau bisa mengatakan bahwa Ayahku adalah pendekar terhormat, maka aku cukup yakin bahwa Ayahku, Natungga adalah pendekar yang sangat hebat."
Arya mengatakannya dengan nada bangga. Namun sesaat kemudian tatapannya berubah.
"Terima kasih telah mengakuinya. Tapi sayang sekali, saat ini, yang kau hadapi bukanlah Natungga, Ayahku. Dan jelas aku tidak sehebat dirinya. Tapi, untuk menghormatinya ... "
Arya menggantung kata-katanya. Tampak memikirkan apa yang akan dikatakan berikutnya. Namun, seketika kepalanya menggeleng. "Ah, sudah. Lupakan saja. Sekarang majulah dengan seluruh kekuatanmu!"
Arya sebenarnya ingin mengatakan karena kelang telah menyebut Ayahnya pendekar terhormat, dia tetap akan membunuh Kelang. Tapi dengan cara yang tidak terlalu menyakitkan.
Masalahnya, sakit atau tidaknya sebuah kematian, tentu saja tidak ada yang pernah mengalami dan duduk untuk menceritakan pengalamannya itu.
"Sial, seharusnya sejak awal. Aku menggunakan seluruh kekuatanku. Bocah ini benar-benar berbahaya." Umpat Kelang dalam gumamnya.
Jelas sejak awal dialah yang salah perhitungan karena tidak langsung menggunakan kesempatan yang ada untuk membunuh Arya. Sekarang, saat melihat pemuda itu baik-baik saja, muncul sesal di hatinya.
Kelang mengirup nafas dalam. Kali ini dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Kelang mengerahkan semua tenaga dalam ke seluruh tubuhnya. Bahkan saat ini, pedangnya turut dialiri tenaga dalam yang sama besarnya.
"Aku kan membunuhmu, di sini ... "
Kelang langsung menghilang ditempat di berdiri dan melesat dengan cepat ke arah Arya. Sementara itu, di arah yang berlawanan dengan waktu yang bersamaan, Arya juga melesat ke arahnya dengan kecepatan yang hampir sama
Sesaat kemudian benturan pertama terjadi. Kelang langsung melibas kan pedangnya saat Arya sudah berada dalam jangkauannya.
Sebuah pohon besar baru saja tumbang karena terbelah oleh udara yang di gerakkan oleh tebasan pedangnya itu.
Dan hal tersebut terjadi berkali-kali. Hingga membuat puluhan pohon bertumbangan dalam waktu yang relatif singkat.
Arya juga memberi serangan balasan dalam jumlah yang hampir sama. Namun Kelang selau berhasil menghindarinya.
Pertarungan dengan pertukaran jurus pukulan dan pedang itu terjadi beberapa lama. Saling serang, mengelak dan bertahan dengan mengerahkan tenaga yang sangat besar, di waktu yang bersamaan, membuat hutan itu luluh lantah.
Lama mereka bertarung seperti itu. Dan beberapa saat kemudian, Kelang menyadari sesuatu. Meski Arya sangat kuat, Namun pengalaman bertarungnya masih sangat sedikit. Kelang cukup yakin bahwa dirinyalah musuh kuat pertama yang di hadapi Arya.
Meski Kelang tau bahwa mengalahkan pemuda dengan naluri membunuh yang sangat besar, yang kini sedang di hadapinya itu, tidak akan mudah. Namun, Pengalaman bertarungnya membawanya pada level tertentu.
Semakin lama, Kelang melihat banyak celah yang di tunjukkan Arya. Kelang sengaja mengulur waktu sebelum akhirnya memanfaatkan kesempatan itu dengan baik.
"Sreeet...!"
Sebuah sebatan dari pedang Kelang, berhasil melukai dada Arya. Membuatnya mundur sedikit saat kelang hendak menusuknya. Namun, Kelang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu sama sekali.
Dengan mengubah pola serangannya secara mendadak. Kelang mempercepat gerakannya dan melibas kan pedang ke Arya dengan sangat cepat.
Arya merasakan perubahan pola serangan Kelang itu. Saat dia mencoba menghindarinya, sayang sekali kelang tidak memberinya kesempatan sama sekali.
Beberapa luka sayatan sudah di banyak bagian tubuhnya. Saat dia mencoba mundur, dia mendapati Kelang sudah tidak berada di depannya.
Mata Arya melebar saat instingnya mengatakan bahwa Kelang berada di belakangnya. Terlambat untuk bereaksi, Tiga luka sayatan panjang di berikan kelang dipunggung Arya.
Seperti dugaan Kelang, ini memang pertama kalinya bagi Arya menghadapi seseorang dengan kekuatan seperti Kelang. Namun, ada satu yang tidak di sadari Kelang. Kenyataan Arya adalah orang yang sangat cepat belajar.
Kelang kembali ingin memberikan serangan bertubi-tubi sekali lagi. Dia langsung tercengang. Arya sudah bisa membaca pola serangannya itu.
Sebenarnya ini tidaklah sepenuhnya kerja otak Arya. Tapi, tubuh Arya akan beradaptasi dengan sangat cepat untuk menghindari bahaya. Sementara otaknya akan menyusul untuk menggambarkan ulang serangan lawannya.
Jadi, pada titik ini, seseorang perlu memiliki jurus serangan hebat yang sangat banyak untuk menghadapi Arya. Dan tidak hanya itu saja. Orang itu harus memiliki kecepatan tinggi dan tentu saja kekuatan yang besar.
Tidak sulit bagi Kelang menyadarinya. Kelang sudah bertarung ribuan kali. Hal itu tidak akan membuatnya putus asa. Kelang terus merubah serangannya yang membuat dia kembali berhasil memberikan luka pada Arya.
Sampai saat ini, Kelang belum merasakan serangan balasan apapun dari Arya. Itu membuatnya berfikir bahwa Arya tidak bisa atau tidak terbiasa menghadapi seorang pendekar pedang.
Kelang kembali merasa di atas angin. Menurutnya, saat ini dia harus menghabisi Arya secepat mungkin. Meski tenaga dalamnya saat ini sangat besar, bertarung dengan waktu lama tentu akan sangat merugikan.
Apalagi jenis musuh yang kini dia hadapi adalah musuh yang tidak bisa di ukur kekuatannya. Kelang kembali mengganti pola serangannya.
Kali ini tenaga dalam yang dialirkan pada pedangnya semakin besar dan Kecepatan yang dia tunjukkan juga semakin tinggi. Kelang yakin Arya akan segera terpojok beberapa waktu lagi, dan dia akan langsung menghabisinya saat itu juga
Tapi, keputusasaan datang tidak selalu dari serangan balasan. Saat terus memberikan Arya serangan yang cepat dan kuat itu, sekilas Dia melihat wajah Arya.
Dengan banyaknya luka sayatan yang dia berikan, Bukan kepanikan yang Kelang lihat di wajah pemuda tersebut. Melainkan sesuatu yang tak mungkin bisa dia mengerti.
Ketua Sekte Lembah Hantu itu, melihat pemuda tersebut sangat menikmati pertarungan ini. Kelang melihat dengan jelas bahwa Arya sedang, tersenyum.
"Ting...!"
Kelang terperangah. Tiba-tiba pedangnya sudah tidak bisa ia gerakkan lagi. Arya dengan sebelah tangannya berhasil menangkap pedangnya.
Saat Kelang mencoba menariknya kembali, ternyata itu tidak mudah. Jantungnya tiba-tiba menendang rongga dadanya lebih keras.
Matanya melebar saat hanya selangkah di depannya, pemuda itu menyeringai tajam padanya.
"Hehe ... Giliranku!"