ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Baiklah, Mari kita lakukan!


"Arya, apa kau mengingat apa yang dilakukan oleh pendekar-pendekar dari kekaisaran Yang pada tubuh Bai Hua?"


Arya mengangguk. "Ya, itu pertama kalinya aku melihat seluruh titik-titik cakra manusia hancur."


Karena menurutnya, Arya mungkin tidak akan sepenuhnya mengerti apa yang telah menimpa wanita-wanita itu, Luna mengingatkannya.


"Arya, Bai Hua tidak hanya merasakan sakit ditubuhnya. Bahkan itu belum seberapa."


Ketika membicarakannya, mereka sedang berjalan mendekat ke pintu gerbang benteng tersebut. Saat itu, Arya melihat wajah Bai Hua di penuhi amarah.


"Belum seberapa? Luna, apa maksudmu."


Tidak langsung menjawabnya, Luna membuat Arya sedikit tersentak. Saat itu, kakak Ciel itu, meletakkan telapak tangannya di dada Arya.


"Disini ... Bai Hua merasakan rasa sakit yang jauh lebih sakit di sini, di hatinya. Apa kau mengerti maksudnya?"


Arya tertegun. Dia pernah merasakan sakit di sana. Meski tidak luka, namun rasa sakit itu sungguh luar biasa.


Hal Itu dia rasakan saat dimana Arya melihat seluruh anggita keluarganya, mati untuk menyelamatkannya. Sakit yang benar-benar luar biasa.


Saking sakitnya, rasa itulah yang memicu energi yang ada di dalam tubuhnya hingga menyebabkan ledakan terbesar yang memicu perubahan besar di Daratan Timur itu.


Arya menggenggam tangan Luna yang ada di dadanya itu. "Luna, percayalah. Aku sangat mengerti rasa sakitnya."


Luna mengangguk. "Bagus, berarti kau tau bagaimana cara menyelamatkan hidup wanita-wanita itu."


Arya mengangguk. "Ya, aku tau apa yang harus aku lakukan."


Mereka sampai di gerbang. Di sebalik pintu yang di buat dengan tiang-tiang logam keras berdiri tersusun Rapat itu, mereka melihat dua penjaga, sedang bersiaga.


Bekum sempat mereka berhenti. Salah satu dari prajurit itu langsung bertanya.


"Hei, siapa kalian. Kenapa kalian kesini? Ini bukan tempat yang bisa kalian kunjungi begitu saja."


"Oh, Tuan penjaga. Kami datang kesini karena beberapa prajurit perwira di kota Pinang Merah, mengatakan pada kami, bahwa kalian di sini perlu sedikit hiburan."


Saat mendengar Ciel menjawab dengan nada yang di buat-buat itu, kedua penjaga gerbang saling berhadapan. Tak lama, keduanya menggeleng seolah tak mengerti.


Ciel yang menyadarinya, langsung kembali bersuara. "Setelah mereka bermain dengan kami, mereka menunjukkan benteng ini. Apakah kalian belum mengerti juga?"


Saat itu juga mereka langsung tersenyum. Keduanya menoleh dan memperhatikan keempat gadis yang berdiri di sebalik gerbang itu.


"Oh, jadi mereka mengirim kalian kesini?"


Keduanya langsung mengerti apa yang dimaksud oleh gadis asing dari Benua Barat itu. Apalagi, saat mereka melihat masih ada satu lainnya, juga ada gadis dari Benua Timur dan gadis setempat. Dimana, mereka semua terlihat sangat cantik.


"Begitulah, apakah kalian akan membukakan gerbang ini untuk kami, atau kami harus sedikit memaksa dan menerobosnya?" Tambah Ciel, masih dengan nanda yang di buat-buat.


Keduanya langsung menggeleng.


"Tidak, tidak perlu. Kami akan membukakannya." Jawab salah satunya cepat.


Keduanya langsung membuka gerbang itu dan mempersilahkan keempatnya masuk.


"Terimakasih,"


Saat mereka melewatinya, empat prajurit lain keluar dari bangunan kecil di dekat sana. Sepertinya, mereka mendengar derit suara logam bergesel dari engsel pintu gerbang itu.


"Hei, apa yang kalian lakukan. Kenapa kalian membuka gerbangnya?"


Saat itu, Ciel dan yang lainnya menghentukan langkah. Saat Ciel ingin menjawab, salah satu dari kedua penjaga itu, lebih dahulu bersuara


"Senpai, gadis-gadis cantik ini, dikirim oleh para perwira, untuk menghibur kita." Jawabnya bersemangat.


Melihat para gadis cantik di depan mereka, dan mendengar oejelasan prajurit yang berjaga. Tatapan mereka langsung berubah.


"Benarkah? Kalau begitu, cepat bawa mereka kesini!"


"Baiklah—"


Saat prajurit itu akan menyuruh gadis-gadis tersebut untuk berjalan ke tempat Senpai mereka. Seseorang dari mereka langsung menyela.


"Sebentar! ... Jangan di bawa kesini."


"Hei, kenapa kau melarangnya? Kau tidak dengar, Mereka hanya datang untuk menghibur. Lagipula, mereka tampak tidak berbahaya."


"Ya, pemuda itu bahkan tidak memiliki tenaga dalam di cakranya."


Prajurit yang tadi menyela hanya menggelengkan kepalanya. "Maksudku, bukan begitu."


"Jadi, katakan maksudmu. Apakah kau ingin memilih lebih dahulu? Aku rasa, itu tidak perlu. Mereka semua sangat cantik. Aku tidak keberatan yang mana saja."


Kali ini giliran dia bicara, temannya memotong.


"Aku ingin gadis Benua Timur itu. Aku selalu menyukai mereka. Hahahhaha"


"Hahahahaha, sudah kubilang, aku tidak masalah yang mana saja."


"Teman, maksudku. Lihat mereka. Mereka tentu di kirim untuk para perwira. Bahkan, aku rasa mereka semua di sini untuk menghibur panglima."


Saat temannya selesai menjelaskan, tawa mereka langsung memudar. Saat itu, mereka menyadari kata-kata temannya itu, tentu ada benarnya.


"Hei, apa yang kalian katakan. Kami bisa bermain dengan kalian terlebih dahulu. Para petinggi dan pemimpin kalian itu, tentu bisa menunggu, bukan?"


Kata-kata Luna, membuat mereka berfikir ulang. Para prajurit itu merasa apa yang dikatakan gadis itu, terasa masuk akal. Akan tetapi, mereka tampak ragu.


Meski itu ada benarnya, akan sangat berbahaya jika mereka ketahuan.


"Nona, sebaiknya kalian masuk terlebih dahulu. Saat sudah selesai, maka kami akan menunggu kalian di sini, bagaimana?"


Luna mendekat sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak. Aku tidak akan membiarkan kalian menunggu. Kami takut, itu akan terlalu lama."


"Tenang, saja. Kalian tidak akan ketahuan jika kalian tidak mengeluarkan suara. Bagaimana?" Tambah Ciel.


Mata keempatnya langsung melebar. Tentu saja itu ada benarnya. Mereka tidak akan ketahuan, jika tidak bersuara.


"Nona, ini sedikit berbahaya. Tapi ... "


"Tapi apa?"


"Kami menyukainya ... "


"Hahahahhaa ... "


"Hahahhaha ... "


"Hahahhaha ... "


"Baik ... baik jika begitu, ayo kita lakukan."


Kata-kata Luna membuat mereka sedikit terperangah.


"Nona, maksudmu di sini? "


Luna mengangguk. "Ya, apa kalian malu?"


Keempatnya saling berhadapan, lalu tersenyum bersamaan dan mengangguk cepat, juga bersamaan.


"Berbaris lah, tutup mata dan buka celana kalian. Kami akan melakukannya dengan cepat. Ingat ... Jangan bersuara, mengerti?" Perintah Ciel.


"Baik, kami mengerti."


"Sebentar! ... Bagaimana dengan kami?" Seru salah satu dari dua penjaga gerbang, bertanya.


"Ikutlah berbaris, dan itu kenapa kami menyuruh kalian menutup mata, apakah kalian tidak mengerti maksud permainannya?"


"Kami mengerti" Jawab keduanya serentak dan langsung ikut berbaris


Saat itu mereka langsung membuka pakaian bawah mereka, lalu menutup mata.


Mata Citra Ayu sempat terbelalak, saat melihat semua ekor prajurit itu berdiri.


Untuk itu hanya sebentar sebelum akhirnya apa yang mereka lihat itu langsung berpindah dari tempatnya.


"Langkah seribu bintang ... !"


Bai Hua melesat melewati enam orang itu dan langsung mengebiri mereka saat itu juga.


Sadar ada yang salah, semua prajurit itu sontak membuka mata. Ketika mereka melihat ekor mereka sudah tak ada pada tempatnya, saat itu juga mereka merasakan merasakan rasa sakit luar biasa, mulai menjalar dari sana hingga ke otak mereka.


Belum sempat mereka berteriak, Citra Ayu langsung mengangkat tangan. Saat itu juga tanah di bawah mereka merenggang berbentuk lobang, hingga membuat ke enamnya jatuh dan masuk kedalamnya.


"Penjara ... Bumi."


Saat itu juga, tanah itu kembali tertutup dan mengubur mereka hidup-hidup.


"Huh, sudah aku peringatkan agar tidak bersuara, bukan? Kenapa kalian tak mendengarnya." Ucap Luna, ketus.


"Baiklah, mari kita lakukan ... !"