ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Penculikan


Dua hari setelah itu, ada sebuah kejadian yang sangat menggemparkan kota Basaka dan sebagian besar Daratan Timur.


Di istana, Darmuraji dan Rantoba tidak menyangka hal ini akan terjadi. Ki Kelang, ketua Sekta Tanah Hitam, mengkhianati mereka.


Tiba-tiba saja ribuan pendekar dari Setek tanah hitam yang dipimpin langsung olehnya, Menculik seseorang yang sangat penting bagi siapa saja saat ini.


Dengan kekuatan penuhnya, Sekte Tanah Hitam mendatangi pusat kota. Tujuan mereka bukan ingin menyerang istana. Melainkan gedung tempat di mana Arya berada.


Dengan tidak kurang dari sepuluh ribu anggotanya, Ki Kelang berhasil mengepung dan menangkap Arya. Setelah itu seluruh anggota Sekte itu termasuk ribuan penjaga yang sejatinya juga berasal dari sekte mereka, langsung pergi meninggalkan Basaka.


"Sial...!"


Darmuraji berteriak murka. Dia tidak menyangka bahwa Kelang akan berbalik mengkhianatinya.


Di istana, seluruh prajurit yang tersisa sudah siap untuk mengejar. Namun, Rantoba berusaha menghentikannya.


"Paduka. Kita tidak bisa bertindak gegabah. Kelang dan seluruh Sektenya, berhasil membawa orang yang memiliki Bahuraksa. Bisa saja dengan ketidaktahuan mereka, secara tidak sengaja mereka membunuhnya.!"


Darmuraji mengusap-usap wajah dengan kedua tangannya, kasar. Tidak bisa menerima fakta bahwa dia tidak memikirkan kemungkinan ini, sebelumnya.


"Rantoba ... Apa yang diinginkan oleh si bodoh itu, sebenarnya?!"


Jika difikirkan kembali, sejak awal ini memang lah sebuah kesalahan. Membawa sebuah Sekte yang sudah lama terkenal akan kesesatannya, untuk bekerja sama. Namun, situasi dan kondisi saat itu, membuat keduanya sampai harus berbuat seperti ini.


Dengan tidak adanya Sekte Singa Emas, mereka harus mencari pengganti Sekte kuat lainnya yang mampu menjamin keamana serta bisa mengimbangi kekuatan Oldenbar dan kekuatan pihak-pihak lainnya, di Daratan ini.


"Paduka. Kelang pasti menginginkan Daratan ini menjadi milik mereka. Hanya saja, aku juga tidak percaya dia memakai cara bodoh seperti ini."


Keduanya memang sempat menjanjikan banyak hal pada Kelang, jika mau bekerja sama dengan mereka.


Mulai dari sumber daya energi untuk mengembakan sekte, misi-misi penting, sampai jaminan pekerjaan pada setiap anggota sekte sebagai penjaga kota-kota di Daratan timur.


Secara tidak langsung, Damuraji sudah memberikan kekuatan yang mampu membuat mereka memiliki kekuasaan yang hampir setara dengan kekuasaan Istana.


Bahkan Darmuraji membebaskan Kelang dan Sektenya mengambil alih wilayah dan menyerang sekte-sekte kecil yang biasanya menentang dan memusuhi mereka.


"Si bodoh itu, sama saja dengan semua penduduk daratan ini. Tidak mengerti apa yang mereka lakukan, Namun bermimpi untuk mendapatkan sesuatu yang tak bisa mereka kendalikan."


Rantoba tidak bisa menanggapi kata-kata Darmuraji itu. Bagaimanapun, sejak awal dia sudah melarangnya. Namun, Raja Basaka itu tetap memilih untuk bekerja sama dengan mereka.


"Beberapa tilik sandi baru saja memberi laporan bahwa, Kelang juga sedang mengumpulkan kekuatan di lembah Tonda. Tidak kurang dari lima perwakilan sekte besar dan puluhan sekte kecil dan menengah sudah dipastikan akan membantunya."


Kata-kata Rantoba membuat Darmuraji terdiam. Mengusir Sekte Singa Emas sepertinya adalah sebuah kesalahan yang sangat teramat besar.


"Apakah kita bisa menghubungi Sekte-sekte aliran putih?"


Rantoba mengangguk. "Aku sudah mengutus beberapa wakil untuk menemui ketua-ketua mereka. Butuh beberapa hari sebelum mereka sampai dan kembali membawa berita."


Darmuraji berfikir keras. Dari sudut manapun dia berfikir, Kelang sudah beberapa langkah di depan mereka. Jika dia menginginkan Daratan Timur, tentu saja itu bukan masalah. Tapi, Darmuraji harus memastikan dahulu Bahuraksa berada di tangannya.


"Panggil Darius. Siapkan Misi khusus untuk serikat petualang. Kita harus mendapatkan semua kekuatan mereka saat ini."


Rantoba lagi-lagi mengangguk. "Darius dalam perjalanan kesini. Hanya saja ... "


Darmuraji langsung menoleh pada Rantoba yang terlihat ragu menyelesaikan kalimatnya.


"Apa? ... Langsung saja katakan!"


"Bukankah sebaiknya kita mendatangi pusat kota. Bagaimanapun, mereka tidak mungkin akan diam begitu saja. Aku yakin mereka memiliki kekuatan yang akan bergerak dalam kondisi seperti ini."


"Baiklah. Aku akan menyuruh seseorang untuk mengatakan pada Darius agar menyusul kesana."


Saat itu juga mereka langsung bergerak menuju pusat kota.


"Paduka. Ada satu hal lagi, bagaimana dengan serikat Oldenbar? Mereka masih punya urusan dengan Master Arya. Sudah pasti mereka akan melakukan pergerakan. Apakah kita akan meminta bantuan mereka?."


Darmuraji berhenti melangkah. Kejadian ini begitu mengejutkannya, hingga banyak hal penting yang dia lupakan.


"Panggil perwakilan mereka. Katakan aku menunggunya di pusat kota.!"


"Baik ... !"


****


"Ki Darsapati, sebuah kehormatan akhirnya kami bisa bertemu langsung denganmu."


Lamo dan salu akhirnya turun langsung dan menemui Darsapati serta Kaungsaji di Ngarai. Karena saat itu, mereka juga sudah harus bergerak.


"Hahahaha! Ki Lamo dan Ki Salu, tidak perlu sungkan begitu. Siapa sangka kita akan bertemu saat kondisi Sekte Singa Emas seperti ini." Jawab Darsapati, "Jujur saja aku merasa tidak enak hati karena tidak bisa menjamu kalian dengan layak." Tambahnya.


Lamo dan Salu bertatapan. Sebelum akhirnya mereka kembali melihat sosok Darsapati dan Kaungsaji yang sudah sangat terkenal di Daratan Timur itu. Jujur saja sebenarnya mereka terkejut saat mendengar Sekte Singa Emas tumbang.


Tapi, saat mereka mengetahui bahwa serikat Oldenbar terlibat, mereka dapat memakluminya. Sebenarnya, keadaan mereka saat terlibat dengan Oldenbar jauh lebih buruk.


Hampir saja sekte dan seluruh penduduk yang dibawah perlindungan mereka, punah karena kebodohan mereka.


"Sungguh kami sama sekali tidak keberatan. Lagipula, kami juga sangat terkejut bahwa Tuan Muda Arya memiliki hubungan denga Sekte Singa Emas."


Darsapati menghela nafas panjang, lalu melepaskannya perlahan. Dalam beberapa detik wajahnya langsung berubah terlihat sangat tua.


"Jujur saja, aku sangat malu padanya. Sebagai orang yang dipercaya menjaga sekte ini, aku gagal tepat sebelum kemunculannya."


Lamo dan Salu mengernyit.


"Ki Darsa, kenapa kau harus malu. Kami memiliki nasib yang jauh lebih buruk daripada dirimu. Tapi, tenang saja Tuan Muda Arya sangat kuat. dia pasti akan membantu untuk mengembalikan Sekte Singa Emas padamu." Ucap salu meyakinkan.


"Justru itu. Sekte Ini sebenarnya adalah miliknya. Dia adalah pewaris sah Sekte Singa Emas ini. Dan aku adalah orang yang gagal menjaga sekte ini untuknya, dan sekarang, aku malah berbalik menyusahkannya."


Lamo dan Salu tersedak. Sebelumnya mereka berfikir Arya hanya ingin membantu karena kebetulan lewat di kota Gomba seperti apa yang tertulis di dalam surat.


Siapa yamg menyangka bahwa Arya yang baru beberapa waktu yang lalu menyelamatkan mereka, ternyata adalah pewaris Sekte yang dahulu terkenal paling kuat di Daratan timur.


"Ki Darsa, maaf. Aku tidak mengerti. Apakah kalian juga memiliki hubungan dengan Tarim Saka? Maksudku ... Ketua Saka dari Sekte Delapan Mata Angin atau yang dahulu di kenal sebagai Sekte Awan Senja?"


Tentu saja Lamo tidak bisa menahan diri untuk menanyakan ini. Karena Arya mengaku sebagai cucu dari Tarim Saka sebelumnya.


"Itu cerita yang sangat panjang. Aku rasa, aku tak berhak menceritakannya pada kalian, karena sejujurnya aku juga tidak tau seperti apa cerita pastinya."


Keduanya mengangguk. Tentu saja setiap sekte besar dengan sejarah panjang, memiliki rahasia yang tak kalah besarnya juga. Mereka memilih untuk mengalihkan topik. Bagaimanapun, mereka punya alasan lain kenapa mereka berada di sini, saat ini.


"Jadi, kapan kita akan bergerak ke pegunungan Singa Emas?"


"Jika, semua sesuai rencana, kita akan kesana saat Oldenbar mulai bergerak ke Basaka."


"Orang-orang itu, mereka berada di level yang berbeda dengan kita." Lamo menatap jauh kedepan. "Aku melihat masa depan yang cerah untuk Daratan Timur ini, sejak Tuan Muda Arya menunjukkan keberadaannya."


Salu mengangguk. "Ya. Tentu saja. Dan itu kenapa kita sekarang berada disini. Kita akan tunjukkan dukungan kita pada mereka. Sekuat yang kita bisa."