
Pekerja itu mengatakan Arya belum bisa menemuinya saat ini, karena di ruangannya Sekar sedang kedatangan tamu.
Arya memilih untuk menunggu di lantai bawah. Di tempat banyak pendekar dan para pemburu sedang duduk berkumpul.
Di sana, lagi-lagi Arya merasakan tatapan seolah beberapa orang sedang ingin memangsanya. Arya terlihat mengabaikannya. Akan tetapi, dia selaku siap jika sewaktu-waktu salah satu dari mereka tiba-tiba menyerangnya.
Tidak tau hal apa yang menyebabkan itu semua. Apakah semua pendekar dan pemburu memang memiliki tatapan seperti itu. Atau, entalah. Arya tidak terlalu memperdulikannya.
Butuh waktu sedikit lama bagi Arya menunggu dan akhirnya tamu Sekar keluar dari ruangannya dan langsung pergi meninggalkan penginapan itu.
Arya memperhatikan wajah orang itu keluar dengan senyuman puas. Tapi, tidak ada satupun dari pekerja di sana yang terlihat senang pada pria yang melewati mereka itu. Mereka hanya menunduk untuk menunjukkan rasa hormat dan tidak lebih dari itu.
Seorang wanita salah satu pekerja di penginapan milik Sekar itu, datang menghampiri Arya dan mengatakan bahwa Sekar memintanya untuk menunggu di lantai tiga dan dia akan segera menyusul ke sana.
Arya langsung menyetujui dan berjalan menuju lantai tiga. Untuk sampai di atas, Arya melewati ruangan yang di gunakan Sekar untuk menerima tamu.
Saat Arya menginjakkan kaki di tangga pertama, sekilas di melihat Sekar sedang mengenakan baju di ruangannya sesaat sebelum pintu tertutup rapat.
Bukan tubuh Sekar yang menarik minat Arya. Tapi, bekas luka yang memenuhi punggung wanita itu. beberapa luka itu terlihat cukup parah.
Tidak lama Arya menunggu, Sekar pun datang. Sekarang tampak jelas bagi Arya Selama ini Sekar berusaha tersenyum ramah di depannya.
" Tuan Muda. Anda membutuhkan sesuatu? " Tanya Sekar ramah.
Mata Arya sedikit melebar, Arya melihat ada bekas memar di wajah Sekar saat itu. Tapi, Sekar tampak berusaha menutupi nya dengan riasan tebal.
" Tuan Muda? "
Arya mengerjap sedikit setelah sadar dari lamunannya " Maaf, Nona Sekar. duduklah " tawar Arya.
" Baiklah Tuan Muda. "Sekar langsung duduk dengan wajah masih tersenyum " Jadi, apa yang bisa aku lakukan untuk anda? Apakah anda butuh informasi lagi? Atau ... malam ini anda butuh di temani? "
Arya menatap Sekar lekat. " Suara Nona bergetar " kata Arya.
Sekar memundurkan sedikit kepalanya karena sepertinya dia salah mendengar perkataan Arya, lalu memajukannya untuk memastikan " Maaf, Barusaja anda mengatakan apa? Mungkin saya salah mendengarnya "
" Suara Nona Sekar bergetar. Nona sebenarnya tidak menyukai ku. " jawab Arya.
" Tuan Muda. Kenapa anda bisa berkata begitu? Tentu saja saya menyukai anda. " Sekar membela diri " Anda membayar biaya penginapan jauh di atas tamu-tamu lainnya. Sebagai pemilik penginapan ini, Tidak ada alasan bagi saya membenci anda " jelas Sekar.
Arya tersenyum karna merasakan bahwa suara Sekar semakin bergetar. " Aku bisa merasakan getaran suara Nona " Jelas Arya " Dan penginapan ini bukan milik Nona atau setidaknya sekarang sudah tidak lagi "
Sekar melebarkan matanya. Tentu saja dia terkejut mendengar pemuda ini bisa mengetahui hal yang baru saja terjadi.
Sekar langsung menajamkan matanya " Tuan Muda. Aku tidak ingin menyinggungmu. Tapi, sepertinya kau bukan orang sembarangan. Karena sepertinya kau sudah banyak mengumpulkan informasi di sini, aku ingin tau. Apa kau juga dari Basaka? " Nada bicara Sekar langsung berubah. Tidak ada lagi senyum di wajahnya saat menanyakan itu.
Sebenarnya aku memang ingin informasi. Tapi sepertinya, sejak awal aku sudah menanyakan pada orang yang salah! " kata Arya " dan tidak. Aku tidak dari Basaka dan Nona juga bukan "
Arya bisa langsung menyimpulkan bahwa Sekar juga bukan dari Basaka karena sudah menanyakan hal tersebut padanya, tetnu saja itu menandakan Sekar tidak mengenal orang-orang dari Basaka.
" Jadi, siapa sebenarnya dirimu? " Nada Sekar kini semakin tajam.
" Panggil aku Arya " Arya memajukan tubuhnya sambil menatap tajam Sekar " Seharusnya dari awal. Aku mendapatkan informasi kota ini darimu bukan Bajra "
" Orang-orang di bawah adalah orang-orang suruhanmu bukan? Apa yang sebenarnya kalian rencanakan padaku? "
Sekar sepertinya tidak bisa mengelak lagi. Dia yakin bahwa Arya bukan orang yang seperti dia pikirkan sebelumnya.
" Jujur saja, sampai sekarang aku tidak tau apa yang akan kami lakukan padamu. Kami tidak tau kau berada di pihak siapa " Sekar tak mengelak lagi.
" Jadi karena itu kau menyuruh beberapa orang mengikutiku dan Hattala hari ini? Aku bisa menyimpulkan bahwa kau tidak berpihak pada Hattala ataupun Nurmageda "
Sekar semakin terkejut. Dia memang sengaja menyuruh beberapa orang mengikuti Arya dan Hattala saat keluar dari penginapan hari ini. Tapi, orang yang diutus Sekar beberapa waktu ini selalu sukses melakukan tugasnya.
Atau sebaliknya, pihak Nurmageda sebenarnya sudah lama tau keberadaan mereka dan memilih pura-pura tidak tau. Jika memang begitu, berarti semua usaha dan pengorbanannya selama ini sudah sia-sia.
Arya sendiri sebenarnya tidak terlalu peduli dengan orang yang mengikutinya dan Hattala hari ini. Sebelumnya dia berfikir orang itu mengikuti Hattala bukan dirinya. Karena Arya merasa tidak memiliki masalah apapun di kota ini.
Namun, Arya melihat dua orang itu berada di lantai bawah saat dia menunggu Sekar tadi. Arya menyimpulkan bahwa dirinyalah yang di ikuti orang-orang itu.
" Aku tidak tau apa maksudmu, tapi aku rasa kau akan menjadi masalah ke depan " Kata Sekar dengan mata yang sudah berubah waspada.
" Kau mungkin bisa melukaiku. Tapi, aku ingatkan. kau tidak bisa membunuhku! "
Arya bisa merasakan bahwa Sekar sedang menunggu kesempatan untuk menyerangnya. Naluri Arya dalam Hal ini sangat luar biasa.
Arya bisa merasakan jika seseorang atau sesuatu ingin menyerangnya. Dalam hal yang lebih besar lagi, Arya bisa merasakan orang itu berbahaya atau tidak bagi hidupnya. Dan Sekar sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk melakukan itu.
Sekar kembali dikejutkan oleh Arya. Dia benar-benar ingin menyerang Arya beberapa saat yang lalu. Namun kini Sekar sedikit ragu.
Arya melihat keraguan Sekar itu kemudiannberkata. " Jika kau tidak percaya, kau boleh mencobanya. Jangan ragu "tantang Arya.
Sekar benar kehabisan kata-kata. Bahkan keraguannya pun bisa di ketahui Arya dengan mudah. Sebelumnya Sekar meremehkan Arya karena pemuda ini tidak memiliki tenaga dalam.
Akan tetapi, dia melewatkan satu kemungkinan kecil bahwa ada sebagian pendekar yang memiliki level yang sudah sangat tinggi, mampu menekan pancaran tenaga dalamnya.
Dan kemungkinan kecil tersebut, kini menjadi kemungkinan besar di mata Sekar. Alih-alih menyerang, kini Sekar berbalik merasa terancam.
Sekar berpikir cepat. Dalam situasi tak terduga seperti ini, apa yang harus dia lakukan. Seharusnya dia menemui Arya di bawah saja. Di sana setidaknya ada tiga puluh pendekar yang akan bertarung bersamanya. Tapi, di sini. Sekarang semuanya seperti akan berakhir.
" Tuan Pendekar! Maaf kalau aku telah menyinggungmu. " Sekar mencoba jalan yang terbaik yang bisa dia lakukan saat ini.
Kesempatan berdamai dengan orang yang ada di depannya adalah hal yang harus dia coba demi keselamatannya. Setidaknya untuk saat ini.
Arya tersenyum. " Aku tidak berpihak pada Nurmageda. Jika itu yang kau takutkan " Seolah mengetahui kecemasan Sekar.
Sekar tidak tau dia harus senang karena sepertinya Arya tidak ingin membunuhnya atau, dia senang karena Arya mengatakan bahwa dia tidak berpihak pada Nurmageda. Yang Sekar tau jika keduanya benar, maka itu hal yang sangat melegakan.
Sekar menelan ludah sebelum memberanikan diri untuk bertanya. " Tuan Pendekar. Sebenarnya apa tujuan anda di kota ini? "
" Sepertinya saat ini, Aku memiliki tujuan yang sama dengan Kalian "
" Maksud Anda? "
" Kematian Nurmageda dan orang-orangnya! "