
"Ciel, bisakah kau mengikutinya?"
"Ya! Arya meninggalkan tanda di setiap pohon yang dilaluinya!"
Dengan menggunakan teknik meringankan tubuh Ciel dan Luna berlari dan melompat antara dahan pohon yang satu ke dahan pohon yang lainnya, Keduanya kini sedang berusaha mengejar Arya yang bergerak sangat cepat ke bukit tengkorak.
Sebelum menunggalkan keduanya, Arya mengatakan pada mereka jika Krama sudah memberitahunya bahwa Bukit tengkorak dan bukit yang dijadikan Markas oleh Serikat Oldenbar tidak terlalu jauh.
Ketiganya tau bahwa pertempuran memang sudah tidak bisa dihindari lagi. Apalagi, saat melihat Serikat Oldenbar menggunakan senjata sihir, mereka menyimpulkan Sekte Bukit tengkorak juga pasti sudah mendapatkannya.
Tidak akan mudah Bagi Bai Fan dan Luna menghadapi musuh meski saat ini, Rewanda dan Krama bersama mereka.
****
"Boom!" "Boom!" "Boom!"
"Boom!" "Boom!" "Boom!"
Suara ledakan silih berganti di lereng bukit tengkorak. Ledakan-ledakan itu berasal dari ratusan senjata sihir yang digunakan oleh anggota dari tiga Sekte.
"Kalian!"
Bai Fan berteriak pada petinggi Sekte Lembah Hantu dan Telaga Kramat.
"Yang menguasai pengendalian elemen tanah juga elemen kayu, Buatlah Benteng pertahanan!"
Pendekar dari dua sekte yang diketuai oleh Lamo dan Salu itu, panik saat tiba-tiba lawan mereka mengeluarkan senjata yang bisa menembakkan elemen dengan kekuatan yang kuat.
Tuan Krama, Kalian bisa menyelamatkan dua orang ini terlebih dahulu. Aku dan Luna masih bisa mengatasi senjata itu.
Krama menatap Bai Fan. "Raja memerintahkan kami, untuk melindungi kalian semua!"
"Boom!" "Boom!" "Boom!"
"Boom!" "Boom!" "Boom!"
Lagi, puluhan ledakan dari senjata sihir menghantam tubuh Krama yang tengah melindungi Lamo dan Salu.
Keduanya tengah mencoba menghentikan pendarahan dari luka dengan tenaga dalam mereka. Setelah sebelumnya, tiba-tiba Subu menembakkan Senjata sihir yang mengenai mereka dalam jarak yang sangat dekat.
Tidak jauh dari sana, Rewanda juga sedang bertarung dengan ratusan anggota dari tiga sekte yang menjadi lawan mereka.
Seharusnya, mudah saja bagi Rewanda dan Krama untuk menghabisi semuanya. Kekuatan yang dilepaskan senjata itu tidak bisa memberikan keduanya luka serius.
Hanya saja, Arya memerintahkan untuk melindungi mereka semua. Hingga keduanya memilih untuk menahan semua serangan dan mencoba untuk menghindari korban dari pihak Lamo dan Salu sebanyak mungkin.
"Hahaha!"
Subu kembali tertawa melihat lawannya yang kini terpojok. Di tangannya, ketua sekte Bukit Tengkorak itu tengah memegang sebuah benda yang mereka sebut sebagai senjata sihir.
Senjata itu memiliki dua Laras yang terbuat logam berwarna hitam dengan popor yang terbuat dari kayu. Di atas di antara keduanya, terlihat semacam tempat yang memiliki pengunci dengan katup untuk meletakkan Batu energi sebagai sumber kekuatan senjata tersebut. Dan di bawahnya, ada sebuah gagang yang bisa di genggam yang berfungsi sebagai alat picu.
Senjata Sihir yang pegang oleh Subu, adalah yang terbesar di antara anggota-anggota mereka. Dimana yang lain hanya menggunakan satu laras saja.
Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Gayatri dan Tungka juga memegang benda yang sama. Bertiga, mereka terus menyerang Rewanda yang terus menyerang anggota mereka.
"Lamo! Inilah yang ku sebut sebagai masa depan. Meski kau yang terkuat diantara kita, ditambah bantuan mereka dan kedua makhkuk ini, kalian tetap tidak bisa apa-apa saat menghadapi kami! Hahahaha!"
Mendengar apa yang diucapkan oleh Subu itu, Lamo dan Salu tidak bisa berkata apapun. Saat ini, mereka benar-benar merasa sedang terpojok.
Keunggulan mereka saat Rewanda dan Krama datang tadi, hanya bersifat sementara. Sekarang, mereka sadar bahwa dalam pertempuran ini, mereka dan anggotanya hanya menjadi beban bagi yang lainnya.
Sekarang, mereka benar-benar terkepung. Tidak ada cara untuk lari dengan resiko kecil. Seluruh pendekar dari Sekte Lembah Hantu, kini terancam gugur di pertempuran ini.
"Bom!"
"Arrgh!"
"Bom!"
"Arrgh!"
Disela pertarungannya saat menghapi anggota-anggota musuh yang terus mendekat, Luna menoleh pada suara ledakan. Gadis itu melihat anggota Sekte Lembah Hantu berdiri terpisah-pisah. Seolah tidak tau harus melakukan apa.
"Hei, Kalian! ... Jangan panik!" Luna berteriak mengingatkan. "Kalian harus bekerja sama! Buat benteng dengan elemen kayu dan tutupi dengan Elemen tanah!"
Dengan kecepatannya, Bai Fan sudah menghabisi banyak musuh. Namun, Jumlah mereka yang mencapai dua ribu orang itu, membuatnya sedikit kewalahan.
Apalagi saat ini, Subu dan Dua ketua sekte lainnya memegang senjata sihir. Ketiganya sedikit sulit di dekati jika keadaan terus seperti ini.
"Sial, bertarung sambil melindungi memang sangat menyulitkan!"
Pertarungan semakin sulit saja karena Lamo, Salu, dan juga semua sesepuh Sekte mereka, tidak pernah menghadapi senjata sihir sebelumnya. Hingga saat musuh mereka tiba-tiba mengeluarkan senjata-senjata itu, mereka langsung terkejut dan tidak tau bagaimana cara menghadapinya.
"Bom!" "Bom!" "Bom!"
Rewanda menoleh pada Luna. "Sebaiknya, kau menenangkan mereka!"
Luna kembali menoleh pada anggota sekte yang terlihat masih panik dan tidak mengerti apa yang di maksud perisai lingkaran yang dikatakan Bai Fan sebelumnya.
Mereka hanya mencoba melindungi diri masing-masing saja. Sementara, yang lainnya hanya menunggu kapan tembakan dari senjata sihir itu mengenai mereka.
Luna mengangguk mengerti dannsegera berbalik. "Baiklah! Aku akan kesana!"
Setelah mengatakan itu Luna langsung berlari pada kerumunan yang kocar kacir itu.
"Semuanya! Dengarkan aku... !"
Luna memisahkan anggota-anggota yang memiliki kemampuan pengendalian elemen tanah dan kayu.
Di saat bersamaan, musuh-musuh mereka terus berdatangan mendekat. Di antara mereka, sekitar seratus pendekar menggunakan Senjata sihir satu laras sebagai alat untuk menyerang.
Mereka mencoba memanfaatkan kepanikan pendekar-pendekar di kerumunan yang sedang di tenangkan oleh Luna tersebut, dan berniat menghancurkan mereka saat itu juga.
Saat jarak mereka sudah mencapai jangkauan tembakan senjata sihir, mereka langsung berhenti dan menembakkan energi yang mengandung semua jenis elemen dasar kekeruman itu.
"Boom!" "Boom!" "Boom!"
"Boom!" "Boom!" "Boom!"
Tembakan-tembakan itu langsung menghantam kerumunan pendekar dengan Luna yang masih berada di dalam sana.
"Hahahahha"
"Hahahaha"
Pendekar-pendekar dari tiga Sekte tertawa karena merasa puas berhasil menyerang. Namun, tawa mereka langsung menghilang.
Tepat sebelum serangan itu sampai, lapisan perisai pertama sudah berdiri dan menggagalkan serangan mereka.
"Lakukan lagi!"
Luna berteriak agar semuanya membangun ulang perisai yang telah hancur itu.
Mereka mulai mengerti apa yang di maksud dua orang asing itu tentang benteng.
"Buat melingkar, sisanya masuk ke dalam!"
Akhirnya, Sebuah benteng melingkar yang lebih kokoh, berdiri melindungi pendekar-pendekar itu. Sementara ini, itu cukup untuk mengulur waktu.
"Boom!"
"Boom!"
Luna langsung melompat keluar, dan mulai menyerang musuh sebanyak yang dia bisa.
"Boom!" "Boom!" "Boom!"
"Boom!" "Boom!" "Boom!"
Luna tau bahwa musuh-musuh yang dia hadapi saat ini, belum cukup ahli menggunakan senjata sihir. Jadi, dengan ilmu meringankan tubuhnya, kakak Ciel itu masih bisa menghindarinya. dalam beberapa saat saja, Luna sudah berhasil melumpuhkan puluhan pendekar dengan Godamnya.
"Bagus!" Bai Fan tersenyum cukup puas saat benteng itu berhasil terbentuk.
"Bom!" "Bom!" "Bom!"
Krama masih berusaha melindungi Lamo Dan Salu, sementara Rewanda sudah menghabisi setidaknya tiga ratus pendekar sambil menghahadang tiga ketua sekte itu.
Bai Fan langsung berlari mendekat pada Lamo dan Salu yang berdiri di belakang Krama.
"Kalian Semua! Masuk kedalam sana, dan bantu mereka"
Bai Fan memerintahkan Lamo, Salu dan seluruh sesepuh yang mengikuti mereka, untuk masuk dan menguatkan benteng itu.
"Tapi, Tuan Bai! Bagaimana dengan Kalian Berdua?!"
Lamo merasa keberatan meninggalkan Bai Fan dan yang lainnya untuk mengahadapi semua musuh-musuh yang sudah mengepung mereka itu.
Bai Fan menggeleng. "Kami tidak bisa bertarung jika terus melindungi kalian!" Bai Fan menatap keduanya dengan tajam. "Sekarang pergilah!"
Setelah mengatakan itu, Bai Fan langsung menghilang dari hadapan mereka.
"Langkah Seribu Bintang!"