
Jumlah teriakan semakin banyak. Namun, entah kenapa semua terasa hening dan asing.
Moro kini berdiri di tangah pembantaian itu. Pikirannya di penuhi dengan ketakutan dan penyesalan. Seolah kesalahannya di masa lalu hingga beberapa jam yang lalu, meminta pertanggung jawabannya di dunia, saat ini juga.
Mata biru. Mata itu kembali menyorotnya tajam. Tubuhnya langsung kembali gemetar hebat. Sosok pemilik mata biru menyala itu, kini seperti berjalan mendekatinya.
Separuh nyawanya sudah pergi entah kemana saat pertama kali sosok ini muncul. Saat Moro berdiri, di kepalanya masih terbayang kekejaman musuhnya. Baru saja dia melihat adiknya Daga di kupas oleh seorang gadis.
Pemandangan itu benar-benar membuatnya putus asa. Dia sudah mencoba berlari sejauh mungkin namun tidak pernah berhasil. Arya selalu muncul dan menghantamnya berkali-kali.
Namun, saat dia hanya diam, Arya tidak menyerangnya. akhirnya, Moro hanya berdiri menunggu, bertaruh nasib.
"Oh. Apakah itu senjata pusaka bumi?"
Moro tersentak saat tiba-tiba di belakangnya terdengar suara gadis bertanya. Saat dia berbalik, matanya terbelalak.
Moro di tatap oleh mata aneh lainnya. Kali ini tidak berwarna biru, namun banyak warna dan berubah ubah. Selain tubuh yang menyala, gadis itu sedang duduk di atas siluman Serigala dengan busur panah tersampir di punggungnya, dan pisau-pisau kecil, tersusun
Mata gadis itu kini melihat pada pedang pusaka yang ada di tangannya. Satu harapan terakhirnya yang mungkin saja bisa mempertahankan hidupnya.
"I-ini ... Cu-cuma ... "
Moro tergagap. Dia tidak ingat kapan terakhir kali seseorang mampu membuatnya gugup menggigil seperti ini hanya karena di beri satu pertanyaan. Sepertinya tidak pernah.
"Cuma apa?! ... Katakan!"
"Tidak! Eh maksudku, Iya!" Jawab Moro panik.
"Ciel, ada apa?"
Dengkul Moro terasa mau copot saat satu lagi kehadiran seseorang menyela mereka. Kali ini warna merah menyala. Baik tubuh ataupun matanya. Luna dengan Godam besarnya sudah berdiri di sana.
Di belakangnya, Moro melihat siluman Kera sedang menghabisi pasukannya, tanpa memperdulikan pendekar itu sudah memutih diam di tempat. Benar-benar tidak ada pengampunan.
"Luna, lihat apa yang ada di tangannya. Bukankah itu Senjata Pusaka Bumi?"
Moro semakin gugup saat Luna juga menatap pada pedangnya. Bagaimanapun Moro memikirkan, dua gadis ini hanyalah pendekar Raja. Tapi, aura intimidasi yang dipancarkan keduanya membuat Moro lupa bahwa seharusnya dia tidak perlu takut pada keduanya.
"Benarkah? ... Berikan padaku!"
Bulu kuduk Moro berdiri. Sekarang di belakangnya satu lagi gadis berdiri. Saat dia menoleh, Moro langsung di buat terperanjat.
Baru beberapa saat yang lalu, gadis inilah yang telah mengupas adiknya, Daga hidup-hidup dan meninggalkannya mati perlahan menahan rasa sakit yang luar biasa.
Sekarang, gadis itu sudah berdiri di dekatnya dengan pedang berlumur darah.
"Bai Hua, aku yang terlebih dahulu melihatnya. Kenapa dia harus memberikannya padamu?!"
Ciel tak terima Bai Hua meminta Moro memberikan pedang itu padanya. Karena dialah yang melihat pedang itu terlebih dahulu.
"Ciel, kalian berjanji membuatkan ku sebuah pedang. Tapi, sampai sekarang belum ada satupun yang bisa bertahan."
"Nona ... I-ini Bu-bukan—"
Moro tidak sempat menyelesaikan kata-kata nya namun Luna tiba-tiba menyela.
"Ciel, kau tau bahwa untuk membuatkan mu sebuah pedang, kita memerlukan bahan yang sangat kuat. Dan Sampai sekarang kita belum mendapatkannya."
"Ya. Apalagi kau belum terlalu bisa mengendalikan kekuatanmu. Semua pedang yang kau pegang, pasti hancur." Tambah Ciel.
Moro merasa pelik. Diantara ketakutannya, sekarang dia berada di tengah pertengkaran kecil tiga gadis gila. Yang salah satunya berkemungkinan menjadi malaikat pencabut nyawanya beberapa saat lagi.
Selama waktu itu, para ketua Aliansi Sekte aliran putih, menyaksikan adegan itu dengan mulut ternganga.
"Marendra, mungkin aku sudah terlalu tua, jadi mungkin saja aku salah melihat. Tapi, bukankah ketiga gadis itu terlihat sedang menindas seorang Pendekar Ranah Bumi?"
Serabang tidak yakin apa yang sedang di lihatnya. Pasalnya, seluruh pasukan aliansi begitu takutnya saat Moro muncul dan memamerkan kekuatan juga pedangnya.
Dan sekarang, pendekar Ranah Bumi itu, terlihat begitu menyedihkan di hadapan ketiga gadis tersebut.
Tidak menjawab, Marendra balik bertanya. "Ki Serabang, jika kita para ketua sekte semua bersatu, adakah kemungkinan bisa mengalahkan salah satu dari mereka?"
Serabang langsung menggeleng. "Mustahil! Bahkan, aku tidak yakin kita masih bisa berdiri jika mereka menatap kita."
"Rapatni, kau seorang pendekar pedang wanita terkuat di Daratan ini. Menurutmu, seberapa jauh kekuatanmu di bandingkan dengan gadis yang baru saja membunuh Daga itu?"
"Ki Lentoro, bagaimana kau berani membandingkan aku, dengan orang yang bisa mengambil pedang-pedang ku dan pedang Ki Serabang, tanpa kami sadari?"
"Hah?! ... Apa?!"
Lentoro dan Marendara langsung melihat pada pinggang Rapatni dan juga Serabang. Keduanya mendapati tidak ada lagi pedang di sana.
Tentu saja yang paling terkejut Serabang. Sampai beberapa detik yang lalu, dia merasa masih memegang pedangnya sendiri. Tapi, kali ini di baru menyadari bahwa dia sedang menggenggam udara.
Tidak hanya mereka yang terkejut. Tentu saja itu mengejutkan Darsapati, Kaungsaji, Darius, dan seluruh orang yang ada di sana. Mereka cepat memeriksa pedang mereka masing-masing.
Moro masih terjebak di antara ketiganya. Namun, dia melihat pembunuh adiknya begitu berminat dengan pedangnya.
"Sebentar! ... Bai Hua, pedang siapa yang kau gunakan?"
Ciel baru menyadari bahwa pedang yang ada di tangan Bai Hua cukup bagus. Namun, sepertinya telah rusak. Dan dia yakin bahwa itu bukan pedang biasa.
"Oh. Ini ... Aku meminjamnya dari dua orang di sana.!"
Dengan matanya, Ciel bisa langsung melihat dua orang pendekar suci yang menatap Bai Hua pasrah.
Jelas sekarang mereka melihat pedang Nyai Rapatni telah rusak parah. Tentu saja Tidak perlu dipertanyakan lagi nasib pedang Serabang.
Sadar bahwa dia sedang di tatap banyak orang, Bai Hua langsung mengalihkan topik. "Cepat berikan itu padaku. Atau ... Aku akan mengambilnya secara paksa."
Moro terperanjat karena tiba-tiba Bai Hua semakin ketus. Menurutnya, tentu saja gadis ini berniat memiliki pedangnya. Ternyata kekuatannya sangat kuat hingga pedang biasa tidak cukup untuk menahannya.
Kakak Daga itu langsung berfikir cepat. Tidak mungkin dia memberikan pedang ini secara percuma. Jadi, dia berencana untuk berpura-pura memberikan dan menunggu saat yang tepat untuk menyerangnya.
Namun, rencananya tinggal rencana. Sebuah teriakan kembali menyadarkannya bahwa dia sedang dalam posisi yang tidak bisa berbuat apa-apa.
"Matra ... !"
"Omi ... Obi!"
"Tirta Amerta ... !"
Ribuan kepala pendekar berjatuhan ke tanah setelah Arya berteriak. Moro melupakan bahwa sosok itu sejak tadi memperhatikan mereka.
Reflek Moro mendekat dan memberikan pedangnya pada Bai Hua. "Nona, pedang ini tidak terlalu bagus. Aku hanya memakainya untuk mengupas kelapa muda!"
Bai Hua mengambil pedang Pusaka Bumi yang di serah Moro padanya. Dan langsung melenggang pergi.
"Karena dia memberikan pedangnya padaku, maka aku tidak akan membunuhnya. Aku rasa, kalian bisa melakukannya."
Luna dan Ciel terperangah dengan kata-kata Bai Hua.
"Bai Hua, mau kemana kau? Seharusnya ini menjadi tugasmu!" Teriak Ciel tak terima.
"Aku ingin mencoba pedang pengupas kelapa ini."
"Kau—"
Kata-kata Ciel tidak dapat di selesaikannya. Karena dia tau Bai Hua sudah mengambil kuda-kuda.
"Langkah Seribu Bintang!"
Setelah mengatakan itu, cucu Bai Fan itu segera menghilang. Tak lama, di salah satu sudut medan tempur, puluhan pendekar Aliran Hitam, sudah kehilangan kepala.
Tidak terkecuali Moro. Dia sama kesalnya dengan Ciel karena ulah Bai Hua itu. Dia baru saja terfikir bahwa menyerahkan pedangnya atau tidak, dia tetap akan menghadapi salah satu dari mereka.
Sekarang, bahkan kemungkinan selamatnya semakin kecil. Pasalnya, pedang andalannya sudah tidak ada di tangannya.
"Heh, kau ... Aku akan mengampuni nyawamu, jika kau memiliki pusaka lain yang sama tingginya!"
Moro menoleh pada Ciel yang tampak sedang Kesal. Namun, belum sempat dia bereaksi apapun ...
"Booom ... !"
Sebuah pukulan Godam telah mengirimnya terbang ke udara.
"Kurasa, dia tidak punya apa-apa lagi." Tegas Luna.