ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Terimakasih


"Mahesa! Saat kau ingin menhancurkan dunia, kau tidak bisa lagi menggunakan Bahuraksa. Sesuai namanya, Bahuraksa adalah perisai yang dibuat untuk melindungi manusia! Kau harus membuatkan wadah baru bagi Kosha Agar kau bisa menggunakan kekuatannya"


Arangga baru saja mengatakan Hal penting lainnya, namun itu tatap tidak menjawab pertanyaan Arya sebelumnya. Walaupun itu artinya Akhirnya dia tau apa itu Bahuraksa dan kenapa Pedang itu bisa menjadi sangat kuat.


Sebelumnya, Arangga juga telah menjelaskan sembilan senjata yang kuat yang pernah dikalahkan oleh Bahuraksa. Meski berbentuk sebuah pedang, Bahuraksa di buat dengan pemahaman dan harapan sebagai perisai bukanlah senjata. Maka, sudah sewajarnya jika hal yang bisa menghentikan sebuah senjata, tentu saja sebuah perisai.


Hal ini mengingatkan Arya tentang sesuatu. Namun, saat itu Arangga kembali berbicara.


"Mahesa! Ini ingatan terakhirku. Setelah mengatakan ini, tidak ada lagi ingatan yang bisa aku sampaikan padamu!"


Arya terpaku saat Arangga mengatakan hal itu, di hatinya, dia berharap. Kali ini Arangga akan mengatakan sesuatu yang menyangkut tentang dirinya. Bukan lagi tentang hal-hal seperti menghancurkan dunia atau yang lainnya.


"Sebelum Kosha keluar dari tubuhku, maka saat itu aku ingin mendengarkan keputusanmu!"


Melihat Arya sedang berfikir saat ini, akhirnya Kulkan bersuara kembali. "Hei bocah! Kau tidak bisa membiarkan makhluk-makhluk itu menghancurkan duniamu!"


Arya menoleh pada Kulkan dan menatapnya Heran. "Kenapa? Bukankah itu akan membuat dirimu senang?"


Kulkan langsung menggeleng cepat.


"Tidak! Itu sama sekali tidak menyenangkan. Jika dunia ini hancur, maka akulah yang akan menghancurkannya. Aku akan berbagi kesenangan itu bersamamu karena aku menyukaimu. Tapi, tidak untuk makhluk-makhluk itu. Aku lebih memilih memusnahkan mereka terlebih dahulu sebelum akhirnya aku menghancurkan dunia ini!"


Jelas Kulkan panjang lebar, dia tidak terima saat Kosha mengatakan bahwa ada banyak mahkluk lain menyerupai dirinya. tentu saja Kulkan tidak senang jika ada sesuatu disamakan dengan dirinya. itu membuat Kulkan ingin menghancurkan makhluk tersebut.


Bahka sekarang ini, Meski Kosha mengaku adalah jiwa yang berasal dari Tza-Mamna, Kulkan masih merasa jauh lebih tinggi dari pada jiwa yang bersemayam di Bahuraksa itu.


Arya tidak begitu memikirkan apa yang dikatakan Kulkan tersebut. Baginya, dialah yang akan memutuskan apa yang akan dilakukannya.


Saat melihat Arangga tidak lagi berbicara, Arya mencoba menunggu sedikit kebih lama. Berharap ada ingatan yang tersisa atau sesuatu yang lainnya yang akan dikatakan oleh pehlawan yang akhirnya memutuskan untuk menghancurkan dunia yang sudah di selamatkannya tersebut.


Setelah menunggu sedikit lama, Arya menyadari bahwa tidak ada lagi informasi yang akan dia dapat dari Arangga. Meski akhirnya bertemu, nyatanya apa yang dikatakan Arangga sama sekali tidak seperti yang dia harapkan sebelumnya.


Sebelumnya, Arya berfikir bahwa Arangga-lah yang akan mampu menjawab semua pertanyaan di kepalanya. Namun, keterikatan dirinya dengan Arangga, ternyata hanya mengantarkan dia pada banyak pertanyaan baru lainnya.


Jika, apa yang dikatakan Arangga benar, tentu saja itu sangat berbahaya. Namun, menghancurkan Dunia, adalah hal lainnya.


Akan tetapi, tidak perlu berfikir panjang bagi Arya untuk memutuskan apa yang di minta oleh Arangga itu padanya. Karena,  dia sudah memutuskan apa yang akan dilakukan.


'Takdir? Aku tidak lagi mempercayainya. Aku akan membuat takdirku sendiri!' Batinnya.


"Kakek Arangga! Maaf jika aku mengecewakanmu. Tapi, walaupun kau memohon. aku tidak berniat menghancurkan dunia ini."


Ucap Arya pada Arangga yang menatap jauh kosong kedepan. Saat Arangga menoleh padanya, dia melanjutkan


"Sebaliknya, aku akan menguasainya dan mengendalikannya!"


Arangga dan Kulkan terkejut dengan jawaban Arya. Bagi mereka, meski tetap saja sangat sulit, menghancurkan dunia jauh lebih mudah daripada menguasainya.


"Mahesa! Dunia tidak hanya satu ini saja. Ada dunia lain yang akan terus menganggu kehidupan di dunia kita dan penderitaan manusia akan terus berlanjut, meski terlihat kejam, itu adalah jalan terbaik bagi semuanya!"


"Kalau begitu, aku akan menguasai dunia yang itu juga!" Jawab Arya.


Arya telah melihat sendiri bagaimana banyaknya orang menderita hanya karna yang lainnya mengejar kekuatan. Namun, dia sudah berjanji pada Obskura akan berusaha menjadi manusia yang baik, meski saat ini dia tau bahwa dia tidak begitu mengerti segala sesuatu tentang manusia.


Namun, dengan menghancurkan Dunia, maka dia tidak memiliki apapun lagi. Apalagi, sekarang dia sudah memiliki Darya sebagai adiknya dan Tarim Saka serta sekuruh Sekte Delapan Mata Angin sebagai kekuarga barunya.


Penduduk kota Arsa dan Seluruh orang-orang yang di bawah perlindungan Lamo, juga memiliki arti tersendiri bagi hidup Arya.


Tidak mungkin baginya untuk menghancurkan dunia mereka, meski suatu saat dia mampu melakukannya.


"Bocah! Kau tau bahwa aku tidak berasal dari dunia ini atau dunia yang dikatakan Arangga itu, bukan?"


Arya juga telah melihat bagai mana wujud asli Kulkan sebelumnya. Apalagi saat dia mengingat bagaimana Obskura yang merupakan seorang dewa dan sang Roh air Amia, bereaksi ketakutan saat mengetahui keberadaan Kulkan. Tentu saja Arya jadi mengerti bahwa makhluk ini, bukan dari salah satu dari dua dunia yang diketahui manusia.


"Ya! Jika, memang duniamu menggangu duniaku, maka, Aku juga akan mendatangi Dunia tempat darimana kau berasal itu, dan menguasainya!" Pungkas Arya.


"Apakah Kau sudah, gila?!" Kulkan berseru sedikit histeris.


"Kekuatan ku, mampu mengancurkan seluruh daratan ini. bahkan tidak sulit bagiku untuk meratakan satu benua di duniamu. Tapi, di Dunia tempat aku berasal, ada jutaan yang sepertiku. Dan banyak lagi yang memiliki kekuatan jauh di atasku. Termasuk Tza-Mamna, itu!"


Meski Kulkan sudah mengatakan sesuatu yang sangat mengerikan tentang dunianya, hal tersebut tetap tidak mampu membuat Arya bergeming.


"Aku tau bahwa sekarang aku belum cukup kuat untuk itu. Namun tetap saja, sesuatu harus membuatku mati terlebih dahulu, jika ingin menghentikanku. dan aku sudah berjanji!"


"Jika kau memiliki tubuh seperti Arangga, meski itu tetap sangat mustahil, tapi itu lebih masuk akal. Sekarang, lihat dirimu... "


Kulkan tidak melanjutkan kata-katanya. Dia baru mengingat bahwa selama ini dia telah salah menilai Arya. Nyatanya, dia tidak tau Arya bisa melakukan hal yang tidak diketahuinya.


"Ada apa dengaku?" tanya Arya.


Kulkan tidak menjawab, malah berbalik dan menoleh pada Arangga. Berharap orang itu menjelaskan pada Arya betapa mustahilnya apa yang barusaja dikatakannya itu.


"Mahesa! Jujur saja, aku tidak tau batas kekuatan manusia biasa sepertimu. Yang aku tau, keterbatasan itulah yang membuat manusia ingin melampaui apa yang yang membatasinya tersebut."


Perkataan Arangga membuatnya sangat jelas. Memang telah terjadi sesuatu di luar perkiraan pahlawan perang Dua Dunia itu. Sekarang, walaupun belum secara keseluruhan, nyatanya, memang tidak ada satupun yang mengetahui rahasia yang ada di tubuhnya, selain dirinya sendiri.


"Baiklah, sepertinya kalian tidak punya pilihan lain selain mengikuti rencanaku, bukan?!"


"Tentu saja ada pilihan lain. kau harus mengeluarkanku dari dimensi kematian terlebih dahulu." Jawab Kulkan cepat.


Arya mengangguk. "Itu ada didalam rencanaku berikutnya, dan kau tidak perlu mencemaskan itu lagi, aku berjanji!"


Mendengar janji Arya, Kulkan tersenyum lebar. "Lalu, apa rencanamu untuk itu?" tanya Kulkan bersemangat.


"Kakek, karena kau telah mati, bolehkah aku membawa semua benda-benda itu?!"


Kulkan dan Arangga menoleh pada seluruh emas yang menggunung yang ditunjuk Arya diruangan tersebut.


"Tentu saja, bawalah sebanyak yang kau bisa!" Jawab Arangga tanpa ragu.


Arya tersenyum girang. Dia sudah mengetahui pengaruh emas di dunia. Dan emas yang ada diruangan ini, jauh lebih banyak dari yang berada di bawah Sekte Tarim Saka.


"Terimakasih!" Ucapnya.