
Tidak menjawab pertanyaan Edward, Luna lebih memilih untuk mengalihkan topik. Dan hal itu juga salah satu dari rencana mereka.
"Tuan Edward. Apakah anda mengundang Tuan Muda kami untuk di interogasi? Jika benar begitu, sepertinya kami terlalu memandang tinggi dirimu!"
Menurut Luna, sedikit saja menunjukkan kelemahan, maka Oldenbar akan langsung mengambil alih keadaan.
Edward mengerjapkan matanya beberapa kali. Sebelum akhirnya dia mengerti apa yang dimaksud oleh gadis tersebut.
"Oh tentu saja tidak. Aku sendiri yang mengutus Angus untuk mengundang kalian untuk makan siang bersamaku. Hahaha!"
Bagi Edward, Bukan hal yang mudah untuk dirinya agar sampai diposisi ini sebelumnya. Berbagai macam cara serta negosiasi sudah dilakukannya mewakili Oldenbar di banyak tempat dalam berbagai situasi juga di negara-negara berbeda.
Baru kali ini dia merasa bahwa lawan bicaranya, bukanlah orang-orang yang mudah. Edward benar-benar sudah dibawah dominasi Keempatnya.
"Tuan Edward. Apakah kau bisa makan dengan tenang saat dua puluh pemanah sedang membidikmu? Atau beginikah cara Oldenbar, mengundang seseorang makan?!"
Tidak ada yang luput dari mata Ciel di ruangan tersebut. Bahkan para pemanah yang telah bersiaga di sebalik tirai-tirai di jendela sejak kemunculan Edward tadi, sekalipun.
Sebenarnya mereka mengerti kenapa pemanah-pemanah itu bersiaga. Itu tidak lebih dari untuk memastikan keamanan pemimpin mereka.
Namun, hal tersebut kembali digunakan gadis itu untuk lebih menekan Edward.
"Kau tau? Di negaraku. Jika seseorang menyerangmu saat sedang menjadi undangan sebuah perjamuan, maka orang itu bisa dikatakan Pengecut diantara semua pengecut." Tambah Bai Hua.
Saat Edward ingin menjawab, Arya yang sejak tadi tidak terlalu banyak berbicara, kini bersuara.
"Tuan Edward, Jujur saja. Kami datang hari ini, tidak dengan maksud buruk. Tapi aku ingatkan, Kalian semua yang ada di lembah dan pegunungan ini, tidak bisa menakut-nakuti kami. Jadi, berhentilah bermain-main!"
Hampir saja Edward muntah darah saat mendengar apa yang di ucapkan Arya padanya. Dirinya benar-benar belum pernah merasa terintimidasi seperti ini sebelumnya.
Dan apa itu tadi, pemuda ini hanya menganggap semua orang di sini sedang bermain-main? Edward tidak bisa menjelaskan pada dirinya sendiri, apa sebenarnya yang sedang terjadi di sini.
"Selain para petinggi yang dibawahku. Segera keluar dari tempat ini! Cepat!" Perintah Edward.
Sejak kemunculan empat orang ini sehari Sebelumnya, Oldenbar telah memerintahkan banyak orang untuk mencari informasi tentang mereka. Namun, tidak ada satupun yang bisa menjawab asal dan tujuan mereka.
Bisa dipastikan bahwa mereka hanya datang berempat saja. Tapi, karena keempatnya benar-benar tidak takut dengan serikat Oldenbar, itu membuat Edward menyimpulkan bahwa ada sebuah sekte, atau organisasi, atau sesuatu yang sangat besar dan kuat di belakang pemuda itu. Edward lebih memilih untuk bertindak hati-hati.
Dengan kedatangan mereka yang hanya empat orang ini, sudah bisa dipastikan pula bahwa mereka memang tidak berniat membuat masalah.
Sebab, sejak awal kedatangan mereka ke pusat kota, memang anggota Oldenbar lah yang terlebih dahulu mengusik mereka. Setidaknya, Angus melihat hal tersebut secara langsung.
Tapi, pengakuan mereka tentang kejadian di bukit tengkorak sudah menjadi hal yang berbeda.
Seluruh anggota Oldenbar termasuk para pemanah sudah meninggalkan ruangan tersebut. Sekarang, hanya tinggal sekitar tujuh petinggi Oldenbar saja yang masih berdiri di sana.
Saat sudah memastikan di sana hanya ada mereka saja. Barulah ketiga gadis yang bersama Arya itu, ikut duduk.
"Terimakasih, atas pengertian anda." ucap Luna dengan nada yang berubah sangat ramah.
Melihat perubahan sikap mereka, Entah mengapa Edward merasa lebih tenang.
"Ya. Sudah saatnya kita melanjutkan apa yang tertunda. Sesuai dengan maksudku mengundang kalian, saat ini mari kita makan siang.!
Tak lama para pelayan istana itupun datang membawa berbagai macam makanan dan hidangan.
Berbeda dengan dugaan semua orang di sana, keemoatnya langsung makan dan minum tanpa menunjukkan kecurigaan sedikitpun jika seandainya ada racun di salah satu hidangan tersebut.
Hal itu membuat rasa penasaran Edwar benar-benar tergelitik. Namun, dia menunggu saat semuanya selesai.
"Kenapa kalian tidak mencurigai jika kami menaruhracun pada makanan tersebut? Bukankah kalian tau, beberapa anggotaku, sepertinya sangat menginginkan kematian kalian?"
Mereka beremoat tersenyum. Namun hanya Luna yang menjawab.
"Sudah kami katakan. Kami cukup mengenal serikat Oldenbar. Dan kalian tentu tidak akan seceroboh itu, apalagi kau sebagai pemimpin Serikat ini, di sini!"
Edward mengangguk. Itunkarena yang berbicara adalah gadis dengan ciri-ciri penduduk Benua Barat. Benua yang sama dimana serikat Oldenbar berasal.
Akan tetapi, itu tidak memuaskan rasa penasaran Edward pada ke eempat. Namun, sebelum Edward bertanya lagi, Ciel langsung memotongnya.
"Jika kau ingun menanyakan asal kami, maka sekarang kami belum bisa menjawabnya. Tapi, jika kau menanyakan tujuan kami, sebenarnya kami sedang menuju kota Basaka."
"Jika begitu, apa yang membawa kalian sampai kesini?"
"Awalnya kami tidak tertarik untuk singgah kesini, namun dalam perjalanan berbagai hal terjadi. Kami bertemu dengan cabang serikat kalian di bukit tengkorak. Karena mereka bukan orang yang bisa di ajak berbicara, maka kami memilih untuk menghancurkannya."
Mata semua petinggi Oldenbar melebar saat Ciel mengatakan seolah itu bukan masalah besar. Namun, karena mereka melihat Edward tidak menanggapi dengan cara yang sama, mereka memilih bungkam.
"Oh, jadi begitu! Sekarang, aku simpulkan bahwa kalian memang ingin berbicara denganku, bukankah begitu?"
"Bagitulah, kami hanya ingin memastikan apakah Oldenbar berbahaya bagi kami atau tidak. Selain itu, Tuan Muda sepertinya tertarik untuk berbisnis dengan kalian.!"
Mata semua orang kini tertuju pada Arya, namun sepertinya Arya sedang teralihkan dengan hal lain.
Arya membiarkan Luna dan Ciel berbicara sementara sejak tadi, dia hanya memperhatikan Edward lekat. Sesuatu mengganggunya. Dia menyadari nafas Edward seperti tidak teratur.
"Tuan Edward. Apakah anda sedang sekarat?"
Pertanyaan Arya yang sangat jauh dari topic yang sedang dibahas tersebut, sukses mengejutkan semua orang. Bahkan ketiga gadis yang berada dekat dengannya itu juga terlihat sedikit terperangah.
"Ap-apa. Mak-maksud... Mu?!"
Edward yang mendapatkan pertanyaan yang tak terduga itu langsung tergagap. Baginya, itu bukan sekedar pertanyaan belaka.
Pemuda yang di depannya ini mengetahui sesuatu yang bahkan semua petinggi di ruangan inipun tidak mengetahuinya.
"Ada yang salah dengan aliran darah mu. Apakah kau mengunci beberapa titik pembuluh darah agar racun itu tidak sampai pada jantungmu?"
Edward langsung menjadi sangat pucat. Bagaimana lemuda di depannya ini tau apa yang sedang dialaminya. Bahkan, seharusnya tidak ada satupun orang di daratan ini mengetahui teknik pengobatan yang dilakukan seorang tabib untuk mengelamatkannya, beberapa tahun yang lalu.
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?"
Arya tersenyum. "Bukankah seharusnya pertanyaan yang paling tepat untuk kau tanyakan padaku sekarang adalah. Apakah aku bisa menyembuhkanmu?"
"Kau bisa?!..."
"Bukan... Apakah kau benar-benar bisa menyembuhkanku?!"
"Pemimpin! Apakah anda sedang sakit?!"
"Bagaimana bisa orang yang memiliki tubuh unik sepertimu, di obati dengan cara seperti itu?."
Mata Edward benar-benar melebar. Pemuda depannya ini barusaja membongkar rahasia besarnya, layaknya hanya seperti membaca buku. Saat dia ingin menanyakan lebih jauh, ternyata Arya memang sudah mengetahuinya.
"Jangan terkejut begitu! Ya. Aku bisa menyembuhkanmu. Bahkan aku bisa memperbaiki seluruh titik cakramu yang telah rusak itu."