ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pendekar Sadis. Si Pembelah Batu, Jabara!


Hattala langsung berdiri. Dia tidak terima saat seorang gadis mengatakan dirinya bodoh. Mengabaikan perutnya yang sakit, Hattal mengacungkan pedangnya pada Ciel. " Kalian! ... Cepat habisi gadis ini! "


Hattala memerintahkan puluhan prajurit yang dari tadi hanya berdiri mematung di sana. Berharap Prajurit-prajurit itu mematuhi perintahnya.


Akan tetapi, para prajurit itu tetap diam tak bergeming setelah mendengar perintah Hattala itu. Hal itu semakin membuat Hattala marah. " Bodoh! Kenapa kalian hanya diam saja?! "


" Sepertinya mereka sedang terdesak! "


Pasukan prajurit kota yang tadi langsung menyerang saat pemberontak barusaja memasuki gerbang, Dikalahkan dengan cukup mudah oleh para pemberontak yang di pimpin oleh Ki Jabara itu.


Pasukan itu seolah kehilangan semangat bertarung mereka, saat melihat jumlah dan kekuatan para pemberontak. Setidaknya, begitulah kesimpulan yang di ambil oleh Ki Jabara sebagai pemimpin aksi itu.


Kini, dengan rasa penuh percaya diri dan semangat berkobar, mereka memasuki kota, hendak mengambil alih kota itu secepatnya. Hal itu, kini terasa jauh lebih mudah dari apa yang mereka rencanakan sebelumnya.


Ki Jabara yang memimpin di depan, melihat Luna dan Ciel kalah jumlah. Di sana dia juga melihat masih banyak prajurit yang berdiri menonton bagaimana Hattala sedang mengacungkan pedangnya pada Seorang gadis.


Sekar dan beberapa pendekar lain yang sudah melihat kehebatan Luna, sedikit merasa heran dengan apa yang mereka lihat saat ini.


" Ki Jabara. Aku rasa, mereka bukan sedang terdesak "


Sekar dapat melihat ekspresi wajah Ciel tampak seperti tidak ketakutan sama sekali, Walaupun saat itu wajahnya berada hanya berjarak satu jengkal dari ujung mata pedang Hattala.


" Ah! Aku rasa penglihatanmu tidak setajam penglihatanku yang sudah tua ini! " balas Ki Jabara sedikit ketus saat Sekar meragukan penilaiannya.


Sekar memilih mengabaikan perkataan Ki Jabara itu. Namun, Saat sekar melihat salah satu pendekar yang masih bertarung melawan Luna, Darahnya langsung berdesir.


" Ki, Aku akan membantu Luna. "


Tanpa menunggu persetujuan Ki Jabara, Sekar langsung memacu langkahnya lebih cepat. Ini adalah hari yang dia tunggu-tunggu dalam beberapa tahun ini.


Ki Jabara tersenyum miring. " Heh! Wanita itu masih membawa dendam pribadinya ke pertempuran ini " pemimpin pemberontakan itu langsung tau alasan kenapa Sekar memilih untuk membantu Luna.


Tak mau ketinggalan, Ki Jabara menggunakan ilmu meringankan tubuhnya langsung mesat lebih cepat dari yang lainnya. Dia juga telah menentukan targetnya sendiri.


" Sudah sepantasnya memang aku yang harus mengalahkan pemimpin musuh " Gumam Ki Jabara sambil menatap pada Hattala yang sedang mengacungkan pedang pada gadis malang bernama Ciel itu.


" Ting! "


Pedang Hattala melambung ke udara. Hal itu tentu saja langsung mengejutkannya.


" Apa yang ... ?"


Namun, belum usai dia menganalisa apa yang membuat pedangnya lepas dari tangan dan terbang ke udara itu, keterkejutannya semakin bertambah saat dia menoleh dan melihat Ki Jabara sudah berdiri menatapnya, Tajam.


" Semua sudah berakhir! "


Mata Hattala melebar. Dia dapat langsung mengenal pendekar yang kini tiba-tiba sudah berada di dekatnya itu.


" K-kau ... J-Jabara! ... Si Pembelah Batu! "


" Wusssh ... Sreeet! "


Ki Jabara mengangkat pedangnya sebentar dan melibaskannya pada leher Hattala dengan cepat.


" Heh ... Ya! aku adalah Si Pembelah Batu. Jabara! " Ucap Ki Jabara sesaat setelah memenggal kepala Hattala.


" Kau!? " Ciel Terkejut dengan apa yang barusaja di lakukan Hattala di depannya. " Bagaimana kau bisa membunuhnya?! "


Ki Jabara menoleh pada Ciel yang terkejut menatapnya. Wajahnya langsung merasa bersalah " Maafkan aku, Nona! Kau terpaksa harus melihat kesadisanku tepat di depan matamu. " Ucap Ki Jabara dengan wajah dan nada bicara yang penuh sesal. " Tapi, kau bisa tenang sekarang. Kau sudah aman! "


Mulut Ciel ternganga lebar. Apa yang di ucapkan pria tua yang baru saja merampas incaran kakaknya membuat Ciel tiba-tiba kehilangan kemampuan berbicaranya.


Dia sudah menahan diri untuk tidak menghabisi Hattala, tapi Si Pembelah Batu Jabara ini melakukannya tanpa merasa bersalah dan malah bangga.


Ki Jabara mengangguk. Seolah mengerti apa yang dirasakan oleh Ciel saat itu. Namun, tidak ada yang bisa di katakannya lagi. Gelar Si Pembalah Batu yang dia sandang saat ini itu, memang memiliki sejarah yang panjang.


KI Jabara menatap puluhan prajurit yang terdiam di tempat mereka. " Pilihan yang tepat. Jika tidak, kalian akan bernasib sama dengan pemimpin kalian ini " kata Ki Jabara pada mereka sambil menunjuk Jasad Hattala yang kini terbaring di tanah.


Ki Jabara juga seolah memahami Keterkejutan mereka setelah mendengar Hattala yang begitu takut saat menyadari siapa dirinya. Ki Jabara menganggap prajurit-prajurit itu sekarang juga sama ketakutannya dan memilih untuk diam.


Kali ini dia menggeleng " Bukan salahku, jika aku semenakutkan itu! " Gumamnya.


Ki Jabara lalu melihat ke Sekar. Kali ini dia merasa sedikit kesal. " Ck! Wanita-wanita itu masih saja memperebutkan laki-laki di saat seperti ini. " Sekali lagi dia menggelengkan kepalanya.


" Nona Luna! Maaf telah ikut campur pada pertarunganmu. Tapi, bisakah kau membiarkan agar aku saja yang menghabisi yang satu ini? " Sekar menunjuk salah satu pendekar level Ahli yang menjadi lawan Luna.


Luna mengerjap, seolah tak percaya. Barusaja dia kehilangan mangsanya, dan sekarang pemilik penginapan Bulan Fajar meminta darinya untuk memberikan target untuk melepaskan kekesalannya.


Luna menghela nafas panjang dan melepasnya kasar. " Yah. Terserah! Lagipula setelah yang satu itu, seharusnya aku juga sudah selesai. "


Sekar tersenyum lalu menunduk " Terimakasih " setelah mengatakan itu, Sekar langsung menoleh pada pendekar level ahli tersebut " Hari ini, aku akan membalas semua perbuatanmu padaku, Ayahku, dan seluruh orang yang kau korbankan untuk ambisi bodohmu itu "


Pendekar itu sedikit terkejut saat Sekar tiba-tiba muncul dan membantu Luna. Dia berpikir selama ini Sekar sudah kehilangan semangat bertarungnya.


Akan tetapi, saat menatap mata Sekar saat ini, pendekar itu langsung sadar bahwa, Sekar hanya menunggu waktu yang tepat untuk bisa membalaskan dendamnya.


" Sekar! Kenapa kau ingin melawanku? Aku Andaru, suamimu! "


" Hah ... Berani-beraninya kau masih mengatakan dirimu seorang suami setelah membunuh keluargaku juga murid-murid padepokan Bulan Fajar demi menjadi kuat. Tapi, lihat lah dirimu sekarang! Kau hanyalah anjing penjilat Nurmageda yang menyedihkan! "


Andaru sendiri sebenarnya adalah suami Sekar. Sebelumnya, mereka hidup cukup bahagia dan tidak memiliki masalah apapun.


Akan tetapi, sejak kedatangan Nurmageda ke padepokan mereka beberapa tahun yang lalu, Andaru berubah.


Dirinya yang tidak memiliki bakat serta fisik yang kuat sebagai pendekar, sepertinya berhasil di pengaruhi oleh Nurmageda.


Awalnya, Sekar sama sekali tidak tahu apa yang membuat Andaru tiba-tiba memiliki tenaga dalam yang besar. Sifatnya juga langsung berubah. Dirinya yang dulu lembut, mulai berubah manjadi kasar. Bahkan belakangan ini Andaru sering memukulnya.


Hal itu berlangsung sampai sebuah kejadian yang sangat tragis menimpa padepokan yang dimiliki keluarga Sekar.


Suatu hari, Ayahnya sebagai ketua padepokan itu, tiba-tiba ditemukan tewas bersama puluhan murid-muridnya dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Tidak sampai di sana. Bahkan, ibu dan adik-adik Sekar juga menjadi korban.


Sekar yang saat itu, disibukkan dengan pendirian penginapan Bulan Fajar, tidak mengetahui dengan jelas apa sebenarnya penyebab kejadian itu.


Andaru saat itu seolah bersikap tidak tahu apapun. Sampai sekar mendapati bahwa Kitab Pedang Bulan Fajar menghilang. Sekar langsung menaruh curiga pada Andaru. Karena, hanya Andaru yang mengetahui Kitab itu selain keluarganya.


Tapi, Sekar yakin bahwa saat itu Andaru tidak mungkin melakukannya seorang diri. Sekar curiga bahwa Nurmageda ada di belakang dan membantunya. Sekar, memilih memendam dendamnya dan mencari kesempatan untuk membalasnya.


Dan ternyata, hal itu tidak hanya dialami oleh padepokan Bukan Fajar saja. Beberapa padepokan lain juga mengalami hal yang tak jauh berbeda. Ki Jabara juga salah satu korban. Bedanya, Ki Jabara berhasil selamat. Namun, yang lainnya tidak.


Sejak saat itu, dengan diam-diam, Sekar dan Ki Jabara mulai mengumpulkan pendekar-pendekar yang menjadi korban pristiwa tersebut. Yang pada akhirnya, mereka sampai pada kesimpulan bahwa, Nurmageda memang dalang dari segalanya.


Banyak kejadian dan usaha yang di lalui Sekar dan Ki Jabara untuk tetap menyembunyikan dan menyusun agenda mereka. Mereka menyadari mengahadapi Nurmageda adalah hal yang hampir mustahil.


Keajaiban tiba-tiba terjadi. Seorang pemuda yang entah dari mana datang dan mengatakan memiliki tujuan yang sama. Dengan tambahan satu orang itu, Akhirnya mengantarkan mereka pada keadaan saat ini.


Saat-m semua orang-orang jahat itu, membayar semua perbuatan mereka. Teruntuk Sekar, Andaru adalah orang itu.


" Heheh " Andaru terkekeh " Memang aku tidak menyangka kau masih memiliki semangat bertarung. Tapi saat ini, aku sudah jauh lebih kuat dari pada dirimu "


" Nona Sekar. Hati-hati! " tiba-tiba Ciel berteriak memperingatkan.


Ciek bisa merasakan tubuh pendekar itu tiba-tiba menjadi kuat. Dan dengan Matanya, Ciel bisa melihat tenaga dalam pendekar itu, kini juga bertambah dengan sangat cepat.


Luna juga menyadari itu. Hal ini terlihat mirip dengan apa yang terjadi dengan Votus sesaat sebelum Arya menghabisinya. " Kapan dia menelannya? " Gumam Luna.


" Hahahahaha! " Andaru tertawa seiring tubuhnya yang kini tiba-tiba memerah. " Sebelumnya, Aku berniat menggunakan ini untuk kabur dari siluman itu. Tapi, Sepertinya takdir berpihak padaku. "


Sekar yang mendengar Andaru masih bisa tertawa lepas, langsung melayangkan pedangnya dengan cepat pada Andaru.


Terlalu lambat. Andaru bisa menghindarinya dengan mudah.


" Boom! " Suara Godam yang berhasil dihindari oleh Andaru memecah tanah.


Luna memutuskan ikut membantu. Dia tau betul bahwa keadaan sudah berubah.


" Buuuk! Buuuk! "


Andaru berhasil memberikan serangan balasan yang mengenai Sekar namun, Luna berhasil menangkisnya. Tapi kuatnya pukulan itu, membuat mereka mundur beberapa langkah.


Pukulan Andaru tadi, mengenai perut Sekar. Darah Segar langsung keluar sela mulutnya.


" Hahaha! " Hattala kembali tertawa lantang " Sekarang kau tau alasannya kenapa aku memilih jalan ini. Daratan ini sudah jauh tertinggal. Inilah masa depan! " Teriaknya pada Sekar, bangga.