
Hattala dan Bajra, telah bergerak dengan membawa semua semua prajurit kota. Bersama mereka, juga terlihat ketua Serikat dagangbdan pekerja yang membawa puluhan pendekar bersamanya.
Ketua serikat itu tampak tidak senang dengan cara yang digunakan Hattala. Bagaimanapun, Hattala mengerahkan semua kekuatan yang ada di kota, hanya untuk menyerang satu toko yang dihuni oleh dua orang gadis yang menyandera seorang pemuda lemah yang kaya raya. Menurutnya, ini sangat berlebihan.
" Hattala, kau memintaku membawa semua orang ini hanya untuk menakut-nakuti dua orang gadis? " tanya ketua serikat sedikit sinis.
" Aku akan memintamu membawa lebih banyak orang jika kau masih memiliki nya. Dan itu demi kebaikanmu sendiri. Kau yang bilang ingin membalas kematian anggotamu sendiri, bukan? " Hattala menjawab namun sama sekali tidak menatap ketua serikat itu " Votus yang kau katakan sangat kuat itu, bisa dikalahkan dengan mudah oleh mereka. Aku rasa pendekar-pendekar yang kau bawa sekarang tidak jauh lebih hebat daripada Votus. "
Semua pendekar dari serikat langsung menatap Hattala tajam. Namun, ketua serikat langsung menoleh pada mereka memberi isyarat agar tetap tenang.
" Aku hanya peduli dengan pemuda yang kau katakan itu. Jika tidak, aku hanya akan mengirim pria di sebelahku ini saja untuk menghabisi mereka "
Di sebelah ketua serikat berjalan seseorang yang sepertinya memiliki level kependekaran yang sangat tinggi di antara semua pendekar dari serikat. Pria itu berjalan tenang dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi.
" Jika begitu, buktikan saja bahwa orang itu memang sehebat yang kau maksud " Hattala Tetap meremehkannya.
" Tuan Hattala, sebaiknya anda menjaga mulut anda. Aku hanya mematuhi tuan Nurmageda dan ketua Barnes yang membayarku. Jika kau menyinggungku sekali lagi, aku sendiri yang memastikan kau tidak akan melihat matahari esok pagi " tiba-tiba pendekar itu bersuara.
Hattala langsung terdiam. Sesaat dia lupa bahwa dirinya hanya beruntung menjadi keluarga Nurmageda dan mendapat kepercayaan darinya. Jika tidak, tentu saja orang-orang ini tidak punya alasan untuk mengikuti kemauannya.
" Ehem ... " Hattala berdeham untuk menutupi kegugupannya " Maaf jika aku telah menyinggungmu, pendekar Gagak Merah. Itu karena Aku mengandalkanmu " dalih Hattala.
Di saat yang sama, Setelah menjelaskan semuanya pada Arya dan kedua gadis itu, prajurit yang mendatangi toko Smith bergegas pergi. Sementara itu Luna dan Ciel sedang bersiap-siap untuk keadaan terburuk.
Karena keadaan tidak seperti yang mereka harapkan sebelumnya, Luna terpaksa mempercayakan keselamatan Jaka dan Ratih pada dua prajurit yang barusaja pergi itu. Setidaknya, mereka berjanji akan menyembunyikan keduanya di tempat yang aman.
Tidak lama terdengar suara derap langkah yang bergemuruh mendekat. Langkah yang beberapa saat lalu masih terdengar samar itu, kini semakin jelas terdengar oleh mereka.
Ciel mengangkat pedang yang sangat besar, kini berdiri di sebelah Luna. " Sepertinya prajurit itu memang bisa di percaya. Aku yakin itu Hattala dan prajurit kota juga para pendekar dari serikat "
" Ya. Kita akan mencoba membuat celah untuk melarikan diri " Luna memegang bahu Ciel dan menatap nya " Ciel ... " Luna tampak berpikir sejenak lalu kembali menatap adiknya itu. " Hmm ... Jika keadaan menjadi sangat buruk, aku akan membukakan jalan dan kau— "
" Tidak! " Ciel sudah tau apa yang akan di katakan oleh kakaknya itu langsung memotong. " Kita akan membuka jalan, dan kabur bersama. "
Sepertindugaan Luna, adiknyabyangbkeras kepala itu, tidak akan menerima sarannya. " Haaa ... Baiklah " Luna mendesah dan mengalah. " Lagipula dengan sifatmu itu, aku tidak mungkin meninggalkanmu di dunia ini sendiri " senyum Luna terkembang saat mengatakan itu.
" Ingat! Kita adalah anak-anak Rouge Smith " kata Ciel.
" Seperti katamu! Kita adalah anak-anaknya " Luna mengeluarkan senjata pamungkasnya. " Hancurkan sebanyak yang kita bisa! " Luna mengangkat Palu Godam besar yang berbentuk unik juga berukir sangat indah dan memiliki berat setidaknya 200 kilogram dengan sebelah tangan mengacungkannya ke udara. Luna menaruh benda tersebut di pundaknya seolah berat Godam itu tidak ada arti sama sekali baginya.
Kini keduanya benar-benar merasa sudah siap menghadapi apapun yang akan terjadi.
Arya yang sejak kepergian kedua prajurit tadi hanya diam, kini tersenyum melihat semangat keduanya. " Aku rasa kalian senang bertarung, apakah kalian sebenarnya adalah pendekar? "
Mendengar pertanyaan Arya itu, keduanya langsung tertawa.
" Bukankah kau juga sebenarnya seorang pendekar? " Tambah Ciel.
Arya menggeleng. " Aku tidak tau, aku baru saja berlatih menjadi pendekar beberapa hari yang lalu "
" Maksudmu? "
" Hmm ... Aku baru mempelajari jurus yang sama dengan jurus yang digunakan ketua Sekte Delapan Mata Angin beberapa hari yang lalu. Bukankah pendekar itu harus memiliki sebuah jurus? "
Mata Ciel mengerjap-ngerjap. Otaknya mencoba mencerna apa yang barusaja dikatakan pemuda aneh di depannya itu." Kau bercan— "
" Arya! Kami benar-benar minta maaf jika kau merasa kami telah meremehkanmu selama ini. Tapi, dengan keadaan yang sudah seperti ini, kau sama sekali tidak terlihat takut. Sebenarnya, sekuat apa dirimu? "
Luna merasa Arya sepertinya tersinggung sejak pertama kali mereka bertemu di hutan. Luna masih ingat bagaimana mereka sangat meremehkan Arya saat itu. Keduanya melupakan kemungkinan bahwa, Seperti kebanyakan pendekar yang memiliki kekuatan yang sangat tinggi, Arya menyembunyikan pancaran tenaga dalamnya.
" Ya! Aku juga ingin menanyakan hal yang sama. Bagaimana bisa kau menyembunyikan tenaga dalammu? "
Ciel sedari tadi masih mencoba mengukur tenaga dalam Arya. Namun, dia benar-benar merasa gagal karena tidak bisa melihat dan merasakan pancara tenaga dalam apapun dari tubuh Arya. Bahkan saat Arya mengibati Luna sekalipun Ciel dengan kekuatan matanya yang unik itu, tetap tidak bisa melihatnya.
" Entahlah! Aku juga tidak tau sekuat apa diriku. Aku tidak merasa takut karena sejak kedatanganku ke kota ini, aku merasa tidak ada satupun di kota ini yang membahayakan hidupku " Arya menjawab pertanyaan Luna dan menoleh pada Ciel setelahnya " Aku memang tidak memiliki tenaga dalam " lanjutnya.
Kedua kakak adik itu terdiam karena tidak tau harus berkata apa lagi. Mereka telah melihat kekuatan Arya dan pemuda ini masih mengaku bahwa dia tidak tau dia sekuat apa.
Terlebih lagi dia juga masih berkata bahwa dia bukanlah seorang pendekar. Keduanya tidak bisa menganggap perkataan Arya ini sebuah lelucon. Mereka yakin bahwa mereka sudah menyinggung Arya terlalu jauh.
Melihat keduanya tidak mengatakan apapun, Arya mengira pembicaraan telah selesai. Lagipula, dia mendengar suara derap langkah di luar sana sudah semakin mendekat. Arya langsung berbalik dan berjalan ke pintu hendak keluar.
Karena keduanya masih terdiam di tempat di mana mereka berdiri, Arya berbalik " Sepertinya memang lebih baik jika kalian tetap di sini " katanya.
" Kau akan mencoba berbicara pada Hattala? " tanya Luna yang lebih dahulu menyadari bahwa Arya sudah menjauh.
" Tidak! Aku berencana menghabisi mereka semua " jawab Arya.
" Arya! Aku tau kau sangat kuat. Tapi, kau dengar sendiri penjelasan prajurit tadi. Dia antara mereka, Ada pendekar yang lebih kuat daripada Votus dan jumlah mereka sendiri juga sangat banyak "
" Ya, kau tidak bisa mengalahkan mereka sendiri " Tambah Ciel " Kami akan membantumu! "
" Aku tidak sendiri " Arya berfikir sejenak. Lalu kembali menatap keduanya " Demi kebaikan kalian berdua, apapun yang terjadi, kalian tetap berada di dalam sampai aku selesai " Setelah mengatakan itu, Arya langsung keluar.
" Kakak! " Ciel ingin protes tapi meminta Luna yang menyampaikannya pada Arya.
" Kita belum tau apa yang dia rencanakan. Mungkin dia memang sedang ingin mencoba berbicara dengan Hattala. Kau tau kan, Hattala sepertinya sedikit menghormatinya? "
Mendengar itu, Ciel langsung mengangguk " semoga saja begitu "