ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Dua Hari Pertama


Akhirnya mereka mengerti kenapa saat pertama kali bertemu dengan Arya, Ciel dan Luna mendapati Arya sedang memakan Bubalu dan Benggala.


Malam ini saja, sepertinya tak lama lagi mereka akan memakan Siluman yang jauh lebih mahal dan jauh lebih langka juga jauh lebih berbahaya daripada keduanya.


Arya dan Krama baru saja membawakan mereka Siluman berumur lebih dari seribu tahun. Siluman yang hanya tercatat di dalam buku, Tarsius. Atau yang sering disebut Siluman hantu.


Bai Fan dan Bai Hua juga sangat terkejut saat Arya dan dua Iblis langit kembali dengan membawanya. Bagi mereka, Tarsius sendiri hanya ada dalam catatan sejarah.


Meski mereka mengenal Siluman itu, tak ada catatan yang mengatakan bahwa ada yang pernah memakan Tarsius sebelumnya.


Hal itu bukan tanpa alasan. Tarsius adalah siluman yang bisa membuat seseorang gila hanya karena menyentuhnya.


Suara Tarsius sendiri, memiliki efek yang bisa membuat seseorang menjadi pusing, mual, hingga kehilangan kesadarannya. Jadi, selama ini tidak ada yang berani menyerang tarsius yang paling muda sekalipun.


Tarsius sendiri, dipercayai menjadi raja siluman atau setidaknya pemangsa teratas dimanapun dia berada. Meski begitu, keberadaannya siluman yang memiliki bentuk seperti kukang tapi bergerak sangat cepat ini, sangat sulit ditemukan.


Seandainya ditemukan pun, tak banyak yang masih hidup untuk menceritakannya. Karna itu lah Tarsius sering di sebut dengan Siluman Hantu.


Akan tetapi, disini lah keempatnya sekarang. Melihat Arya yang sedang membersihkan kulit tarsius itu untuk dimakan oleh mereka.


"Arya! Kau tidak apa-apa? Kau pernah memakannya?"


Ciel merasa ada yang salah dengan Arya. Saat keempatnya tadi sedang berburu, mereka langsung melarikan diri saat Tarsius muncul.


Bagaimana tidak, saat mendengar suara Tarsius saja, mereka langsung merasa pusing. Dan saat siluman yang sebesar kerbau ini muncul,  mereka tau bahwa siluman ini sangat berbahaya.


Tapi saat mereka berlari menjauh, Arya seperti orang yang bertingkah aneh. Bukan! lebih tepatnya, gila. Arya berlari ke arah berlawanan dari mereka.


Arya dan anjingnya berburu Tarsius. Itu saja yang mereka ketahui saat mereka melihat Tarsius yang sangat menakutkan itu, lari terbirit-birit saat Arya dan anjingnya itu muncul.


Arya terus membersihkan tanpa melihat ke arah Ciel. "Aku tidak apa-apa. Siluman seperti ini, dagingnya sangat enak!" Jawabnya datar.


Ciel tidak bermaksud menanyakan keadaan tubuh Arya. Tapi, tentang kejiwaannya. Bagaimana dia masih terlihat biasa saja.


"Kenapa kau tidak terpengaruh dengan suara siluman ini?" Ciel melihat Arya memegang kulit siluman itu.


'Bukankah setelah menyentuh kulit siluman ini, seharusnya pemuda gila ini menjadi... Ya! Gila!' batinnya


Arya mengangkat kepalanya, seperti sedang mengingat sesuatu. Dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Aku pernah membenturkan kepalaku ke batu atau pohon beberapa kali, saat berburu siluman seperti ini saat aku masih kecil. Jadi, karena sudah terbiasa, sekarang sudah tidak lagi berpengaruh padaku."


Mereka berempat sedikit terperangah dengan jawaban Arya. Kata-kata itu berarti, Arya sudah beberapa kali memakan Tarsius sebelumnya.


Satu hal lagi. Di mana sebenarnya Arya menghabiskan masa kecilnya. Bai Hua, Luna, dan Ciel, teringat saat Arya mengatakan sesuatu sesaat sebelum dia memutuskan untuk menyusul Ki Jabara ke Desa Paganti. Tentang asal usulnya.


Setelah selesai, Arya menyisihkan isi perut Tarsius itu dan mengangkatnya untuk diberikan pada Krama yang kini berbaring di bawah sebuah pohon besar. Saat Arya menaruh itu di depannya, Krama mulai memakannya dengan lahap.


Mereka masih belum terbiasa dengan dua Iblis langit itu, meskipun Arya sudah mengatakan bahwa iblis langit tidak memakan manusia.


Bukan masalah iblis langit memakan manusia yang menjadi persoalan bagi mereka. Tapi, meski tidak memakannya, tentu saja keduanya masih bisa membunuh manusia dengan mudah. Tentu Itu dua hal yang berbeda.


"Luna! Bukankah kau pernah berbicara dengan Rewanda?"


Luna sedikit tersentak saat Arya mengungkit itu. Sebelumnya, dia juga berfikir bahwa Rewanda juga berbicara padanya saat melawan pasukan Hattala. Tapi setelah itu, Luna menganggap mungkin itu hanya perasaannya saja.


"Ba-bagaimana ... K-kau ... tau?!" tanya Luna dengan wajah terkejutnya.


Kalian tidak akan bisa berbicara dengan mereka, jika mereka tidak menginginkannya. Setidaknya, itu yang aku tau. Saat setelah membantumu, Rewanda mengatakannya padaku.


Iblis langit, tidak berbicara pada orang yang tidak dipercayanya. Meski orang itu melihat Arya sedang berbicara dengan mereka. Orang yang melihat tidak akan menyadari suara Rewanda ataupun Krama.


Tapi jika keduanya sudah percaya, maka mereka akan mendengar suara iblis itu saat berbicara.


Arya berdiri menghadap pada keempatnya. "Karna perjalanan kita masih jauh dan kita akan selalu bersama selama itu, Jadi sekarang aku rasa saatnya untuk kalian benar-benar mengenal mereka."


"M-maksudmu?!" Ciel memandang Krama, dia masih ingat bagaimana saat pertama kali melihat Krama dengan wujud iblisnya. Saat itu, dia dan Luna sedang di kejar oleh Iblis itu.


"Rewanda! Krama! Perkenalkan diri kalian! "


Mendengar perintah Arya, Rewanda langsung melompat dari atas pohon.


"Buk!"


Terakhir kali mereka melihatnya, Rewanda masih dalam bentuk Kera biasa. Namun, saat mendarat di tanah, kini kera itu tampak sangat mengerikan.


"Aku Rewanda! Pengawal terkuat, Sang Raja!"


Meski keempatnya memiliki level kependekaran yang tinggi, tetap saja saat melihat ukuran dan bentuk sebenarnya dari tubuh Rewanda, membuat kaki mereka menggigil.


"Aku Krama! Jangan mempercayai kata-kata Kera bodoh itu itu." Krama menunjukkan Taringnya dan menatap semua orang dengan matanya yang menyala. "Aku jaub lebih hebat daripada dia"


Rewanda menoleh pada Krama, tatapannya sangat tak ramah. "Sepertinya, otakmu memang sudah berkarat. Kau tak pernah belajar!"


"Tak ada pelajaran yang bisa diambil dari Kera bodoh sepertimu!"


"Sepertinya ini waktu yang cocok untuk memberimu pelajaran!"


"Kau ingin mencobanya?!"


Tiba-tiba saja keempatnya merasa terjebak pada perseteruan dua Iblis yang berbahaya. Mereka berharap Arya melakukan sesuatu untuk menghentikan keduanya. Tapi, hal yang dilakukan Arya sama sekali tidak sesuai harapan mereka.


"kalian tau aturannya, tapi jangan menggangu kami!"


Baru saja Arya mengatakan itu, keduanya langsung melompat menjauh dan menghilang kedalam hutan. Dan tak lama, mereka mendengar suara-suara penghuni hutan berlarian ke segala penjuru.


Suara perkelahian dua makhluk itu terdengar beberapa ratus meter dari mereka.


"Boom!"


"Boom!"


Beberapa ledakan terjadi dan setiap ledakan yang terdengar, membuat mereka semua terkejut.


"Tidak usah memikirkan mereka." Kata Arya saat melihat orang-orang di hadapannya seperti kebingungan dengan apa yang barusaja terjadi.


"Apa maksudmu?" Protes Ciel. "Dua makhluk seperti itu sedang bertempur, lalu kau meminta kami tidak memikirkannya?" Lanjutnya.


"Mereka telah melakukannya puluhan ribu kali. Bahkan dewa sekalipun tidak bisa menghentikan mereka. Jadi, biarkan saja." Arya lalu berjalan ke arah api yang menyala " Kita harus makan. Aku sudah sangat lapar. Bukankah kalian juga?"


Keempatnya saling berpandangan. Mereka masih sulit untuk mengerti jalan fikiran Arya. Setelah beberapa waktu, Akhirnya mereka berjalan ke tempat Arya.


Bagaimanapun, ini baru saja dua hari sejak mereka memulai perjalanan mereka menuju kota Basaka. Pasti masih banyak hal yang akan mengejutkan mereka saat bersama Arya kedepannya.


Membiasakan diri, adalah keputusan yang paling tepat saat ini. Lagipula, seperti kata Arya, mereka juga sudah sangat lapar.


Benar seperti apa yang dikatakan Arya sebelumnya. Daging Tarsius benar-benar sangat lezat. Mereka memakannya dengan lahap. Namun, tidak itu saja. Mereka merasakan penambahan kekuatan saat mereka mengkonsumsinya.


Bai Fan dan Bai Hua, langsung duduk bersila sesaat setelah makan. Keduanya tampak menggunkan sebuah teknik untuk menyerap setiap energi yang mereka dapat dari daging Tarsius itu.


"Apa itu yang mereka sebut, Teknik Kultivasi dari Benua Timur?" Tanya Ciel sedikit bergumam.


Luna yang juga ikut melihat keduanya, mengangguk setuju. "Sepertinya begitu"


"Bukankah, kalian menyukai ini?"


Tiba-tiba keduanya teralihkan dengan benda yang ditunjukkan Arya di depan mereka.


"Yah! Ini, tidak sebesar yang waktu itu." ucap Arya saat melihat keduanya mempelototi batu energi yang ada di tangannya.


Dengan sigap Ciel langsung mengambilnya dari tangan Arya. Luna melihat adiknya itu sedang menggunakan kekuatan matanya untuk melihat kualitas batu energi yang sekarang sudah berada di tangannya itu.


"Ini ... Ini ... Tidak mungkin!" Ciel tergugup saat mengatakan hasil penglihatannya.


Luna penasaran dengan hasil oengamatan adiknya itu langsung bertanya "Kenapa?! Ada Apa?"


Ciel langsung menoleh pada Luna. "Ini benar-benar luar biasa" Ucapnya.


Arya tidak begitu tau nilai batu energi bagi keduanya. Arya mengetahui bahwa Batu Energi memiliki harga tinggi, tapi berapa nilainya, Arya tidak begitu mengerti.


"Apakah itu sudah mencapai level permata?" Tanya Luna penasaran.


Ciel menggeleng. "Ini lebih tinggi dari itu"


"Biar aku merasakannya!" Berbeda dengan Ciel, Luna memiliki kelebihan pada indra perabanya. Dia bisa mempelajari sesuatu hanya dengan menyentuhnya.


"Kau benar. Ini melebihi itu!"


Rasa penasaran Arya terpancing. "Apakah batu itu sangat bagus?"


Keduanya langsung menoleh pada Arya. Wajah mereka berubah. Seolah Arya sudah menayakan sesuatu yang salah.


"Kau masih bertanya, apakah batu ini, bagus?" tanya Ciel pada Arya.


"Batu ini luar biasa!" Sambung Luna.


Arya menatap keduanya bergantian. Baguslah jika kalian menyukainya. Kalian bisa menyimpannya.


Keduanya masih tidak percaya saat Arya mengatakan itu. Arya sepertinya memang tidak mengetahui kualitas sebuah batu energi.


Saat itu, muncul keinginan keduanya untuk menjelaskan itu pada Arya.


"Arya—"


Belum sempat Luna berkata, Arya langsung mengangkat tangan menghentikannya.


Keduanya langsung terdiam melihat wajah Arya yang berubah, waspada.


"Ada yang mendekat!" Ucap Arya.


Arya menatap kesekeliling mencoba memastikan. Lalu kembali menoleh pada keduanya.


"Siapkan diri kalian. Mereka mungkin berjumlah ratusan, " Arya menajamkan pendengarannya. Ditambah dengan Nalurinya, Arya kini bisa memastikan.


"Tidak! Jumlah mereka pasti, ... Ribuan!"