
Memang Ciel punya akurasi tembakan anak panah yang tidak terbantahkan. Akan tetapi, bukan berarti serangannya tidak bisa di lumpuhkan.
Baru saja, Tentakel-tentakel besar milik Kerang Darah Batu itu, menyapu keempat anak panah yang di tembakan Ciel.
Namun, Ciel bukan tidak melakukan sesuatu. Dia tidak berfikir bahwa tembakan pertamanya akan langsung berhasil mengenai sasaran.
Lagipula, gadis itu tidak melepas tembakannya dengan menggunakan tenaga dalam yang banyak.
"Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !"
Satu lagi tembakan Ciel di halau oleh tentakel-tentakel besar itu.
"Hahahahha ... !"
Serangan lemah seperti ini, tidak akan bisa mengenaiku. Siluman Kerah Darah Batu tersebut, tertawa bangga.
"Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !"
"Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !"
"Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !"
Ciel terus menembak anak-anak panahnya ke inti energi siluman itu tanpa henti. Di wajahnya, kini terukir senyum meremehkan.
"Kau bisa bicara, bukan berarti kau mahkluk yang cerdas." Gumamnya.
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
Sementara itu, Arya terus berlari sambil menebaskan pedangnya. Sekarang saja, setidaknya, sudah hampir seperempat dari jumlah tentakel yang ada di atas sana terputus dan berjatuhan kebawah.
Inilah niat Ciel yang sebenarnya. Dia tau dengan tenaga dalamnya, dengan jarak sejauh ini, tentu saja anak-anak panahnya tidak akan bisa menembus inti Kerang Darah Batu.
Akan tetapi, apapun yang dilakukan Ciel saat itu, benar-benar berpengaruh besar dalam pertarungan.
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
Ciel hanya ingin membuat Kerang itu sibuk, sementara Arya menghabisi tentakel yang ada di dekat mereka.
"Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !"
"Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !"
"Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !"
Semakin lama, Ciel melesatkan anak panahnya semakin cepat. Dia tau bahwa sebentar lagi makhluk yang sangat besar itu akan segera menyadarinya.
"Arya, ini tidak akan bekerja lebih lama lagi. apa kau memiliki rencana lain?"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
"Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !" "Tus ... !"
Sambil menebaskan pedangnya, Arya tampak berfikir.
"Ciel, bisakah kau membuat tentakel-tentakel itu menjauh dari kepalanya?"
Saat Arya bertanya, gadis itu langsung memahami apa yang akan dilakukan pemuda itu selanjutnya.
"Akan aku coba ... "
Namun begitu, saat itu juga sang Siluman menyadari bahwa dia hampir kehilangan separuh dari tentakel yang ada di sisi dalam cangkangnya itu.
"Keparat ... Kalian membodohiku? Haah ... "
Kali ini, tidak hanya menyapu, tapi juga langsung menghantam mereka berdua.
"Arya ... Menghindar ... !"
Tau bahwa bahaya akan datang, Arya menghentikan langkahnya tiba-tiba. Hal itu langsung membuat Ciel kembali melingkarkan kedua tangan di leher Arya, sambil terus memegang busur panah itu.
"Ciel ... Kembali berpegang erat."
Saat Arya mengatakan itu, Ciel tidak tau apa yang akan di lakukan Arya setelahnya. Namun, saat itu Tentakel-tentakel besar tersebut semakin mendekat.
"Booooom ... "
"Booooom ... "
"Booooom ... "
"Booooom ... "
Arya langsung melompat kebawah sambil beroutar di udara. Namun, tidak benar-benar sampai di bawah.
Saat itu, Ciel menyadari bahwa, Arya berlari kencang di atas salah sate tentakel besar itu, menuju langsung ke arah kepala Siluman Kerang itu.
Namun, tiba-tiba mata Ciel melebar. Dia bisa merasakan saat ini energi yang besar seakan memenuhi kepala mahluk itu.
Saat itu, Arya langsung melompat pada tentakel lainnya, berusaha menghindar apapun yang akan keluar dari mulut Siluman itu.
"Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !"
"Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !"
"Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !" "Zeup ... !"
Mata keduanya melebar saat melihat apa yang di tembakkan Siluman itu dari mulutnya.
Jelas itu adalah elen besi berbentuk jarum, namun yang membuat mereka sangat terkejut adalah ukurannya. Satu jarum itu besarnya seukuran batang kelapa dan jumlah yang di lepaskan mulut Siluman itu, puluhan.
Saat Arya hendak melompat menghindarinya, Saat itu, tiba-tiba saja injakan Arya menghilang.
Arya kembali di kejutkan dengan hilangnya Tentakel-tentakel besar yang ada di sana.
"Arya ... Benda itu datang ... !!" Teriak Ciel, kencang.
"Matra ... "
"Omi ... Obi ... "
"Byus ... !" "Byus ... !" "Byus ... !" "Byus ... !"
"Byus ... !" "Byus ... !" "Byus ... !" "Byus ... !"
"Byus ... !" "Byus ... !" "Byus ... !" "Byus ... !"
Ratusan tembakan Air dari bawah, langsung menghantam jarum-jarum raksasa yang di lepas siluman Kerang itu.
Tentu saja itu tidak cukup untuk menghentikannya. Tapi, hal itu sudah lebih dari cukup untuk menggeser lintasan terbangnya, hingga Arya dan Ciel bisa terhindar dari jarum-jarum tersebut.
Tentu saja keduanya tidak bisa secepat itu untuk bernafas lega. Pasalnya, begitu nyaris sampai di bawah, tiga tentakel raksasa datang dengan kecepatan tinggi dan langsung menghantam keduanya keras.
"Booooom ... !"
"Booooom ... !"
"Booooom ... !"
"Arghhhhh ... "
Arya bisa menahan tiga serangan bertubi-tubi itu. Akan tetapi, daya kejut yang di sebabkan tiga benturan itu, berefek sedikit buruk pada tubuh Ciel.
Saat itu, intensitas pertarungan memang tanpa jeda. Sejak pertarungan ini di mulai, sang Siluman memang tidak berniat memberi mereka kesempatan untuk beristirahat sama sekali.
Meski Arya sudah mengalirkan banyak energi pada tubuhnya. Namun, benturan energi yang besar milik Siluman itu dengan Arya, tetap bisa melukainya.
Saat itu, Ciel mengingat kembali apa yang dikatakan Nan Tuo tetua kampung itu. Menurut kisah yang diceritakannya, bahkan Arangga sekalipun bertarung selama berhari-hari dengan makhluk ini.
Melihat, makhluk ini masih hidup dan tampak seperti menunggunya. Tentu saja hal itu menyimpulkan kan bahwa.
Manusia terkuat yang pernah ada itu sekalipun, tidak bisa membunuh mahkluk yang sedang mereka lawan saat ini.
"Ciel ... Kau tidak apa-apa?!"
"Hah?! ... "
Kata-kata Arya sontak menariknya dari lamunan yang hanya sepersekian detik itu. Saat ini, Arya masih terus menghindar dari serangan-serangan dari tentakel lainnya.
"Berpeganglah lebih erat ... !"
Sadar bawah pelukannya merenggang, Ciel langsung mengikuti kata Arya. Namun, saat itu Arya kembali berbicara.
"Ciel ... Kau percaya padaku, kan?"
Tentu saja pertanyaan Arya itu, langsung membuat Ciel heran. "Arya, aku tidak akan berada di sini, dan bertarung dengan Siluman jelek ini jika aku tidak percaya padamu."
Mendengar ucapan Ciel itu, Arya tersenyum. "Terimakasih ... "
Belum sempat Ciel menanyakan apa maksud dari kata terimakasih Arya itu, tiba-tiba dia merasakan seluruh energi yang di kirim Arya pada tubuhnya, menghilang.
Akan tetapi saat itu. Tubuh Arya bersinar lebih terang. Ciel bisa merasakan Pemuda itu bergerak lebih cepat dari sebelumnya.
"Kosha ... !"
Saat itu, dengan kekuatan matanya, Ciel merasa waktu tiba-tiba bergerak sangat lambat. Dia melihat Bahuraksa mengeluarkan bayang berwarna biru terang.
"Sreeeet ... "
Satu tebasan dari Arya langsung memutus tentakel Raksasa.
"Sreeeet ... "
Tebasan kedua untuk memutus tentakel besar lainnya.
"Sreeeet ... "
Tiga tentakel terpenggal.
"Sreeeet ... "
Empat.
"Sreeeet ... ".
Lima.
Enam...
Sepuluh...
Dua puluh...
Ciel merasakan setiap gerakan Arya dengan Bahuraksa itu, benar-benar kuat dan sangat cepat.
Empat puluh...
"AAARRRRRTGGGGGHHH ... "
Arya terus bergerak cepat, melompat dengan mengejar semua tentakel besar itu dan memotongnya seolah itu bukan apa-apa.
Tidak sampai lima menit, Arya berhasil memutus semua tentakel-tentakel besar dan saat ini hanya menyisakan kepala Siluman tersebut.
"Manusia ... Kau ... "
Arya menatap mata Siluman itu dengan tajam, detik kemudian, dia berlari langsung menuju inti energi yang berada tepat di bawah kepala Siluman kerang tersebut.
"Jurus Kedua ... Gerbang Basava ... "