
Malam itu juga, Arya dan Rangkupla menuju Balaikota untuk membebaskan Salendra.
Di jalan, Genta sempat memberitahu mereka penyebab ayahnya sampai berurusan dengan Prajurit-prajurit kekaisaran Nippokure dan berakhir di penjara.
Namun, bagi Arya ataupun Rangkupala sendiri, itu bukanlah hal penting. Saat ini mereka hanya ingin secepatnya melepaskan pria itu.
Lagipula, mereka kesini bukan untuk bersantai. Setidaknya, saat ini mereka bisa langsung memulai rencana mereka.
Balaikota kota Pinang Merah. Sebuah bangunan yang berdiri dengan empat lantai. Lantai bawah merupakan tempat administrasi dua lantai di atasnya digunakan untuk tamu-tamu penting walikota.
Sementara, lantai ketiga yang merupakan tempat tinggal walikota itu, kini kosong. Karena sang walikota tidak sedang berada di kota Pinang Merah
Seperti yang diketahui, entah bagaimana prajurit dari kekaisaran Nippokure datang dan langsung megambil alih kota ini, dan mengganti walikota dengan pimpinan mereka.
Sampai di depan bangunan itu, keduanya meminta Genta untuk menunggu di luar sementara mereka langsung berjalan masuk.
Di depan gerbang, Ada delapan prajurit yang berjaga. Rangkupala barubsaja mencabut pedang namun saat ingin menyerang. Delapan orang itu sudah tumbang.
"Aish, Tuan Muda, kenapa kau menghabisi semuanya. setidaknya sisakan untukku." Protes sang legenda Daratan Barat itu.
Genta yang masih bisa melihat itu, langsung terbelalak. Anak Salendra itu sempat berfikir bahwa Arya adalah pelayan Rangkupala sebelumnya.
Namun, saat mendengar Rangkupala memanggilnya tuan muda, laki-laki itu menyimpulkan bahwa si Kebojalang sedang mengawalnya.
Sekarang, dia tidak bisa mengambil kesimpulan apapun lagi. Bahkan dia yang melihat dengan mata kepalanya sendiri saja, tidak menyadari Arya yang tiba-tiba menghilang, sudah berdiri di depan gerbang dengan delapan prajurit yang sudah tumbang.
"Maaf Tuan Rangku, aku fikir akan terlalu lama jika menggunakan pedang." Jawab Arya.
Rangkupala hanya bisa menghela nafas dan melepasnya. "Aku sudah lama tidak bertarung, setidaknya biarkan aku mencoba pedangku."
Saat itu, mereka langsung berjalan masuk kedalam. Di halaman, ada sekitar dua puluh orang prajurit yang tampak sedang berbincang.
Mereka sedikit terkejut dan merasa heran saat melihat dua orang yang tiba-tiba masuk dari gerbang, dan terlihat berjalan menuju pintu depan Bangunan Balaikota itu.
"Hei, siapa kalian? Bagaimana kalian bisa masuk?"
Tidak menjawab, Rangkupala langsung menerjang dua orang yang menghadang.
Dengan cepat dia melibaskan pedangnya hingga kedua leher orang itu terputus.
"Hei, apa yang kau—"
Prajurit yang paling dekat di sana tidak sempat menyelesaikan kata-katanya saat di Kebojalang sudah melewatinya dengan leher prajurit itu sebagai jalur lintas mata pedangnya.
"Penyu—! "
Lagi-lagi terputus. Teriakan itu di bungkam Si kebojalang dengan menggenggam kuat leher prajurit kekaisaran Nippokure itu, hingga remuk.
Setelah itu, si Kebojalanng melihat sisanya sudah mencabut pedang. Saat itu, keningnya mengernyit heran, karena tidak melihat Arya di sana.
"Kemana dia?"
Rangkupala mengedarkan pandangannya untuk mencari Arya. Dia melihat Arya berjalan, dan berdiri di depan pintu.
"Siapa kalian?"
"Aku yang seharusnya bertanya, kalian siapa? Kenapa kalian bersikap ini adalah tanah nenek moyang kalian?"
Tau bahwa penyusup itu tidak akan mau dia ajak bicara, para prajurit itu langsung menyerang bersama.
Tidak seperti yang sebelumnya. Para prajurit yang kini dia lawan, terlihat sangat ahli menggunakan pedang.
"Ting!" "Ting!" "Ting!"
"Ting!" "Ting!" "Ting!"
"Ting!" "Ting!" "Ting!"
"Argh!" "Argh!" "Argh!"
"Ting!" "Ting!" "Ting!"
"Ting!" "Ting!" "Ting!"
"Ting!" "Ting!" "Ting!"
"Argh!" "Argh!" "Argh!"
Beruntung Rangkupala bukan pendekar sembarangan. Sang legenda masih bisa mengalahkan mereka dengan kekuatan serta kecepatan.
Jelas Prajurit-prajurit ini hanya berada pada level pendekar suci tingkat dua hingga lima. Namun, keterampilan pedang mereka harus diakui Rangkupala sangat luar biasa.
Pertarungan terus terjadi. Tidak hanya ahli berpedang. Kombinasi serangan mereka juga beragam. Rangkupala merasakan bahwa prajurit-prajurit yang kini dia lawan, sengaja di latih untuk melawan musuh yang jauh lebih kuat
"Ting!" "Ting!" "Ting!"
"Ting!" "Ting!" "Ting!"
"Ting!" "Ting!" "Ting!"
"Argh!" "Argh!" "Argh!"
"Ting!" "Ting!" "Ting!"
"Ting!" "Ting!" "Ting!"
"Ting!" "Ting!" "Ting!"
"Argh!" "Argh!" "Argh!"
Terlalu lama, Rangkupala menambah konsentrasi tenaga dalam pada titik-titik cakra di kaki dan tangannya, dan langsung memacu kecepatan lalu menghabisi empat prajurit tersisa.
"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"
Rangkupala berlari dan kini sudah berada di depan Arya, lalu memandang oemuda itu heran.
"Tuan Muda, kenapa kau tidak membantuku?"
Arya memundurkan kepala sedikit, tak kalah herannya. "Bukankah Tuan Rangku Ingin mencoba pedang? ... Lagipula, mereka tidak terlihat berbahaya."
"Baiklah, ayo kita masuk!"
Saat Rangkupala hendak menerjang pintu di depannya itu, Arya mendorongnya dan langsung terbuka.
"Braaakkkk ... "
Arya menoleh pada Rangkupala yang dia lihat melompat melewatinya dan berakhir dengan menghancurkan meja di dalam sana.
"Tuan Rangku, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menghancurkan meja itu?"
Rangkupala benar-benar kehabisan kata-kata. Tidak tau harus merasa malu atau marah. Namun, segera beberapa suara berteriak pada mereka.
"Hei, siapa kalian?"
Karena susana hatinya sedikit kesal, Rangkupala melampiaskannya pada beberapa prajurit di sana.
Prajurit-prajurit itu ternyata juga terkejut dengan cara kemunculan dua orang, dengan satunya melompat masuk langsung menerjang dan mengancurkan meja itu.
"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"
"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"
"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"
Dalam sekejap saja, serangan Rangkupala langsung membuat para prajurit yang berada di lobi balaikota itu, habis meregang nyawa.
Arya mengangguk. "Menurutku, pedangmu sangat tajam."
Rangkupala kembali menarik nafas dan melepasnya. "Ya. Ini sangat ... Tajam."
"Baiklah, karena kau telah memastikan pedangmu, maka sebaiknya kita langsung saja." Ucap Arya.
"Hah?! ... Apa maksudmu?"
Tidak menjawab pertanyaan Rangkupala itu, Arya mengangkatbtangan dan berseru.
"Matra ... !"
"Omi ... Obi!"
Saat itu, terus air muncul langsung menyelimuti setiap Prajurit-prajurit Kekaisaran Nippokure yang menjaga gedung itu.
Mata Rangkupala sempat melebar karena air terus datang dari bawah dan membungkus seluruh tubuh semua prajurit tersebut
"Tirta ... Amerta!"
"Booom!"
Sempat terdiam sejenak, karena saking terkejutnya, tiba-tiba saja apa yangbdi makannya tadi, menyeruak keluar dari mulut Rangkupala.
"Hueeek ... !"
"Hueeek ... !"
Lebih tiga puluh tubuh prajurit di sana, hancur dan menjadi bubur daging berlumur darah. Sebuah pemandangan yang tak siap di lihat oleh sang Legenda.
"Tuan Rangku, Maaf soal itu. Aku rasa bertarung dengan pedang, di dalam ruangan akan memakan waktu."
Rangkupala mengangguk. "Ya ... Ya ... Tentu saja ... Heueeek ... !"
Arya berjalan melewatinya, "Tuan Rangku muntahnya nanti saja. Sekarang, mari kita selamatkan sahabatmu dan membayar lunas hutangmu."
Arya terus berjalan dengan di ikuti Rangkupala berjalan di belakang, yang terlihat sempoyongan.
Seperti apa yang di katakan Genta, persis di bawah lantai dasar di bawah tanah, di sanalah penjara berada.
"Tuan Rangku, apakah itu Salendra?"
Saat Arya menanyakan itu, seketika mual yang di rasakan Rangkupala menghilang.
Di dalam sebuah penjara, seseorang yangbsangat dikenalnya, kini terkurung dengan kedua tangan di rantai dan kepala terpasung kayu.
"Salendra ... !" Seru Rangkupala, histeris.
Mendengar itu, mata Salendra yang tertutup, Langsung terbuka.
Terlihat dia langsung melihat pada Rangkupala yang baru saja memanggilnya. Sempat sedikit lama, akhirnya pria yang terkurung itu langsung menyadari siapa yang memanggilnya.
"Jemba? ... Itu kau?"
"Ya, ini aku, Temanmu." Jawab Rangkupala cepat
"Jemba, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Salendra heran.
"Kau masih bertanya? Tentu saja untuk menyelamatkanmu." Tegasnya.
"Trinnting ... !"
"Kraakkk ... !"
Tiba-tiba Salendra memutus rantai dan mematahkan kayu yang memasungnya.
"Kenapa kau ingin menyelamatkanku?"
Arya dan Rangkupala melongo melihat kejadian itu.
"Genta mengatakan pada, bahwa kau di penja ... "
"Giiii...ng."
Salendra baru saja membengkokkan besi yang memenjarakannya, dan keluar dari sana.
"Tidakkah anak bodoh itu mengatakan padamu, bahwa aku yang memilih di penjara?"
Rangkupala benar-benar kehabisan kata-kata.
Dia melupakan satu hal penting. bahwa sahabatnya ini, adalah manusia terkuat yang pernah dia lawan, sebelum bertemu Arya.