ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Bukan Dewa


Rasa bangga akan Sekte dan dirinya sendiri yang sedang membumbung tinggi, membuat pendekar Awan Senja merasa bahwa orang-orang disana sedang takut padanya.


Namun, wujud asli Rewanda dan Krama menghempaskan mentalnya begitu saja hingga membuat mata pendekar Awan Senja memutih dan tergeletak di tanah tak sadarkan diri.


Jika Arya tidak segera menghentikan keduanya, maka bisa dipastikan pendekar itu akan meregang nyawa. Karena, Rewanda dan Krama tak pernah terlihat semarah ini sebelumnya.


Arya langsung menghampiri tubuh pendekar tersebut dan segera memeriksanya.


" Apakah dia mati? "


" Tidak, Dia hanya pingsan "


Barda bertanya dari tempatnya berdiri, tidak berani mendekat. Rewanda dan Krama benar-benar dalam tatapan yang sangat tidak bersahabat.


Rewanda mendekat " Raja! Biarkan aku menghancurkan manusia ini " katanya geram.


Krama tak bersuara. Dari wajah dan sorot matanya saja, jika Arya mengizinkannya maka manusia di depan nya itu akan tercabik-cabik oleh taring dan cakarnya.


Arya menatap keduanya. " Rewanda, Krama ... Bisakah kalian tidak menakuti paman Barda dan anak-anaknya? "


Rewanda dan Krama menatap pada Barda dan kedua anaknya yang berdiri menggigil. Tatapan itu membuat mereka semakin ketakutan.


Wajah mereka memucat seolah tidak ada lagi darah di sana. Rumah mereka terasa sesak dipenuhi Aura yang sangat menakutkan yang terpancar dari tatapan Rewanda dan Krama itu.


" Raja, kami akan menunggu di luar " Krama melangkah sambil merubah wujudnya menjadi anjing biasa lalu menoleh pada Rewanda yang masih berdiri menatap pendekar yang sudah tak sadarkan diri itu. " Kera Bodoh! Ayo keluar! "


Rewanda akhirnya mengikuti Krama keluar dari rumah Barda. Tampak ketidakpuasan dari keduanya.


" Tuan Arya! Bagaimana dengan luka anda? " Barda berlari mendekati Arya setelah kedua Iblis langit melewati pintu rumah. Dia mencemaskan luka yang telah disebabkan oleh pendekar Awan senja di bahu Arya.


" Oh, luka ini? " Arya membuka sedikit bahunya melihatkan luka tersebut pada Barda, agar tidak terlalu mencemaskannya. " Sudah tidak apa-apa "


Mata Barda membesar melihat sisa luka yang sudah mengecil lalu tertutup tepat saat dia memperhatikan bahu Arya. Luka itu hanya menyisakan darah kering disana. Luka itu sendiri tampak tidak meninggalkan bekas goresan sedikitpun.


Barda semakin meragukan bahwa pemuda di depannya itu adalah manusia. Tidak mungkin manusia bisa melakukan hal seperti itu. Setidaknya Barda belum pernah mendengar siapapun bisa melakukan hal tersebut seumur hidupnya.


" Paman Barda, di manakah kita bisa mengistirahatkan orang ini? " tanya Arya yang sudah mengangkat pendekar itu.


Barda hanyut dengan fikirannya sendiri hingga tak mendengarkan pertanyaan Arya.


Melihat ayah mereka tidak mendengar Arya, anak Barda yang lebih tua berinisiatif untuk menjawabnya. " Di sana! " tunjuk pemuda itu pada dipan yang terbuat dari bambu yang ada di sudut rumah Barda.


Arya membawa dan membaringkan tubuh orang itu di sana.


Arya mendapati Barda masih terdiam mematung di tempat terakhir dia melihat luka Arya yang sembuh dengan sendirinya. " Paman Barda, berdirilah! "


Barda mendengar apa yang Arya katakan, namun dia malah melihat kedua anaknya " Damar! Dimas! Kemarilah " panggil Barda pada kedua anaknya.


Dua pemuda itu menanggapi panggilan ayahnya dan mendekat kesana.


" Ikuti aku! " perintahnya.


Keduanya mengukuti gerakan ayahnya yang berlutut di depan Arya dan menundukkan diri hendak bersujud.


" Dewa! " kata Barda.


Arya langsung melompat ke arah Barda, dan menghentikannya " Paman Barda, apa yang anda lakukan? "


Kedua anaknya juga terhenti melihat Arya menghentikan ayah mereka.


" Aku ... "


" Berdirilah paman! Aku bukan Dewa " Arya memapah tubuh Barda agar berdiri.


" Tapi- "


" Aku akan menjelaskannya, tapi kalian harus berjanji untuk merahasiakannya! " potong Arya.


Mereka melangkah pada meja yang ada di ruang tengah rumahnya. Dan duduk di sana.


Arya menatap ketiganya lekat. " Baiklah paman, aku fikir ini salahku. Jadi, aku akan menjelaskan pada kalian "


Arya juga menjelaskan bahwa Rewanda dan Krama bukan siluman melainkan makhluk langit yang berumur puluhan ribu tahun. Rewanda dan Krama juga murid dari gurunya.


Yang membuat mereka terkejut adalah saat Arya mengatakan bahwa gurunya memang seorang Dewa. Tapi, Arya tidak mengatakan namanya. Barda dan anak-anaknya hanya menganggukkan kepalanya saat Arya mengatakan keengganannya menyebut nama gurunya tersebut.


Arya tidak menceritakan detil kehidupannya seperti apa. Arya hanya menjelaskan apa yang sudah dilihat oleh lima orang yang sudah diselamatkannya itu.


" Jadi begitulah ceritanya, Paman Barda, kak Damar dan Kak Dimas " kata Arya menyudahi penjelasannya.


Mereka bertiga seolah tidak percaya dengan apa yang diceritakan Arya. Rasa takjub mereka dengan kehidupan yang telah dilalui Arya tidak bisa mereka sembunyikan dari wajah mereka.


Mereka bersumpah akan menjaga rahasia Arya.


Barda juga menceritakan bahwa dirinya adalah kepala desa di sana. Namun, jika siang menjelang sore seperti ini para penduduk desa akan pergi bertani atau berladang. Hanya meninggalkan orang-orang tua dan anak-anak mereka.


Waktu berlalu. sesuai permintaan Barda di saat mengajak Arya ke desanya, adalah untuk menjamu Arya. Di balik itu, sebenarnya Barda berniat memberikan Arya semacam imbalan sebagai ungkapan terimakasih.


Namun hal itu belum sempat terjadi. Sugal dan pengikutnya sudah kembali. Terdengar suara langkah kaki-kaki kuda dari pintu gerbang desa.


Para pendekar sekte Awan Senja langsung menuju rumah Barda. Sugal melompat turun dari kudanya dan langsung masuk menuju rumah Barda.


Mata nya langsung tertuju pada Arya yang tengah duduk bercengkrama dengan keluarga Barda. Dari wajahnya, Sugal tampak sangat marah. Arya dan seluruh keluarga Barda menyadari itu.


" Tuan Sugal, bukankah menurutmu ini sedikit tidak sopan? "


" Maafkan kelancanganku, tuan Barda! " Sugal menatap Barda sebentar dan kembali melototi Arya " Hei, kemari! " perintahnya pada Arya.


" Tuan Sugal- "


Arya menepuk punggung tangan Barda untuk menyelanya " Tidak apa-apa paman " setelah itu Arya berdiri dan berjalan mendekat pada Sugal.


" Ada apa ki Sugal? " tanya Arya.


" Ah! Jangan berpura-pura lagi! Aku sudah sampai di tempat yang kalian tunjuk. Tidak ada satupun perampok di sana seperti yang kalian ceritakan! "


Mereka yang mendengar itu sedikit terkejut termasuk Arya. Jelas-jelas Arya mengikat mereka semua di sebuah pohon.


Arya heran, padahal seharusnya ikatan yang dilakukan pada perampok itu cukup kuat " Benarkah? "


Sugal mengabaikan pertanyaan Arya. Baginya itu hanya salah satu trik murahan dari pemuda itu untuk mengelabuinya. " Dengar anak muda! Katakan padaku, apa tujuanmu sebenarnya? "


" Aku kesini atas tawaran Paman Barda, tujuan utamaku bahkan bukan ke desa ini sebelumnya. Aki bisa menanyakan langsung pada paman Barda " Arya coba menjelaskan yang sebenarnya.


" Itu benar! Aku yang membawa tuan Arya kesini! " bela Barda.


" Tuan Barda, dengar! Anda telah ditipu oleh pemuda ini. Jika benar perampokan itu ada, maka itu hanyalah sandiriwara dari pemuda ini dan kawanannya. Ada sesuatu yang pemuda ini inginkan dari desa ini! "


Saat Sugal mengatakan itu, beberapa Anggotanya mulai memasuki rumah Barda. Keadaan di sana mukai semakin menegang.


Ingin sekali Barda menceritakan kejadian sesungguhnya. Namun, itu tidak bisa terjadi tanpa melanggar sumpahnya pada Arya untuk menjaga rahasianya.


Sugal mengalihkan pandangannya seolah mencari sesuatu. Namun, pandangan langsung terhenti pada salah satu sudut dirumah itu.


" Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia bisa berada di situ?! " Sugal semakin kehilangan kesabarannya saat salah satu muridnya tertidur disana.


Dua orang di belakang Sugal langsung berlari menghampiri teman mereka yang sedang tak sadarkan diri itu. Mereka mencoba membangunkannya namun tak berhasil " Dia Pingsan! " teriak salah satunya.


" Kalian! Tangkap pemuda ini! " perintah Sugal pada yang lainnya.


Dua orang yang lainnya mendekati Arya hendak menangkapnya. Namun, Barda langsung berlari menghadang mereka.


" Tuan Sugal, aku yakin ini hanya salah faham. Aku bisa menjelaskannya. Mari kita bicara baik-baik! "


" Tuan Barda! Aku tau niatmu baik! Tapi dengarlah, aku yakin pemuda ini salah satu anggota dari Organisasi yang sedang kami cari! "


" Organisasi? Organisasi apa? " tanya Barda.


" Aku yakin, dia berasal dari organisasi yang bernama Kelabang Hitam " Sugal mencoba menjelaskan pada Barda dan kembali menatap tajam pada Arya " Bukankah begitu? " tanya Sugal pada Arya lebih pada menuduh.