
Nyaris saja Arya melakukan hal yang sangat gila sore itu. Beruntung Luna berhasil menahannya.
Luna dan Ciel bisa merasakan kemarahan Arya. Entah bagaimana saat mekihat itu, kedua kakak beradik itu dirasuki ketakutan.
Saat selesai mendengar penjelasan dari Luna terkait kemana para gadis desa di bawa pergi, wajah Arya benar-benar berubah.
Dia langsung berbalik dan hendak berlari entah kemana. Luna merasa bahwa Arya akan melakukan sesuatu yang sangat konyol langsung mengejarnya.
" Mau kemana kau?! "
Arya terus berjalan " Ke rumah Walikota itu! " jawab Arya datar.
" Berhenti! " Luna menahan dengan berdiri di depan Arya.
" Kenapa kau menghalangiku? Ini tak bisa dibiarkan. Orang-orang itu sudah sangat menderita! " protes Arya.
" Kau berniat menghancurkan Walikota itu? Seorang diri? " Luna sedikit heran, sepertinya amarah Arya membuatnya lupa bahwa dia tidak memiliki tenaga dalam sama sekali.
" Ya! "
" Arya, Dengar! " Luna tampak berfikir keras menyusun kata-kata, lalu " Aku tau kau sedang marah dan Kami juga. begitu pula dengan semua orang itu, Tapi—"
" Makanya aku harus menghancurkan sumber masalahnya! " potong Arya.
Luna sedikit kesal dengan Arya yang kini berlagak bisa menghancurkan pemegang hukum di daerah ini seorang diri " Baik! Entah bagaimana caramu, Mungkin kau bisa membunuh Nurmageda saat ini. Tapi ... Masalahnya tidak semudah itu! Kalau hanya membunuh Nurmageda bisa langsung menyelesaikan masalah, Aku dan Ciel sudah lama melakukannya! " Luna sedikit histeris berharap kata-kata itu bisa langsung masuk ke otak Arya tanpa harus melewati telinga terlebih dahulu.
" Apa maksudmu?! "
Ternyata usaha Luna berhasil. " semua tidak semudah itu. Kau bisa lihat di kota ini sekarang. Banyak orang-orang asing. Termasuk aku dan Ciel. " luna menunjuk dirinya dan Ciel yang baru saja menghampiri mereka " Berbeda dengan kami, sebagian dari mereka punya kaitan langsung dengan Nurmageda. Apapun yang akan kau lakukan, Itu akan membuat semua menjadi tambah rumit dan orang-orang itu akan semakin kesulitan! " pungkas Luna sambil menunjuk pada pemukiman itu.
Arya terdiam. Berusaha mencerna maksud dari semua perkataan yang di ucapkan Luna itu. " Aku ... Aku ... "
" Aku tau kau ingin membantu mereka. Tapi, semua harus ada rencana. Kau tidak bisa bertindak sesuka hatimu tanpa membaca semua keadaan terlebih dahulu. Bisa saja tindakanmu sekarang malah semakin memperburuk keadaan! "
Arya kehabisan kata-kata. Luna benar. Dia tau itu. Arya belum benar-benar memahami semuanya.
Belum lama ini Hattala membawanya ke sebuah tempat hiburan. Dan ternyata gadis-gadis di sana berasal dari desa orang-orang yang berada di pemukiman. Mereka semua bekerja karena dipaksa. Hal yang tak pernah terlintas di pikiran Arya sebelumnya.
Luna juga menjelaskan bahwa sebagian besar dari mereka diperkosa sebelum di bawa kesana.
Hal yang lebih menakutkan lagi. Banyak pula dari gadis-gadis itu dibawa ke kota Basaka atau kota-kota lainnya untuk menjadi gundik bangsawan atau orang-orang kaya di sana.
Mereka atau seluruh keluarga mereka akan dibunuh jika menolak. Dan itu bukan sekedar ancaman. Memang sudah banyak yang mati karena menolak.
Itulah yang membuat Arya sangat bernafsu untuk menghancurkan Nurmageda saat ini juga. Akan tetapi, perkataan Luna mampu menyadarkannya.
" Jadi, apa rencanamu? " Tanya Arya pada Luna.
Luna mengernyit keheranan " Rencanaku? "
" Ya! Kalian bilang kalian juga marah. Jadi, apa rencamu? " Tanya Arya sekali lagi.
Luna tidak menyangka bahwa Arya benar-benar serius akan melakukan sesuatu terkait hal ini. Sebagian orang di kota ini sebenarnya juga tidak menyukai Nurmageda. Tapi, tidak ada yang cukup gila untuk melawannya. Dan barusaja pemuda tanpa tenaga dalam ini ingin memulainya.
" Kau ingin menghancurkan kota ini? " Tanya Luna mengecilkan suaranya.
" Baiklah! " Luna berpikir cepat. Siapa yang cukup bodoh membicarakan hal seperti ini di tempat terbuka " Setelah ini, Kita akan membicarakannya di tempatku! "
" Baiklah! " putus Arya.
Luna melepaskan nafas lega. Dia hanya berusaha menenangkan Arya agar tidak melakukan hal yang bisa mencelakai diri pemuda itu sendiri. Setidaknya sekarang Arya sudah sedikit tenang.
Luna berharap ini hanya kemarahan sesaat karena Arya sangat terkejut dan belum siap menerima kenyataan. Karena dirinya berasal dari daerah terpencil dan tidak mengetahui apapun sebelumnya. Bisa saja sehabis ini Arya bisa mengerti bahwa apa yang akan di lakukannya adalah hal mustahil dan akhirnya memilih untuk melupakannya. Semoga saja begitu.
Saat urusan Luna dan Ciel di pemukiman itu telah selesai, hari sudah sangat gelap. Luna beralasan pada Arya agar membicarakan semua itu keesokan harinya. Dan Arya pun menyetujuinya.
Luna sangat lega karena bisa menghentikan Arya. Mereka berpisah di jalan untuk kembali ke tempat masing-masing.
" Orang itu benar-benar Aneh! " kata Ciel pada kakaknya.
" Ya! Setidaknya kita tau bahwa dia sebenarnya orang baik. "
Mereka sudah berada di toko saat membicarakan Arya. Keduanya masih tidak percaya bahwa Arya bisa senaif itu.
" Aku masih penasaran kenapa dia bisa membaca simbol keluarga kita. Dia sendiri mengakui bahwa dia berasal dari daerah terpencil di ujung Daratan ini, bukan? "
Luna juga berpikir sama. " Aku juga merasa aneh. Tapi, kau lihat sendiri dia bisa menyembuhkan ke dua anak itu juga Tabib tua yang kau bawa dengan teknik pengobatan tingkat tinggi. Padahal dia sama sekali tidak memiliki tenaga dalam, bukan? "
Ciel mengangguk setuju " Dan satu lagi. Kita bertemu pertama kali dengannya di hutan sedang memakan Babulu dan Benggala. Bukankah itu tidak kalah anehnya? "
Kedua kakak adik itu benar-benar tidak bisa mencerna. Bagaimana Arya bisa menjadi orang yang sangat misterius padahal mereka yakin Arya mengatakan semua hal dengan jujur.
Masalahnya antara satu hal dan hal yang lainnya menyangkut pemuda itu, tidak saling mendukung. Seperti, Pemuda dari daerah terpencil yang bisa membaca apapun.
" Hah! " Luna berdesah " Aku pikir setelah melewati banyak negara sejak kita kecil, kita telah melihat banyak hal aneh. Tapi, Arya menunjukkan pada kita bahwa, kita seperti belum melihat apapun di dunia ini. "
Ciel mengangguk setuju. " Ya! Dan satu lagi. Apa kau memperhatikan Kera dan Anjing yang selalu mengikutinya? "
" Hahahaha! " Luna tertawa saat mengingat itu " Ya! Kedua peliharaannya itu sudah seperti pengawal pribadinya. Ditambah warna keduanya sangat unik. Hahahaha! "
" Bukan itu! " Ciel menatap Luna serius " Aku menyadari saat setiap kali kita berbicara pada Arya, kedua binatang itu seperti sedang ikut mendengarkan! "
Ciel memang memiliki mata yang unik. Fokus pandangannya sangat luas. Dan jarak pandangnya juga sangat jauh. Jika Ciel mengatakan itu, maka itulah yang terjadi. Luna tidak meragukannya.
" Jadi menurutmu, ... Kera dan Anjing itu mengerti perkataan kita? "
Ciel kembali mengangguk " Ya, setidaknya terlihat seperti itu. " Jawabnya ragu.
Luna meletakan tangannya di bahu Ciel, dan menatapnya serius " Ingatkan aku jika mengatakan sesuatu yang buruk tentang Arya di depan kera dan Anjing itu. Jika tidak, mereka akan mengadukannya! "
Sesaat setelah mendengar Luna mengatakan itu, Ciel menangkap lelucon kakaknya.
" Hahahaha! "
" Hahahaha! "
Keduanya pun tertawa dengan imajinasi mereka tentang Rewanda dan Krama.
Sementara itu di penginapan Bulan Fajar, Arya meminta pada pekerja di sana untuk menyampaikan pada Sekar bahwa dia ingin bertemu.