ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Kembali


Darsapati, Lamo, Salu serta ribuan pendekar baru saja berjalan dari ngarai tempat terakhir sekte Singa Emas bermukim dan berjarak satu bukit sebelum sampai di lembah di tengah pegunungan Singa Emas.


Seperti rencana yang sudah dipersiapkan dengan sangat matang jauh-jauh waktu sebelumnya, malam ini, sesuai surat yang diterima, mereka bersiap memberi serangan kejutan pada Oldenbar di sana.


Akan tetapi, dengan jarak sejauh itu, tiba-tiba mereka bisa mendengar pekikan-pekikan dari lembah. Tak lengah, mereka pun bersegera mempercepat langkah untuk mencari tau apa yang terjadi.


Pasalnya, Arya mengatakan malam ini adalah waktu dimana pegunungan Singa Emas kembali di kuasai oleh pihak yang paling berhak. Tentu saja pihak itu adalah Sekte Singa Emas itu sendiri.


Berbagai macam kemungkinan mereka pikirkan saat memacu langkah mereka untuk mencapai tempat ini. Dengan ilmu meringankan tubuh serta tenaga dalamnya yang lebih besar, Darsapati-lah yang pertama kali sampai.


Lamo dan Salu menyusul beberapa saat kemudian. Mereka heran saat melihat Darsapati berdiri mematung di depan gerbang pusat kota di lembah itu.


"Ki Darsa,  ada ap—"


Baru saja Lamo hendak bertanya, dia dan Salu langsung menyadari apa yang membuat Darsapati menghentukan langkahnya.


Saat ini, di deoan mereka ada sebuah aoi unggun dengan beberapa ekor kelinci yang sudah menjadi arang. Tapi, bukan itu yang menarik perhatian mereka.


Melainkan, potongan-potongan tubuh manusia yang mereka yakini adalah anggota serikat Oldenbar, yang bertugas menjaga pintu gerbang itu.


"Sebaiknya kita cepat. Sepertinya pertarungan sedang terjadi  di dalam."


Setelah mengatakan hal itu, Darsapati langsung melesat cepat dan bahkan lebih cepat dari sebelumnya. Begitu juga dengan Lamo dan Salu.


Akan tetapi, sepanjang jalan menuju keramaian bahkan hingga mereka tiba di pusat kota. Mereka hanya melihat onggokan daging yang sama di beberapa titik serta beberapa tubuh yang tergelatak di sana sini.


Sementara, pertarungan yang mereka bayangkan sebelumnya, sama sekali tidak ada.


Baik Darsapati ataupun yang lainnya, sempat berfikir bahwa Arya dan yang lainnya dengan keadaan tertentu, tidak bisa lagi menunda dan menunggu hingga mereka tiba. Tapi, ini jauh sekali dari apa yang mereka bayangkan itu.


Tidak ada yang menyadari kedatangan Darsapati di sana karena tiba-tiba uara teriakan menghilang. Dan semua mata tertuju pada sebuah kilatan berwarna biru.


Darsapati sendiri sempat melihatnya, walaupun hanya sesaat sebelum akhirnya menghilang di ujung lembah, tepatnya di istana Singa Emas.


"Tuan Angus, apa yang terjadi?!"


Di antara semua orang di sana, tepat di pusat kota itu, Darsapati melihat Angus dan beberapa pendekar yang sedang berdiri terdiam melihat ke arah yang sama dengan seluruh orang di sana.


Angus kembali menjawab dengan kalimat yang sama. Meski tidak lagi terbata-bata seperti beberapa saat sebelumnya.


"Itu pelindung Daratan ini"


"Hah?! Apa maksudmu?"


Darsapati tidak mengerti apa yang dikatakan Angus itu. Bahkan dia belum mengerti apa yang terjadi dan untuk itulah dia bertanya.


Angus tersentak karena tiba-tiba mendengar orang itu bertanya sekali lagi, namun sedikitnkeras. Saat dia menoleh matanya melebar.


"Ki Darsa? ... Sejak kapan kau di sini?!" tanya-nya seperti orang linglung.


Darsapati menggeleng lalu memegang bahu dan sedikit menggocangnya mecoba menarik paksa kesadaran Angus.


"Tuan Angus, aku bertanya. Apa yang terjadi. Tolong jawab pertanyaan ku!"


Dengan keadaan yang aneh seperti ini, Darsapati tidak tau harus melakukan apa, kecuali seseorang menjelaskan hal itu padanya. Dan jelas saja Angus adalah orang yang paling tepat untuk di tanyakan karena dia sebenarnya terlibat sangat jauh dalam rencana sebelumnya.


Angus menggeleng cepat. Bukan karena tidak mau menjawab, tapi sedang berusaha mengendalikan dirinya.


"Master Arya ... " katanya sambil menunjuk ke arah istana.


Darsapati mencoba mencerna. Karena dia juga melihat kilat biru itu, dia mencoba memperjelas. "Maksudmu, itu tadi Tuan Muda?"


Sekarang Darsapati sudah mengerti. Dan tak lama, Lamo dan Salu pun sudah berada di dekat mereka.


"Ki Darsa, apa yang terjadi. Kami melihat, semua korban adalah anggota serikat Oldenbar. Apakah mereka telah memulainya?"


Angus yangbsudah mendapatkan kesadarannya, langsung menjawab pertanyaan Lamo. "Itu Hanya Master Arya. Dan tubuhnya menyala."


"Hah? Menyala, dia terbakar?" tanya Lamo, karena tidak semoat melihat apa yang Darsapati sempat lihat sebelumnya.


"Ini Gawat. Kita harus menolongnya."


Salu yang juga dltidak mengerti, langsung mengambil langkah. Namun, Darsapati menahannya.


"Tidak perlu. Dia tidak terbakar. Tadi, Aku sempat melihatnya. Dia tidak apa-apa."


Angus langsung mengangguk. Tentu saja apa yang di katakan Darsapati benar, bahwa Arya tidak apa-apa. Justru, sekarang Angus tidak bisa membayangkan kejadian yang mengerikan yang mungkin kini sedang berlangsung di istana itu.


"Ki Darsa, kenapa kau begitu yakin?" Tanya Lamo, heran.


Darsapati menghela nafas dan melepasnya kasar. "Begini, kalian sudah melihat kekuatan Tuan Muda, bukan?"


Saat Darsapati bertanya, keduanya langsung mengangguk. Bahkan keduanya tidak bisa tidur tenang beberapa waktu setelah melihat kekuatan mengerikan yang di miliki pemuda tersebut.


"Baiklah jika begitu. Sekarang, jika ada sesuatu yang membahayakannya, apakah kalian merasa memiliki kekuatan yang bisa membantunya?"


Tak perlu berfikir panjang, keduanya langsung menggelengkan kepala. Jika ada yang bisa membahayakan Arya, maka itu bagi mereka bukan bahaya lagi, tapi sudah pasti sebuah malapetaka.


Darsapati mengangguk, dan mulai menjelaskan. "Kalian tidak sempat, tapi aku melihatnya. ... Tadi itu, jelas adalah kekuatan yang sama dengan kekuatan yang di miliki oleh leluhur kami. Hanya saja, itu sedikit berbeda dengan apa yang di ceritakan pada kami, secara turun temurun."


"Maksud anda?"


"Ya. Jika kau bilang tubuhnya menyala, seharusnya, itu berwarna merah. Tapi, aku juga melihatnya. Tuan Muda memiliki warna biru."


Mereka sempat terdiam saat Darsapati menjelaskan itu. Saat ini,  mereka melihat Darsapati tampak sedang berfikir keras.


"Ah sudahlah. Mungkin setiap generasi memiliki warna berbeda-beda. Toh, kami cuma mendapat cerita tentang generasi pertama." Simpulnya.


Angus yang belum mengetahui maksud Darsapati, dengan tidak sadar bergumam. "Leluhur? ...  Generasi pertama?"


Namun, Gumamannya itu terdengar jelas oleh semua orang di sana termasuk Darsapati.


"Ya. Tuan Muda adalah keturunan manusia terkuat yang pernah ada. Leluhur kami, sekaligus pendiri Sekte Singa Emas ini." Ucap Darsapati dengan Bangga.


"Meski aku merasa malu karena tidak bisa membantu apapun, sudah sepantasnya dia yang membalaskan dendam kami dan mengambil kembali, apa yang memang seharusnya menjadi miliknya. Seluruh pegunungan ini!" Tambah Darsapati sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh pegungungan.


Tidak hanya bertiga, namun beberapa pendekar yang ada di sana yang sudah mendapatkan kembali kesadaran mereka, kini, merasakan seluruh tubuh mereka bergetar.


Apalagi saat menyadari bahwa kata-kata yang sangat tidak di duga itu, keluar langsung dari mulut Darsapati, yang seharusnya menjadi ketua Sekte Singa Emas yang menguasai pegunungan tempat dimana kini mereka berada.


Darsapati melihat jauh ke langit, tatapannya seolah sedang melihat sesuatu, bukan langit dan juga bukan untuk waktu yang sekarang ini. matanya kini sedikit berembun. Senyum bahagia terukir di wajahnya.


"Senang sekali rasanya, saat seseorang yang kami tunggu-tunggu selama puluhan generasi, akhirnya muncul. Aku sangat bersukur, bisa hidup dan masih menginjakan kaki di pegungungan ini, Karena, sang Penguasa Mutlak Daratan ini, telah Kembali."


Setelah mengatakan itu, Darsapati menoleh kembali ke istana Singa Emas.


"Sungguh sial sekali, siapapun yang ada di sana saat ini. Aku berani bersumpah bahwa saat ini, mereka sedang menyesal pernah terlahir ke dunia."


Mereka semua langsung mengangguk serentak, karena membayangkan hal yang  sama dengan apa yang sedang dibayangkan Darsapati.


Setidaknya, bagi mereka, Keadaan potongan-potongan tubuh manusia di seluruh penjuru daerah itu, menjelaskan semuanya. Betapa kejamnya hukuman yang diberikan Arya, bagi siapapun yang mengusik apa yang menjadi miliknya.