ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Komandan Nippokure, Daisuke


Waktu berlalu, tentu saja berita tentang benteng Nippokure yang berada di dekat Kota Pinang Merah, telah tersebar.


Berapa banyak sudah prajurit dikirim ke sana, namun tak satupun ada yang kembali.


Komandan Daisuke dari Benteng utama Nippokure yang terletak tidak jauh dari kota, hari ini mendatangi istana Jampa.


"Tuan Daisuke, kau sudah melihat sendiri aku sudah terlalu tua. Bahkan kau menempatkan terlalu banyak orang di istana. bagaimana bisa kau menuduhku yang melakukannya."


Komandan tertinggi yang dipercaya panglimanya untuk memegang wilayah negeri Jampa itu sangat berang. Sekarang, dia tidak segan-segan menuduh Jakasona sebagai dalang kejadian itu.


"Aku tak mengatakan kau keluar dan melakukannya. Tapi, Umbara ... Anakmu!"


Umbara yang ada di sana, langsung tersinggung. "Daisuke, aku memang tak menyukai kalian, tentu saja jika aku bisa maka aku yang akan melakukannya. Tapi, saat itu terjadi, aku yakin kau tau saat itu aku dimana."


Apa yang dikatakan Umbara memang terasa masuk akal. Daisuke sendiri mengetahui bahwa beberapa minggu ini Umbara memang hanya berada di istana.


Jika apa yang diperkirakannya benar, Umbara tidak mungkin ada di sana saat kejadian itu berlangsung.


"Aku tidak tau apa yang kalian rencanakan. Tapi, kaisar kami memiliki kesepakatan dengan Maharaja kalian. Jika kalian bernai berbuat macam-macam, maka kami tidak akan segan-segan untuk menghancurkan negeri ini."


Kata-kata Komandan pasukan Nippokure itu, semakin membuat Umbara kesal. "Hei, kau berkata seperti tanah yang kini kau injak ini, adalah tanah nenek moyangmu. Kami di sini juga punya sejarah panjang. Kalian bisa memulai dan kami tidak akan mundur."


Umbara memang pantas jadi oenerus ayahnya. Pemuda itu benar-benar memiliki nyali serta pemikiran seorang Sultan.


Namun, hal itulah alasan besar yang membuat Sultan Jakasona belum memberikan tahtanya pada anaknya tersebut.


Karena, jelas setelah Umbara memangku gelar Sultan, maka dia akan langsung di tekan dan tidak bisa bergerak sedikit lebih bebas seperti saat ini.


"Jakasona, kenapa kau belum memberikan tahtamu pada anakmu ini. Kulihat, dia cukup bernyali. Lagipula, kau sudah terlalu tua untuk mengurus sebuah negeri."


Jakasona hanya tersenyum kecut saat mendengarnya. "Tuan Daisuke, aku tak tak bagaimana di daerah asalmu, tapi disini kami memili tradisi dan budaya sendiri. Jika kau memang berharap Umbara secepatnya menjadi Sultan, kenapa kau tidak mencoba membunuhku saja?"


Daisuke begitu geram mendengar kata Jakasona yang seolah menantangnya itu. Bukan tidak pernah Daisuke meminta izin pada atasannya untuk membunuh Sultan tua di depannya ini. Namun, Toshi Mamura, panglima tertinggi pasukannya itu, tidak kunjung mengizinkannya.


"Huh ... Seperti katamu, kami juga memiliki tradisi sendiri untuk kami ikuti."


"Daisuke, ada sebuah pepatah tua dari kerjaan ini yang ingin kuingatkan padamu. Pepatah itu berbunyi, ... Dimana bumi di pihak, di situ langit dijunjung."


Berada di istana Jampa ini, membuat hatinya semakin kesal saja. Tidak dapat apa yang inginkannya, Daisuke langsung berdiri. Namun, sebelum beranjak pergi, dia kembali berbicara.


"Kalian bisa terus berpura-pura. Tapi, ketahuilah, setelah kami merebut kembali benteng itu, maka aku akan mencari cara menguasai istana mu ini."


"Kau hanya bisa berbicara apa saja dan kami hanya akan mendengar dan melupakannya. Lakukanlah, maka seperti kataku, kami tidak akan mundur."


Saat itu, Jakasona dan Umbara melihat Daisuke langsung berderap pergi. Setelah komandan pasukan Nippokure itu menghilang, Jakasona bertanya pada anaknya.


"Ananda Umbara, Sungguh pelik kau membawa berita. Tak pernah ada dalam sejarah. Jika memang mereka wanita, pasti sungguh gagah perkasa."


"Tabik, Ayahanda. Wanita bukan sembarang wanita. Tak hanya satu tapi tiga, memang sulit untuk percaya, mereka bertarung sambil tertawa."


"Kita punya dua legenda, satu pria satu wanita. Jika benar yang kau kata, seharusnya ada yang ketiga"


"Ayahanda, aku tidak mengetahui siapa yang yang ketiga."


"Negeri Jampa bukanlah lemah, aku punya seorang saudara. Di Pinang Merah dia berada, pendekar kuat bernama Salendra."


Mata Umbara melebar. Dia tidak pernah mendengar bahwa ayahnya memiliki saudara. Apalagi, kata-kata ayahnya itu mengisyaratkan bahwa saudaranya itu sangat kuat.


"Tabik, Ayahanda. Kenapa kami tak pernah bersua."


"Seperti apa, kata sejarah. pendekar tak lena, dengan mahkota. Salendra keluar dari istana. Mencari siapa, jati dirinya."


"Ayahanda, jika begitu. Pasti tuan Rangkupala sekarang sedang bersama laman Salendra."


Jakasona mengangguk. "Ya, pasti mereka berdua yang melakukannya."


Di benteng, Daisuke kembali mendapatkan berita yang semakin membuatnya memberang. Kabar tentang di serangnya seluruh pasukan yang dia kirim untuk mengumpulkan para pemuda.


Saatbitu juga, dia langsung memutuskan untuk menarik seluruh pasukannya yang tersebar di negeri Jampa, dan berniat menyerang benteng yang dia yakini, disana otak semua kejadian ini berada.


Sementara itu, Salendra dan Rangkupala sudah hampir menyelesaikan misi mereka. Masing-masing mereka di dubdaerah berbeda, hanya menyisakan beberapa desa lagi, untuk di selamatkan.


Di benteng sendiri. Setiap harinya, selalu kedatangan beberapa pendekar suci. Mereka mengaku utusan Salendra dan Rangkupala.


Tentu saja mereka semua datang bukan hanya sekedar untuk melihat-lihat saja. Dua pendekar tua yang mengutus mereka menjelaskan bahwa saat ini, mereka memiliki kesempatan untuk membebaskan negeri mereka ini dari pasukan Nippokure.


Hal itu tentu saja membuat mereka bersemangat. Selama ini mereka hanya bisa diam, karena Sultan Jakasona di istana Jampa, juga diam.


Akan tetapi, melihat bagaimana pergerakan Salendra dan Rangkupala saat ini, mereka yakin bahwa ini saatnya membebaskan Jampa, dan tentu saja sebagai pendekar, mereka ingin terlibat dindalamnya.


Arya sendiri sudah tiga hari pergi meninggalkan benteng dengan dua iblis langit untuk mengumpulkan bahan pembuatan Pil.


Sekarang sudah banyak bahan yang dia kumpulkan dan seharusnya itu sudah cukup. Namun, Arya belum berniat untuk kembali. Dia memutuskan untuk mencari sebuah tanaman, yang mungkin saja dengan itu, dia bisa menyelamatkan Citra Ayu.


Akan tetapi sudah sehari ini oikirannya terganggu. Bukan karena banyak fikiran. Namun, makhluk yang sudah lama diam tertidur di dalam tubuhnya, kini sudah kembali terjaga.


"Arya, kenapa kau begitu ingin menyelamatkannya. Kau bisa saja membuatnya kembali seperti semula, bukan?"


"Kau sudah mengetahuinya, kenapa masih bertanya?"


"Ah, aku hanya bosan karena tidak ada yang bisa aku bicarakan."


Lama Kulkan terdiam, dan itu membuat Arya sedikit heran. Karena sejak dia terbangun, mahkluk itu terus meminta Arya melupakan semua dan Fokus mencari di mana Arangga menyimpan tubuh dan kekuatannya.


"Kenapa kau diam? Bukankah, kau selalu berisik?"


Saat itu, kulkan tetap diam. Padahal, Arya tau dia masih terjaga. Namun tak lama, dia kembali bersuara.


"Arya, dia bisa mengendalikan Logam, apapun tanamannya. Tidak akan membantunya."


"Huh, kau bicara seperti kau mengetahui manusia saja."


Saat itu, Arya mengira Kulkan akan kembali diam. Namun, tidak.


"Arya, taukah kau kenapa sebelumnya aku di penjara?"


"Bukankah sudah jelas? Itu karena Kau mencoba menyerang Arangga, leluhurku."


"Tidak, itu saat aku baru saja di lepas dari tempat di mana makhluk seperti manusia bahkan makhluk seperti Obskura dan Anhur sekalipun tidak akan mampu bertahan."


Arya langsung menghentikan langkahnya. wajahnya langsung berubah datar dan langsung berbicara dengan nada memerintah.


"Zolka Putra Tza Mamna ... Katakan, apa yang kau ketahui yang aku tidak ketahui."


"Ah sial, kenapa kau memanggilku seperti itu?" 


Entah kenapa, Kulkan sangat tidak suka jika dipanggil Arya, dengan nama sebenarnya.


"Tapi, Baiklah ... aku akan memberitahumu. Lagipula, tidak ada bedanya lagi sekarang. Arya dengar ... "